Rabu, 12 November 2014

Berada Untuk Bermakna

Hingga detik malam ini, saya belum bisa memejamkan mata. Bergelayut pikiran, pelbagai beban tanggungan yang belum tuntas. Dari mulai hutang piutang yang tak kunjung lunas, janji belikan mainan dan buku pada Isa dan Rakhe yang belum terpenuhi, hingga tanggungan sosial yang tak terelakkan. Hmmm…konon dikatakan bahwa hidup sekadar mampir ngombe (singgah sekadar untuk minum). Seakan rambu-rambu dari para sesepuh, bahwa hidup jangan jadi alasan sebagai beban. Jangan dijadikan alasan untuk berkeluh kesah, mengumbar galau, sedih tiada ujung, lantaran usia kita untuk menghuni muka bumi ini tidaklah lama. Ada batas waktu.

Itu idealnya. Ideal bahwa kita mesti damai sentausa tak ada masalah dalam menjalani hidup. Tak ada beban pikiran dan perasaan dalam mensikapi kenyataan. Senantiasa tenang dalam menghadapi kemungkinan. Tetapi tidak ! Senyatanya tidaklah semulus itu. Tidak mudah mengendalikan perasaan dan pikiran sekadar mampir ngombe. Perasaan galau, was-was, sedih dan khawatir, selalu ada dan datang tanpa permisi sehingga kita bisa bersiap-siap. Perasaan itu datang secara tiba-tiba, tanpa kejelasan sebab. Bahkan yang datang dengan kulo nuwun, dan kejelasan pun, kita masih sering gagap menanggapinya. Sebagaimana kita tahu, bahwa anak kecil yang bermain hujan-hujanan, maka cepat atau lambat, ia akan menderita batuk pilek. Tapi kala si buah hati, malam-malam bangun dan menangis lantaran cekal-cekil batuk tak berhenti, naluri orangtua sontak khawatir dan bersedih. Padahal penyebabnya jelas, yaitu siang ketika turun hujan, ia bermain dengan air hujan. Pikiran ingin tenang, tetap saja sulit, ketika teror dari pengalaman masa lalu datang. Pendek kata, perjalanan hidup tak semudah nasihat Mario Teguh, tak segampang petuah dari para sesepuh.

Tak bisa saya bendung, tiba-tiba saja, terbayang pada tokoh-tokoh, orang-orang besar, yang kini kita kenal sebagai pahlawan, seperti Pangeran Diponegoro, Jendral Soedirman, Soekarno, Hatta, Sutan Sjahrir, Kartini, atau Dewi Sartika. Apakah mereka juga mengalami perasaan hancur ? Pikiran dan perasaan tak bisa berdamai ? Kecewa, galau, dan nyaris putus asa ? Apakah benar, bahwa yang mereka lakukan itu memang bermula dari ide dan gagasan-gagasan besar tentang hak kemerdekaan bangsa ? Atau sebetulnya hanya masalah pribadi, karena pengkhianatan seorang kawan, tanah tempat tinggalnya dirampas, masa bermainnya yang kandas. Bagaimana konflik dalam keluarga, interaksi dengan anak-anak, dan cita-cita atas masa depan sang buah hati ? Sayang dalam pelajaran sejarah, kita tak pernah mendapati rekaman konflik psikologis maupun sosiologis mereka. Yang kita terima selama ini, sebatas pergolakan politik, intrik politik dan cerita heroiknya.

Lain kisah buku sejarah, lain dengan kitab suci Al-Qur’an. Karena memang Al-Qur’an bukan kitab sejarah, meski di sana sini berserakan cerita tokoh dan para nabi. Tetapi gambaran nabi-nabi yang dilukiskan dalam kitab tersebut, tak seheroik pelajaran sejarah yang kita terima di sekolah-sekolah. Nabi Adam digambarkan sebagai sosok yang manusiawi, yang juga bisa tergoda oleh rayuan. Kemudian bersedih dan bertobat. Nabi Yunus, lantaran tak tahan dengan keras kepala umatnya, lantas putus asa dan lari menjauh. Kemudian Tuhan menegurnya lewat perut ikan, dan sang nabi ini pun menyadari kesalahan. Nabi Hud, Nuh, dan Shaleh, akhirnya juga meminta kuasa Tuhan agar berkenan mengutuk umatnya yang durhaka. Nabi Luth, tak tahan dengan tingkah umatnya yang cinta sejenis. Terakhir yang fenomenal, berkali-kali Tuhan menghibur dan memberi semangat pada Rasulullah Muhammad agar tak surut semangat dalam menyeru kebajikan. Pengalamannya menerima wahyu yang pertama, surah al-‘Alaq, bikin perasaan Nabi “shock”. Beliau perlu waktu untuk meringankan kekagetannya dan merenungkan misi kerasulan yang mesti diemban. Nabi agung Muhammad, perlu waktu untuk meyakinkan dirinya bahwa Tuhan akan selalu bersama, menemani setiap menghadapi persoalan.

Itulah, saya memahami lukisan yang ditampilkan dalam kitab suci tersebut, sangat humanis. Mereka didaulat sebagai nabi dan rasul, namun juga mengalami gundah gulana, khawatir, bahkan ragu-ragu. Dalam menghadapi kenyataan butuh ketangguhan batin, sabar menghadapi perkataan-perkataan yang tak enak, dan tidak hanyut dalam kekecewaan. Hmmm….mereka semua, hingga Nabiullah Muhammad SAW, tidak disebutkan sebagai sosok superman yang serba bisa dan tanpa tekanan batin. Sebuah rekam jejak yang logis,  natural, dan manusiawi.

Gundah, galau, khawatir, adalah hal yang natur. Para nabi pun ternyata mengalami dan mereka bisa mengatasi. Beban yang menghantui pikiran dan perasaan, pasti adanya, dan menimpa semua umat manusia. Nah, tinggal bagaimana selanjutnya, memelihara kecewa, dan terus-menerus berputus asa sepanjang hayat, hingga kelak pergi ke liang lahat tanpa meninggalkan bekas jasa ? Atau sebaliknya, sedia mematut diri, bak pohon besar yang kuat mengakar, tak goyah. Daun rimbun memayungi setiap yang lewat. Buah manis dan kayu yang bermanfaat bagi yang lain. Sehingga “ada” untuk tak menjadi yang sia-sia. Berada untuk berguna.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar