Jumat, 28 November 2014

Pahami Saja Identitas Diri Sendiri !


Menulis apa pun. Pokoknya menulis. Itulah yang kini, ingin saya anut. Soal menulis apa, tak penting. Karena yang penting menulis, bukan soal apa yang mau ditulis. Nah, persis dengan saat ini. Saya belum punya gambaran, soal apa yang mau diangkat.  Barangkali, hal ini efek dari ketidaklulusan kuliah di kampus, beberapa tahun silam, sehingga tak punya bahasan spesial yang dikuasai. Saya tak punya keahlian khusus yang bisa dibanggakan. Tak punya materi bahasan istimewa yang dapat didiskusikan. Selama ini yang terjadi adalah mengalir saja. Ibarat air, yang akan selalu berjalan ke tempat yang lebih rendah, demikian pula saya, yang selalu ingin menguasai materi wacana yang sedang ramai dibicarakan. Namun demikian, ternyata tetap ada batasnya. Sebagaimana hidup di muka bumi, yang serba terukur dan terbatas, kalau ditilik, setiap kali saya menulis, awal yang belum tahu akan kemana, endingnya pasti tak jauh dari humaniora. Bicara tentang diri, bagaimana memahami diri, dan bagaimana berkomunikasi yang tak melukai diri-diri yang lain.


Memahami diri, bagi saya itu penting dan sentral. Bagaimana mungkin kita akan bisa berbuat bijak pada yang lain, kalau terhadap diri sendiri saja belum bisa jujur. Jujur terhadap diri sendiri, tidak jaim, tidak risau dengan apa kata orang nanti, dan sebagainya. Memahami diri, semakin terasa sangat penting, ketika mengetahui bahwa nilai diri terdapat di dalam kedalaman relung hati. Suara yang tak terdengar oleh indra, suara yang hanya bisa dipahami oleh kesadaran. “Suara” atas tindakan atau perbuatan itu sesungguhnya diri. Malah Al-Qur’an menyebut, harga diri, yaitu ketika suara hati atau keimanan bersanding dengan perbuatan baik. Tak ada suara hati yang mengarah pada tindakan tak terpuji, pasti mengarah pada kebajikan.  

Terasa menarik lagi, karena menyibak kedirian itu tak ada saingannya. Saat kita menekuni olahraga, bagus, tapi menimbulkan persaingan. Menekuni profesi karir, juga mesti bersaing. Tetapi ketika fokus untuk mendalami harga diri, makna diri, bak perjalanan yang tak terbatas dan tak ada persaingan atau kompetisi antar sesama. Kenapa ? Ya itu tadi, karena tak terbatas, dan unik. Masing-masing ber-ada dalam kekhasannya sendiri, yang akan dipertanggungjawabkan sendiri-sendiri pula kelak di akhirat.

Kemudian dalam memahami diri, juga tak ada teknis yang sama atau baku, yang bisa dipakai setiap individu. Sarana teknisnya sama, namun dasar yang melatari teknis, yang masing-masing berbeda. Jadi sebetulnya semakin menarik dan menantang untuk ditekuni. Cuma, karena sifatnya yang individual, sehingga tak bisa didemonstrasikan sebagai keahlian, maka tak banyak yang melirik. Beda dengan urusan raga, bendawi, jasmani, banyak yang meributkan karena langsung bisa dipamerkan, yang seolah itulah harga dirinya. Padahal sebenarnya bukan itu nilai diri seseorang. Karena toh ternyata akhirnya akan hilang, musnah, aus dimakan usia, dan bosan.

Sedang urusan jiwa, urusan suara hati, suatu kedalaman yang sangat sunyi. Hanya dirinya sendiri yang memahaminya. Dan tentu saja sama Tuhan yang mengetahuinya. Namun orang lain tidak ada satu pun yang mengetahui, kecuali sebatas kira-kira, dan bukan yang sebenarnya. Jadi ramalan masa depan, psikologi yang “sok” tahu jiwa seseorang, saya percaya, itu sekadar kemungkinan, bukan kepastian, bukan yang sesungguhnya. Maka memahami diri, serasa aman, karena hanya diri sendiri yang mengetahui.

Memahami kedalaman relung jiwa, akan menghantar kita jadi individu yang peka, sensitif dan cepat memahami situasi sosial, tanpa harus menuntaskan teori resolusi sosial, teori kritis, cultural studies, psikologi komunikasi, dan lain-lain. Asal setia mendalami asset pribadi yang terpendam, niscaya lingkungan akan aman dari bencana fitnah, polusi suara, suara sumbang yang menyakitkan telinga. Sebaliknya kesantunan, kelembutan dan empati, yang bakal menonjol dari pribadi yang setia menseriusi memartabatkan harga diri itu. Maka, tunggu apa lagi ? Tak usah menunggu slogan revolusi mental, pendidikan karakter, sekolah berbasis pancasila, berbasis budaya, atau apalah….., cukup kembali saja ke diri, niscaya nilai-nilai yang sedari dini telah ditiup oleh Tuhan, akan berdampak positif bagi kehidupan.

Ya, akhirnya, memang harus diusahakan dari sekarang. Harga diri, nilai identitas diri, hanya masing-masing saja yang sanggup mengusahakan. Sedang orang lain tinggal merasakan hasilnya. Ingin menolong lingkungan ? Pahami identitas diri yang autentik ! Itu saja….        

2 komentar:

  1. nice reflection mas..back to heart voice..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih telah mampir....Hayuuu, kita saling mengulurkan rasa damai, yang santun pada sesama, dan tak canggung untuk mengkritik jika tiba2 melenceng...

      Hapus