Jumat, 14 November 2014

Teori Vs Praktek


Sudah jadi kepahaman bersama, bahwa dalam hidup ini terdapat dua kutub ekstrim yang susah disandingkan, malah cenderung saling menegasikan. Dua kutub tersebut adalah kutub struktur dan kutub situasi. Kutub struktur berdiri pada orientasi keruangan yang hendak melumpuhkan keganasan alam. Target mereka adalah penguasaan sumber daya dengan mengoptimalkan kekuatan intelegensi. Sedang berdiri pada kutub lain adalah kutub situasi, yaitu kemampuan mengantisipasi waktu demi nama besar dan penguasaan opini sosial.



Orientasi kita terhadap struktur (al-afaq) akan menghasilkan disiplin-disiplin ilmu/teori dan perspektif-perspektif nilai yang bermanfaat untuk menyibak Kebenaran Objektif. Sementara respon jiwa kita terhadap situasi kehidupan akan menjelmakan karya-karya nyata yang bakal berguna untuk menguak Kebenaran Subjektif

.

Nah, pertanyaan yang muncul, di antara keduanya mana yang lebih utama ? Kedua  kebenaran itu saling klaim kebenaran, bahwa hanya milik atau caranya yang tepat, sedang cara lain kurang penting. Padahal tidaklah demikian. Keduanya sama penting dan sama utama. Hilang salah satu, maka kehidupan akan cacat. Karena kehadiran keduanya adalah rumus kehidupan yang saling berpasangan, sebagaimana wujud-
wujud eksistensial lainnya, seperti kanan-kiri, siang-malam dsb.

Perjuangan melahirkan kebenaran Objektif lewat penemuan ilmu, pengungkapan teori, filsafat dan kebenaran Subjektif lewat aktivitas kerja nyata, merupakan partisipasi kita terhadap ke-manajer-an Tuhan di dunia. Dan keduanya tidak bisa berdiri sendiri tanpa saling topang. Musti saling menyorong bukan 
menegasi.

Kalau kita tengok dalam ranah filsafat, seseorang yang hanya berorientasi pada yang objektif, ia tergolong penganut idealisme, ide atau teori mendahului praktik. Sedang yang hanya berkutat pada ranah subjektif, tergolong pragmatisme yang menganggap bahwa yang benar  ialah what works yang dengan sendirinya juga masuk golongan empirisme, cenderung menekankan praktik bukan teori. Pertimbangan benar salah pada kelompok empirisme/pragmatisme  secara etika dan agama tidak ada, baginya semuanya benar asal jalan. Sehingga ranah subjektif ini bersifat antroposentris, yang selanjutnya melahirkan paham materialisme.
Pertentangan teori versus praktik, bisa kita tarik ke belakang sebagai pertentangan Hegel versus Marx, Idealisme versus Empirisme, Eksistensialisme versus Sosiologisme. Orientasi objektif versus orientasi subjektif. Ruang versus waktu. Dimana kedua karya agung tersebut akan berbuah kekacauan jika saling menegasi. Nah, kita yang kini hidup di sisa kurun masa –apalagi sebagai penggiat TBM---seyogianya mengutuhkan atau setidaknya tidak menegasikan salah satunya. Sebab keduanya sudah tersabda untuk menempati pada kutubnya masing-masing.

Perjuangan mengutuhkan itu tidak bisa tidak hanya lewat proses pembentukan diri yang sedemikian rupa yang  merupakan jalan keluar dari ketegangan tersebut dan sekaligus merupakan sintesa dari kedua kebenaran yang telah terungkap. Dan TBM adalah jalan lapang untuk kesana….


Tidak ada komentar:

Posting Komentar