Sabtu in, lazimnya disebut akhir pekan.
Pekan adalah kata benda yang bisa diartikan, selain minggu (7 hari), sebagai
pasar. Tinggal mau pakai yang mana, sesuai status sosial kita di masyarakat,
dan kebutuhannya. Kita yang dari kalangan merdeka, bukan orang karir, yang tak
punya kejelasan profesi, cenderung memahami pekan sebagai pasar. Sedang yang
dari golongan karir, kerja kantoran, umumnya akan memaknai akhir pekan itu
sebagai hari. Setelah 6/5 hari berturut-turut, fisik mereka diporsir di tempat
kerja, maka hari ketujuh, sebagai hari akhir. Selama bekerja karir, seakan diri
bukan manusia, diri telah menjadi robot, sehingga akhir pekan, serasa telah menemukan
kediriannya sebagai manusia.
Orang-orang yang berpikir bebas,
dan masyarakat melabeli mereka sebagai yang tak punya masa depan, justru yang
saban hari telah menemukan jati diri sebagai manusia. Orang-orang tersebut,
biasanya dari kalangan seniman, budayawan, penyair, sastrawan, dan penulis,
justru yang dalam kesehariannya, sangat menikmati hidup dan kehidupan. Hari-hari
bagi mereka adalah hari-hari sebagai manusia. Hari-hari untuk menyelami
kedalaman makna hidup, hari-hari untuk menghargai kenyataan. Hari-hari
merelatifkan diri sendiri, merelatifkan keinginan, karena yang agung dan
hakiki, ialah Sang Maha Agung, penguasa jagad raya.
Sebaliknya yang saban hari
berkutat dengan pencarian harta materi, bekerja professional di sebuah instansi
swasta maupun negeri, sebagai buruh administrasi maupun lapangan sebuah pabrik,
praktis kesehariannya adalah serba otomat, efektif, efesien. Persis dengan
kerja mesin, yang tak mengenal kata santai. Hari-harinya adalah kerja, kerja,
dan tepat waktu. Sehingga akhir pekan, serasa hari yang istimewa, dan tak boleh
dilewatkan guna menyelami dimensi kemanusiaan.
Sabtu ini, entah sebagai pasar,
entah sebagai hari. Kalau didalami, toh tetap saja, yakni sama-sama ingin
menegakkan harga diri. Yang berputar-putar, berangkat pagi, pulang petang, atau
yang hanya sekadar meramu kata di sudut kamar pribadi, yang ia jadikan sebagai
ruang kerja, hakikatnya sedang berusaha untuk memartabatkan diri sendiri. Mereka
tak mau kehilangan muka, lantaran harga diri lenyap, sehingga mati-matian rela
mempertahankannya. Siapa pun itu, yang berstatus sosial di atas maupun yang
tersisih di bawah, akan sama-sama mematut diri.
Iman dan Islam
Selanjutnya tinggal kita telisik,
harga diri macam apa yang bakal atau yang telah kita tegakkan ? Dalam surat
At-Tin [95]: 4-6, Tuhan menegaskan bahwa manusia adalah karya masterpiece-Nya. Namun
keagungan manusia akan tenggelam ke tempat yang hina alias tak bermartabat,
kecuali jika ia sanggup menjaga harga
dirinya. Harga diri tersebut tiada lain berupa iman dan kebajikan. Pertama, Iman yang merupakan sisi dalam,
yaitu pengakuan bahwa kita ini tak lain ialah sebagai hamba-Nya. Pengakuan sebagai
hamba, tidak dengan sendirinya tumbuh dalam kesadaran, jika tanpa upaya yang
istiqomah. Upaya menumbuhkan kesadaran tersebut, oleh Tuhan melalui rasul-Nya, berupa
ajaran shalat. Jadi shalat merupakan sarana teknis dari Tuhan untuk menerbitkan
kesadaran hamba. Shalat yang dikerjakan dengan penuh penghayatan dan pemahaman,
niscaya, kesadaran sebagai hamba akan tumbuh.
Sebagai hamba, mustahil ia akan
menanggapi segala kejadian, peristiwa, atau fenomena, tanpa rasa syukur. Syukur
adalah sikap positif batin dalam merespon fenomena atau peristiwa. Senantiasa mengucap
tahmid atau “alhamdulillah”. Jadi kesadaran
sebagai hamba, itu tumbuh dengan ibadah shalat, dan akan berkembang dengan
senantiasa bersyukur. Demikianlah, bersyukur dan shalat akan melahirkan
kesadaran hamba. Dan kesadaran hamba adalah Iman.
Kedua, kebajikan, yang merupakan manifestasi kata Islam. Islam dari
kata as-salama, salam, yang kemudian jadi selamat, yaitu keadaan utuh tak
kurang suatu apa. Salam mempunyai kaitan dengan takwa. Karena takwa musti
berimplikasi pada usaha mengkondisikan keadaan salam, utuh, damai atau selamat.
Upaya menciptakan kedamaian dalam masyarakat, yakni ikhtiar yang bermula dari
tingkah laku pribadi dalam wujud budi pekerti luhur.
Kalau iman itu untuk menarik
kesadaran hamba, maka kebajikan adalah wujud Islam, yang berfungsi sebagai
wakil-Nya. Islam terkondisikan dengan takwa, maka iman dengan tawakal. Tawakal adalah
syukur, maka takwa mensyaratkan sifat sabar. Jadi harga diri manusia yang
berupa iman dan kebajikan, sebagaimana dalam surat at-Tin, berarti berupa iman
dan islam. Berwujud kesadaran Hamba Tuhan dan Wakil Tuhan, senantiasa
menegakkan syukur dan sabar.
Akhirnya, sabtu ini, tak lain
adalah cara untuk mengenali diri, cara memahami harga diri, dan cara memasuki
iman dan islam. Itulah harga diri kita di mata Tuhan. So, mau kemana lagi coba
!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar