Rabu, 12 November 2014

Pola Pendidikan

ngobrol bareng seputar "keberagaman" di gubug cintaku



Setidaknya ada dua pola pendidikan yang kita kenal, yaitu: 1) agar peserta didik kelak bisa dimanfaatkan, dan 2) yang berorientasi kepada kemanusiaan. Yang pertama, sebuah sistem pengajaran yang diarahkan pada kebutuhan hidup real, seperti mencari nafkah, membangun usaha, bisa bekerja di industri bisnis, jadi pegawai sipil, dsb. Sedang yang kedua, sistem pengajaran yang merujuk pada konsep klasik Yunani atau Arab, manusia yang bernilai penuh, manusia ideal atau insan kamil. Pengajaran pada sistem yang kedua ini pertama-tama bermaksud hendak membentuk manusia yang berkebudayaan utuh, yang mengenal segala keagungan dan keterbatasan manusia, melalui pengenalan kepada dunia gagasan-gagasan, ide-ide, bentuk-bentuk seni budaya, dsb.

Pengajaran sistem pertama berpola pragmatis, diajari terampil, sistematis melaksanakan tugas, agar nantinya dapat menjadi pegawai yang taat, teknokrat yang beres kerjanya. Satu hal lagi, tidak perlu memikirkan sesuatu yang dalam-dalam, sebab yang dipentingkan bisa terampil berfungsi selaku birokrat atau karyawan industri.

Sebelum kawasan Nusantara kita ini kedatangan orang-orang Eropa, praktis sistem pengajaran yang berkembang adalah pola pendidikan yang kedua, baik melalui pesantren, surau atau dalam keluarga, yaitu pola yang membimbing anak agar hidup secara utuh. Hidup selaras dalam kesatuan jagad kecil (mikrokosmos) dengan jagad besar (makrokosmos).

Begitu Belanda masuk, mulai diperkenalkan pola yang pertama, pengajaran yang semata-mata demi kepentingan kolonialism. Namun demikian, konsep pola Yunani masih melekat erat menyusup pada sistem pengajaran kolonial. Wadah pendidikan yang sedari awal disengaja pragmatis (oleh pemerintah kolonial), namun oleh para pendidiknya disuntikkan dengan pola pengajaran yang mengagungkan citra kemanusiaan. Praktis output pendidikan yang menyemarakkan pengajaran Belanda adalah manusia-manusia yang gandrung pada gagasan-gagasan besar tentang kemerdekaan, humanisasi, emansipasi dsb. Kita mengenal ada Soekarno, Hatta, Sutan Sjahrir, Kartini, Chairil Anwar, dsb.

Pola pendidikan kedua, yang mengajarkan keutuhan manusia, tidak berlanjut begitu gerbang kemerdekaan terbuka. Era Soekarno (orde lama) hanya sibuk dengan proyek nasionalisme. Proyek yang ditandai dengan usaha merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Kemerdekaan yang dimaksud adalah kebebasan yang solider dan egaliter. Lain Soekarno, lain pula Soeharto (dalam era orde baru) yang mengganti nasionalisme dengan modernisasi. Modernisasi disini adalah usaha merealisasikan dan mengisi kemerdekaan. Sedang kemerdekaan yang diinginkan adalah kebebasan egosentrisme individual, kebebasan kompetitif yang menghalalkan jurang menganga sosial ekonomi. Pendidikan yang dicanangkan oleh Orde Lama, adalah politik sebagai panglima kehidupan. Segenap asset hanya demi “revolusi”. Sedang di era Orde Baru, ekonomi sebagai panglima. Sehingga di pertengahan 1970an ada kebijakan NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus). Mahasiswa dibarakkan agar steril dari aktivitas politik. Hal ini makin diperparah dengan kebijakan ‘link and match’ (yang selanjutnya dipertahankan meski samar-samar hingga hari ini), bahwa pendidikan dan pengajaran harus sanggup menyiapkan tenaga yang siap pakai. Sehingga jelas  gamblang bahwa orientasi pendidikan bukanlah pada pengembangan pribadi (juga kepribadian) dan   kematangan setiap peserta didik, melainkan pada pasar tenaga kerja yang akan menampung seseorang usai menjalani pendidikan formalnya. Sekolah dan pasar merupakan pasangan yang saling bergantung.

buka kitab, liarkan pikiran, dan tangkap makna di balik huruf
Pola pendidikan yang kedua, kini seakan sudah tak mendapatkan tempat di bangku pendidikan formal. Hanya gerakan-gerakan informal (alternatif—dan pesantren-pesantren tradisional masuk disini) yang mencoba keluar dari kungkungan pragmatisme. Saya pernah mendapati pola alternatif ini kala mengikuti zawiyah di Pati bersama almarhum Muhammad Zuhri. Dan kini seiring dengan kian merebaknya Taman Baca, saya bayangkan, dapat mempelopori pola pendidikan yang berorientasi pada kemanusiaan, yakni pola yang mengenalkan drama dan tragedi hidup, melalui lirik dan epos. Tapi, entahlah !

Entah, karena beberapa kali, setidaknya di wilayah Jawa Tengah, saya terpaksa harus selalu menelan pil pahit, atas  ketidakseriusan, baik dari para pemegang otoritas maupun pengelola Taman Baca sendiri, di dalam menjalankan gerak dinamika taman baca. Padahal Taman Baca itu program PNFI, jelas sekali bukan pendidikan formal. So, kita sorong kegairahan masyarakat pada pola pendidikan yang bernuansa kemanusiaan. Sebuah pola pendidikan yang memerdekakan dan kini nyaris kosong. Yang membebaskan putra-putri kita dalam menemukan jati diri, mengembangkan konsep diri, hingga cara berasyik masyuk dengan Yang Maha Agung. Taman baca, sanggar baca, komunitas buku, bengkel menulis, adalah cara dan telah terbukti sanggup mengisi kekosongan ranah kemanusiaan itu. Lantaran kantong-kantong komunitas tersebut tak ingin terjebak pada pragmatisme, arus hedonisme dan ganasnya konsumerisme.

Hayuuuukkk………     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar