Rabu, 26 November 2014

Pameran Buku: Awal Kota Literasi


Pamer itu kata kerja, yang kira-kira artinya: menunjukkaan sesuatu yang dimiliki kepada orang lain. Namun konotasi yang tak bisa dihapus dari usaha menunjukkan itu adalah sifat sombong. Seakan pamer sama dengan sombong. Dan kita mafhum, memang demikian, pamer itu sombong. Tapi beda dengan kata pameran, yang merupakan kata benda, yang dimaksudkan sebagai pertunjukan hasil karya seni, hasil produksi, dan sebagainya. Pameran merupakan unjuk karya, dan mengandaikan banyak pengunjung akan hadir, berbondong kerubuti panggung pertunjukan. Nah, besok pagi, kita akan disuguhi pameran buku di Gedung Korpri, Jl. Gatot Subroto, Ungaran.  


Pameran buku ? Buku ialah lembaran kertas yang berisi catatan atau tulisan dan berjilid. Jadi yang bakal kita saksikan nanti, tak lain adalah gelaran karya tulis, hasil rekam jejak yang berjilid. Sebagai yang memimpikan “Ungaran Kota Literasi”, saya tak bisa menutupi perasaan senang, dengan gelaran buku itu nanti. Bahkan, kalau boleh berharap, seyogianya dilaksanakan tidak hanya setahun sekali, melainkan 3 atau 4 kali dalam setahun. Kenapa demikian ? Hal itu untuk menjawab tudingan minat baca masyarakat rendah.

Saya termasuk yang tak percaya, dengan tudingan kalau minat baca kita rendah. Minat baca masyarakat kita tidak rendah. Di tempat-tempat mangkal tukang ojek, tukang becak, sembari menunggu pelanggan, tak jarang dari mereka yang memanfaatkan jeda waktu dengan membaca, meski baru sebatas koran kriminal. Bisa jadi bukan minat bacanya yang rendah, tapi akses untuk mendapatkan bahan bacaan yang kurang. Harga buku masih melangit, belum bersahabat dengan kantong masyarakat bawah. Terlebih lagi  Gramedia, Gunung Agung, ataupun Toga Mas, juga belum menjamah Kota Ungaran. Sehingga, sekali lagi, akses untuk mendapatkan buku, masih terbilang susah.

Saya salut dengan terobosan yang dikerjakan Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Semarang. Perpustakaan yang kita saksikan akhir-akhir ini memang telah jauh berbeda dengan model perpustakaan tempo dulu. Perpustakaan telah berbenah seiring tuntutan untuk kian dekat dengan masyarakat hingga ke pelosok daerah. Perpustakaan telah mematut diri agar tidak memetik kesulitan dalam berinteraksi dan bertegur sapa dengan segenap lapisan masyarakat. Tampilan ramah, pelayanan yang mudah, akses cepat, dan parkir gratis kiranya tidak lagi menjadi monopoli minimarket alfamart atau indomart saja. Lantaran kini juga sudah jadi trendmark bagi lembaga yang bertanggung jawab atas budaya baca tersebut.

Nah, pameran buku, yang bakal digelar 27 November – 3 Desember 2014, termasuk salah satu terobosan KPAD. Alasan harga buku mahal, tak terjangkau oleh income mayoritas masyarakat,  dijawab dengan pesta diskon. Selama sepekan, kita bakal dimanjakan dengan harga-harga buku yang lepas bandrol.

Pameran buku, impian akan kota literasi serasa nyata. Kerja-kerja literasi, seperti pasar buku murah, hibah buku, peluncuran buku, diskusi, yang belum jadi favourite program, kini beralih jadi program kebanggaan kota. Setidaknya berawal dari pameran buku, awal kota literasi, kita canangkan. Sehingga sangkaan minat baca rendah, makin jelas tak terbukti. Mungkinkah ?  Hmmm…tak ada kata tak mungkin. Selagi ada usaha, di situ jalan sudah menunggu. Mimpi pun jadi kenyataan.

Pameran buku, gelaran buku murah, akan jadi cara diplomasi kita, dalam membantu negara tunaikan amanatnya. Persis, sebagaimana kita mafhumi, dari 4 amanat UUD 1945, “mencerdaskan kehidupan bangsa”lah yang paling naas nasibnya. Dari slogan ke slogan, sudah berhamburan memenuhi ruas jalan, namun tudingan budaya baca rendah, masih kerap kita dengar dari survey-survey, dalam maupun luar negeri. Akhir kata, gelaran buku, masyarakat dapatkan bahan bacaan yang berkualitas, dan kota literasi, tak jauh dari kenyataan. Itulah Kota Ungaran. Semoga….   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar