Kamis, 20 November 2014

Reading Group, Wahana Bertanya

diskusi di Masjid Diponegoro Tembalang (dok Ardie)

Adalah Belanda yang telah bercokol selama 350 tahun di bumi nusantara, ternyata malah mendulang sukses melahirkan generasi-generasi tangguh dan cerdas. Sebut saja, Kartini yang cuma tamatan SD, sanggup menyusun kalimat dengan runtut dan nalar logika yang hebat. Tan Malaka, Soekarno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim, Chairil Anwar, dan sekian deret pejuang-pejuang yang begitu terasa ketinggian intelegensi mereka, meski hanya sampai jenjang SMA dan sedikit yang sarjana, sanggup mengantar Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan. Sutan Sjahrir yang tidak sampai lulus sarjana, tetapi bisa menyorong Indonesia meraih pengakuan internasional setelah berpidato dalam forum terhormat di Sidang Keamanan PBB.



Apa gerangan yang terjadi ? Sistem pendidikan yang Belanda terapkan, meski kolonial, sungguh bagus ? Atau individu-individu, sebelum era Microsoft-nya Bill Gates, sudah jadi takdir terlahir sebagai generasi luar biasa ? Kalau mereka memang sebagai generasi cerdas, lantas bagaimana dengan generasi sekarang ? Generasi yang dari sudut kenyamanan gizi jelas lebih terjamin, apakah kalah bagus kemampuan nalarnya ? Generasi kini, yang dikepung kemajuan ilmu pengetahuan, dijejali piranti sihir-sihir modern, apakah tak sanggup melahirkan gagasan-gagasan besar ?


Deretan-deretan pertanyaan dapat saja terus kita susun, sembari kita yang disini dan kini, asyik tanpa sadar memelihara model keharusan menghapalkan banyak hal, yang belum waktunya diajarkan kepada para balita dan anak-anak kecil. Para orang tua sibuk membebani sekian bimbingan tes dan les privat kepada putra-putri mereka. Anak-anak kita yang dari awal mula penuh semangat eksplorasi, canda ria, melucu, berbuat nakal, dan bikin heboh lingkungan, begitu masuk TK, SD terus sampai SMA bahkan hingga duduk di perguruan tinggi, pelan dan cepat makin pudar jiwa eksplorasinya, kreativitasnya kosong dan daya pikir yang kritis pun redup. Ini bukti yang paling jelas, betapa sistem pendidikan kita disana sini mesti banyak yang dibenahi, dan tak perlu sungkan untuk jujur bahwa sistem pendidikan kolonial Belanda jauh lebih beradab. Sistem evaluasi, dan manajemen pembelajaran yang mencekik spontanitas dan kreativitas serta kegembiraan anak-anak peserta didik tersumbat, telah jadi menu harian pengajaran sekolah saat ini, yang semestinya sudah saatnya kita kubur dalam-dalam.


Saya membayangkan, kurikulum terbaru, kurikulum 2013, mengandaikan adanya sistem pendidikan yang memberi prioritas pembelajaran peserta didik yang mencintai eksplorasi, meliarkan daya pikir kritis; yang memberi kesempatan-kesempatan untuk bebas berekspresi; yang menghargai kepribadian-kepribadian kemanusiaan yang beragam warna; dan yang bakat-bakat dimekarkan sedemikian rupa. Oleh karena itu, pengajaran dengan sistem  dril; menuntut sikap ketaatan, dibalik kata manis disiplin, yang lengkap dengan pakaian seragam, dan baris-berbaris; tabunya sikap bertanya dan mempertanyakan banyak hal, kiranya hanya tepat untuk masyarakat yang masih menganut sistem aristokrasi. Kini, kita semua telah memuja dan menganut paham demokrasi, artinya yang serba seragam dan ketaatan itu, tentu saja sudah tak relevan lagi untuk terus dipertahankan.


Mengulang provokasi YB. Mangunwijaya, bahwa dalam segala situasi kehidupan, entah ideal atau tidak, di kota besar ataupun di pelosok, dalam zaman yang meniscayakan serba berubah cepat, anak-anak kita harus dibekali semangat dan teknis bertanya. Murid yang andal dan penuh dedikasi harapan adalah yang jeli bertanya, bukan yang pintar menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tersedia. Sementara kini, kita lebih sering mengajak anak-anak untuk tepat menjawab pertanyaan. Dan lebih parah lagi keadaannya, jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut sudah tersaji dalam bentuk pilihan dan lengkap dengan kunci jawabannya. Anak-anak tidak banyak dilatih untuk menemukan dan mencetuskan pertanyaan-pertanyaan. Umumnya yang kita saksikan, dari tingkat SD hingga mahasiswa di perguruan tinggi, begitu sang guru atau dosen selesai menjelaskan materi pelajaran dan masuk giliran sesi bertanya, seketika suasana menjadi hening, sunyi senyap tak ada yang berani bersuara. Tak satu pun murid atau mahasiswa yang dengan gagah berani mengajukan pertanyaan apalagi berbeda pendapat hingga cerdas memprotes keadaan.


Socrates, filsuf Yunani awal sebelum masehi, konon suka menantang kemapanan dengan berani bertanya dan mempertanyakan apa pun termasuk otoritas dewa dewi kota Athena. Galilei, Newton, Edison, dan Einstein adalah pribadi-pribadi yang tidak nyaman dengan keadaan mapan. Mereka memberontak realitas dengan sering bertanya. Begitu juga tokoh-tokoh negeri ini mulai dari Kartini, Soekarno, Hatta, Ismail Marzuki, Sjahrir, adalah para pencari masa depan yang mahir merumuskan pertanyaan-pertanyaan.


Terbit pertanyaan, mungkinkah sistem pendidikan kini, melalui kurikulum 2013, sanggup mengantarkan generasi yang gemar bertanya ??? Kalau pun susah mengharapkan dunia pendidikan agar peka dengan problematika pendidikan --- maaf hingga detik ini saya masih belum percaya dengan sistem pendidikan kita yang hingga kini masih terasa membodohkan --- pikiran saya langsung melayang pada sanggar-sanggar belajar, rumah buku, taman baca. Barangkali harapan bisa kita alamatkan ke “instansi literasi” itu, wadah potensial untuk menggerakkan anak-anak agar gemar bertanya. Taman baca, komunitas Reading Group, sekarang ini sudah tidak hanya berkutat pada layanan pinjam-meminjam buku saja, melainkan telah menyediakan waktu dan tempat bagi konsumen buku, suatu sanggar diskusi atau bedah buku yang intensif.


Sanggar-sanggar reading group, barangkali memang belum dikerubuti berbondong orang yang antri dan serius menyimak sebuah perdebatan seru dalam diskusi. Tapi setidaknya, acara-acara bedah buku adalah rutinitas yang menjadi hobbi permanen bagi para pengelola komunitas baca. Melimpahnya bahan bacaan, mereka imbangi dengan usaha memaksimalkan potensi anak, dan pengunjung dewasa lainnya. Bedah buku, diskusi-diskusi, temu penulis, dan lomba menulis, jadi agenda rutin komunitas. Jadi menu keseharian yang menyehatkan pikiran.

Kalau kita tilik, para leluhur negeri adalah orang-orang yang hebat dan mandiri dalam pemikiran, dan alangkah dosa besar kiranya kita tidak bersegera mengupayakan diri kita dan generasi yang akan datang, dengan mentradisikan pemikiran. Kini, hal itu terasa realistis lewat reading group bukan lembaga pendidikan formal yang sudah kadung mencetak generasi Togog. Mulut menganga dan pikiran kosong. Alhasil, kita sendiri dan segenap putra-putri hanya dapat maju dan siap menerobos rimba masa depan, bila sejak dini menyiapkan diri jadi manusia perantau, eksplorer, pemertanya dan perintis yang kreatif --- sekali lagi itu akan mungkin melalui “institusi swasta” reading group. Sehingga dapat menyambung estafet sejarah kehidupan sebelumnya. Bukankah tak cukup bagi kita kalau hanya sekadar menerima aset peninggalan dari para kreator, atau para ilmuwan. Jika hidup hanya kita ukir dengan menerima aset atau hasil karya mereka, berarti kita tidak ikut andil dalam mencintai kehidupan. So, baca dan menulislah, yang diawali dengan merumuskan pertanyaan. Turut andil mencintai kehidupan dengan bertanya….

Iqro’….wal qolami wama yasthuruun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar