ngobrol bareng seputar "keberagaman" di gubug cintaku
Setidaknya ada dua pola
pendidikan yang kita kenal, yaitu: 1) agar peserta didik kelak bisa
dimanfaatkan, dan 2) yang berorientasi kepada kemanusiaan. Yang pertama, sebuah
sistem pengajaran yang diarahkan pada kebutuhan hidup real, seperti mencari
nafkah, membangun usaha, bisa bekerja di industri bisnis, jadi pegawai sipil,
dsb. Sedang yang kedua, sistem pengajaran yang merujuk pada konsep klasik
Yunani atau Arab, manusia yang bernilai penuh, manusia ideal atau insan kamil.
Pengajaran pada sistem yang kedua ini pertama-tama bermaksud hendak membentuk
manusia yang berkebudayaan utuh, yang mengenal segala keagungan dan
keterbatasan manusia, melalui pengenalan kepada dunia gagasan-gagasan, ide-ide,
bentuk-bentuk seni budaya, dsb.
Pengajaran sistem pertama berpola
pragmatis, diajari terampil, sistematis melaksanakan tugas, agar nantinya dapat
menjadi pegawai yang taat, teknokrat yang beres kerjanya. Satu hal lagi, tidak
perlu memikirkan sesuatu yang dalam-dalam, sebab yang dipentingkan bisa terampil
berfungsi selaku birokrat atau karyawan industri.
Sebelum kawasan Nusantara kita
ini kedatangan orang-orang Eropa, praktis sistem pengajaran yang berkembang
adalah pola pendidikan yang kedua, baik melalui pesantren, surau atau dalam
keluarga, yaitu pola yang membimbing anak agar hidup secara utuh. Hidup selaras
dalam kesatuan jagad kecil (mikrokosmos)
dengan jagad besar (makrokosmos).
Begitu Belanda masuk, mulai
diperkenalkan pola yang pertama, pengajaran yang semata-mata demi kepentingan
kolonialism. Namun demikian, konsep pola Yunani masih melekat erat menyusup
pada sistem pengajaran kolonial. Wadah pendidikan yang sedari awal disengaja
pragmatis (oleh pemerintah kolonial), namun oleh para pendidiknya disuntikkan
dengan pola pengajaran yang mengagungkan citra kemanusiaan. Praktis output
pendidikan yang menyemarakkan pengajaran Belanda adalah manusia-manusia yang
gandrung pada gagasan-gagasan besar tentang kemerdekaan, humanisasi, emansipasi
dsb. Kita mengenal ada Soekarno, Hatta, Sutan Sjahrir, Kartini, Chairil Anwar,
dsb.
Pola pendidikan kedua, yang
mengajarkan keutuhan manusia, tidak berlanjut begitu gerbang kemerdekaan
terbuka. Era Soekarno (orde lama) hanya sibuk dengan proyek nasionalisme. Proyek
yang ditandai dengan usaha merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Kemerdekaan
yang dimaksud adalah kebebasan yang solider dan egaliter. Lain Soekarno, lain
pula Soeharto (dalam era orde baru) yang mengganti nasionalisme dengan
modernisasi. Modernisasi disini adalah usaha merealisasikan dan mengisi kemerdekaan.
Sedang kemerdekaan yang diinginkan adalah kebebasan egosentrisme individual,
kebebasan kompetitif yang menghalalkan jurang menganga sosial ekonomi.
Pendidikan yang dicanangkan oleh Orde Lama, adalah politik sebagai panglima
kehidupan. Segenap asset hanya demi “revolusi”. Sedang di era Orde Baru,
ekonomi sebagai panglima. Sehingga di pertengahan 1970an ada kebijakan NKK
(Normalisasi Kehidupan Kampus). Mahasiswa dibarakkan agar steril dari aktivitas
politik. Hal ini makin diperparah dengan kebijakan ‘link and match’ (yang selanjutnya dipertahankan meski samar-samar
hingga hari ini), bahwa pendidikan dan pengajaran harus sanggup menyiapkan
tenaga yang siap pakai. Sehingga jelas gamblang
bahwa orientasi pendidikan bukanlah pada pengembangan pribadi (juga kepribadian)
dan kematangan setiap peserta didik, melainkan
pada pasar tenaga kerja yang akan menampung seseorang usai menjalani pendidikan
formalnya. Sekolah dan pasar merupakan pasangan yang saling bergantung.
![]() |
| buka kitab, liarkan pikiran, dan tangkap makna di balik huruf |
Pola
pendidikan yang kedua, kini seakan sudah tak mendapatkan tempat di bangku
pendidikan formal. Hanya gerakan-gerakan informal (alternatif—dan
pesantren-pesantren tradisional masuk disini) yang mencoba keluar dari
kungkungan pragmatisme. Saya pernah mendapati pola alternatif ini kala mengikuti
zawiyah di Pati bersama almarhum
Muhammad Zuhri. Dan kini seiring dengan kian merebaknya Taman Baca, saya
bayangkan, dapat mempelopori pola pendidikan yang berorientasi pada
kemanusiaan, yakni pola yang mengenalkan drama dan tragedi hidup, melalui lirik
dan epos. Tapi, entahlah !
Entah, karena beberapa kali,
setidaknya di wilayah Jawa Tengah, saya terpaksa harus selalu menelan pil pahit,
atas ketidakseriusan, baik dari para
pemegang otoritas maupun pengelola Taman Baca sendiri, di dalam menjalankan
gerak dinamika taman baca. Padahal Taman Baca itu program PNFI, jelas sekali
bukan pendidikan formal. So, kita sorong kegairahan masyarakat pada pola
pendidikan yang bernuansa kemanusiaan. Sebuah pola pendidikan yang memerdekakan
dan kini nyaris kosong. Yang membebaskan putra-putri kita dalam menemukan jati
diri, mengembangkan konsep diri, hingga cara berasyik masyuk dengan Yang Maha
Agung. Taman baca, sanggar baca, komunitas buku, bengkel menulis, adalah cara
dan telah terbukti sanggup mengisi kekosongan ranah kemanusiaan itu. Lantaran kantong-kantong
komunitas tersebut tak ingin terjebak pada pragmatisme,
arus hedonisme dan ganasnya konsumerisme.
Hayuuuukkk………


Tidak ada komentar:
Posting Komentar