Rabu, 12 November 2014

Zaman Edan


Rahma, Ahimsa, Rakhe, dan aku


Nak, damai selalu dan bahagialah kalian ! Di tengah zaman edan saat ini, hanya yang waras yang selamat. Hanya yang eling dan waspada yang bakal menikmati keberuntungan. “Mengalami zaman gila, ikut gila tidak tahan, kalau tidak ikut gila, tidak dapat bagian. Dan sebahagia-bahagianya orang yang lupa, masih lebih bahagia yang sadar dan waspada”, itu nasihat dari Pujangga Ranggawarsita. Nasihat yang terbit pada awal abad XIX, namun seakan makin gamblang relevansinya dengan situasi yang mengepung kita saat ini. Orang gandrung pada materi, kemasyhuran, reputasi, jabatan, dan lain sebagainya. Para anggota dewan yang terhormat, kurang bisa memberikan teladan bagi jutaan pemilih. Pemilik modal yang menguasai TV, tidak peka dengan kemunduran moral akibat tayangan yang hanya berdasar rating. Dan, kamu di sekolah, tak pernah diajarkan sejarah tentang asal muasal serta dinamika dimana kita kini mukim. Ah, piye to iki…

Rahma
Nak, Ayah yakin, kamu di sekolah juga mengalami kesepian. Kesepian yang sama pernah menyayat hati pujangga kraton yang hidup pada tahun 1802 – 1874. Kesepian karena banyak yang menganggap kamu egois, tak bisa bergaul. Kesepian karena sistem yang berlaku di dunia sekolah tempat kamu belajar itu masih mengidap penyakit feodal. Anak yang penurut, sopan, dan pintar menirukan setiap ucapan guru, itu yang disebut pandai. Sebaliknya, yang suka jahil, suka mendebat pendapat, atau punya jawaban yang berbeda dengan yang dihafal guru, itu disebut bodoh. Kamu disuruh menghafal jawaban pertanyaan, padahal, Ayah tahu, kamu paling susah menghafal. Persis dengan ayahmu ini, yang dulu hanya bisa mengingat nama dan wajah bundamu saja….hehehehe….


Ayah lihat, kamu itu suka menggambar. Menarasikan kisah cerita dan materi pelajaran dengan lukisan. Tapi lembaga sekolah, dan guru-gurumu itu, seakan tak mau tahu potensi atau kecenderungan belajar anak. Ayah yakin mereka tahu apa itu multiple intelligences. Barangkali juga mengetahui riwayat sang Profesor Gardner merumuskan teori inteligensi ganda itu. Tetapi, giliran transfer pengetahuan, giliran memahamkan materi pelajaran, tetap saja dengan pendekatan rasional logis dan ceramah. Jelas hal itu tak menguntungkan bagi anak yang tak memiliki kecenderungan inteligensi matematis-logis dan inteligensi linguistik. Lebih parah lagi, kalau sampai membandingkan bahwa yang matematis itu lebih hebat daripada yang suka menggambar. Yang pintar ngomong itu sangat hebat melebihi yang hanya gemar merenung. Einstein lebih jago ketimbang Da Vinci. Soekarno, sang orator, lebih pintar daripada Hatta yang hanya bisa merumuskan konsep. Semestinya kita tidak boleh membandingkan mereka, mana yang lebih hebat, mana yang bakal sukses. Terlebih lagi kita juga tidak bisa menentukan mana yang lebih bahagia dalam hidup mereka. Bahkan yang kita pandang sukses dan bahagia dalam hidupnya, barangkali di dalam kesunyian relung jiwa mereka, sama sekali tak merasa bahagia. Kita tak tahu yang sebenarnya. Hmmm…bagaimana Nak, makin absurd kan ?

Persis itu yang Ayah rasa dan pikirkan atas dirimu. Ayah tak bisa menentukan sukses dan bahagia untuk masa depan kamu dan adikmu. Ayah dan bunda tak memiliki pengetahuan secuilpun tentang masa depan. Jangankan masa depan kalian, masa depan kami pun masih belantara gelap. Yang sanggup kami lakukan sebatas menemani dan menyuapi nilai-nilai. Dan sesekali menyiangi gelap pemahaman yang kalian bawa dari teman-teman. Kami tak menginginkan kalian terjebak pada kemasyhuran, ketenaran nama, hingga pengaruh politik. Lihat saja, demi apa coba ? Demi kewibawaan, atau demi kian ? Orang-orang rela berebut menjadi calon presiden, gubernur, bupati atau walikota, dan wakil rakyat. Kira-kira demi meraih ketenaran, orang-orang menjerumuskan diri dalam kekonyolan, banyolan norak dan seronok, serta beradu gestur muka yang aneh-aneh.

Pendek kata, kini zaman edan sebagaimana pernah ditangisi oleh Ranggawarsita, bahkan hyper-edan. Karena pujangga kraton Surakarta yang terakhir itu hanya tersayat-sayat hatinya ketika menyaksikan masyarakat zamannya penuh keserakahan materi. Sedang kini yang berlangsung tidak sekadar keserakahan materi, tak hanya bermegah-megahan gedung, melainkan sudah pada titik kebangkrutan spiritual. Spiritual yang dari sononya non-materi, kini sudah mengalami materialisasi. Spiritual yang konon merupakan upaya pengendalian keinginan, kini beralih pada keliaran pesta tanpa tali kekang, tanpa rasa malu. Orang sudah tak malu lagi untuk meminta jatah kursi, mengeroyok yang lemah, memiskinkan yang sudah miskin dan terlantar. Orang sudah tak canggung, memakai jubah agama, namun pekerjaannya menyalahkan dan menyudutkan yang beda paham. Orang-orang waskita dulu, beroleh anugerah dengan prihatin, dengan laku amukti palapa, kini cukup seminar 2-3 jam, sudah mendaku diri telah menjadi sufi….woww.

Ah, sudahlah Nak. Ayo sekarang kita bobo’. Kita lantunkan “ihdina shirat al-mustaqim” 1000 kali. Mari !!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar