Jumat, 14 November 2014

Harga Ijazah


Sedemikian relevankah gelar akademis dengan peningkatan kualitas mutu pendidikan ? Sedemikian luar biasanya sematan gelar dengan haluan pendidikan anak-anak. Jebolan sekolah formal itu dengan sendirinya akan lebih “ampuh” ketimbang yang kursus-kursus. Sekolah formal lebih mahir daripada yang hanya sebatas mengikuti pelatihan-pelatihan. Lantas apa sih esensi pendidikan ? Apa itu mengajar ? Apa yang mesti diajarkan ? Apa betul sekolah formal dari mulai TK hingga perguruan tinggi itu lebih relevan ketimbang seminar, atau workshop-workshop yang diselenggarakan komunitas swasta ? Terus terang saya belum bisa sependapat, ada benang lurus antara rentetan gelar dengan kemampuan. Barisan pangkat dengan kemauan.

Dalam praktek real, sering yang berlaku adalah kebalikan. Banyak sekali murid lebih pandai dari gurunya, mahasiswa jauh lebih arif dari dosennya, yang diperintah lebih cerdas daripada yang memerintah, non-formal lebih siap daripada yang formal. Ini bukan berarti sekolah formal tidak penting. Saya tidak sedang merelatifkan kedudukan sekolah formal. Sama sekali tidak. Sebab saya juga pernah mengenyam sekolah formal. Pertanyaan-pertanyaan “kesal’ diatas, lebih sebagai introspeksi, setidaknya buat saya, bahwa tidak sepenuhnya kualitas pendidikan itu tertumpu pada sekolah formal. Saya geram, hanya karena berijazah SMA, tak mengantongi gelar sarjana, saya tak bisa lagi berkecimpung  di lembaga PAUD. Konon PAUD mesti diisi yang ber-S1. Duuhhh….

Padahal ini baru PAUD, belum lagi kalau saya nanti ingin mengabdi di SD, SMP, dan apalagi SMA, hingga mustahil di Perguruan Tinggi. Terbentur gelar, itu yang terjadi. Dampak urbanisasi ternyata juga melanda sistem pendidikan. Dampak menyedihkan dalam pasaran tenaga kerja. Pekerjaan yang sebetulnya dapat dilakukan seorang lulusan SMA, direbut oleh S1. Juru tulis, programmer, penjaga warnet, sekarang idealnya sarjana S1, minimal D3 atau D2.

Lalu, apa harga sertifikat SMA ? Barangkali hanya tinggal sebagai pesuruh, tukang sapu, atau juru angkut sampah. Terbayang dengan masa depan anak-anak, Ahimsa dan Rakhe, kini usia 8 tahun dan 4 tahun.  Saya tidak mendapati  Ahimsa yang kini duduk di bangku SD kelas dua, pelajaran berdikari, jangan egois, dan serba tenggang rasa terhadap kawan. Terus terang, dengan sedikit “geer” justru pendidikan kreativitas dan olah rasa lebih banyak ia dapatkan di rumah, ketimbang di sekolah formalnya. Dalam sekolah formalnya, iklim yang dikembangkan lebih banyak untuk menghapal dan menghapal, seakan-akan Tuhan menciptakan insan kecil itu sebagai beo. Begitu pula dengan si kecil, Rakhe, saya bersyukur karena belum mau sekolah, teman-teman sebayanya sudah dibiasakan dengan keseragaman. Anak-anak PAUD/TK harus berbaris dan berseragam satu komando seperti itik-itik, terpagar dan terkunci dalam rumah, serta jangan bermain sembarangan yang serba ‘jijik’ dan kotor.

Real pendidikan dengan sekolah formalnya, setidaknya yang terlihat di sekitar rumah dan sekolah tempat anak saya belajar, masih menyisakan keraguan. Terlebih dengan mental feodal, haus gengsi, dan begitu mendewakan gelar, serta pesta wisuda, akan  menambah deretan masalah kultur maupun struktur pendidikan. Ranah sekolah formal, dengan seabreg gelar toganya, memang penting, tetapi itu hanya salah satu dimensi saja dari keseluruhan realitas dan proses pendalaman wawasan kehidupan. Pendalaman akan hakikat, mesti jadi ujung dari proses pendidikan. Dan hal ini terjadi dengan jalan meremukkan benteng-benteng pendewaan sekolah formal. Pendidikan tidak hanya mengarah ke usia pagi, namun sampai akhir usia senja. Pendidikan tidak saja berkutat dalam dinding, melainkan bersentuhan dengan situasi konkret masyarakat. Anak-anak itu juga mesti berkarib dengan tradisi berabad-abad, iklim sikap dan disiplin masyarakat. Dan, yang tak kalah istimewa, penghayatan agama.

So, bukan masanya mendewakan atribut  sematan sekolah formal. Sebab, yang dilihat semestinya bukan gengsi dan status semata, melainkan kualitas. Dunia akademis mesti dibebaskan dari belenggu nasib fetisisme (serba keramat, magis), agar dapat kembali berfungsi sebagai wahana mencari kebenaran dan penerapan kebenaran…. Semoga saja !
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar