![]() |
| diskusi di Masjid Diponegoro Tembalang (dok Ardie) |
Adalah Belanda
yang telah bercokol selama 350 tahun di bumi nusantara, ternyata malah
mendulang sukses melahirkan generasi-generasi tangguh dan cerdas. Sebut saja,
Kartini yang cuma tamatan SD, sanggup menyusun kalimat dengan runtut dan nalar
logika yang hebat. Tan Malaka, Soekarno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim, Chairil
Anwar, dan sekian deret pejuang-pejuang yang begitu terasa ketinggian
intelegensi mereka, meski hanya sampai jenjang SMA dan sedikit yang sarjana,
sanggup mengantar Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan. Sutan Sjahrir yang tidak
sampai lulus sarjana, tetapi bisa menyorong Indonesia meraih pengakuan
internasional setelah berpidato dalam forum terhormat di Sidang Keamanan PBB.
Apa gerangan
yang terjadi ? Sistem pendidikan yang Belanda terapkan, meski kolonial, sungguh
bagus ? Atau individu-individu, sebelum era Microsoft-nya Bill Gates, sudah jadi
takdir terlahir sebagai generasi luar biasa ? Kalau mereka memang sebagai
generasi cerdas, lantas bagaimana dengan generasi sekarang ? Generasi yang dari
sudut kenyamanan gizi jelas lebih terjamin, apakah kalah bagus kemampuan
nalarnya ? Generasi kini, yang dikepung kemajuan ilmu pengetahuan, dijejali
piranti sihir-sihir modern, apakah tak sanggup melahirkan gagasan-gagasan besar
?
Deretan-deretan
pertanyaan dapat saja terus kita susun, sembari kita yang disini dan kini,
asyik tanpa sadar memelihara model keharusan menghapalkan banyak hal, yang
belum waktunya diajarkan kepada para balita dan anak-anak kecil. Para orang tua sibuk membebani sekian bimbingan tes dan
les privat kepada putra-putri mereka. Anak-anak kita yang dari awal mula penuh
semangat eksplorasi, canda ria, melucu, berbuat nakal, dan bikin heboh
lingkungan, begitu masuk TK, SD terus sampai SMA bahkan hingga duduk di
perguruan tinggi, pelan dan cepat makin pudar jiwa eksplorasinya,
kreativitasnya kosong dan daya pikir yang kritis pun redup. Ini bukti yang
paling jelas, betapa sistem pendidikan kita disana sini mesti banyak yang
dibenahi, dan tak perlu sungkan untuk jujur bahwa sistem pendidikan kolonial
Belanda jauh lebih beradab. Sistem evaluasi, dan manajemen pembelajaran yang
mencekik spontanitas dan kreativitas serta kegembiraan anak-anak peserta didik
tersumbat, telah jadi menu harian pengajaran sekolah saat ini, yang semestinya sudah
saatnya kita kubur dalam-dalam.
Saya membayangkan,
kurikulum terbaru, kurikulum 2013, mengandaikan adanya sistem pendidikan yang
memberi prioritas pembelajaran peserta didik yang mencintai eksplorasi,
meliarkan daya pikir kritis; yang memberi kesempatan-kesempatan untuk bebas
berekspresi; yang menghargai kepribadian-kepribadian kemanusiaan yang beragam
warna; dan yang bakat-bakat dimekarkan sedemikian rupa. Oleh karena itu,
pengajaran dengan sistem dril; menuntut sikap ketaatan, dibalik
kata manis disiplin, yang lengkap dengan pakaian seragam, dan baris-berbaris;
tabunya sikap bertanya dan mempertanyakan banyak hal, kiranya hanya tepat untuk
masyarakat yang masih menganut sistem aristokrasi. Kini, kita semua telah
memuja dan menganut paham demokrasi, artinya yang serba seragam dan ketaatan
itu, tentu saja sudah tak relevan lagi untuk terus dipertahankan.
Mengulang
provokasi YB. Mangunwijaya, bahwa dalam segala situasi kehidupan, entah ideal
atau tidak, di kota
besar ataupun di pelosok, dalam zaman yang meniscayakan serba berubah cepat,
anak-anak kita harus dibekali semangat dan teknis bertanya. Murid yang andal dan
penuh dedikasi harapan adalah yang jeli bertanya, bukan yang pintar menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang tersedia. Sementara kini, kita lebih sering mengajak
anak-anak untuk tepat menjawab pertanyaan. Dan lebih parah lagi keadaannya,
jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut sudah tersaji dalam bentuk pilihan dan
lengkap dengan kunci jawabannya. Anak-anak tidak banyak dilatih untuk menemukan
dan mencetuskan pertanyaan-pertanyaan. Umumnya yang kita saksikan, dari tingkat
SD hingga mahasiswa di perguruan tinggi, begitu sang guru atau dosen selesai
menjelaskan materi pelajaran dan masuk giliran sesi bertanya, seketika suasana
menjadi hening, sunyi senyap tak ada yang berani bersuara. Tak satu pun murid
atau mahasiswa yang dengan gagah berani mengajukan pertanyaan apalagi berbeda
pendapat hingga cerdas memprotes keadaan.
Socrates, filsuf
Yunani awal sebelum masehi, konon suka menantang kemapanan dengan berani
bertanya dan mempertanyakan apa pun termasuk otoritas dewa dewi kota Athena.
Galilei, Newton , Edison ,
dan Einstein adalah pribadi-pribadi yang tidak nyaman dengan keadaan mapan.
Mereka memberontak realitas dengan sering bertanya. Begitu juga tokoh-tokoh
negeri ini mulai dari Kartini, Soekarno, Hatta, Ismail Marzuki, Sjahrir, adalah
para pencari masa depan yang mahir merumuskan pertanyaan-pertanyaan.
Terbit
pertanyaan, mungkinkah sistem pendidikan kini, melalui kurikulum 2013, sanggup
mengantarkan generasi yang gemar bertanya ??? Kalau pun susah mengharapkan
dunia pendidikan agar peka dengan problematika pendidikan --- maaf hingga detik
ini saya masih belum percaya dengan sistem pendidikan kita yang hingga kini
masih terasa membodohkan --- pikiran saya langsung melayang pada sanggar-sanggar
belajar, rumah buku, taman baca. Barangkali harapan bisa kita alamatkan ke “instansi
literasi” itu, wadah potensial untuk menggerakkan anak-anak agar gemar
bertanya. Taman baca, komunitas Reading
Group, sekarang ini sudah tidak hanya berkutat pada layanan pinjam-meminjam
buku saja, melainkan telah menyediakan waktu dan tempat bagi konsumen buku,
suatu sanggar diskusi atau bedah buku yang intensif.
Sanggar-sanggar reading group, barangkali memang belum
dikerubuti berbondong orang yang antri dan serius menyimak sebuah perdebatan
seru dalam diskusi. Tapi setidaknya, acara-acara bedah buku adalah rutinitas
yang menjadi hobbi permanen bagi para pengelola komunitas baca. Melimpahnya bahan
bacaan, mereka imbangi dengan usaha memaksimalkan potensi anak, dan pengunjung
dewasa lainnya. Bedah buku, diskusi-diskusi, temu penulis, dan lomba menulis, jadi
agenda rutin komunitas. Jadi menu keseharian yang menyehatkan pikiran.
Kalau kita
tilik, para leluhur negeri adalah orang-orang yang hebat dan mandiri dalam
pemikiran, dan alangkah dosa besar kiranya kita tidak bersegera mengupayakan
diri kita dan generasi yang akan datang, dengan mentradisikan pemikiran. Kini, hal
itu terasa realistis lewat reading group
bukan lembaga pendidikan formal yang sudah kadung
mencetak generasi Togog. Mulut menganga dan pikiran kosong. Alhasil, kita sendiri
dan segenap putra-putri hanya dapat maju dan siap menerobos rimba masa depan,
bila sejak dini menyiapkan diri jadi manusia perantau, eksplorer, pemertanya dan perintis yang kreatif --- sekali lagi itu
akan mungkin melalui “institusi swasta” reading
group. Sehingga dapat menyambung estafet sejarah kehidupan sebelumnya.
Bukankah tak cukup bagi kita kalau hanya sekadar menerima aset peninggalan dari
para kreator, atau para ilmuwan. Jika hidup hanya kita ukir dengan menerima
aset atau hasil karya mereka, berarti kita tidak ikut andil dalam mencintai
kehidupan. So, baca dan menulislah, yang diawali dengan merumuskan pertanyaan. Turut
andil mencintai kehidupan dengan bertanya….
Iqro’….wal qolami wama yasthuruun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar