Sudah jadi kepahaman bersama, bahwa dalam hidup ini terdapat
dua kutub ekstrim yang susah disandingkan, malah cenderung saling menegasikan.
Dua kutub tersebut adalah kutub struktur dan kutub situasi. Kutub struktur
berdiri pada orientasi keruangan yang hendak melumpuhkan keganasan alam. Target
mereka adalah penguasaan sumber daya dengan mengoptimalkan kekuatan intelegensi.
Sedang berdiri pada kutub lain adalah kutub situasi, yaitu kemampuan
mengantisipasi waktu demi nama besar dan penguasaan opini sosial.
Orientasi kita terhadap struktur (al-afaq) akan menghasilkan
disiplin-disiplin ilmu/teori dan perspektif-perspektif nilai yang bermanfaat
untuk menyibak Kebenaran Objektif.
Sementara respon jiwa kita terhadap situasi
kehidupan akan menjelmakan karya-karya nyata yang bakal berguna untuk menguak
Kebenaran Subjektif
.
Nah, pertanyaan yang muncul, di
antara keduanya mana yang lebih utama ? Kedua kebenaran itu saling klaim kebenaran, bahwa
hanya milik atau caranya yang tepat, sedang cara lain kurang penting. Padahal
tidaklah demikian. Keduanya sama penting dan sama utama. Hilang salah satu,
maka kehidupan akan cacat. Karena kehadiran keduanya adalah rumus kehidupan
yang saling berpasangan, sebagaimana wujud-
wujud eksistensial lainnya, seperti
kanan-kiri, siang-malam dsb.
Perjuangan melahirkan kebenaran
Objektif lewat penemuan ilmu, pengungkapan teori, filsafat dan kebenaran
Subjektif lewat aktivitas kerja nyata, merupakan partisipasi kita terhadap
ke-manajer-an Tuhan di dunia. Dan keduanya tidak bisa berdiri sendiri tanpa
saling topang. Musti saling menyorong bukan
menegasi.
Kalau kita tengok dalam ranah
filsafat, seseorang yang hanya berorientasi pada yang objektif, ia tergolong
penganut idealisme, ide atau teori mendahului praktik. Sedang yang hanya
berkutat pada ranah subjektif, tergolong pragmatisme yang menganggap bahwa yang
benar ialah what works yang dengan
sendirinya juga masuk golongan empirisme, cenderung menekankan praktik bukan
teori. Pertimbangan benar salah pada kelompok empirisme/pragmatisme secara etika dan agama tidak ada, baginya
semuanya benar asal jalan. Sehingga ranah subjektif ini bersifat
antroposentris, yang selanjutnya melahirkan paham materialisme.
Pertentangan teori versus
praktik, bisa kita tarik ke belakang sebagai pertentangan Hegel versus Marx, Idealisme
versus Empirisme, Eksistensialisme versus Sosiologisme. Orientasi objektif
versus orientasi subjektif. Ruang versus waktu. Dimana kedua karya agung
tersebut akan berbuah kekacauan jika saling menegasi. Nah, kita yang kini hidup
di sisa kurun masa –apalagi sebagai penggiat TBM---seyogianya mengutuhkan atau
setidaknya tidak menegasikan salah satunya. Sebab keduanya sudah tersabda untuk
menempati pada kutubnya masing-masing.
Perjuangan mengutuhkan itu tidak
bisa tidak hanya lewat proses pembentukan diri yang sedemikian rupa yang merupakan jalan keluar dari ketegangan
tersebut dan sekaligus merupakan sintesa dari kedua kebenaran yang telah
terungkap. Dan TBM adalah jalan lapang untuk kesana….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar