Tak ada maksud untuk membalik
waktu, mundur ke belakang. Saya sebatas mengungkapkan gerundelan, kenapa Soekarno, Hatta, Sutan Sjahrir dan para generasi
saat itu, begitu cerdas, cekatan, piawai dalam memahami kompleksitas
permasalahan bangsa. Apakah mereka itu memang sudah ditakdirkan tercetak
sebagai generasi unggul ? Kalau takdir, kenapa hal itu merata, hampir setiap
orang yang hidup pada zaman itu, adalah bibit unggul ? Mereka itu masih muda,
berstatus mahasiswa, ada yang tamatan SMA, SMP, bahkan cuma tamatan SD, namun penuh
keyakinan diri, dan mampu menjalankan operasional perjuangan membela rakyat
tertindas.
Adam Malik hanya berijazah SD. Begitu
juga Kartini. Jenderal Soedirman, Ki Hajar Dewantoro belum pernah duduk di
bangku kuliah sebagai mahasiswa, tapi lihat ! Jenderal Soedirman adalah suhu-nya perang gerilya, yang telah
menyulitkan konvoi pasukan Belanda. Ki Hajar Dewantoro, lewat-lewat tulisannya,
kentara sekali betapa luas wawasannya atas pendidikan. Beliau memahami logika
dan hakikat pendidikan yang bertujuan untuk mencapai pemerdekaan manusia. Merdeka
manusiawi, merdeka “dari” dan merdeka “untuk”.
Sutan Sjahrir, perdana menteri,
hanya drop out universitas tingkat
satu, jadi praktis alumnus SMA saja, berhasil meyakinkan dunia internasional
dalam sidang di Dewan Keamanan PBB 14 Agustus 1947, dengan teks pidato
berbahasa Inggris. Ibu Poppy Sjahrir, menjelaskan, bahwa teks pidato tersebut,
Sutan Sjahrir karang sendiri, dan diketik sendiri, tidak menggunakan jasa ahli,
atau semacam tim ahli. Luar biasa kan ?
Nah, kembali ke pertanyaan awal. Mereka
itu hebat karena memang dari sononya,
atau apa ? Mereka terlahir dengan bakat alami yang diatas rata-rata generasi
sekarang, yang begitu lahir langsung berbakat sebagai manusia unggul, atau
sebab lain ? Baiklah, kita akui saja, bahwa mereka itu memang berbakat sebagai
manusia hebat, manusia cerdas, manusia super. Tetapi apakah kehebatan seseorang
itu akan tumbuh kembang begitu saja yang lepas tanpa andil sama sekali dari sistem
? Kalau tidak ada pengaruh dari sistem yang mendukung proses tumbuh kembang
mereka, kenapa yang terjadi begitu massif ? Tidak hanya satu-dua orang saja yang
mengalami perkecualian, tetapi hampir seluruh generasi yang mengemuka saat itu
adalah pribadi-pribadi luar biasa. Barangkali yang mengalami perkecualian justru
generasi yang oon, culun, ndableg, apatis terhadap nasib sesama. Generasi absurd tersebut
perkecualian dari semangat zaman yang cerdas dan akrab dengan tradisi nalar ala
Yunani.
Saya percaya, bahwa tradisi
menalar, tradisi berpikir logis filosofis yang melingkupi “proses menjadi”
generasi jelang dan awal kemerdekaan itu adalah berkat sistem pendidikan yang
diterapkan Belanda. Sistem pendidikan yang melihat, mendukung dan mengembangkan
jiwa kemanusiaan. Pendidikan emansipatoris, yang meleluasakan anak manusia
berkembang dan terus mekar hingga menjadi pribadi mandiri. Dan yang pasti tidak
berorientasi untuk mencetak alumni siap pakai. Pendidikan emansipatorik,
penguasaan bahasa yang diutamakan, dengan kata lain, seni berkomunikasilah yang
primer.
Kalau kita mau menyelam lebih
dalam, kemampuan luar biasa generasi angkatan 45, itu bertumpu pada retorika
yang tumbuh mekar di tanah ladang humaniora. Retorika dalam arti yang
sebenarnya—bukan sebatas seni propaganda saja, kata-kata yang bagus namun
kosong isinya—yaitu pemekaran bakat-bakat tertinggi manusia, yakni rasio dan
cita rasa lewat bahasa selaku kemampuan untuk berkomunikasi dalam medan
pikiran. Diajak berpikir kritis, namun rendah hati mengakui keterbatasan diri. Siap
merelatifkan apa saja, termasuk konsepsinya atas kebenaran. Lebih mementingkan
proses pencarian yang sistematis dan kearifan yang berakar pada nilai-nilai
kemanusiaan yang adil dan beradab. Itulah landasan humaniora, dan bahasalah
yang menjadi tulang punggung humaniora tersebut.
Jadi Soekarno, Bung Hatta,
Wahidin, Soetomo, Sjahrir, Ki Hajar Dewantoro, Kartini, dan lain sebagainya,
meski lewat sekolah-sekolah Belanda yang tentu saja kolonial, namun digenangi
oleh jiwa humaniora dan dilandasi oleh penguasaan bahasa-bahasa. Sedangkan saat
ini, pendidikan humaniora, orientasi pemahaman pada semesta diri, kalah mentereng
dibandingkan dengan matematika, fisika, kimia, dan penguasaan iptek lainnya. Penguasaan
bahasa ? “Berbahasa Indonesia yang baik dan benar”, masih sebatas slogan, dan
entah sampai kapan akan terus sebagai slogan.. Entah !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar