Sabtu, 22 November 2014

Sabtu (1)

Pekan : Raih Harga Diri

Sabtu in, lazimnya disebut akhir pekan. Pekan adalah kata benda yang bisa diartikan, selain minggu (7 hari), sebagai pasar. Tinggal mau pakai yang mana, sesuai status sosial kita di masyarakat, dan kebutuhannya. Kita yang dari kalangan merdeka, bukan orang karir, yang tak punya kejelasan profesi, cenderung memahami pekan sebagai pasar. Sedang yang dari golongan karir, kerja kantoran, umumnya akan memaknai akhir pekan itu sebagai hari. Setelah 6/5 hari berturut-turut, fisik mereka diporsir di tempat kerja, maka hari ketujuh, sebagai hari akhir. Selama bekerja karir, seakan diri bukan manusia, diri telah menjadi robot, sehingga akhir pekan, serasa telah menemukan kediriannya sebagai manusia.


Orang-orang yang berpikir bebas, dan masyarakat melabeli mereka sebagai yang tak punya masa depan, justru yang saban hari telah menemukan jati diri sebagai manusia. Orang-orang tersebut, biasanya dari kalangan seniman, budayawan, penyair, sastrawan, dan penulis, justru yang dalam kesehariannya, sangat menikmati hidup dan kehidupan. Hari-hari bagi mereka adalah hari-hari sebagai manusia. Hari-hari untuk menyelami kedalaman makna hidup, hari-hari untuk menghargai kenyataan. Hari-hari merelatifkan diri sendiri, merelatifkan keinginan, karena yang agung dan hakiki, ialah Sang Maha Agung, penguasa jagad raya.

Sebaliknya yang saban hari berkutat dengan pencarian harta materi, bekerja professional di sebuah instansi swasta maupun negeri, sebagai buruh administrasi maupun lapangan sebuah pabrik, praktis kesehariannya adalah serba otomat, efektif, efesien. Persis dengan kerja mesin, yang tak mengenal kata santai. Hari-harinya adalah kerja, kerja, dan tepat waktu. Sehingga akhir pekan, serasa hari yang istimewa, dan tak boleh dilewatkan guna menyelami dimensi kemanusiaan.

Sabtu ini, entah sebagai pasar, entah sebagai hari. Kalau didalami, toh tetap saja, yakni sama-sama ingin menegakkan harga diri. Yang berputar-putar, berangkat pagi, pulang petang, atau yang hanya sekadar meramu kata di sudut kamar pribadi, yang ia jadikan sebagai ruang kerja, hakikatnya sedang berusaha untuk memartabatkan diri sendiri. Mereka tak mau kehilangan muka, lantaran harga diri lenyap, sehingga mati-matian rela mempertahankannya. Siapa pun itu, yang berstatus sosial di atas maupun yang tersisih di bawah, akan sama-sama mematut diri.

Iman dan Islam

Selanjutnya tinggal kita telisik, harga diri macam apa yang bakal atau yang telah kita tegakkan ? Dalam surat At-Tin [95]: 4-6, Tuhan menegaskan bahwa manusia adalah karya masterpiece-Nya. Namun keagungan manusia akan tenggelam ke tempat yang hina alias tak bermartabat, kecuali  jika ia sanggup menjaga harga dirinya. Harga diri tersebut tiada lain berupa iman dan kebajikan. Pertama, Iman yang merupakan sisi dalam, yaitu pengakuan bahwa kita ini tak lain ialah sebagai hamba-Nya. Pengakuan sebagai hamba, tidak dengan sendirinya tumbuh dalam kesadaran, jika tanpa upaya yang istiqomah. Upaya menumbuhkan kesadaran tersebut, oleh Tuhan melalui rasul-Nya, berupa ajaran shalat. Jadi shalat merupakan sarana teknis dari Tuhan untuk menerbitkan kesadaran hamba. Shalat yang dikerjakan dengan penuh penghayatan dan pemahaman, niscaya, kesadaran sebagai hamba akan tumbuh.

Sebagai hamba, mustahil ia akan menanggapi segala kejadian, peristiwa, atau fenomena, tanpa rasa syukur. Syukur adalah sikap positif batin dalam merespon fenomena atau peristiwa. Senantiasa mengucap tahmid atau “alhamdulillah”. Jadi kesadaran sebagai hamba, itu tumbuh dengan ibadah shalat, dan akan berkembang dengan senantiasa bersyukur. Demikianlah, bersyukur dan shalat akan melahirkan kesadaran hamba. Dan kesadaran hamba adalah Iman.

Kedua, kebajikan, yang merupakan manifestasi kata Islam. Islam dari kata as-salama, salam, yang kemudian jadi selamat, yaitu keadaan utuh tak kurang suatu apa. Salam mempunyai kaitan dengan takwa. Karena takwa musti berimplikasi pada usaha mengkondisikan keadaan salam, utuh, damai atau selamat. Upaya menciptakan kedamaian dalam masyarakat, yakni ikhtiar yang bermula dari tingkah laku pribadi dalam wujud budi pekerti luhur.

Kalau iman itu untuk menarik kesadaran hamba, maka kebajikan adalah wujud Islam, yang berfungsi sebagai wakil-Nya. Islam terkondisikan dengan takwa, maka iman dengan tawakal. Tawakal adalah syukur, maka takwa mensyaratkan sifat sabar. Jadi harga diri manusia yang berupa iman dan kebajikan, sebagaimana dalam surat at-Tin, berarti berupa iman dan islam. Berwujud kesadaran Hamba Tuhan dan Wakil Tuhan, senantiasa menegakkan syukur dan sabar.

Akhirnya, sabtu ini, tak lain adalah cara untuk mengenali diri, cara memahami harga diri, dan cara memasuki iman dan islam. Itulah harga diri kita di mata Tuhan. So, mau kemana lagi coba !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar