Ungaran Suka Menulis (USM) adalah
cara saya meyakinkan diri, sebagai penghuni kota, agar Ungaran tak membisu.
Memang terkesan bombastis, tapi biar saja, toh tidak ada jeleknya kalau
diusahakan. Tapi kenapa harus Ungaran ? Apakah tidak takut bakal kena delik
pasal rasialis, ego sektoral, sektarian, atau ashabiah ? Apakah tidak akan mengarah pada sikap eksklusif ? Anti
keberagaman, minim toleransi ? Terus kenapa tidak pilih kata kerja membaca ?
Kenapa musti menulis ? Apakah menulis lebih mentereng ketimbang membaca ?
Saya tak akan menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas. Saya ingin menelisik pada yang lebih
sederhana, yaitu kenapa menulis. Sebagaimana kita ketahui, Ungaran adalah kota
kecil. Belum setenar Kota Semarang, Salatiga, Ambarawa, Solo, maupun Yogya.
Ungaran bukan kota pelajar, belum banyak universitas atau sekolah tinggi.
Ungaran juga bukan kota budaya, entah ada atau tidak ada, kesenian tradisional
asli belum ada yang dikomersialkan sebagai aset daerah. Sebaliknya yang
mengemuka, Ungaran adalah kota industri. Di sepanjang jalan utama banyak
terdapat pabrik besar seperti Ungaran Sari Garment, Pepsi, Nissin, Batamtex, dll.
Sehingga Ungaran lebih dikenal sebagai tempat tujuan urban jadi pesuruh pabrik,
yang siklus hidupnya monoton. Berangkat pagi-pagi pulang malam. Berangkat
malam, pulang pagi. Terus-menerus begitu tiada akhir, yang identik dengan kelas
proletar, yang melarat, dan tersisih. Meski demikian, bukan berarti khas pabrik
dengan ribuan buruhnya itu negatif. Sama sekali tidak. Sebagai buruh, sebagai
pesuruh, bukan berarti tak mulia. Karena kalau menilik lebih dalam, kita semua
ini hakikatnya juga buruh atau pesuruh. Setidaknya sebagai pesuruh
Tuhan…hahaha….
Selain identik dengan ribuan
buruh pabrik, Ungaran dikenal sebagai Kota Seribu Rumah Makan. Karena sepanjang
jalur utama Kota, banyak terdapat rumah makan. Dan Tahu Bakso, salah satu makanan
khasnya, yang banyak dijual di toko sepanjang jalan utama sebagai cenderamata. Kota
Ungaran juga memiliki peninggalan gedung-gedung bernuansa sejarah, misalnya
Gedung Kuning dan Benteng Willem II, serta makam Gatot Soebroto yang terletak
di Kelurahan Sidomulyo, Ungaran Timur.
Keberadaan gedung-gedung sejarah,
meski kurang terawat, saya membayangkan ada satu potensi yang bisa ditumbuhkan,
guna mendukung keberadaan cagar budaya tersebut, yakni literasi. Saya melihat,
tradisi literasi belum dilirik, untuk jadi yang membanggakan. Imajinasi,
interpretasi, dan kreativitas belum memiliki tempat di hati mayoritas penghuni
kota Ungaran. Padahal tidak demikian. Jika ditelaah dengan saksama, sejarah
jatuh bangunnya kota, sarat dengan lukisan imajinatif. Kota akan berjaya, kalau
di dalamnya, imajinasi dan interpretasi memiliki tempat, bahkan hidup pada
tingkat dunia keseharian. Sebaliknya kota mengalami kebangkrutan, karena
menanggalkan kekuatan pikiran dan imajinasi.
Wujud kreativitas dua kondisi kekuatan
interpretasi dan imajinasi itu adalah menulis. Dengan menulis,
keliaran imajinasi akan bermakna, kekayaan interpretasi akan terikat. Mengulang
pendakuan Barbara W. Tuchman, penulis Amerika, “Buku adalah Pembawa Peradaban. Tanpa
buku, sejarah akan membisu.” Dalam hal ini, saya memang belum seberani Barbara,
yang membawa kemampuan menulis sebagai profesi penulis. Jadi saya ingin menyusutkan
makna, bahwa kemauan menulis tidak musti mengarah untuk menjadi penulis. Meski kemampuan
seorang penulis adalah menulis. Artinya, saya lebih tertarik akronim USM,
Ungaran Suka Menulis, karena ingin menitikberatkan pada kemauan baru kemudian kemampuan.
Potensi literasi yang menyisip dengan potensi lainnya bagi Kota Ungaran, ialah kemauan
menulis, meski, sekali lagi, tidak harus jadi seorang penulis. Suatu kemauan
untuk mensistematiskan konsepsi, sudut pandang, perasaan, logika, hingga
keyakinan. Dari kemauan itulah yang kemudian berkembang menjadi mampu
menjahit logika, perasaan, jadi bermakna alias sebuah karya tulis.
Akhirnya, Ungaran yang secara
definitif ditetapkan sebagai ibu kota Kabupaten Semarang, 20 Desember 1983, tak
akan diam membisu secara literal. Ungaran tak hanya bergemuruh dengan sibuk secara
ekonomi, dengan “seribu rumah makan”nya, tahu bakso-nya, maupun Ungaran Sari
Garmen-nya. Tetapi Ungaran, juga musti moncer
dari sudut karya tulisnya, baik perbukuan, majalah, bulletin, Koran warga,
dll.
Itulah USM. Itulah Ungaran
Suka Menulis….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar