Kamis, 20 November 2014

Tagar#Jateng Membaca




para deklarator Jateng Membaca (dok Ardie, 19/11-'14)
Jawa Tengah membaca dideklarasikan. Adalah Gol A Gong, penulis legendaris “Balada Si Roy”, sekaligus Ketua Umum PP Forum TBM, mendesak pengurus Forum TBM Jawa Tengah agar segera mendeklarasikan Jateng membaca. Jabar Membaca, dan Jatim Membaca jauh-jauh hari sudah dideklarasikan, tinggal Jawa Tengah yang belum. Gayung bersambut, Ketua Forum TBM Jawa Tengah serta beberapa pengurus wilayah dan daerah, terima ajakan sang ketua umum Forum TBM tersebut. Rabu, 19 Nopember 2014, teman-teman TBM Jawa Tengah itu, datang berbodong memanfaatkan acara pelatihan menulis novel filmis yang diselenggarakan oleh Penerbit Indiva, di Ruang Seminar Masjid Nurul Huda UNS, dengan pembicara tunggal Gol A Gong, sebagai momentum untuk pencanangan Jateng Membaca.

Deklarasi yang ditandatangani oleh Gol A Gong (Ketua Forum TBM nasional), Triyono (ketua Forum TBM Jawa Tengah), Trimanto (Ketua FLP Solo raya), Afra (Penerbit Indiva), Imam Nurhuda (perpustakaan masyarakat kota Pekalongan), dan Catur (Lazis UNS), memang terasa sederhana, dan serba dadakan. Tapi saya yakin tidak akan mengendurkan esensi dan semangat Jateng Membaca, sebagaimana sejarah dibacakannya teks Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945, yang juga terselenggara secara tergesa dan sederhana. Tinggal selanjutnya bagaimana para deklarator tersebut, secepatnya merumuskan filosofi dan langkah Gerakan Jateng Membaca, itu yang patut kita dorong, agar tak sebatas ceremony dan pamer foto tanda tangan deklarasi.

Disinilah pentingnya saling urun rembug. Terus terang, sedari awal, sebelum acara deklarasi berlangsung, saya masih kesulitan memformulasikan “untuk apa kita harus deklarasikan Jateng Membaca.” Meski saya termasuk yang suka memhembuskan wacana Jateng Membaca, namun ketika ada yang bertanya, “bagaimana konsep Jateng Membaca”, saya masih gagap merumuskan jawabannya. Sampai acara deklarasi berlangsung, para deklarator berdiri gagah dan anggun ketika para juru kamera mengambil gambar, saya pun masih terduduk, melamunkan jawaban yang tak kunjung datang.  Bahkan Afra, yang juga seorang penulis muda produktif, peraih penghargaan prasidatama, tokoh sastra Indonesia Jawa Tengah, meminta audiens peserta pelatihan, bikin kicauan dengan tagar#JatengMembaca, tetap saya masih anteng di sudut ruang.   

Sore hari, usai deklarasi, kita audiensi ke redaksi Koran harian Solopos. Kita diskusi panjang dengan pihak redaksi di sana. Dan ternyata, hingga selesai acara bincang-bincang di kantor harian itu, saya tetap belum menemukan rumusan Jateng Membaca. Malam harinya, giliran teman-teman FLP Kota Solo, yang memaksimalkan potensi Gol A Gong. Mereka menculik penulis kawakan itu ke tempat angkringan pinggir jalan dekat kampus UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta). Teman-teman muda itu mendaulat “si Roy” berbagi tips bikin novel yang tak kehilangan rasa modern, yang tetap punya martabat, seraya menyeruput susu jahe. Saya hadir di tengah-tengah kawula muda yang full semangat itu. Walau sebatas pendengar, karena memang tak paham dengan lalu lintas ngobrol mereka. Pikiran saya saat itu masih terganggu dengan “teror” Jateng Membaca. Esok paginya, 20 Nopember 2014, saya ikut mengiring perjalanan Tur Literasi Gol A Gong ke Klaten.

Bersama Forum TBM Kabupaten Klaten, lagi-lagi ‘presiden’ Forum TBM tak ketinggalan untuk menyisipkan pesan Jateng Membaca. “Teror lagi”, pikir saya. Entahlah, saya masih terjebak dan berkutat dengan persoalan “kenapa musti Jawa Tengah Membaca ?” Saya runut ke belakang. Coba mengingat tanda-tanda yang sepontan mampir di benak. Peristiwa apa yang menghampiri dalam perjalanan dari Ungaran ke Solo, supaya mudah merumuskan argumen, guna menepis horor teror yang tak kunjung reda. Saya pilah rentetan demi rentetan, dan tiba-tiba ingat satu hal: dalam perjalanan, saya mendapati dua rumah, tempat yang berbeda, sedang berkabung. Bendera kuning dan papan pengumuman berita lelayu di pajang depan rumah persis bibir jalan. Saya rada merinding melihatnya. Sudah jadi kebiasaan, setiap bepergian, ketika yang ditemui di jalan adalah berita kematian, sontak perasaan kalut, merinding, plus tanda tanya yang datang beruntun. Bertubi-tubi pertanyaan hinggap di pikiran. Pertanda apa ?

Saat ini, kita juga masih berada di bulan Muharam. Bulan, yang dalam Islam, identik dengan peristiwa hijrah. Umar Ibn Khattab, khalifah yang kedua, menetapkan permulaan tahun hijriah Islam, bertepatan dengan hijrah atau pindahnya Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah, yaitu tahun 622 M. Bulan Muharam, oleh sebagian besar umat Islam, khususnya yang Jawa pesisiran, dimaknai sebagai bulan keprihatinan. Pada bulan ini, tidak boleh ada pesta perayaan, seperti pernikahan, walimatul khitan, dsb. Dan hal ini, sampai sekarang masih ditaati, terlihat sebagian besar masyarakat, takut untuk mengadakan pesta-pesta yang bersifat duniawi. Mereka meyakini bulan Muharam, sebagai bulan pantangan untuk keduniaan.

Saya coba urutkan benang merahnya. Pertama, kematian, yang merupakan momen efektif, yang sering dipakai para juru dakwah untuk menasehati kita yang masih hidup. Oleh para juru dakwah, kematian adalah akhir dari usaha menabung kebajikan. Maka, nasehatnya, mumpung masih hidup, seyogianya rajin mengumpulkan amal kebajikan sebanyak mungkin.

Versi lain, kematian malah bukan sebagai akhir, justru sebaliknya, awal dari penobatan untuk menjadi raja di dunia. Apa maksudnya ? Dalam tasawwuf, kematian fisik bukan sesuatu yang penting untuk ditakutkan, karena hal itu pasti terjadi. Entah siap atau tidak siap, kematian fisik pasti akan datang menjemput kita. Tasawwuf memaknai hakikat kematian, bukan pada purna tugas sang ruh menemani jasad, raga, melainkan sebagai berhentinya keinginan, ambisi, dan kepentingan atas dunia. Momen istirahatnya keinginan, itulah momen kematian yang sesungguhnya, yang justru berat dan butuh perjuangan besar. Rasulullah, suatu ketika menyatakan, bahwa perang fisik dimedan laga, yang saat itu usai perang badar, adalah jihad kecil. Sedangkan perang melawan keinginan sendiri, disebutnya sebagai perang besar (jihad akbar), yang waktunya tak terbatas, sepanjang hayat.

Itulah makna kematian. Matinya keinginan atas gemerlap kehidupan. Kematian yang demikian, disimbolkan dengan warna hitam. Hitam adalah gelap. Malam juga gelap. Maka matinya keinginan, sering dapatkan momentum, pada malam hari. Orang-orang yang bangun di tengah malam, menghidupan malam dengan menjalankan shalat tahajud, hakikatnya sedang mematikan keinginan. Yang ia lakukan adalah bersimpuh di pangkuan Tuhan, mengagungkan Tuhan, dan mengerdilkan diri sendiri. Keinginannya yang liar tanpa batas, pada momentum tahajud, ia matikan. Karena jika masih mengingat dan menghambur-hamburkan keinginan, persis pada saat tahajud, niscaya tahajudnya gagal. Ia tak akan mendapatkan predikat “maqomam mahmuda”, tempat yang mulia disisi-Nya.

Untuk merawat kesadaran tersebut, Sunan Kalijaga, kemana-mana selalu memakai baju warna hitam. Hitam itu kematian dan gelap. Kesadaran yang ingin ia pelihara, bahwa kehidupan dunia ini adalah gelap. Maka untuk apa mengejarnya mati-matian, untuk apa jungkir-balik, sampai menurunkan martabat harga diri, hingga melupakan yang di balik kegelapan. Di balik kegelapan ialah Sang Maha Cahaya, Tuhan yang Esa.

Kedua, hijrah. Dari kesadaran akan gelap. Berlanjut untuk menelusuri di balik gelap. Siapa aktor atau dalang dibalik kegelapan itu ? Yang tak lain adalah Tuhan. Habis gelap terbitlah terang. Usai mati-matian mempertahankan martabat diri dengan tidak memperturutkan hawa nafsu, maka Tuhan akan selalu mengiring dan menemani langkah kita. sehingga terang terus hidup ini. Jadi ada upaya peralihan atau hijrah dari gelap menuju terang cahaya.

Konon kata guru berasal dari kata Gu, gelap, dan Ru, terang. Jadi guru, bisa diartikan upaya pengalihan dari gelap menuju terang. Habis gelap terbitlah terang, dalam konteks kita, bisa saja berupa usaha-usaha kolektif di ranah literasi. Masih jelas dalam rekaman, tahun 1998, para mahasiswa sukses memahamkan masyarakat untuk berani bersuara beda dengan pemerintah. Aksi-aksi massa, demonstrasi, mogok kerja, jadi pemandangan keseharian saat ini, dimana dulu pada masa Orde Baru, masyarakat tak berani melakukannya. Artinya para mahasiswa saat itu sukses mengantarkan rakyat pada keberaniannya untuk menuntut dan menyuarakan hak. Para tukang becak, sopir angkot, dan buruh, kini tidak takut lagi untuk mobilisasi massa. Lantas ?

Menurut saya ironis, kalau para mahasiswa era kini masih memakai cara-cara mobilisasi massa dalam menyuarakan hak, ketimpangan dan ketidakadilan, sebagaimana generasi 1998. Sebab hal itu sudah bisa dilakukan oleh yang bukan mahasiswa. Sebagai agen of change, termasuk kita yang menekuni dunia literasi, mestinya meningkat dari mobilisasi massa menuju mobilisasi ide atau gagasan. Bagaimana itu ? Menuangkan ide, gagasan, mengikat makna dari keliaran imajinasi, dengan menulis, atau setidaknya, menjadikan kegiatan membaca sebagai hobby.

Pendek kata, habis gelap terbitlah terang, tak lain dan tak bukan adalah gerakan suka membaca, suka menulis. Saya bayangkan, para agen of change itu kini, tidak lagi bakar-bakaran ban, menyobek bendera negara tetangga, melainkan beralih pada kerja-kerja literasi, aksi intelektual. Sehingga lambat laun, yang di luar kita, yakni masyarakat luas, akan mengikuti jejak dengan mentradisikan baca dan menulis.

Sementara pada sisi yang beda, yang patut diwaspadai dari para para penggiat taman baca ialah kemauan membaca rendah, dan kemampuan membaca yang kurang. “Kemauan” merupakan persoalan mindset, pola pikir, atau sisi dalam, yang enggan menjadikan kegiatan baca sebagai kebutuhan primer. Sedang “kemampuan” adalah skill, atau sisi luar yang berkaitan dengan metode membaca. Kaitan “kemauan” membaca, barangkali tak perlu dikhawatirkan. Kebanyakan gemar membaca. Tetapi akan masalah, kalau kebanyakan yang dibaca sekadar buku-buku tipis, ringan, hingga yang berbau eksploitasi tubuh. Memang kemauan baca tinggi, namun kualitas bacaan rendah. Keinginan membaca bagus, tapi kemampuan memahami isi teks kurang, lantaran tak biasa dengan buku tebal dan “berat”.

Akhirnya, Jateng Membaca jadi penting kalau merunut kecenderungan aliterasi (kemauan) dan iliterasi (kemampuan) yang merebak banyak kalangan, termasuk internal para penggiat literasi. Jateng Membaca jadi perlu, jika kemudian diisi dengan agenda kegiatan literasi: Reading group, diskusi buku, menulis diary, lomba menulis cerpen, hingga peluncuran buku.
Wal qolami wama yasthurun.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar