Pamer itu kata kerja, yang
kira-kira artinya: menunjukkaan sesuatu yang dimiliki kepada orang lain. Namun konotasi
yang tak bisa dihapus dari usaha menunjukkan itu adalah sifat sombong. Seakan pamer
sama dengan sombong. Dan kita mafhum, memang demikian, pamer itu sombong. Tapi beda
dengan kata pameran, yang merupakan kata benda, yang dimaksudkan sebagai
pertunjukan hasil karya seni, hasil produksi, dan sebagainya. Pameran merupakan
unjuk karya, dan mengandaikan banyak pengunjung akan hadir, berbondong kerubuti
panggung pertunjukan. Nah, besok pagi, kita akan disuguhi pameran buku di Gedung
Korpri, Jl. Gatot Subroto, Ungaran.
Pameran buku ? Buku ialah
lembaran kertas yang berisi catatan atau tulisan dan berjilid. Jadi yang bakal
kita saksikan nanti, tak lain adalah gelaran karya tulis, hasil rekam jejak
yang berjilid. Sebagai yang memimpikan “Ungaran Kota Literasi”, saya tak bisa
menutupi perasaan senang, dengan gelaran buku itu nanti. Bahkan, kalau boleh
berharap, seyogianya dilaksanakan tidak hanya setahun sekali, melainkan 3 atau
4 kali dalam setahun. Kenapa demikian ? Hal itu untuk menjawab tudingan minat
baca masyarakat rendah.
Saya termasuk yang tak percaya,
dengan tudingan kalau minat baca kita rendah. Minat baca masyarakat kita tidak
rendah. Di tempat-tempat mangkal tukang ojek, tukang becak, sembari menunggu pelanggan,
tak jarang dari mereka yang memanfaatkan jeda waktu dengan membaca, meski baru
sebatas koran kriminal. Bisa jadi bukan minat bacanya yang rendah, tapi akses
untuk mendapatkan bahan bacaan yang kurang. Harga buku masih melangit, belum
bersahabat dengan kantong masyarakat bawah. Terlebih lagi Gramedia, Gunung Agung, ataupun Toga Mas, juga
belum menjamah Kota Ungaran. Sehingga, sekali lagi, akses untuk mendapatkan
buku, masih terbilang susah.
Saya salut dengan terobosan yang
dikerjakan Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Semarang. Perpustakaan
yang kita saksikan akhir-akhir ini memang telah jauh berbeda dengan model
perpustakaan tempo dulu. Perpustakaan telah berbenah seiring tuntutan untuk
kian dekat dengan masyarakat hingga ke pelosok daerah. Perpustakaan telah
mematut diri agar tidak memetik kesulitan dalam berinteraksi dan bertegur sapa
dengan segenap lapisan masyarakat. Tampilan ramah, pelayanan yang mudah, akses
cepat, dan parkir gratis kiranya tidak lagi menjadi monopoli minimarket alfamart atau indomart saja. Lantaran kini juga sudah jadi trendmark bagi lembaga yang bertanggung jawab atas budaya baca
tersebut.
Nah, pameran buku, yang bakal
digelar 27 November – 3 Desember 2014, termasuk salah satu terobosan KPAD. Alasan
harga buku mahal, tak terjangkau oleh income
mayoritas masyarakat, dijawab dengan
pesta diskon. Selama sepekan, kita bakal dimanjakan dengan harga-harga buku
yang lepas bandrol.
Pameran buku, impian akan kota
literasi serasa nyata. Kerja-kerja literasi, seperti pasar buku murah, hibah
buku, peluncuran buku, diskusi, yang belum jadi favourite program, kini beralih jadi program kebanggaan kota. Setidaknya
berawal dari pameran buku, awal kota literasi, kita canangkan. Sehingga sangkaan
minat baca rendah, makin jelas tak terbukti. Mungkinkah ? Hmmm…tak ada kata tak mungkin. Selagi ada
usaha, di situ jalan sudah menunggu. Mimpi pun jadi kenyataan.
Pameran buku, gelaran buku murah,
akan jadi cara diplomasi kita, dalam membantu negara tunaikan amanatnya. Persis,
sebagaimana kita mafhumi, dari 4 amanat UUD 1945, “mencerdaskan kehidupan
bangsa”lah yang paling naas nasibnya. Dari slogan ke slogan, sudah berhamburan
memenuhi ruas jalan, namun tudingan budaya baca rendah, masih kerap kita dengar
dari survey-survey, dalam maupun luar negeri. Akhir kata, gelaran buku,
masyarakat dapatkan bahan bacaan yang berkualitas, dan kota literasi, tak jauh
dari kenyataan. Itulah Kota Ungaran. Semoga….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar