Sabtu, 15 November 2014

Merdeka Manusiawi: Penguasaan Semesta Diri


Tak ada maksud untuk membalik waktu, mundur ke belakang. Saya sebatas mengungkapkan gerundelan, kenapa Soekarno, Hatta, Sutan Sjahrir dan para generasi saat itu, begitu cerdas, cekatan, piawai dalam memahami kompleksitas permasalahan bangsa. Apakah mereka itu memang sudah ditakdirkan tercetak sebagai generasi unggul ? Kalau takdir, kenapa hal itu merata, hampir setiap orang yang hidup pada zaman itu, adalah bibit unggul ? Mereka itu masih muda, berstatus mahasiswa, ada yang tamatan SMA, SMP, bahkan cuma tamatan SD, namun penuh keyakinan diri, dan mampu menjalankan operasional perjuangan membela rakyat tertindas.


Adam Malik hanya berijazah SD. Begitu juga Kartini. Jenderal Soedirman, Ki Hajar Dewantoro belum pernah duduk di bangku kuliah sebagai mahasiswa, tapi lihat ! Jenderal Soedirman adalah suhu-nya perang gerilya, yang telah menyulitkan konvoi pasukan Belanda. Ki Hajar Dewantoro, lewat-lewat tulisannya, kentara sekali betapa luas wawasannya atas pendidikan. Beliau memahami logika dan hakikat pendidikan yang bertujuan untuk mencapai pemerdekaan manusia. Merdeka manusiawi, merdeka “dari” dan merdeka “untuk”.

Sutan Sjahrir, perdana menteri, hanya drop out universitas tingkat satu, jadi praktis alumnus SMA saja, berhasil meyakinkan dunia internasional dalam sidang di Dewan Keamanan PBB 14 Agustus 1947, dengan teks pidato berbahasa Inggris. Ibu Poppy Sjahrir, menjelaskan, bahwa teks pidato tersebut, Sutan Sjahrir karang sendiri, dan diketik sendiri, tidak menggunakan jasa ahli, atau semacam tim ahli. Luar biasa kan ?

Nah, kembali ke pertanyaan awal. Mereka itu hebat karena memang dari sononya, atau apa ? Mereka terlahir dengan bakat alami yang diatas rata-rata generasi sekarang, yang begitu lahir langsung berbakat sebagai manusia unggul, atau sebab lain ? Baiklah, kita akui saja, bahwa mereka itu memang berbakat sebagai manusia hebat, manusia cerdas, manusia super. Tetapi apakah kehebatan seseorang itu akan tumbuh kembang begitu saja yang lepas tanpa andil sama sekali dari sistem ? Kalau tidak ada pengaruh dari sistem yang mendukung proses tumbuh kembang mereka, kenapa yang terjadi begitu massif ? Tidak hanya satu-dua orang saja yang mengalami perkecualian, tetapi hampir seluruh generasi yang mengemuka saat itu adalah pribadi-pribadi luar biasa. Barangkali yang mengalami perkecualian justru generasi yang oon, culun, ndableg, apatis terhadap nasib sesama. Generasi absurd tersebut perkecualian dari semangat zaman yang cerdas dan akrab dengan tradisi nalar ala Yunani.  

Saya percaya, bahwa tradisi menalar, tradisi berpikir logis filosofis yang melingkupi “proses menjadi” generasi jelang dan awal kemerdekaan itu adalah berkat sistem pendidikan yang diterapkan Belanda. Sistem pendidikan yang melihat, mendukung dan mengembangkan jiwa kemanusiaan. Pendidikan emansipatoris, yang meleluasakan anak manusia berkembang dan terus mekar hingga menjadi pribadi mandiri. Dan yang pasti tidak berorientasi untuk mencetak alumni siap pakai. Pendidikan emansipatorik, penguasaan bahasa yang diutamakan, dengan kata lain, seni berkomunikasilah yang primer.

Kalau kita mau menyelam lebih dalam, kemampuan luar biasa generasi angkatan 45, itu bertumpu pada retorika yang tumbuh mekar di tanah ladang humaniora. Retorika dalam arti yang sebenarnya—bukan sebatas seni propaganda saja, kata-kata yang bagus namun kosong isinya—yaitu pemekaran bakat-bakat tertinggi manusia, yakni rasio dan cita rasa lewat bahasa selaku kemampuan untuk berkomunikasi dalam medan pikiran. Diajak berpikir kritis, namun rendah hati mengakui keterbatasan diri. Siap merelatifkan apa saja, termasuk konsepsinya atas kebenaran. Lebih mementingkan proses pencarian yang sistematis dan kearifan yang berakar pada nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Itulah landasan humaniora, dan bahasalah yang menjadi tulang punggung humaniora tersebut.

Jadi Soekarno, Bung Hatta, Wahidin, Soetomo, Sjahrir, Ki Hajar Dewantoro, Kartini, dan lain sebagainya, meski lewat sekolah-sekolah Belanda yang tentu saja kolonial, namun digenangi oleh jiwa humaniora dan dilandasi oleh penguasaan bahasa-bahasa. Sedangkan saat ini, pendidikan humaniora, orientasi  pemahaman pada semesta diri, kalah mentereng dibandingkan dengan matematika, fisika, kimia, dan penguasaan iptek lainnya. Penguasaan bahasa ? “Berbahasa Indonesia yang baik dan benar”, masih sebatas slogan, dan entah sampai kapan akan terus sebagai slogan.. Entah ! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar