Sedemikian relevankah gelar akademis dengan peningkatan
kualitas mutu pendidikan ? Sedemikian luar biasanya sematan gelar dengan haluan
pendidikan anak-anak. Jebolan sekolah formal itu dengan sendirinya akan lebih
“ampuh” ketimbang yang kursus-kursus. Sekolah formal lebih mahir daripada yang
hanya sebatas mengikuti pelatihan-pelatihan. Lantas apa sih esensi pendidikan ?
Apa itu mengajar ? Apa yang mesti diajarkan ? Apa betul sekolah formal dari
mulai TK hingga perguruan tinggi itu lebih relevan ketimbang seminar, atau
workshop-workshop yang diselenggarakan komunitas swasta ? Terus terang saya
belum bisa sependapat, ada benang lurus antara rentetan gelar dengan kemampuan.
Barisan pangkat dengan kemauan.
Dalam praktek real, sering yang berlaku adalah kebalikan.
Banyak sekali murid lebih pandai dari gurunya, mahasiswa jauh lebih arif dari
dosennya, yang diperintah lebih cerdas daripada yang memerintah, non-formal
lebih siap daripada yang formal. Ini bukan berarti sekolah formal tidak
penting. Saya tidak sedang merelatifkan kedudukan sekolah formal. Sama sekali
tidak. Sebab saya juga pernah mengenyam sekolah formal. Pertanyaan-pertanyaan
“kesal’ diatas, lebih sebagai introspeksi, setidaknya buat saya, bahwa tidak
sepenuhnya kualitas pendidikan itu tertumpu pada sekolah formal. Saya geram,
hanya karena berijazah SMA, tak mengantongi gelar sarjana, saya tak bisa lagi
berkecimpung di lembaga PAUD. Konon PAUD
mesti diisi yang ber-S1. Duuhhh….
Padahal ini baru PAUD, belum lagi kalau saya nanti ingin
mengabdi di SD, SMP, dan apalagi SMA, hingga mustahil di Perguruan Tinggi.
Terbentur gelar, itu yang terjadi. Dampak urbanisasi ternyata juga melanda
sistem pendidikan. Dampak menyedihkan dalam pasaran tenaga kerja. Pekerjaan
yang sebetulnya dapat dilakukan seorang lulusan SMA, direbut oleh S1. Juru
tulis, programmer, penjaga warnet, sekarang idealnya sarjana S1, minimal D3
atau D2.
Lalu, apa harga sertifikat SMA ? Barangkali hanya tinggal
sebagai pesuruh, tukang sapu, atau juru angkut sampah. Terbayang dengan masa
depan anak-anak, Ahimsa dan Rakhe, kini usia 8 tahun dan 4 tahun. Saya tidak mendapati Ahimsa yang kini duduk di bangku SD kelas
dua, pelajaran berdikari, jangan egois, dan serba tenggang rasa terhadap kawan.
Terus terang, dengan sedikit “geer” justru pendidikan kreativitas dan olah rasa
lebih banyak ia dapatkan di rumah, ketimbang di sekolah formalnya. Dalam
sekolah formalnya, iklim yang dikembangkan lebih banyak untuk menghapal dan
menghapal, seakan-akan Tuhan menciptakan insan kecil itu sebagai beo. Begitu
pula dengan si kecil, Rakhe, saya bersyukur karena belum mau sekolah,
teman-teman sebayanya sudah dibiasakan dengan keseragaman. Anak-anak PAUD/TK
harus berbaris dan berseragam satu komando seperti itik-itik, terpagar dan
terkunci dalam rumah, serta jangan bermain sembarangan yang serba ‘jijik’ dan
kotor.
Real pendidikan dengan sekolah formalnya, setidaknya yang
terlihat di sekitar rumah dan sekolah tempat anak saya belajar, masih
menyisakan keraguan. Terlebih dengan mental feodal, haus gengsi, dan begitu
mendewakan gelar, serta pesta wisuda, akan
menambah deretan masalah kultur maupun struktur pendidikan. Ranah
sekolah formal, dengan seabreg gelar toganya, memang penting, tetapi itu hanya
salah satu dimensi saja dari keseluruhan realitas dan proses pendalaman wawasan
kehidupan. Pendalaman akan hakikat, mesti jadi ujung dari proses pendidikan.
Dan hal ini terjadi dengan jalan meremukkan benteng-benteng pendewaan sekolah
formal. Pendidikan tidak hanya mengarah ke usia pagi, namun sampai akhir usia
senja. Pendidikan tidak saja berkutat dalam dinding, melainkan bersentuhan
dengan situasi konkret masyarakat. Anak-anak itu juga mesti berkarib dengan
tradisi berabad-abad, iklim sikap dan disiplin masyarakat. Dan, yang tak kalah
istimewa, penghayatan agama.
So, bukan masanya mendewakan atribut sematan sekolah formal. Sebab, yang dilihat
semestinya bukan gengsi dan status semata, melainkan kualitas. Dunia akademis
mesti dibebaskan dari belenggu nasib fetisisme (serba keramat, magis), agar
dapat kembali berfungsi sebagai wahana mencari kebenaran dan penerapan
kebenaran…. Semoga saja !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar