| pelantikan FTBM Kab. Semarang (dok Ardie) |
“Bukunya yg br sj dilaunching ya ? Psrtanya minimal brpa ? Coz teman2
FTBM sprtinya ora iso dijagakke.” Demikian bunyi pesan singkat yang saya
terima dari sekretaris FTBM Kabupaten Semarang sore tadi. Sebelumnya saya meminta
tanggapan ke sekretaris, agar FTBM mengagendakan acara bedah buku. Kebetulan ada
seorang penulis, tinggal di Yogya, yang sedang launching buku terbarunya, dan
kini pas mampir ke kota Ungaran. Mumpung pikir saya. Tapi mau bagaimana lagi,
kalau organ organisasi tidak bisa diharapkan untuk saling jalin kerjasama, ya,
pesimis dan pesimis yang terjadi.
Memang pengalaman menunjukkan hal
demikian. Sesudah dilantik, dalam kepengurusan FTBM, yang lelah berjibaku untuk
menghidupkan denyut organisasi, tak lebih dari 3 orang, yaitu ketua,
sekretaris, dan bendahara. Sedang yang lain sekadar pasang nama, dan tak pernah
nongol urun tenaga serta pikiran. Sebagai sekretaris, wajar kalau ia pesimis. Saya
tak bisa pungkiri hal itu. Capek, lelah dan pesimis, cepat lambat pasti bakal
melanda dua teman, yang duduk sebagai sekretaris dan bendahara itu. Saya sendiri
coba bertahan untuk teguh pada keyakinan bahwa FTBM bisa dipertahankan,
kegiatan dapat diselenggarakan, teman-teman yang lain pasti akan mendukung. Tapi
jebol juga keyakinan itu. Kandas, saya tak bisa bertahan lagi.
Sebagaimana perasaan yang dialami
sekretaris, itu pula yang saya rasakan. Setiap rancangan program, kandas karena
cuma bertiga yang jadi tulang punggung kegiatan, untuk menangani wilayah geografis
kabupaten yang luas. Saya berpikir, sudah tak sehat untuk dipertahankan. FTBM
Kabupaten Semarang, saatnya dibubarkan, karena ada tiadanya sama. Teman-teman
lain, selain kami yang bertiga, pasti tak keberatan. Malah barangkali itu yang
sebenarnya mereka harapkan. Hampir 2 tahun, tak berkiprah, padahal mengantongi
SK pelantikan, serasa tak ada perasaan sungkan. Maka untuk apa dipertahankan,
untuk apa FTBM dibentuk, dan untuk apa nama-nama pengurus dipajang. Toh, hanya
akan bikin sesak napas, gampang bikin rancangan program, namun tak leluasa merealisasikan
target kegiatan.
Saya sendiri heran, kok bisa. Konon
orang-orang timur, perasaan sungkan, malu, rasa bersalah itu dominan dalam
tingkah laku. Tapi, terus terang, saya tak melihat hal itu di kepengurusan
FTBM. Tegur sapa nyaris tak ada, meski sekadar pesan singkat, kirim ucapan
selamat hari raya, atau apa saja, sama sekali tak pernah terjadi. Pernah suatu
ketika, tidak hanya sekali, malah sering dilakukan : undangan kegiatan, dimana tempat
sudah ditetapkan di daerah strategis yang mudah terjangkau, tapi pas hari H, berbagai
alasan izin tak bisa memenuhi satu demi satu datang beruntun, malah ada yang
tak pernah kirim balasan balik. Lantaran hanya bertiga. Padahal logistik telah
disiapkan, bahan presentasi telah digandakan, materi kegiatan diatur, akhirnya
toh gagal terselenggara.
Saya hanya heran, kok bisa ? Ini
FTBM, bukan kumpulan orang-orang oon,
yang tak memahami detail bacaan. Pegiat TBM itu kan, orang yang saban hari
bergumul dengan buku, sehari-hari menatap tulisan, tapi giliran menanggapi
pesan undangan malah gagap, seakan tak bisa membaca. Meluangkan waktu untuk
berkumpul, atau sekadar saling kirim kabar berita, tak ada waktu kosong. Kesempatan
untuk berbagi informasi saja, seolah, benar-benar tak ada. Kemudahan komunikasi,
pesan singkat lewat SMS, media sosial,
seakan hanya berfungsi untuk keperluan di luar FTBM. Giliran buat FTBM, tiba-tiba
macet, baterai lowbat, sinyal hilang.
FTBM sedemikian menakutkan ?
Sehingga enggan menengok dan bertegur sapa satu sama lain, yang sebelumnya pernah
bersama dilantik dan peroleh SK. Sungguh, pikiran saya, hingga saat ini belum
sanggup memahami fenomena tersebut. Saya belum bisa memahami, ketidakseriusan,
ketidakjelasan sikap, dan keengganan mereka terhadap kesepakatan. Tidak habis pikir,
saya hanya bisa pegang dahi, kok bisa ? Kok begitu enteng, mengindahkan janji
yang diikrarkan. Kok sebegitu gampang, menafikan kebersamaan, menafikan
pertemanan, dan pelan-pelan menghilangkan jejak, seakan tenggelam tertelan gempa
tsunami.
FTBM sayang, FTBM malang,
kira-kira itu yang pas. Sebab terbit pikiran, untuk membubarkan, dan mengembalikan
SK kepada Pengurus Wilayah. Saya sudah tak sanggup, terus-terusan ditipu,
diacuhkan. Sebagai pribadi tak jadi soal, tapi tidak demikian dalam
berorganisasi. Organisasi, sebagaimana organ tubuh, ada kepala, tangan, kaki,
pikiran, perasaan, darah, tulang, dsb, saling kerjasama, bahu membahu tak ada
yang absen. Satu saja yang absen, tubuh akan oleng, keseimbangan organ
terganggu. Saya, yang diamanahi sebagai ketua, ibarat kepala yang ada mata,
hidung, telinga, mulut, dan otak, tak akan berfungsi, sekiranya tanpa uluran
fungsi tangan, fungsi dada, fungsi kaki, dsb. So, menurut saya, organisasi
FTBM, sudah tak lazim untuk terus dipertahankan, lantaran tak sanggup
menorehkan kisah, menselaraskan program dengan aktivitas, dan tak bisa memenuhi
janji ikrar yang telah terucap.
Saya sungkan untuk terus-menerus
menagih janji. Saya malu untuk senantiasa mengingatkan agenda kegiatan. Saya tak
bisa. Akhirnya, saya ucapkan selamat tinggal FTBM Kabupaten Semarang. Selamat
tinggal kawan-kawan !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar