Senin, 24 November 2014

Senin (bukan) Teror


Tidak ada maksud mengutuk hari. Bagaimana pun setiap hari, setiap waktu adalah suci. Tak ada waktu yang tak suci. Yang bermasalah adalah perlakuan kita atas waktu. Persis itu pula dengan hari ini, hari Senin. Senin dari kata al-isnain, bahasa Arab, yang artinya dua. Jadi sebetulnya hari Senin itu adalah hari kedua. Cuma dalam tradisi kita, merupakan hari pertama. Hari yang menakutkan, penuh ketegangan, tidak bisa santai. Hari pertama masuk kerja, setelah sehari atau dua hari sebelumnya menikmati masa libur. Hari horor, sebab musti melakukan lompatan dari sebelumnya yang mengalami cita rasa sebagai manusia, beralih dan masuk ke dunia serba otomat.


Sabtu, Minggu, oleh kebanyakan dinikmati sebagai hari keluarga. Hari-hari yang penuh canda tawa bebas tanpa tuntutan dan menuntut. Hari yang tanpa tensi tinggi, tiada tegang, dan bisa relax. Kebanyakan akan memaksimalkan satu atau dua hari tersebut dengan “merasa” manusia. Rasa manusia menghilang, begitu detak waktu memasuki senja di hari Minggu. Terasa bahwa esoknya, tidak lagi sebagai manusia utuh, namun beralih jadi manusia mesin, yang serba tepat waktu, serba efisien, kaya tata aturan.

Senin itu dua, namun hari pertama bagi manusia kini. Perasaan sebagai objek, jelas telah menggerogoti sebagian besar umat manusia, khususnya di negeri kita ini, yang masih dalam taraf berkembang. Perasaan sebagai tukang, kacung perusahaan, terbayang dari raut muka yang gugup begitu memasuki gerbang mesin waktu. Ya mesin waktu hari pertama. Oleh Karl Marx, disebutnya alienasi, keterasingan. Asing dengan dirinya sendiri, hingga tak mengenali kebutuhan dasarnya. Asing, lantaran musti berperan sebagai yang lain, bukan memerankan dirinya sendiri.

Kondisi demikian kian menjadi-jadi, kalau dalam kesehariannya jauh dari sentuhan spiritualis. Saban hari berkutat dengan materi, serba duniawi, jauh dari sapaan humaniora. Korupsi, selingkuh para selebritis, tawuran pelajar, perkelahian antar gang, tambah marak di pemberitaan media. Kiranya itu yang membuat majlis-majlis dzikir, ramalan-ramalan tentang nasib, kian digemari oleh masyarakat perkotaan. Mereka ingin melepas penat, dengan lari dari kenyataan. Ingin sesaat relaksasi melupakan gemuruh mesin, kemajuan teknologi, hingga asyik masuk ke ranah mitologi. Dunia perdukunan, paranormal pun menjamur, seiring kecanggihan ilmu pengetahuan. Dunia dukun, menjadi alternatif, selain majlis dzikir, untuk menumpahkan keluh kesah atas kehidupan.   

Alienasi atau keterasingan itu terjadi, akibat dominasi keinginan pada yang serba materi. Suara nurani yang condong pada spiritual kalah dan menyusut kerdil hingga hati jadi mengeras. Memang ada kerinduan menyapa yang Esa, hadiri majlis-majlis dzikir, pengajian, menangisi kesalahan, tetapi itu pun hanya sesaat. Karena setelah itu kembali menenggelamkan diri, memasuki ranah duniawi, mengejar sesuatu yang seolah kebutuhan primer. Yang pokok adalah sandang, pangan, dan papan. Hati tenang manakala kebutuhan “primer” tersebut terpenuhi. Galau, gundah, dan meratapi “nasib”, kalau sandang, pangan dan papan menjauh darinya.

Cita rasa manusia lenyap, ketika rasa materi dominan dalam dirinya. Kemanusiaannya kandas, lantaran persentuhannya dengan Yang Maha Esa minus. Jadi kalau dikembalikan lagi ke masalah Senin, rasa mengalami sebagai manusia hilang, sebab kesehariannya kental dengan ambisi materi. Lantaran dominasi materi, nafsu syahwat, ambisi keinginan, dan segenap kepentingan atas hidup, maka Tuhan akan mati. Tuhan mati, rasa manusianya juga ikut mati, kemanusiaannya menghilang. Sebaliknya, nafsu keserakahan atas materi, atau duniawi dapat dikendalikan alias diistirahatkan, maka Tuhan akan hidup, yang kemudian cita rasa manusiawinya pun bersinar. Ia bakal menghadapi hidup dengan penuh cinta kasih, rasa syukur, tiada lagi rasa horor, tak lagi merasa diteror oleh kebutuhan-kebutuhan sandang pangan dan papan.

Pendeknya, hari Senin, hari menyesakkan, lantaran Tuhan hilang dari kesadaran. Meski salat tak ketinggalan, lafadz-lafadz suci terus dilantunkan, namun jauh dari kedalaman hatinya, ritual itu terlaksana lantaran untuk mendukung kepentingan egonya atas kehidupan dunia, maka dunia pun terasa sumpek. Demikian pula, ketika rasa ketuhanan yang hadir, kesadaran ketuhanan yang mengejawantah, otomatis saban harinya dipenuhi rasa bahagia. Tuhan hadir, kepentingan pribadinya lenyap. Yang ia rasa dan pikirkan adalah senantiasa ingin melayani kebutuhan Tuhan, yang aktual dengan mengabdikan hidupnya pada segala sesuatu di luar dirinya. Baginya kenyataan di hadapannya adalah wajah Tuhan. Sesuatu selain dirinya adalah senyum dan perintah-Nya. Maka, hari-harinya adalah hari percakapan dengan Tuhan. Entah sabtu, entah minggu, entah senin, baginya sama saja. Sama-sama sebagai rasa kebersamaan dengan Yang Maha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar