Menulis apa pun. Pokoknya menulis.
Itulah yang kini, ingin saya anut. Soal menulis apa, tak penting. Karena yang
penting menulis, bukan soal apa yang mau ditulis. Nah, persis dengan saat ini. Saya
belum punya gambaran, soal apa yang mau diangkat. Barangkali, hal ini efek dari ketidaklulusan
kuliah di kampus, beberapa tahun silam, sehingga tak punya bahasan spesial yang
dikuasai. Saya tak punya keahlian khusus yang bisa dibanggakan. Tak punya
materi bahasan istimewa yang dapat didiskusikan. Selama ini yang terjadi adalah
mengalir saja. Ibarat air, yang akan selalu berjalan ke tempat yang lebih rendah,
demikian pula saya, yang selalu ingin menguasai materi wacana yang sedang ramai
dibicarakan. Namun demikian, ternyata tetap ada batasnya. Sebagaimana hidup di
muka bumi, yang serba terukur dan terbatas, kalau ditilik, setiap kali saya menulis,
awal yang belum tahu akan kemana, endingnya
pasti tak jauh dari humaniora. Bicara tentang diri, bagaimana memahami diri,
dan bagaimana berkomunikasi yang tak melukai diri-diri yang lain.
Memahami diri, bagi saya itu
penting dan sentral. Bagaimana mungkin kita akan bisa berbuat bijak pada yang
lain, kalau terhadap diri sendiri saja belum bisa jujur. Jujur terhadap diri
sendiri, tidak jaim, tidak risau dengan apa kata orang nanti, dan sebagainya. Memahami
diri, semakin terasa sangat penting, ketika mengetahui bahwa nilai diri
terdapat di dalam kedalaman relung hati. Suara yang tak terdengar oleh indra,
suara yang hanya bisa dipahami oleh kesadaran. “Suara” atas tindakan atau
perbuatan itu sesungguhnya diri. Malah Al-Qur’an menyebut, harga diri, yaitu
ketika suara hati atau keimanan bersanding dengan perbuatan baik. Tak ada suara
hati yang mengarah pada tindakan tak terpuji, pasti mengarah pada kebajikan.
Terasa menarik lagi, karena
menyibak kedirian itu tak ada saingannya. Saat kita menekuni olahraga, bagus,
tapi menimbulkan persaingan. Menekuni profesi karir, juga mesti bersaing. Tetapi
ketika fokus untuk mendalami harga diri, makna diri, bak perjalanan yang tak
terbatas dan tak ada persaingan atau kompetisi antar sesama. Kenapa ? Ya itu
tadi, karena tak terbatas, dan unik. Masing-masing ber-ada dalam kekhasannya
sendiri, yang akan dipertanggungjawabkan sendiri-sendiri pula kelak di akhirat.
Kemudian dalam memahami diri,
juga tak ada teknis yang sama atau baku, yang bisa dipakai setiap individu. Sarana
teknisnya sama, namun dasar yang melatari teknis, yang masing-masing berbeda. Jadi
sebetulnya semakin menarik dan menantang untuk ditekuni. Cuma, karena sifatnya
yang individual, sehingga tak bisa didemonstrasikan sebagai keahlian, maka tak
banyak yang melirik. Beda dengan urusan raga, bendawi, jasmani, banyak yang
meributkan karena langsung bisa dipamerkan, yang seolah itulah harga dirinya. Padahal
sebenarnya bukan itu nilai diri seseorang. Karena toh ternyata akhirnya akan
hilang, musnah, aus dimakan usia, dan bosan.
Sedang urusan jiwa, urusan suara
hati, suatu kedalaman yang sangat sunyi. Hanya dirinya sendiri yang
memahaminya. Dan tentu saja sama Tuhan yang mengetahuinya. Namun orang lain
tidak ada satu pun yang mengetahui, kecuali sebatas kira-kira, dan bukan yang
sebenarnya. Jadi ramalan masa depan, psikologi yang “sok” tahu jiwa seseorang,
saya percaya, itu sekadar kemungkinan, bukan kepastian, bukan yang
sesungguhnya. Maka memahami diri, serasa aman, karena hanya diri sendiri yang
mengetahui.
Memahami kedalaman relung jiwa,
akan menghantar kita jadi individu yang peka, sensitif dan cepat memahami
situasi sosial, tanpa harus menuntaskan teori resolusi sosial, teori kritis, cultural studies, psikologi komunikasi,
dan lain-lain. Asal setia mendalami asset pribadi yang terpendam, niscaya
lingkungan akan aman dari bencana fitnah, polusi suara, suara sumbang yang
menyakitkan telinga. Sebaliknya kesantunan, kelembutan dan empati, yang bakal menonjol
dari pribadi yang setia menseriusi memartabatkan harga diri itu. Maka, tunggu
apa lagi ? Tak usah menunggu slogan revolusi mental, pendidikan karakter,
sekolah berbasis pancasila, berbasis budaya, atau apalah….., cukup kembali saja
ke diri, niscaya nilai-nilai yang sedari dini telah ditiup oleh Tuhan, akan
berdampak positif bagi kehidupan.
Ya, akhirnya, memang harus
diusahakan dari sekarang. Harga diri, nilai identitas diri, hanya masing-masing
saja yang sanggup mengusahakan. Sedang orang lain tinggal merasakan hasilnya. Ingin
menolong lingkungan ? Pahami identitas diri yang autentik ! Itu saja….
nice reflection mas..back to heart voice..
BalasHapusMakasih telah mampir....Hayuuu, kita saling mengulurkan rasa damai, yang santun pada sesama, dan tak canggung untuk mengkritik jika tiba2 melenceng...
Hapus