Bismillah, atas nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Coba terus menggali kesadaran bahwa hingga kini masih mendapati
kemudahan atas banyak hal. Kemudahan sebagai orangtua yang dapat terus menyuapi perasaan kasih ke kehidupan
anak-anak. Kemudahan sebagai suami yang bisa bercengkerama dan menghibur istri,
hingga kemudahan sebagai bagian dari anggota masyarakat dengan sedikit derma
ala kadar. Sekali lagi atas nama Allah yang agung, seraya menepis perasaan
galau yang juga tiba-tiba sering ikut nimbrung, kembali duduk depan layar
sekadar ingin berbagi album kenangan.
Dengan bismillah, yang berarti ingin menyertakan Tuhan dalam
aktivitas, adalah modal awal yang baik. Tuhan adalah pemilik ruang waktu,
sedang kita berada dalam ruang waktu, larut dan tak luput dari genggaman-Nya.
Hingga perbuatan kita dari-Nya, bahkan niat baik pun karena-Nya. Maka
menyertakan Allah kedalam aktivitas memang sudah sepatutnya kita lakukan, agar
selalu berada dalam koridor kasih sayang-Nya, dan beroleh hasil yang selaras
dengan-Nya. Bukankah ini hal yang sederhana dan tak mengada-ada ?
Keinginan hati untuk meniru sifat-sifat Tuhan merupakan hal
yang fitri. Keinginan alami. Mencurahkan rasa kasih dan sayang pada sesama itu
hal yang natur, lantaran ar-rahman
ar-rahim merupakan sifat-Nya. Dan itulah bismillah. Lafzad yang terlantun
sebelum membuka cadar-Nya, guna bertatap muka dan menghikmahi wajah-Nya di
balik setiap fenomena. Termasuk dalam hal ini adalah menatap wajah polos
anak-anak yang sedang nyenyak merajut mimpi. Menatap wajah sumringah istri,
yang saban hari melayani segala kebutuhan, tentang cemberutnya yang ngangeni, tentang manjanya yang bak abege yang sedang merindu sang kekasih.
Akhirnya, dengan bismillah, saya kepingin belajar untuk jujur. Jujur, karena selama ini, tanpa
disadari, sering kalap alias kalah oleh keinginan. Keinginan untuk dihormati
sebagai orangtua. Keinginan untuk ditakuti dan dituruti sebagai pemegang
otoritas atas diri anak-anak. Kalah ! Tanpa tersadari telah menuhankan diri
sendiri, yang seakan sanggup menentukan masa depan anak-anak dengan segala
atribut vonis atas mereka. Kasih sayang yang mestinya fitri, sebagai aplikasi
meneladani sifat-Nya, jadi kabur, karena yang terjadi lebih sayang cita-cita
kita atas mereka, ketimbang menyayangi mereka. Bukan mencurahkan kasih sayang
kepada anak-anak, melainkan takut kehilangan predikat diri dihadapan sorot mata
orang lain. Bukan prestasi anak-anak, melainkan gengsi sebagai orangtua.
Kalau demikian, masihkah patut dengan bismillah ? Entah !
Tiba-tiba saja teringat oleh sabda Nabi SAW, “surga berada di bawah telapak
kaki ibu”…. “Sebaik-baik diantara kalian adalah yang paling bisa menghadirkan
kemanfaatan bagi pihak lain.” Bahkan Tuhan sendiri dalam firman-Nya, menegaskan
: “Maka barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Tuhan, hendaklah bersedia
mengerjakan amal kebajikan…..” (Al-Kahfi [18]:110).
So, nikmat Tuhan manakah yang bisa didustakan ?
Salam,
Ardie Tyastama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar