Selasa, 18 November 2014

Ungaran Suka Menulis


Ungaran Suka Menulis (USM) adalah cara saya meyakinkan diri, sebagai penghuni kota, agar Ungaran tak membisu. Memang terkesan bombastis, tapi biar saja, toh tidak ada jeleknya kalau diusahakan. Tapi kenapa harus Ungaran ? Apakah tidak takut bakal kena delik pasal rasialis, ego sektoral, sektarian, atau ashabiah ? Apakah tidak akan mengarah pada sikap eksklusif ? Anti keberagaman, minim toleransi ? Terus kenapa tidak pilih kata kerja membaca ? Kenapa musti menulis ? Apakah menulis lebih mentereng ketimbang membaca ?


Saya tak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas. Saya ingin menelisik pada yang lebih sederhana, yaitu kenapa menulis. Sebagaimana kita ketahui, Ungaran adalah kota kecil. Belum setenar Kota Semarang, Salatiga, Ambarawa, Solo, maupun Yogya. Ungaran bukan kota pelajar, belum banyak universitas atau sekolah tinggi. Ungaran juga bukan kota budaya, entah ada atau tidak ada, kesenian tradisional asli belum ada yang dikomersialkan sebagai aset daerah. Sebaliknya yang mengemuka, Ungaran adalah kota industri. Di sepanjang jalan utama banyak terdapat pabrik besar seperti Ungaran Sari Garment, Pepsi, Nissin, Batamtex, dll. Sehingga Ungaran lebih dikenal sebagai tempat tujuan urban jadi pesuruh pabrik, yang siklus hidupnya monoton. Berangkat pagi-pagi pulang malam. Berangkat malam, pulang pagi. Terus-menerus begitu tiada akhir, yang identik dengan kelas proletar, yang melarat, dan tersisih. Meski demikian, bukan berarti khas pabrik dengan ribuan buruhnya itu negatif. Sama sekali tidak. Sebagai buruh, sebagai pesuruh, bukan berarti tak mulia. Karena kalau menilik lebih dalam, kita semua ini hakikatnya juga buruh atau pesuruh. Setidaknya sebagai pesuruh Tuhan…hahaha….

Selain identik dengan ribuan buruh pabrik, Ungaran dikenal sebagai Kota Seribu Rumah Makan. Karena sepanjang jalur utama Kota, banyak terdapat rumah makan. Dan Tahu Bakso, salah satu makanan khasnya, yang banyak dijual di toko sepanjang jalan utama sebagai cenderamata. Kota Ungaran juga memiliki peninggalan gedung-gedung bernuansa sejarah, misalnya Gedung Kuning dan Benteng Willem II, serta makam Gatot Soebroto yang terletak di Kelurahan Sidomulyo, Ungaran Timur.

Keberadaan gedung-gedung sejarah, meski kurang terawat, saya membayangkan ada satu potensi yang bisa ditumbuhkan, guna mendukung keberadaan cagar budaya tersebut, yakni literasi. Saya melihat, tradisi literasi belum dilirik, untuk jadi yang membanggakan. Imajinasi, interpretasi, dan kreativitas belum memiliki tempat di hati mayoritas penghuni kota Ungaran. Padahal tidak demikian. Jika ditelaah dengan saksama, sejarah jatuh bangunnya kota, sarat dengan lukisan imajinatif. Kota akan berjaya, kalau di dalamnya, imajinasi dan interpretasi memiliki tempat, bahkan hidup pada tingkat dunia keseharian. Sebaliknya kota mengalami kebangkrutan, karena menanggalkan kekuatan pikiran dan imajinasi.

Wujud kreativitas dua kondisi kekuatan interpretasi dan imajinasi itu adalah menulis. Dengan menulis, keliaran imajinasi akan bermakna, kekayaan interpretasi akan terikat. Mengulang pendakuan Barbara W. Tuchman, penulis Amerika, “Buku adalah Pembawa Peradaban. Tanpa buku, sejarah akan membisu.” Dalam hal ini, saya memang belum seberani Barbara, yang membawa kemampuan menulis sebagai profesi penulis. Jadi saya ingin menyusutkan makna, bahwa kemauan menulis tidak musti mengarah untuk menjadi penulis. Meski kemampuan seorang penulis adalah menulis. Artinya, saya lebih tertarik akronim USM, Ungaran Suka Menulis, karena ingin menitikberatkan pada kemauan baru kemudian kemampuan. Potensi literasi yang menyisip dengan potensi lainnya bagi Kota Ungaran, ialah kemauan menulis, meski, sekali lagi, tidak harus jadi seorang penulis. Suatu kemauan untuk mensistematiskan konsepsi, sudut pandang, perasaan, logika, hingga keyakinan. Dari kemauan itulah yang kemudian berkembang menjadi mampu menjahit logika, perasaan, jadi bermakna alias sebuah karya tulis.  

Akhirnya, Ungaran yang secara definitif ditetapkan sebagai ibu kota Kabupaten Semarang, 20 Desember 1983, tak akan diam membisu secara literal. Ungaran tak hanya bergemuruh dengan sibuk secara ekonomi, dengan “seribu rumah makan”nya, tahu bakso-nya, maupun Ungaran Sari Garmen-nya. Tetapi Ungaran, juga musti moncer dari sudut karya tulisnya, baik perbukuan, majalah, bulletin, Koran warga, dll.

Itulah USM. Itulah Ungaran Suka Menulis….
 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar