Selasa, 25 November 2014

Rakhe Belum Sekolah

Rakhe, dan Ahimsa [dok Ardie]

Belum mau sekolah. Ya, mau bagaimana lagi, itulah si Rakhe, bungsu yang kini sudah 4 tahun. Ia masih asyik menikmati kesendiriannya di rumah. Sama sekali belum tertarik untuk mengikuti jejak teman-teman sebayanya yang sudah pada pakai seragam PAUD. Saban harinya, hanya dihabiskan dengan bermain lego, puzzle, pasir, tanah lumpur, nonton TV. Sesekali minta dibacakan buku, namun masih terhitung jarang. Bermain dengan teman-teman sebaya, juga jarang ia lakukan. Giliran yang sulung pulang sekolah, baru ia dapatkan teman main. Timbul rasa kasihan. Saya tak tega, dan takut ia bakal asosial, di kemudian hari. Saya takut ia akan mendapati kesulitan, akibat kurang pergaulan. Saya takut, kelak ia akan dikucilkan dan susah dapatkan sahabat karib.


Tapi sudahlah. Kenapa saya musti risau dengan masa depannya kelak ? Bukankah ia memang akan mendapatkan zamannya sendiri, yang barangkali sangat berbeda kondisinya dengan sekarang. Kenapa saya musti galau, atas sesuatu yang bukan wewenang saya ? Masa depannya adalah milik dan sudah dalam genggaman Ilahi. Saya tak punya hak sedikit pun atas masa depannya. Yang musti saya lakukan sebatas menemaninya saja, tak lebih. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya orangtua memang tak perlu repot-repot “sok” memikirkan masa depan anak-anaknya. Cukup bagi mereka, para orangtua, adalah membentuk diri agar bisa memancarkan keteladanan yang memadai bagi anak-anak. Menjadikan diri sebagai sosok teladan saja, sudah merupakan pekerjaan tersendiri yang tak gampang. Banyak orangtua gagal, jatuh terpelanting, akibat tidak tepat dalam memerankan diri. Sosok teladan mensyaratkan sikap istiqomah, tak mudah goyah. Dan itulah yang berat. Teguh pendirian sebagai uswah hasanah bagi anak-anak.

Barangkali hingga kini, saya juga belum sepenuhnya sanggup memerankan diri sebagai sosok teladan. Saya masih gampang tergiur untuk ganti haluan. Padahal, saya musti istiqomah terus-menerus mematangkan diri, agar layak jadi sosok “pemberi inspirasi” dalam proses pembentukan karakter kedua buah hati. Teladan apa ? Karakter apa ? Ya, dari menit ke menit, yang anak-anak hirup tiada lain adalah tradisi baca, menulis, berdiskusi, atmosfir dan semangat belajar. Belajar tidak identik dengan sekolah. Belajar merupakan kemauan kita untuk menggali pemahaman, menghikmahi kenyataan. Sebab kalau belajar disempitkan sebatas bangku sekolah, sungguh kasihan anak-anak itu kelak, lantaran saya hanya sanggup menuntaskan pendidikan akhir dibangku SMA. Pernah mencoba peruntungan untuk kuliah di Universitas Diponegoro, universitas ternama di Kota Semarang, namun belum genap dua tahun, sudah putuskan untuk “pensiun dini” sebagai mahasiswa.

Dari semangat belajar itulah, saya tak menuntut anak-anak, baik Ahimsa maupun Rakhe, agar fokus sekolah saja. Tidak ! Saya tak memaksa, mau sekolah atau tidak, terserah saja maunya anak-anak. Ahimsa kini menempuh jenjang formal, kelas dua, di sekolah bonafit kota Ungaran, SDIT Assalamah. Sedang Rakhe, masih betah di rumah, belum mau sekolah. Sekali lagi, tradisi belajar, tidak mesti diwujudkan dengan berseragam sekolah. Yang terutama dalam belajar, adalah keinginan mencari tahu atas banyak hal, ingin mencoba, ingin eksploratif, dan serba bertanya.

Naluri belajar, yang serba mencoba, serba eksploratif, maupun serba bertanya, sudah terpatri dari bawaan lahir setiap pribadi anak. Saya percaya, tak ada satu pun anak-anak yang tak ingin bertanya, tak ingin mencoba, tak suka alam. Anak-anak itu wujud insan manusia yang mania belajar. Pemahaman yang demikian, yang kemudian bikin saya, tak mempermasalahkan pola pendidikan formal yang bakal anak-anak tempuh. Lebih ekstrim lagi, bagi saya, sekolah formal itu tak penting, bukan yang utama. Yang utama dalam kehidupan ini ialah belajar seumur hidup.

Rakhe belum sekolah, dan tak jadi soal, malah itu yang terbaik. Sebab sepemahaman saya, sebelum usia 7 tahun, diusahakan anak tumbuh kembang secara natur, apa adanya, tanpa pola yang sistemik. Artinya, pembelajaran yang struktural di sekolah PAUD, baik KB, TK dan sejenisnya, musti dikaji ulang, apakah sudah tepat ? Atau malah justru sebaliknya, pembelajaran yang sudah kadung melekat itu, adalah pola yang membunuh kreativitas anak. Pola belajar yang justru memangkas daya imajinasi, karena yang sering saya lihat, permainan dan sentra belajarnya adalah imitasi, terbatas, dan serba aturan.

Akhirnya, imajinasi anak-anak, musti diliarkan. Mumpung “kesungguhan”nya belum terciderai.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar