Hingga detik malam ini, saya
belum bisa memejamkan mata. Bergelayut pikiran, pelbagai beban tanggungan yang
belum tuntas. Dari mulai hutang piutang yang tak kunjung lunas, janji belikan
mainan dan buku pada Isa dan Rakhe yang belum terpenuhi, hingga tanggungan
sosial yang tak terelakkan. Hmmm…konon dikatakan bahwa hidup sekadar mampir ngombe (singgah sekadar untuk
minum). Seakan rambu-rambu dari para sesepuh, bahwa hidup jangan jadi alasan
sebagai beban. Jangan dijadikan alasan untuk berkeluh kesah, mengumbar galau,
sedih tiada ujung, lantaran usia kita untuk menghuni muka bumi ini tidaklah
lama. Ada batas waktu.
Itu idealnya. Ideal bahwa kita
mesti damai sentausa tak ada masalah dalam menjalani hidup. Tak ada beban
pikiran dan perasaan dalam mensikapi kenyataan. Senantiasa tenang dalam
menghadapi kemungkinan. Tetapi tidak ! Senyatanya tidaklah semulus itu. Tidak
mudah mengendalikan perasaan dan pikiran sekadar mampir ngombe. Perasaan galau, was-was, sedih dan khawatir, selalu
ada dan datang tanpa permisi sehingga kita bisa bersiap-siap. Perasaan itu
datang secara tiba-tiba, tanpa kejelasan sebab. Bahkan yang datang dengan kulo nuwun, dan kejelasan pun, kita
masih sering gagap menanggapinya. Sebagaimana kita tahu, bahwa anak kecil yang
bermain hujan-hujanan, maka cepat atau lambat, ia akan menderita batuk pilek. Tapi
kala si buah hati, malam-malam bangun dan menangis lantaran cekal-cekil batuk tak berhenti, naluri
orangtua sontak khawatir dan bersedih. Padahal penyebabnya jelas, yaitu siang
ketika turun hujan, ia bermain dengan air hujan. Pikiran ingin tenang, tetap
saja sulit, ketika teror dari pengalaman masa lalu datang. Pendek kata,
perjalanan hidup tak semudah nasihat Mario Teguh, tak segampang petuah dari
para sesepuh.
Tak bisa saya bendung, tiba-tiba
saja, terbayang pada tokoh-tokoh, orang-orang besar, yang kini kita kenal
sebagai pahlawan, seperti Pangeran Diponegoro, Jendral Soedirman, Soekarno,
Hatta, Sutan Sjahrir, Kartini, atau Dewi Sartika. Apakah mereka juga mengalami
perasaan hancur ? Pikiran dan perasaan tak bisa berdamai ? Kecewa, galau, dan
nyaris putus asa ? Apakah benar, bahwa yang mereka lakukan itu memang bermula
dari ide dan gagasan-gagasan besar tentang hak kemerdekaan bangsa ? Atau
sebetulnya hanya masalah pribadi, karena pengkhianatan seorang kawan, tanah
tempat tinggalnya dirampas, masa bermainnya yang kandas. Bagaimana konflik
dalam keluarga, interaksi dengan anak-anak, dan cita-cita atas masa depan sang
buah hati ? Sayang dalam pelajaran sejarah, kita tak pernah mendapati rekaman
konflik psikologis maupun sosiologis mereka. Yang kita terima selama ini,
sebatas pergolakan politik, intrik politik dan cerita heroiknya.
Lain kisah buku sejarah, lain
dengan kitab suci Al-Qur’an. Karena memang Al-Qur’an bukan kitab sejarah, meski
di sana sini berserakan cerita tokoh dan para nabi. Tetapi gambaran nabi-nabi
yang dilukiskan dalam kitab tersebut, tak seheroik pelajaran sejarah yang kita
terima di sekolah-sekolah. Nabi Adam digambarkan sebagai sosok yang manusiawi,
yang juga bisa tergoda oleh rayuan. Kemudian bersedih dan bertobat. Nabi Yunus,
lantaran tak tahan dengan keras kepala umatnya, lantas putus asa dan lari
menjauh. Kemudian Tuhan menegurnya lewat perut ikan, dan sang nabi ini pun
menyadari kesalahan. Nabi Hud, Nuh, dan Shaleh, akhirnya juga meminta kuasa
Tuhan agar berkenan mengutuk umatnya yang durhaka. Nabi Luth, tak tahan dengan
tingkah umatnya yang cinta sejenis. Terakhir yang fenomenal, berkali-kali Tuhan
menghibur dan memberi semangat pada Rasulullah Muhammad agar tak surut semangat
dalam menyeru kebajikan. Pengalamannya menerima wahyu yang pertama, surah
al-‘Alaq, bikin perasaan Nabi “shock”.
Beliau perlu waktu untuk meringankan kekagetannya dan merenungkan misi
kerasulan yang mesti diemban. Nabi agung Muhammad, perlu waktu untuk meyakinkan
dirinya bahwa Tuhan akan selalu bersama, menemani setiap menghadapi persoalan.
Itulah, saya memahami lukisan
yang ditampilkan dalam kitab suci tersebut, sangat humanis. Mereka didaulat
sebagai nabi dan rasul, namun juga mengalami gundah gulana, khawatir, bahkan
ragu-ragu. Dalam menghadapi kenyataan butuh ketangguhan batin, sabar menghadapi
perkataan-perkataan yang tak enak, dan tidak hanyut dalam kekecewaan.
Hmmm….mereka semua, hingga Nabiullah Muhammad SAW, tidak disebutkan sebagai
sosok superman yang serba bisa dan
tanpa tekanan batin. Sebuah rekam jejak yang logis, natural, dan manusiawi.
Gundah, galau, khawatir, adalah
hal yang natur. Para nabi pun ternyata mengalami dan mereka bisa mengatasi.
Beban yang menghantui pikiran dan perasaan, pasti adanya, dan menimpa semua
umat manusia. Nah, tinggal bagaimana selanjutnya, memelihara kecewa, dan terus-menerus
berputus asa sepanjang hayat, hingga kelak pergi ke liang lahat tanpa
meninggalkan bekas jasa ? Atau sebaliknya, sedia mematut diri, bak pohon besar
yang kuat mengakar, tak goyah. Daun rimbun memayungi setiap yang lewat. Buah
manis dan kayu yang bermanfaat bagi yang lain. Sehingga “ada” untuk tak menjadi
yang sia-sia. Berada untuk berguna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar