Rahma, Ahimsa, Rakhe, dan aku
Nak, damai selalu dan bahagialah kalian ! Di tengah zaman
edan saat ini, hanya yang waras yang selamat. Hanya yang eling dan waspada yang
bakal menikmati keberuntungan. “Mengalami zaman gila, ikut gila tidak tahan,
kalau tidak ikut gila, tidak dapat bagian. Dan sebahagia-bahagianya orang yang
lupa, masih lebih bahagia yang sadar dan waspada”, itu nasihat dari Pujangga
Ranggawarsita. Nasihat yang terbit pada awal abad XIX, namun seakan makin
gamblang relevansinya dengan situasi yang mengepung kita saat ini. Orang
gandrung pada materi, kemasyhuran, reputasi, jabatan, dan lain sebagainya. Para
anggota dewan yang terhormat, kurang bisa memberikan teladan bagi jutaan
pemilih. Pemilik modal yang menguasai TV, tidak peka dengan kemunduran moral
akibat tayangan yang hanya berdasar rating. Dan, kamu di sekolah, tak pernah
diajarkan sejarah tentang asal muasal serta dinamika dimana kita kini mukim.
Ah, piye to iki…
![]() |
| Rahma |
Nak, Ayah yakin, kamu di sekolah juga mengalami kesepian. Kesepian
yang sama pernah menyayat hati pujangga kraton yang hidup pada tahun 1802 – 1874.
Kesepian karena banyak yang menganggap kamu egois, tak bisa bergaul. Kesepian
karena sistem yang berlaku di dunia sekolah tempat kamu belajar itu masih
mengidap penyakit feodal. Anak yang penurut, sopan, dan pintar menirukan setiap
ucapan guru, itu yang disebut pandai. Sebaliknya, yang suka jahil, suka
mendebat pendapat, atau punya jawaban yang berbeda dengan yang dihafal guru,
itu disebut bodoh. Kamu disuruh menghafal jawaban pertanyaan, padahal, Ayah tahu,
kamu paling susah menghafal. Persis dengan ayahmu ini, yang dulu hanya bisa
mengingat nama dan wajah bundamu saja….hehehehe….
Ayah lihat, kamu itu suka menggambar. Menarasikan kisah
cerita dan materi pelajaran dengan lukisan. Tapi lembaga sekolah, dan
guru-gurumu itu, seakan tak mau tahu potensi atau kecenderungan belajar anak. Ayah
yakin mereka tahu apa itu multiple intelligences. Barangkali juga mengetahui
riwayat sang Profesor Gardner merumuskan teori inteligensi ganda itu. Tetapi,
giliran transfer pengetahuan, giliran memahamkan materi pelajaran, tetap saja
dengan pendekatan rasional logis dan ceramah. Jelas hal itu tak menguntungkan
bagi anak yang tak memiliki kecenderungan inteligensi matematis-logis dan
inteligensi linguistik. Lebih parah lagi, kalau sampai membandingkan bahwa yang
matematis itu lebih hebat daripada yang suka menggambar. Yang pintar ngomong
itu sangat hebat melebihi yang hanya gemar merenung. Einstein lebih jago
ketimbang Da Vinci. Soekarno, sang orator, lebih pintar daripada Hatta yang
hanya bisa merumuskan konsep. Semestinya kita tidak boleh membandingkan mereka,
mana yang lebih hebat, mana yang bakal sukses. Terlebih lagi kita juga tidak
bisa menentukan mana yang lebih bahagia dalam hidup mereka. Bahkan yang kita
pandang sukses dan bahagia dalam hidupnya, barangkali di dalam kesunyian relung
jiwa mereka, sama sekali tak merasa bahagia. Kita tak tahu yang sebenarnya. Hmmm…bagaimana
Nak, makin absurd kan ?
Persis itu yang Ayah rasa dan pikirkan atas dirimu. Ayah tak
bisa menentukan sukses dan bahagia untuk masa depan kamu dan adikmu. Ayah dan
bunda tak memiliki pengetahuan secuilpun tentang masa depan. Jangankan masa
depan kalian, masa depan kami pun masih belantara gelap. Yang sanggup kami
lakukan sebatas menemani dan menyuapi nilai-nilai. Dan sesekali menyiangi gelap
pemahaman yang kalian bawa dari teman-teman. Kami tak menginginkan kalian
terjebak pada kemasyhuran, ketenaran nama, hingga pengaruh politik. Lihat saja,
demi apa coba ? Demi kewibawaan, atau demi kian ? Orang-orang rela berebut menjadi
calon presiden, gubernur, bupati atau walikota, dan wakil rakyat. Kira-kira demi
meraih ketenaran, orang-orang menjerumuskan diri dalam kekonyolan, banyolan
norak dan seronok, serta beradu gestur muka yang aneh-aneh.
Pendek kata, kini zaman edan sebagaimana pernah ditangisi
oleh Ranggawarsita, bahkan hyper-edan. Karena pujangga kraton Surakarta yang
terakhir itu hanya tersayat-sayat hatinya ketika menyaksikan masyarakat
zamannya penuh keserakahan materi. Sedang kini yang berlangsung tidak sekadar
keserakahan materi, tak hanya bermegah-megahan gedung, melainkan sudah pada
titik kebangkrutan spiritual. Spiritual yang dari sononya non-materi, kini
sudah mengalami materialisasi. Spiritual yang konon merupakan upaya
pengendalian keinginan, kini beralih pada keliaran pesta tanpa tali kekang, tanpa
rasa malu. Orang sudah tak malu lagi untuk meminta jatah kursi, mengeroyok yang
lemah, memiskinkan yang sudah miskin dan terlantar. Orang sudah tak canggung,
memakai jubah agama, namun pekerjaannya menyalahkan dan menyudutkan yang beda
paham. Orang-orang waskita dulu, beroleh anugerah dengan prihatin, dengan laku
amukti palapa, kini cukup seminar 2-3 jam, sudah mendaku diri telah menjadi
sufi….woww.
Ah, sudahlah Nak. Ayo sekarang kita bobo’. Kita lantunkan
“ihdina shirat al-mustaqim” 1000 kali. Mari !!!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar