Jumat, 21 November 2014

Selamat Tinggal FTBM Kab. Semarang !

pelantikan FTBM Kab. Semarang (dok Ardie)

Bukunya yg br sj dilaunching ya ? Psrtanya minimal brpa ? Coz teman2 FTBM sprtinya ora iso dijagakke.” Demikian bunyi pesan singkat yang saya terima dari sekretaris FTBM Kabupaten Semarang sore tadi. Sebelumnya saya meminta tanggapan ke sekretaris, agar FTBM mengagendakan acara bedah buku. Kebetulan ada seorang penulis, tinggal di Yogya, yang sedang launching buku terbarunya, dan kini pas mampir ke kota Ungaran. Mumpung pikir saya. Tapi mau bagaimana lagi, kalau organ organisasi tidak bisa diharapkan untuk saling jalin kerjasama, ya, pesimis dan pesimis yang terjadi.


Memang pengalaman menunjukkan hal demikian. Sesudah dilantik, dalam kepengurusan FTBM, yang lelah berjibaku untuk menghidupkan denyut organisasi, tak lebih dari 3 orang, yaitu ketua, sekretaris, dan bendahara. Sedang yang lain sekadar pasang nama, dan tak pernah nongol urun tenaga serta pikiran. Sebagai sekretaris, wajar kalau ia pesimis. Saya tak bisa pungkiri hal itu. Capek, lelah dan pesimis, cepat lambat pasti bakal melanda dua teman, yang duduk sebagai sekretaris dan bendahara itu. Saya sendiri coba bertahan untuk teguh pada keyakinan bahwa FTBM bisa dipertahankan, kegiatan dapat diselenggarakan, teman-teman yang lain pasti akan mendukung. Tapi jebol juga keyakinan itu. Kandas, saya tak bisa bertahan lagi.

Sebagaimana perasaan yang dialami sekretaris, itu pula yang saya rasakan. Setiap rancangan program, kandas karena cuma bertiga yang jadi tulang punggung kegiatan, untuk menangani wilayah geografis kabupaten yang luas. Saya berpikir, sudah tak sehat untuk dipertahankan. FTBM Kabupaten Semarang, saatnya dibubarkan, karena ada tiadanya sama. Teman-teman lain, selain kami yang bertiga, pasti tak keberatan. Malah barangkali itu yang sebenarnya mereka harapkan. Hampir 2 tahun, tak berkiprah, padahal mengantongi SK pelantikan, serasa tak ada perasaan sungkan. Maka untuk apa dipertahankan, untuk apa FTBM dibentuk, dan untuk apa nama-nama pengurus dipajang. Toh, hanya akan bikin sesak napas, gampang bikin rancangan program, namun tak leluasa merealisasikan target kegiatan.

Saya sendiri heran, kok bisa. Konon orang-orang timur, perasaan sungkan, malu, rasa bersalah itu dominan dalam tingkah laku. Tapi, terus terang, saya tak melihat hal itu di kepengurusan FTBM. Tegur sapa nyaris tak ada, meski sekadar pesan singkat, kirim ucapan selamat hari raya, atau apa saja, sama sekali tak pernah terjadi. Pernah suatu ketika, tidak hanya sekali, malah sering dilakukan : undangan kegiatan, dimana tempat sudah ditetapkan di daerah strategis yang mudah terjangkau, tapi pas hari H, berbagai alasan izin tak bisa memenuhi satu demi satu datang beruntun, malah ada yang tak pernah kirim balasan balik. Lantaran hanya bertiga. Padahal logistik telah disiapkan, bahan presentasi telah digandakan, materi kegiatan diatur, akhirnya toh gagal terselenggara.

Saya hanya heran, kok bisa ? Ini FTBM, bukan kumpulan orang-orang oon, yang tak memahami detail bacaan. Pegiat TBM itu kan, orang yang saban hari bergumul dengan buku, sehari-hari menatap tulisan, tapi giliran menanggapi pesan undangan malah gagap, seakan tak bisa membaca. Meluangkan waktu untuk berkumpul, atau sekadar saling kirim kabar berita, tak ada waktu kosong. Kesempatan untuk berbagi informasi saja, seolah, benar-benar tak ada. Kemudahan komunikasi, pesan singkat lewat SMS, media sosial, seakan hanya berfungsi untuk keperluan di luar FTBM. Giliran buat FTBM, tiba-tiba macet, baterai lowbat, sinyal hilang.

FTBM sedemikian menakutkan ? Sehingga enggan menengok dan bertegur sapa satu sama lain, yang sebelumnya pernah bersama dilantik dan peroleh SK. Sungguh, pikiran saya, hingga saat ini belum sanggup memahami fenomena tersebut. Saya belum bisa memahami, ketidakseriusan, ketidakjelasan sikap, dan keengganan mereka terhadap kesepakatan. Tidak habis pikir, saya hanya bisa pegang dahi, kok bisa ? Kok begitu enteng, mengindahkan janji yang diikrarkan. Kok sebegitu gampang, menafikan kebersamaan, menafikan pertemanan, dan pelan-pelan menghilangkan jejak, seakan tenggelam tertelan gempa tsunami.  

FTBM sayang, FTBM malang, kira-kira itu yang pas. Sebab terbit pikiran, untuk membubarkan, dan mengembalikan SK kepada Pengurus Wilayah. Saya sudah tak sanggup, terus-terusan ditipu, diacuhkan. Sebagai pribadi tak jadi soal, tapi tidak demikian dalam berorganisasi. Organisasi, sebagaimana organ tubuh, ada kepala, tangan, kaki, pikiran, perasaan, darah, tulang, dsb, saling kerjasama, bahu membahu tak ada yang absen. Satu saja yang absen, tubuh akan oleng, keseimbangan organ terganggu. Saya, yang diamanahi sebagai ketua, ibarat kepala yang ada mata, hidung, telinga, mulut, dan otak, tak akan berfungsi, sekiranya tanpa uluran fungsi tangan, fungsi dada, fungsi kaki, dsb. So, menurut saya, organisasi FTBM, sudah tak lazim untuk terus dipertahankan, lantaran tak sanggup menorehkan kisah, menselaraskan program dengan aktivitas, dan tak bisa memenuhi janji ikrar yang telah terucap.

Saya sungkan untuk terus-menerus menagih janji. Saya malu untuk senantiasa mengingatkan agenda kegiatan. Saya tak bisa. Akhirnya, saya ucapkan selamat tinggal FTBM Kabupaten Semarang. Selamat tinggal kawan-kawan ! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar