![]() |
| para deklarator Jateng Membaca (dok Ardie, 19/11-'14) |
Jawa Tengah membaca dideklarasikan.
Adalah Gol A Gong, penulis legendaris “Balada Si Roy”, sekaligus Ketua Umum PP
Forum TBM, mendesak pengurus Forum TBM Jawa Tengah agar segera mendeklarasikan
Jateng membaca. Jabar Membaca, dan Jatim Membaca jauh-jauh hari sudah
dideklarasikan, tinggal Jawa Tengah yang belum. Gayung bersambut, Ketua Forum
TBM Jawa Tengah serta beberapa pengurus wilayah dan daerah, terima ajakan sang
ketua umum Forum TBM tersebut. Rabu, 19 Nopember 2014, teman-teman TBM Jawa
Tengah itu, datang berbodong memanfaatkan acara pelatihan menulis novel filmis
yang diselenggarakan oleh Penerbit Indiva, di Ruang Seminar Masjid Nurul Huda
UNS, dengan pembicara tunggal Gol A Gong, sebagai momentum untuk pencanangan
Jateng Membaca.
Deklarasi yang ditandatangani
oleh Gol A Gong (Ketua Forum TBM nasional), Triyono (ketua Forum TBM Jawa
Tengah), Trimanto (Ketua FLP Solo raya), Afra (Penerbit Indiva), Imam Nurhuda
(perpustakaan masyarakat kota Pekalongan), dan Catur (Lazis UNS), memang terasa
sederhana, dan serba dadakan. Tapi saya yakin tidak akan mengendurkan esensi
dan semangat Jateng Membaca, sebagaimana sejarah dibacakannya teks Proklamasi
Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945, yang juga terselenggara secara tergesa dan
sederhana. Tinggal selanjutnya bagaimana para deklarator tersebut, secepatnya merumuskan
filosofi dan langkah Gerakan Jateng Membaca, itu yang patut kita dorong, agar
tak sebatas ceremony dan pamer foto
tanda tangan deklarasi.
Disinilah pentingnya saling urun
rembug. Terus terang, sedari awal, sebelum acara deklarasi berlangsung, saya
masih kesulitan memformulasikan “untuk apa kita harus deklarasikan Jateng
Membaca.” Meski saya termasuk yang suka memhembuskan wacana Jateng Membaca,
namun ketika ada yang bertanya, “bagaimana konsep Jateng Membaca”, saya masih
gagap merumuskan jawabannya. Sampai acara deklarasi berlangsung, para
deklarator berdiri gagah dan anggun ketika para juru kamera mengambil gambar,
saya pun masih terduduk, melamunkan jawaban yang tak kunjung datang. Bahkan Afra, yang juga seorang penulis muda
produktif, peraih penghargaan prasidatama, tokoh sastra Indonesia Jawa Tengah,
meminta audiens peserta pelatihan, bikin kicauan dengan tagar#JatengMembaca, tetap
saya masih anteng di sudut ruang.
Sore hari, usai deklarasi, kita
audiensi ke redaksi Koran harian Solopos. Kita diskusi panjang dengan pihak redaksi
di sana. Dan ternyata, hingga selesai acara bincang-bincang di kantor harian
itu, saya tetap belum menemukan rumusan Jateng Membaca. Malam harinya, giliran teman-teman
FLP Kota Solo, yang memaksimalkan potensi Gol A Gong. Mereka menculik penulis
kawakan itu ke tempat angkringan pinggir jalan dekat kampus UMS (Universitas
Muhammadiyah Surakarta). Teman-teman muda itu mendaulat “si Roy” berbagi tips bikin
novel yang tak kehilangan rasa modern, yang tetap punya martabat, seraya
menyeruput susu jahe. Saya hadir di tengah-tengah kawula muda yang full
semangat itu. Walau sebatas pendengar, karena memang tak paham dengan lalu
lintas ngobrol mereka. Pikiran saya saat itu masih terganggu dengan “teror”
Jateng Membaca. Esok paginya, 20 Nopember 2014, saya ikut mengiring perjalanan
Tur Literasi Gol A Gong ke Klaten.
Bersama Forum TBM Kabupaten
Klaten, lagi-lagi ‘presiden’ Forum TBM tak ketinggalan untuk menyisipkan pesan
Jateng Membaca. “Teror lagi”, pikir saya. Entahlah, saya masih terjebak dan
berkutat dengan persoalan “kenapa musti Jawa Tengah Membaca ?” Saya runut ke
belakang. Coba mengingat tanda-tanda yang sepontan mampir di benak. Peristiwa apa
yang menghampiri dalam perjalanan dari Ungaran ke Solo, supaya mudah merumuskan
argumen, guna menepis horor teror yang tak kunjung reda. Saya pilah rentetan
demi rentetan, dan tiba-tiba ingat satu hal: dalam perjalanan, saya mendapati
dua rumah, tempat yang berbeda, sedang berkabung. Bendera kuning dan papan
pengumuman berita lelayu di pajang depan rumah persis bibir jalan. Saya rada
merinding melihatnya. Sudah jadi kebiasaan, setiap bepergian, ketika yang
ditemui di jalan adalah berita kematian, sontak perasaan kalut, merinding, plus
tanda tanya yang datang beruntun. Bertubi-tubi pertanyaan hinggap di pikiran.
Pertanda apa ?
Saat ini, kita juga masih berada
di bulan Muharam. Bulan, yang dalam Islam, identik dengan peristiwa hijrah.
Umar Ibn Khattab, khalifah yang kedua, menetapkan permulaan tahun hijriah
Islam, bertepatan dengan hijrah atau pindahnya Nabi Muhammad dari Mekah ke
Madinah, yaitu tahun 622 M. Bulan Muharam, oleh sebagian besar umat Islam,
khususnya yang Jawa pesisiran, dimaknai sebagai bulan keprihatinan. Pada bulan
ini, tidak boleh ada pesta perayaan, seperti pernikahan, walimatul khitan, dsb.
Dan hal ini, sampai sekarang masih ditaati, terlihat sebagian besar masyarakat,
takut untuk mengadakan pesta-pesta yang bersifat duniawi. Mereka meyakini bulan
Muharam, sebagai bulan pantangan untuk keduniaan.
Saya coba urutkan benang
merahnya. Pertama, kematian, yang merupakan
momen efektif, yang sering dipakai para juru dakwah untuk menasehati kita yang
masih hidup. Oleh para juru dakwah, kematian adalah akhir dari usaha menabung
kebajikan. Maka, nasehatnya, mumpung masih hidup, seyogianya rajin mengumpulkan
amal kebajikan sebanyak mungkin.
Versi lain, kematian malah bukan
sebagai akhir, justru sebaliknya, awal dari penobatan untuk menjadi raja di
dunia. Apa maksudnya ? Dalam tasawwuf, kematian fisik bukan sesuatu yang
penting untuk ditakutkan, karena hal itu pasti terjadi. Entah siap atau tidak
siap, kematian fisik pasti akan datang menjemput kita. Tasawwuf memaknai hakikat
kematian, bukan pada purna tugas sang ruh menemani jasad, raga, melainkan
sebagai berhentinya keinginan, ambisi, dan kepentingan atas dunia. Momen
istirahatnya keinginan, itulah momen kematian yang sesungguhnya, yang justru
berat dan butuh perjuangan besar. Rasulullah, suatu ketika menyatakan, bahwa
perang fisik dimedan laga, yang saat itu usai perang badar, adalah jihad kecil.
Sedangkan perang melawan keinginan sendiri, disebutnya sebagai perang besar (jihad akbar), yang waktunya tak
terbatas, sepanjang hayat.
Itulah makna kematian. Matinya
keinginan atas gemerlap kehidupan. Kematian yang demikian, disimbolkan dengan
warna hitam. Hitam adalah gelap. Malam juga gelap. Maka matinya keinginan,
sering dapatkan momentum, pada malam hari. Orang-orang yang bangun di tengah
malam, menghidupan malam dengan menjalankan shalat tahajud, hakikatnya sedang
mematikan keinginan. Yang ia lakukan adalah bersimpuh di pangkuan Tuhan,
mengagungkan Tuhan, dan mengerdilkan diri sendiri. Keinginannya yang liar tanpa
batas, pada momentum tahajud, ia matikan. Karena jika masih mengingat dan
menghambur-hamburkan keinginan, persis pada saat tahajud, niscaya tahajudnya
gagal. Ia tak akan mendapatkan predikat “maqomam
mahmuda”, tempat yang mulia disisi-Nya.
Untuk merawat kesadaran tersebut,
Sunan Kalijaga, kemana-mana selalu memakai baju warna hitam. Hitam itu kematian
dan gelap. Kesadaran yang ingin ia pelihara, bahwa kehidupan dunia ini adalah
gelap. Maka untuk apa mengejarnya mati-matian, untuk apa jungkir-balik, sampai
menurunkan martabat harga diri, hingga melupakan yang di balik kegelapan. Di
balik kegelapan ialah Sang Maha Cahaya, Tuhan yang Esa.
Kedua, hijrah. Dari kesadaran akan gelap. Berlanjut untuk
menelusuri di balik gelap. Siapa aktor atau dalang dibalik kegelapan itu ? Yang
tak lain adalah Tuhan. Habis gelap terbitlah terang. Usai mati-matian
mempertahankan martabat diri dengan tidak memperturutkan hawa nafsu, maka Tuhan
akan selalu mengiring dan menemani langkah kita. sehingga terang terus hidup
ini. Jadi ada upaya peralihan atau hijrah dari gelap menuju terang cahaya.
Konon kata guru berasal dari kata Gu,
gelap, dan Ru, terang. Jadi guru,
bisa diartikan upaya pengalihan dari gelap menuju terang. Habis gelap terbitlah
terang, dalam konteks kita, bisa saja berupa usaha-usaha kolektif di ranah
literasi. Masih jelas dalam rekaman, tahun 1998, para mahasiswa sukses
memahamkan masyarakat untuk berani bersuara beda dengan pemerintah. Aksi-aksi
massa, demonstrasi, mogok kerja, jadi pemandangan keseharian saat ini, dimana
dulu pada masa Orde Baru, masyarakat tak berani melakukannya. Artinya para
mahasiswa saat itu sukses mengantarkan rakyat pada keberaniannya untuk menuntut
dan menyuarakan hak. Para tukang becak, sopir angkot, dan buruh, kini tidak
takut lagi untuk mobilisasi massa. Lantas ?
Menurut saya ironis, kalau para
mahasiswa era kini masih memakai cara-cara mobilisasi massa dalam menyuarakan
hak, ketimpangan dan ketidakadilan, sebagaimana generasi 1998. Sebab hal itu
sudah bisa dilakukan oleh yang bukan mahasiswa. Sebagai agen of change, termasuk kita yang menekuni dunia literasi, mestinya
meningkat dari mobilisasi massa menuju mobilisasi ide atau gagasan. Bagaimana
itu ? Menuangkan ide, gagasan, mengikat makna dari keliaran imajinasi, dengan
menulis, atau setidaknya, menjadikan kegiatan membaca sebagai hobby.
Pendek kata, habis gelap
terbitlah terang, tak lain dan tak bukan adalah gerakan suka membaca, suka menulis.
Saya bayangkan, para agen of change
itu kini, tidak lagi bakar-bakaran ban, menyobek bendera negara tetangga,
melainkan beralih pada kerja-kerja literasi, aksi intelektual. Sehingga lambat
laun, yang di luar kita, yakni masyarakat luas, akan mengikuti jejak dengan
mentradisikan baca dan menulis.
Sementara pada sisi yang beda, yang
patut diwaspadai dari para para penggiat taman baca ialah kemauan membaca rendah,
dan kemampuan
membaca yang kurang. “Kemauan” merupakan persoalan mindset, pola pikir, atau sisi dalam, yang enggan menjadikan
kegiatan baca sebagai kebutuhan primer. Sedang “kemampuan” adalah skill, atau
sisi luar yang berkaitan dengan metode membaca. Kaitan “kemauan” membaca,
barangkali tak perlu dikhawatirkan. Kebanyakan gemar membaca. Tetapi akan masalah,
kalau kebanyakan yang dibaca sekadar buku-buku tipis, ringan, hingga yang
berbau eksploitasi tubuh. Memang kemauan baca tinggi, namun kualitas bacaan
rendah. Keinginan membaca bagus, tapi kemampuan memahami isi teks kurang,
lantaran tak biasa dengan buku tebal dan “berat”.
Akhirnya, Jateng Membaca jadi
penting kalau merunut kecenderungan aliterasi
(kemauan) dan iliterasi (kemampuan) yang merebak banyak kalangan, termasuk
internal para penggiat literasi. Jateng Membaca jadi perlu, jika kemudian diisi
dengan agenda kegiatan literasi: Reading
group, diskusi buku, menulis diary,
lomba menulis cerpen, hingga peluncuran buku.
Wal qolami wama yasthurun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar