![]() |
| Rakhe, dan Ahimsa [dok Ardie] |
Belum mau sekolah. Ya, mau
bagaimana lagi, itulah si Rakhe, bungsu yang kini sudah 4 tahun. Ia masih asyik
menikmati kesendiriannya di rumah. Sama sekali belum tertarik untuk mengikuti
jejak teman-teman sebayanya yang sudah pada pakai seragam PAUD. Saban harinya,
hanya dihabiskan dengan bermain lego, puzzle, pasir, tanah lumpur, nonton TV.
Sesekali minta dibacakan buku, namun masih terhitung jarang. Bermain dengan
teman-teman sebaya, juga jarang ia lakukan. Giliran yang sulung pulang sekolah,
baru ia dapatkan teman main. Timbul rasa kasihan. Saya tak tega, dan takut ia
bakal asosial, di kemudian hari. Saya takut ia akan mendapati kesulitan, akibat
kurang pergaulan. Saya takut, kelak ia akan dikucilkan dan susah dapatkan
sahabat karib.
Tapi sudahlah. Kenapa saya musti
risau dengan masa depannya kelak ? Bukankah ia memang akan mendapatkan zamannya
sendiri, yang barangkali sangat berbeda kondisinya dengan sekarang. Kenapa saya
musti galau, atas sesuatu yang bukan wewenang saya ? Masa depannya adalah milik
dan sudah dalam genggaman Ilahi. Saya tak punya hak sedikit pun atas masa
depannya. Yang musti saya lakukan sebatas menemaninya saja, tak lebih. Kalau
dipikir-pikir, sebenarnya orangtua memang tak perlu repot-repot “sok”
memikirkan masa depan anak-anaknya. Cukup bagi mereka, para orangtua, adalah
membentuk diri agar bisa memancarkan keteladanan yang memadai bagi anak-anak.
Menjadikan diri sebagai sosok teladan saja, sudah merupakan pekerjaan
tersendiri yang tak gampang. Banyak orangtua gagal, jatuh terpelanting, akibat
tidak tepat dalam memerankan diri. Sosok teladan mensyaratkan sikap istiqomah,
tak mudah goyah. Dan itulah yang berat. Teguh pendirian sebagai uswah hasanah bagi anak-anak.
Barangkali hingga kini, saya juga
belum sepenuhnya sanggup memerankan diri sebagai sosok teladan. Saya masih
gampang tergiur untuk ganti haluan. Padahal, saya musti istiqomah terus-menerus
mematangkan diri, agar layak jadi sosok “pemberi inspirasi” dalam proses
pembentukan karakter kedua buah hati. Teladan apa ? Karakter apa ? Ya, dari
menit ke menit, yang anak-anak hirup tiada lain adalah tradisi baca, menulis, berdiskusi,
atmosfir dan semangat belajar. Belajar tidak identik dengan sekolah. Belajar
merupakan kemauan kita untuk menggali pemahaman, menghikmahi kenyataan. Sebab
kalau belajar disempitkan sebatas bangku sekolah, sungguh kasihan anak-anak itu
kelak, lantaran saya hanya sanggup menuntaskan pendidikan akhir dibangku SMA.
Pernah mencoba peruntungan untuk kuliah di Universitas Diponegoro, universitas
ternama di Kota Semarang, namun belum genap dua tahun, sudah putuskan untuk
“pensiun dini” sebagai mahasiswa.
Dari semangat belajar itulah,
saya tak menuntut anak-anak, baik Ahimsa maupun Rakhe, agar fokus sekolah saja.
Tidak ! Saya tak memaksa, mau sekolah atau tidak, terserah saja maunya
anak-anak. Ahimsa kini menempuh jenjang formal, kelas dua, di sekolah bonafit
kota Ungaran, SDIT Assalamah. Sedang Rakhe, masih betah di rumah, belum mau sekolah.
Sekali lagi, tradisi belajar, tidak mesti diwujudkan dengan berseragam sekolah.
Yang terutama dalam belajar, adalah keinginan mencari tahu atas banyak hal,
ingin mencoba, ingin eksploratif, dan serba bertanya.
Naluri belajar, yang serba
mencoba, serba eksploratif, maupun serba bertanya, sudah terpatri dari bawaan
lahir setiap pribadi anak. Saya percaya, tak ada satu pun anak-anak yang tak
ingin bertanya, tak ingin mencoba, tak suka alam. Anak-anak itu wujud insan
manusia yang mania belajar. Pemahaman yang demikian, yang kemudian bikin saya,
tak mempermasalahkan pola pendidikan formal yang bakal anak-anak tempuh. Lebih ekstrim
lagi, bagi saya, sekolah formal itu tak penting, bukan yang utama. Yang utama
dalam kehidupan ini ialah belajar seumur hidup.
Rakhe belum sekolah, dan tak jadi
soal, malah itu yang terbaik. Sebab sepemahaman saya, sebelum usia 7 tahun,
diusahakan anak tumbuh kembang secara natur, apa adanya, tanpa pola yang
sistemik. Artinya, pembelajaran yang struktural di sekolah PAUD, baik KB, TK
dan sejenisnya, musti dikaji ulang, apakah sudah tepat ? Atau malah justru
sebaliknya, pembelajaran yang sudah kadung
melekat itu, adalah pola yang membunuh kreativitas anak. Pola belajar yang justru
memangkas daya imajinasi, karena yang sering saya lihat, permainan dan sentra
belajarnya adalah imitasi, terbatas, dan serba aturan.
Akhirnya, imajinasi anak-anak,
musti diliarkan. Mumpung “kesungguhan”nya belum terciderai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar