Jumat, 21 November 2014

Insentif buat Pengelola TBM ?


Adalah Rakai, pendatang baru di ranah jagad literasi. Lengkapnya Rakai Pranatyastama. Nama itu diberikan oleh kedua orangtuanya, dengan harapan dia bisa menjadi hamba yang tak canggung untuk menebar kebajikan dalam kondisi apa pun. Ternyata memang demikian. Rezekinya kecil, martabat dan peran dirinya di tengah lingkungan kecil pula. Meskipun demikian dia selalu merasa beruntung di dalam hidupnya di dunia. Bahkan dia sering mengira dirinya tergolong orang yang paling bermanfaat dan pastinya bakal disayangi Tuhan. 


Sebagai anggota masyarakat, dia terlampau sibuk memahami kesulitan orang lain. Tangan dan hatinya selalu terbuka buat meringankan beban mereka. Tentu saja menurut kadar yang dimiliki. Oleh karena itu seringkali musti bersitegang dengan istrinya yang kurang sabar dalam memahami maksud si Rakai.

Obsesi Rakai jauh-jauh hari sebelum menempuh hidup dalam bahtera keluarga adalah bikin perpustakaan. Dan obsesi tersebut maujud ketika anak pertamanya lahir. Konon ini dianggapnya sebagai berkah. Anaknya lahir dengan selamat dan perpustakaan keluarga pun berdiri. Kiranya berkah tidak berhenti sampai disitu. Selang tiga tahun kemudian anak keduanya lahir, Rakai pun dipercaya oleh koleganya para penggiat buku dan perpustakaan serta Dinas Pendidikan Kabupaten  untuk menduduki jabatan sebagai Ketua Forum TBM—sebuah organisasi mitra Dinas Pendidikan yang menjaring komunikasi antar penggiat Taman Baca dan Perpustakaan Keluarga.

Pertama kali menjamah jabatan sebagai Ketua Forum, Rakai terperangah melihat berjubel deretan masalah yang tiada putus-putusnya memenuhi laci mejanya. Sempat terlintas di hatinya bahwa TBM itu ternyata bukanlah sebutan Taman Baca Masyarakat, melainkan Tempat Banyak Masalah. Tempat para penganggur yang enggan dan gagal berwirausaha menumpahkan uneg-uneg yang sudah kadung menggumpal dalam batok kepalanya.  Jelas dalam perkara ini sulit baginya untuk memahami bagaimana kehidupan yang demikian itu bisa diselenggarakan dalam waktu yang panjang tanpa pernah kecapaian.

Setelah membaur beberapa bulan dengan para pengelola TBM dan aktif berselancar di group facebook Forum Taman Bacaan Masyarakat, ia baru menyadari bahwa sekian masalah yang simpang-siur itu senyatanya sebagai upaya mati-matian para pengelola TBM untuk memperkokoh keberadaannya. Tentu saja di antara mereka terdapat sejumlah orang yang gagal menemukan pijakannya  di altar jagad literasi, tetapi malu berat untuk mengakui kekalahannya.

Tidak mengherankan ada sejumlah TBM yang hanya papan nama saja sementara isi ruangannya tak satu pun buku yang terpajang. Ada lagi pengelola TBM yang bernyali tinggi suka menjaring proyek sana sini untuk menaikkan citranya di tengah masyarakat, sementara isi otak kepalanya kosong alias dodol. Namun demikian yang lazim ditemui oleh Rakai adalah para pengelola yang masih terbata-bata secara budaya. Pijakan ekonominya minim. Mereka inilah para idealis yang masih setia dan kokoh memelihara obsesinya untuk meningkatkan minat baca masyarakat, meski pijakan sosialnya lemah. Mereka cinta buku, cinta pengetahuan dan hendak sama-sama berbagi buat lingkungan. Sajadah yang mereka gelar adalah pengabdiannya pada ilmu pengetahuan.

Kalau sudah sampai disini, hati Rakai tak tahan dan geram dengan para pelancong proyek. Lebih ngilu lagi kala bersinggungan dengan aparat Pemerintah (Dinas Pendidikan). Dinas yang menaungi dan paling bertanggung jawab pada upaya mencerdaskan kehidupan bangsa ini seakan menutup mata dan telinga dengan kegigihan para penggiat literasi.  Rakai sering berselisih paham perihal kuantitas dan kualitas TBM dengan Dinas. Rakai menilai Dinas kurang adil dalam menjalankan tugas pembinaan terhadap TBM. Baginya Dinas hanya kenal TBM yang dibentuk oleh PKBM ketimbang TBM-TBM bentukan para aktivis buku dan pecinta ilmu.

Suatu saat Rakai ada kesempatan untuk beraudiensi dengan Kepala Perpusda Kabupaten. Meluncur  pertanyaan yang cukup mengganggunya dari lisan Ibu Kepala Perpustakaan ketika itu,  sejauhmana andil Dinas Pendidikan terhadap kinerja dan perjalanan TBM selama ini ?” Pertanyaan itu jelas mengganggunya, karena ia merasa Dinas Pendidikan tidak pernah atau memang belum berbuat untuk kelangsungan TBM. “Kalau di kami (Perpustakaan) meskipun tidak seberapa, ada lah uang buat jajan dan beli rokok untuk Pengelola Perpustakaan Desa,” Tambah Ibu Kepala lagi. Pernyataan dari Ibu Kepala itu terus dibawa Rakai dan jadi bahan obrolan ketika nyambangi teman-temannya yang senasib. Yach, apa andil Aparat Pemerintah   itu ?

Program TBM makin kesini memang makin diminati masyarakat, tetapi sekali lagi apalah arti sebuah program kalau tanpa didukung dengan pembangunan infrastruktur. Rakai berkeyakinan hasilnya hanya akan menghambur-hamburkan uang rakyat. Program TBM yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan, penyelenggara dan pengelolaannya diserahkan kepada masyarakat. TBM rata-rata dikelola oleh masyarakat yang  masih menyisakan rasa peduli pada pengembangan belajar. Individu atau kelompok masyarakat yang hendak mengambil “proyek” TBM mengajukan diri ke Pemerintah melalui Dinas Pendidikan. Ijin penyelenggaraan TBM turun, sang individu atau kelompok ini lantas mengelola kegiatan perpustakaan.

Lantas apa peran Pemerintah ? Kemana Dinas Pendidikan yang mestinya peka dengan pembodohan masal di masyarakat ? Sementara Individu atau kelompok masyarakat berjibaku melayani  dahaga masyarakat lantaran keringnya  wawasan tanpa patah arang. Pejabat publik hanya asyik menyelenggarakan festifal, karnaval, maupun lomba TBM kreatif yang hanya tertuju pada para pengelola yang sudah kadung akrab. Tetapi para pengelola yang jauh dari akses informasi, hanya bisa gigit jari. Rakai menyebut mereka-mereka ini sebagai relawan sejati, karena siang malam tanpa batasan waktu setia melayani masyarakat untuk mendapatkan kemudahan  mengakses buku. Lagi-lagi pejabat publik  jarang  mengetuk pintu rumah mereka. Sehingga bisa dipastikan para pemangku jabatan itu tidak tahu menahu kondisi keseharian sang relawan yang mesti terus-menerus memperbarui bahan bacaan. Kucuran dana yang pernah dijanjikan tak kunjung datang, sementara kebutuhan pasokan buku tak bisa ditunda. Padahal jelas yang bakal memetik nama harum adalah para pemegang kendali ini, bukan individu atau kelompok masyarakat yang saban hari mesti pintar-pintar berhitung dan berbagi dengan kebutuhannya sendiri.

Terlepas adanya pengelola-pengelola “nakal” yang hanya memperebutkan “piala bergilir” dana bantuan rintisan,  fakta di lapangan, tidaklah sedikit jumlah para relawan yang masih teguh dan setia pada hati nurani. Merekalah yang kiranya layak menyandang gelar sebagai sang pengabdi kehidupan. Ketimbang para penyelenggara eksekutif yang kurang menyentuh nurani masyarakat.

Pendek kata, proyek Taman Bacaan  Masyarakat hanya akan menjadi isapan kosong, sekiranya pemerintah tidak serius. Anggapan sebagian kalangan bahwa  budaya membaca masyarakat kita masih rendah, kebutuhan akan gagasan dan wawasan masyarakat relatif minim,  kiranya hanya akan  memelihara keadaan dimana pemerintah akan terus-menerus memboroskan uang negara. Rakai meyakini bahwa sesungguhnya masyarakat kita ini tidak malas untuk mengais wawasan. Justru para pejabat yang  acapkali abai dengan pentingnya belajar. Sekali lagi, Pemerintah hanya akan memubadzirkan miliaran rupiah, jika belum ada perubahan pola pikir, paradigma, tabiat dan perilaku, baik di tingkat elit maupun massa. Pola pikir bahwa buku adalah ruh atau spirit bangsa. Buku merupakan kebutuhan pokok dalam rangka menjaga kesinambungan gagasan. Nah, moga kita cepat insaf untuk tidak memelihara kekeliruan sejarah.

***
Akhirnya Rakai hanya ngungun berdiam seorang diri. Hatinya luruh kalau musti terus-terusan berselisih paham dengan istrinya. Sembari menatap langit, benaknya berseliweran pertanyaan “mungkinkah Dinas Pendidikan akan mengucurkan dana insentif untuk menghidupi keseharian Pengelola Taman Baca ?”
Entahlah !?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar