Rabu, 12 November 2014

bersama Bismillah, saya kepingin


Bismillah, atas nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Coba terus menggali kesadaran bahwa hingga kini masih mendapati kemudahan atas banyak hal. Kemudahan sebagai orangtua yang dapat  terus menyuapi perasaan kasih ke kehidupan anak-anak. Kemudahan sebagai suami yang bisa bercengkerama dan menghibur istri, hingga kemudahan sebagai bagian dari anggota masyarakat dengan sedikit derma ala kadar. Sekali lagi atas nama Allah yang agung, seraya menepis perasaan galau yang juga tiba-tiba sering ikut nimbrung, kembali duduk depan layar sekadar ingin berbagi album kenangan.

Dengan bismillah, yang berarti ingin menyertakan Tuhan dalam aktivitas, adalah modal awal yang baik. Tuhan adalah pemilik ruang waktu, sedang kita berada dalam ruang waktu, larut dan tak luput dari genggaman-Nya. Hingga perbuatan kita dari-Nya, bahkan niat baik pun karena-Nya. Maka menyertakan Allah kedalam aktivitas memang sudah sepatutnya kita lakukan, agar selalu berada dalam koridor kasih sayang-Nya, dan beroleh hasil yang selaras dengan-Nya. Bukankah ini hal yang sederhana dan tak mengada-ada ?

Keinginan hati untuk meniru sifat-sifat Tuhan merupakan hal yang fitri. Keinginan alami. Mencurahkan rasa kasih dan sayang pada sesama itu hal yang natur, lantaran ar-rahman ar-rahim merupakan sifat-Nya. Dan itulah bismillah. Lafzad yang terlantun sebelum membuka cadar-Nya, guna bertatap muka dan menghikmahi wajah-Nya di balik setiap fenomena. Termasuk dalam hal ini adalah menatap wajah polos anak-anak yang sedang nyenyak merajut mimpi. Menatap wajah sumringah istri, yang saban hari melayani segala kebutuhan, tentang cemberutnya yang ngangeni, tentang manjanya yang bak abege yang sedang merindu sang kekasih.

Akhirnya, dengan bismillah, saya kepingin belajar untuk jujur. Jujur, karena selama ini, tanpa disadari, sering kalap alias kalah oleh keinginan. Keinginan untuk dihormati sebagai orangtua. Keinginan untuk ditakuti dan dituruti sebagai pemegang otoritas atas diri anak-anak. Kalah ! Tanpa tersadari telah menuhankan diri sendiri, yang seakan sanggup menentukan masa depan anak-anak dengan segala atribut vonis atas mereka. Kasih sayang yang mestinya fitri, sebagai aplikasi meneladani sifat-Nya, jadi kabur, karena yang terjadi lebih sayang cita-cita kita atas mereka, ketimbang menyayangi mereka. Bukan mencurahkan kasih sayang kepada anak-anak, melainkan takut kehilangan predikat diri dihadapan sorot mata orang lain. Bukan prestasi anak-anak, melainkan gengsi sebagai orangtua.

Kalau demikian, masihkah patut dengan bismillah ? Entah ! Tiba-tiba saja teringat oleh sabda Nabi SAW, “surga berada di bawah telapak kaki ibu”…. “Sebaik-baik diantara kalian adalah yang paling bisa menghadirkan kemanfaatan bagi pihak lain.” Bahkan Tuhan sendiri dalam firman-Nya, menegaskan : “Maka barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Tuhan, hendaklah bersedia mengerjakan amal kebajikan…..” (Al-Kahfi [18]:110).

So, nikmat Tuhan manakah yang bisa didustakan ?


Salam,


Ardie Tyastama 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar