Sabtu, 15 November 2014

Konspirasi ?


Terus terang, hingga saat ini saya belum bisa sepenuhnya memahami “konflik” Barat, Amerika, dan Islam. Entah sebab saya ini orang awam, dan sungguh beruntung saya terlahir sebagai orang awam, sehingga “rada polos” tak begitu percaya adanya konflik permanen, pandangan bipolar tentang Barat (dengan Amerika-nya) versus Timur (negeri-negeri berkembang termasuk Islam). Lebih menyulitkan lagi bagi saya bahwa Barat  itu Kristen, Barat itu Yahudi. Jadi konflik yang ditimbulkan sebenarnya antara Kristen bersama Yahudi versus Islam…Waduh makin tak masuk akal bagi common sense saya !


Saya kira, bukan zamannya lagi mempertentangkan antara Islam dengan Barat. Islam dengan Amerika. Bukan saatnya lagi memilah-milah Barat dan Islam (Timur). Karena Barat atau Timur, Amerika atau Islam sama-sama anti kekerasan. Sama-sama mendambakan keadilan. Penyuka kesejahteraan, anti kebodohan, dan alergi dengan kejumudan.

Itu yang mendasari, yang sekaligus menyulitkan saya dengan teori konspirasi. Teori yang menggambarkan adanya tangan-tangan tersembunyi Amerika di belakang kejumudan umat Islam, di belakang “keterbelakangan” negeri kita ini. Tetapi ….aahhhh ! Bagaimana ya ? Piye jal ?

Rakhe yang lagi pantengin TV...
Saya ambil satu contoh saja, TV misalnya. Apa bukan karena konspirasi, ketika media TV begitu dominan dalam kehidupan kita. TV telah mengepung ruang privasi kita. TV telah menjelma jadi “agama” baru. Sehingga begitu gampang, kita menegasikan aktivitas membaca, bermalas-malasan, dan tak menganggap penting tradisi menulis, hanya sekadar ingin memanjakan mata, pantengin TV selama mungkin. TV, bak ideologi, telah sukses meminggirkan kita dari kebiasaan prihatin. Kebiasaan untuk menunda kesenangan, dan beralih pada pemujaan yang serba mudah, serba cepat, dan serba menyenangkan. TV, telah berhasil menggiring kita, dari kebiasaan merenung, dan meresapi kedalaman makna, beralih pada yang dangkal nilai, dan serba permukaan.   

Membaca buku ? Nah, itu dia. Ketika sedang tak ada kerjaan. Ketika rasa jenuh tiba-tiba menyelinap. Dapat dipastikan bahwa membaca buku, alih-alih menulis, adalah opsi pilihan terakhir, usai melihat acara TV yang sedang tak menarik hati. Padahal kalau mau jujur, banyak program tayangan-tayangan TV, yang sebetulnya malah bikin pikiran dan perasaan tumpul alias mandul.  

Rakhe baca buku bergambar.....
Mengapa demikian ? Lantaran melihat TV itu tidak butuh kerja pikir yang sampai mengerutkan dahi. Cukup pantengin layar TV, hati terhibur. Sedang membaca buku, jelas membutuhkan nalar dan perasaan sekaligus, sehingga tak bisa instan untuk mendapatkan kepuasan….

Itulah ketika menonton TV sudah jadi kebiasaan yang menggantikan tradisi membaca, maka dapat dipastikan kemampuan seseorang untuk memvisualisasi konsep dan mengungkap gagasan sedikit banyak akan berkurang. Itu pula kiranya yang terjadi pada generasi anak-anak penonton TV yang bakal kesulitan memahami cerita dalam buku yang minus gambar-gambar. TV bukan cuma melemahkan minat dan keterampilan membaca, melainkan cara membaca dan jenis buku yang diminati pun berubah. Buku-buku yang tak serius, atau buku-buku tipis yang miskin nalar imajinasi lebih disukai ketimbang yang tebal. Pendek kata, sebab kehadiran TV, telah lahir generasi yang minim wawasan. Telah lahir “pembaca yang malas”…….

Nah, kan ? Pertanda apa ini ? Kehadiran TV, dengan susupan tayangan-tayangan yang minus moral, itu adalah by design, atau tanpa rekayasa karena memang para pemodal, pekerja TV, pemilik PH, KPI, hingga Pemerintah adalah orang-orang bebal ? Kalau mereka itu pintar dan memang tidak bebal, berarti kemerosotan moral, dan lahirnya generasi yang minus buku saat ini, adalah rekayasa dan berarti pula ada konspirasi. Konspirasi untuk membuat negeri ini mandul, bloon di tengah pusaran pasar global, di tengah pergaulan internasional. Konspirasi untuk membuat bodoh generasi, yang gagap dalam pergaulan antar sesama dari negeri seberang.

Lagi-lagi saya hanya bisa bergumam.. Entahlah !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar