Lagi-lagi ‘syariat Islam’ bikin sensasi. Belum hilang ingatan kita
tentang hukum cambuk bagi pendosa “zina”, tentang larangan seorang perempuan yang
duduk mengangkang saat membonceng sepeda motor. Ya, syariat Islam itu memang
seksi. Syariat Islam yang semestinya menjadi ranah privat umat Islam secara
individual, kini dipajang dan dipamerkan
keluar ke ranah publik. Sontak saja langsung diserbu dan menjadi santapan mata media.
Syariat Islam telah diyakini oleh sebagian kalangan sebagai representasi
perintah Tuhan yang sudah jelas dan final, sehingga tidak butuh lagi
dipermasalahkan melainkan suka memakainya sebagai way of life atau tidak.
Saya memahami bahwa Tuhan hanya bekerja pada dimensi natural. Semua
fasilitas hidup mulai dari mata, tangan, kaki dan semua sarana yang ada di alam struktural adalah
kreasi Tuhan. Selanjutnya tugas manusia
adalah meneruskan karya-karya Tuhan tersebut untuk mengembangkan makna hidup,
kesejahteraan dan kebersamaan. Kalau Tuhan berada pada dimesni natural, maka
manusia bertanggung jawab di ranah kultural. Oleh karenanya, manusia disebut sebagai
wakil Tuhan di muka bumi, sebab Tuhan tidak mungkin menggarap dan mengelola
langsung ciptaan-Nya. Jadi demokrasi, aturan perda, perekonomian dan seabreg urusan kebudayaan lainnya bukan
lagi menjadi tanggung jawab Tuhan. Tidak
tepat Tuhan diseret-seret untuk ikut membuat aturan perda, larangan
keluar malam, maupun larangan mengangkang saat membonceng sepeda motor.
Tuhan sudah menyerahkan estafet menejerial pengaturan kehidupan pada
kita, salah satunya melalui komunikasi teks. Sebagaimana Tuhan menyerahkan alam
struktural tidak sebagai bahan jadi namun musti didayagunakan, begitu pula
dengan kehadiran Teks-teks Qur’an. Al-Qur’an bukan sebagai produk jadi yang
tinggal pakai, kitab suci ini harus ditabrakkan dengan kenyataan sebagai medan
aktualisasi. Ada upaya kontekstualisasi informasi teks terhadap kenyataan.
Sehingga hukum-hukum yang terekam di dalam kitab Qur’an tidak serta merta
menjadi hukum sosial. Memasuki area publik harus melalui tahapan
kontekstualisasi atau objektivikasi terlebih dahulu. Termasuk perintah
menjulurkan pakaian bagi perempuan, menjaga kesopanan terhadap lawan jenis
yang termaktub dalam Qur’an mesti
didialogkan dengan denyut sejarah yang terus melaju ini. Sehingga wujud
perintah Tuhan akan terus berkembang mengikuti derap mesin sejarah dan tidak
layu alias kaku lantaran out of date.
Menjaga kesopanan di masa Al-Qur’an turun pada abad VII yang agraris dengan
model pakaian yang menutup seluruh anggota badan, jelas sudah tidak relevan
untuk masa kini yang roda kehidupannya berputar sangat cepat.
Kalau kita tengok lebih jauh tentang Al-Qur’an, kitab ini tersaji
dalam alam puisi yang sarat simbol. Qur’an bekerja dengan bahasa simbol,
rasional, namun kaya dengan bela rasa. Lantaran tersaji dalam dunia simbol,
puisi, dan acapkali misteri-misteri, maka tidaklah lazim sekiranya para
pemegang ‘sanad syariah’ itu bersikap kaku keras, berbahasa dengan
formula-formula serba mutlak, lepas dari konteks dan hanya terpaku pada huruf
belaka. Sehingga mencermati sikap para Islamis, seperti FPI, yang gemar
mendesakkan kehendak dengan kekerasan, menandakan
ciri-ciri fanatisme alias kesempitan pandangan dan konservatisme yang mandek.
Seiring semburat teja jelang akhir tahun 2014 yang moga terus merekah cerah, akankah kita
kembali mengorbankan pijar-pijar kebenaran yang pernah teraih dengan susah
payah oleh para pendiri negeri ini ? Bhinneka
Tunggal Ika, akankah terenggut hanya oleh fatwa penyimpangan, penyempalan,
bid’ah dan kafir ? Tidakkah kita mulai harus belajar dari orang-orang sains,
industri dan bisnis, yang dari kodratnya digenangi oleh rasionalitas dan
efisiensi namun bersedia mengakui relativitas, bertindak sangat rendah hati dan
tidak bersedia main mutlak-mutakan.
Kalimat-kalimat Al-Qur’an saja, selalu dimulai dengan kata ‘demi Tuhan
yang penuh kasih dan sayang’. Artinya segala bentuk kekakuan dan keras hati
serta main mutlak-mutlakan dari menit awal kehadiran Qur’an tidak memberi
kesempatan sikap-sikap itu untuk bercokol di dalamnya. Prinsip relativitas dan
ketidakpastian telah menjadi bangunan yang menyusun irama teks kitab ini. Dunia
kitab Al-Qur’an adalah jelas sekaligus tidak jelas, dapat dipahami sekaligus
mustahil dipahami. Kehadiran kitab ini adalah pertanda yang tadinya arogan
dapat melunak dan rendah hati. Hidup dalam kedewasaan yang saling berbela rasa
dan berbelas kasih. Bukan untuk memonopoli pijar kebenaran termasuk atas
kenyataan sejarah.
Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar