Terus terang, hingga saat ini
saya belum bisa sepenuhnya memahami “konflik” Barat, Amerika, dan Islam. Entah
sebab saya ini orang awam, dan sungguh beruntung saya terlahir sebagai orang
awam, sehingga “rada polos” tak begitu percaya adanya konflik permanen,
pandangan bipolar tentang Barat
(dengan Amerika-nya) versus Timur (negeri-negeri berkembang termasuk Islam).
Lebih menyulitkan lagi bagi saya bahwa Barat
itu Kristen, Barat itu Yahudi. Jadi konflik yang ditimbulkan sebenarnya
antara Kristen bersama Yahudi versus Islam…Waduh makin tak masuk akal bagi common sense saya !
Saya kira, bukan zamannya lagi
mempertentangkan antara Islam dengan Barat. Islam dengan Amerika. Bukan saatnya
lagi memilah-milah Barat dan Islam (Timur). Karena Barat atau Timur, Amerika
atau Islam sama-sama anti kekerasan. Sama-sama mendambakan keadilan. Penyuka
kesejahteraan, anti kebodohan, dan alergi dengan kejumudan.
Itu yang mendasari, yang
sekaligus menyulitkan saya dengan teori konspirasi. Teori yang menggambarkan
adanya tangan-tangan tersembunyi Amerika di belakang kejumudan umat Islam, di
belakang “keterbelakangan” negeri kita ini. Tetapi ….aahhhh ! Bagaimana ya ?
Piye jal ?
| Rakhe yang lagi pantengin TV... |
Saya ambil satu contoh saja, TV
misalnya. Apa bukan karena konspirasi, ketika media TV begitu dominan dalam
kehidupan kita. TV telah mengepung ruang privasi kita. TV telah menjelma jadi “agama”
baru. Sehingga begitu gampang, kita menegasikan aktivitas membaca, bermalas-malasan,
dan tak menganggap penting tradisi menulis, hanya sekadar ingin memanjakan
mata, pantengin TV selama mungkin. TV, bak ideologi, telah sukses meminggirkan
kita dari kebiasaan prihatin. Kebiasaan untuk menunda kesenangan, dan beralih
pada pemujaan yang serba mudah, serba cepat, dan serba menyenangkan. TV, telah
berhasil menggiring kita, dari kebiasaan merenung, dan meresapi kedalaman
makna, beralih pada yang dangkal nilai, dan serba permukaan.
Membaca buku ? Nah, itu dia. Ketika
sedang tak ada kerjaan. Ketika rasa jenuh tiba-tiba menyelinap. Dapat
dipastikan bahwa membaca buku, alih-alih menulis, adalah opsi pilihan terakhir,
usai melihat acara TV yang sedang tak menarik hati. Padahal kalau mau jujur,
banyak program tayangan-tayangan TV, yang sebetulnya malah bikin pikiran dan
perasaan tumpul alias mandul.
| Rakhe baca buku bergambar..... |
Mengapa demikian ? Lantaran
melihat TV itu tidak butuh kerja pikir yang sampai mengerutkan dahi. Cukup
pantengin layar TV, hati terhibur. Sedang membaca buku, jelas membutuhkan nalar
dan perasaan sekaligus, sehingga tak bisa instan untuk mendapatkan kepuasan….
Itulah ketika menonton TV sudah
jadi kebiasaan yang menggantikan tradisi membaca, maka dapat dipastikan
kemampuan seseorang untuk memvisualisasi konsep dan mengungkap gagasan sedikit
banyak akan berkurang. Itu pula kiranya yang terjadi pada generasi anak-anak
penonton TV yang bakal kesulitan memahami cerita dalam buku yang minus
gambar-gambar. TV bukan cuma melemahkan minat dan keterampilan membaca, melainkan
cara membaca dan jenis buku yang diminati pun berubah. Buku-buku yang tak
serius, atau buku-buku tipis yang miskin nalar imajinasi lebih disukai
ketimbang yang tebal. Pendek kata, sebab kehadiran TV, telah lahir generasi
yang minim wawasan. Telah lahir “pembaca yang malas”…….
Nah, kan ? Pertanda apa ini ? Kehadiran
TV, dengan susupan tayangan-tayangan yang minus moral, itu adalah by design, atau tanpa rekayasa karena
memang para pemodal, pekerja TV, pemilik PH, KPI, hingga Pemerintah adalah
orang-orang bebal ? Kalau mereka itu pintar dan memang tidak bebal, berarti
kemerosotan moral, dan lahirnya generasi yang minus buku saat ini, adalah
rekayasa dan berarti pula ada konspirasi. Konspirasi untuk membuat negeri ini
mandul, bloon di tengah pusaran pasar
global, di tengah pergaulan internasional. Konspirasi untuk membuat bodoh
generasi, yang gagap dalam pergaulan antar sesama dari negeri seberang.
Lagi-lagi saya hanya bisa bergumam..
Entahlah !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar