Adalah
Rakai, pendatang baru di ranah jagad literasi. Lengkapnya Rakai Pranatyastama.
Nama itu diberikan oleh kedua orangtuanya, dengan harapan dia bisa menjadi
hamba yang tak canggung untuk menebar kebajikan dalam kondisi apa pun. Ternyata
memang demikian. Rezekinya kecil, martabat dan peran dirinya di tengah
lingkungan kecil pula. Meskipun demikian dia selalu merasa beruntung di dalam
hidupnya di dunia. Bahkan dia sering mengira dirinya tergolong orang yang
paling bermanfaat dan pastinya bakal disayangi Tuhan.
Sebagai
anggota masyarakat, dia terlampau sibuk memahami kesulitan orang lain. Tangan
dan hatinya selalu terbuka buat meringankan beban mereka. Tentu saja menurut
kadar yang dimiliki. Oleh karena itu seringkali musti bersitegang dengan
istrinya yang kurang sabar dalam memahami maksud si Rakai.
Obsesi
Rakai jauh-jauh hari sebelum menempuh hidup dalam bahtera keluarga adalah bikin
perpustakaan. Dan obsesi tersebut maujud ketika anak pertamanya lahir. Konon
ini dianggapnya sebagai berkah. Anaknya lahir dengan selamat dan perpustakaan
keluarga pun berdiri. Kiranya berkah tidak berhenti sampai disitu. Selang tiga
tahun kemudian anak keduanya lahir, Rakai pun dipercaya oleh koleganya para
penggiat buku dan perpustakaan serta Dinas Pendidikan Kabupaten untuk menduduki jabatan sebagai Ketua Forum TBM—sebuah
organisasi mitra Dinas Pendidikan yang menjaring komunikasi antar penggiat
Taman Baca dan Perpustakaan Keluarga.
Pertama
kali menjamah jabatan sebagai Ketua Forum, Rakai terperangah melihat berjubel deretan
masalah yang tiada putus-putusnya memenuhi laci mejanya. Sempat terlintas di
hatinya bahwa TBM itu ternyata bukanlah sebutan Taman Baca Masyarakat,
melainkan Tempat Banyak Masalah. Tempat para penganggur yang enggan dan gagal
berwirausaha menumpahkan uneg-uneg
yang sudah kadung menggumpal dalam
batok kepalanya. Jelas dalam perkara ini
sulit baginya untuk memahami bagaimana kehidupan yang demikian itu bisa
diselenggarakan dalam waktu yang panjang tanpa pernah kecapaian.
Setelah
membaur beberapa bulan dengan para pengelola TBM dan aktif berselancar di group
facebook Forum Taman Bacaan Masyarakat, ia baru menyadari bahwa sekian masalah
yang simpang-siur itu senyatanya sebagai upaya mati-matian para pengelola TBM
untuk memperkokoh keberadaannya. Tentu saja di antara mereka terdapat sejumlah
orang yang gagal menemukan pijakannya di
altar jagad literasi, tetapi malu berat untuk mengakui kekalahannya.
Tidak
mengherankan ada sejumlah TBM yang hanya papan nama saja sementara isi
ruangannya tak satu pun buku yang terpajang. Ada lagi pengelola TBM yang
bernyali tinggi suka menjaring proyek sana sini untuk menaikkan citranya di
tengah masyarakat, sementara isi otak kepalanya kosong alias dodol. Namun demikian
yang lazim ditemui oleh Rakai adalah para pengelola yang masih terbata-bata
secara budaya. Pijakan ekonominya minim. Mereka inilah para idealis yang masih
setia dan kokoh memelihara obsesinya untuk meningkatkan minat baca masyarakat,
meski pijakan sosialnya lemah. Mereka cinta buku, cinta pengetahuan dan hendak
sama-sama berbagi buat lingkungan. Sajadah yang mereka gelar adalah
pengabdiannya pada ilmu pengetahuan.
Kalau
sudah sampai disini, hati Rakai tak tahan dan geram dengan para pelancong proyek.
Lebih ngilu lagi kala bersinggungan dengan aparat Pemerintah (Dinas
Pendidikan). Dinas yang menaungi dan paling bertanggung jawab pada upaya
mencerdaskan kehidupan bangsa ini seakan menutup mata dan telinga dengan
kegigihan para penggiat literasi. Rakai
sering berselisih paham perihal kuantitas dan kualitas TBM dengan Dinas. Rakai
menilai Dinas kurang adil dalam menjalankan tugas pembinaan terhadap TBM.
Baginya Dinas hanya kenal TBM yang dibentuk oleh PKBM ketimbang TBM-TBM
bentukan para aktivis buku dan pecinta ilmu.
Suatu
saat Rakai ada kesempatan untuk beraudiensi dengan Kepala Perpusda Kabupaten. Meluncur
pertanyaan yang cukup mengganggunya dari
lisan Ibu Kepala Perpustakaan ketika itu,
“sejauhmana andil Dinas Pendidikan
terhadap kinerja dan perjalanan TBM selama ini ?” Pertanyaan itu jelas
mengganggunya, karena ia merasa Dinas Pendidikan tidak pernah atau memang belum
berbuat untuk kelangsungan TBM. “Kalau di
kami (Perpustakaan) meskipun tidak seberapa, ada lah uang buat jajan dan beli
rokok untuk Pengelola Perpustakaan Desa,” Tambah Ibu Kepala lagi. Pernyataan
dari Ibu Kepala itu terus dibawa Rakai dan jadi bahan obrolan ketika nyambangi teman-temannya yang senasib.
Yach, apa andil Aparat Pemerintah itu ?
Program TBM makin kesini memang makin diminati
masyarakat, tetapi sekali lagi apalah arti sebuah program kalau tanpa didukung
dengan pembangunan infrastruktur. Rakai berkeyakinan hasilnya hanya akan
menghambur-hamburkan uang rakyat. Program TBM yang dikeluarkan oleh Dinas
Pendidikan, penyelenggara dan pengelolaannya diserahkan kepada masyarakat. TBM
rata-rata dikelola oleh masyarakat yang
masih menyisakan rasa peduli pada pengembangan belajar. Individu atau
kelompok masyarakat yang hendak mengambil “proyek” TBM mengajukan diri ke
Pemerintah melalui Dinas Pendidikan. Ijin penyelenggaraan TBM turun, sang
individu atau kelompok ini lantas mengelola kegiatan perpustakaan.
Lantas apa peran Pemerintah ? Kemana Dinas
Pendidikan yang mestinya peka dengan pembodohan masal di masyarakat ? Sementara
Individu atau kelompok masyarakat berjibaku melayani dahaga masyarakat lantaran keringnya wawasan tanpa patah arang. Pejabat publik
hanya asyik menyelenggarakan festifal, karnaval, maupun lomba TBM kreatif yang
hanya tertuju pada para pengelola yang sudah kadung akrab. Tetapi para pengelola yang jauh dari akses informasi,
hanya bisa gigit jari. Rakai menyebut mereka-mereka ini sebagai relawan sejati,
karena siang malam tanpa batasan waktu setia melayani masyarakat untuk
mendapatkan kemudahan mengakses buku.
Lagi-lagi pejabat publik jarang mengetuk pintu rumah mereka. Sehingga bisa
dipastikan para pemangku jabatan itu tidak tahu menahu kondisi keseharian sang
relawan yang mesti terus-menerus memperbarui bahan bacaan. Kucuran dana yang
pernah dijanjikan tak kunjung datang, sementara kebutuhan pasokan buku tak bisa
ditunda. Padahal jelas yang bakal memetik nama harum adalah para pemegang
kendali ini, bukan individu atau kelompok masyarakat yang saban hari mesti
pintar-pintar berhitung dan berbagi dengan kebutuhannya sendiri.
Terlepas adanya pengelola-pengelola “nakal”
yang hanya memperebutkan “piala bergilir” dana bantuan rintisan, fakta di lapangan, tidaklah sedikit jumlah
para relawan yang masih teguh dan setia pada hati nurani. Merekalah yang
kiranya layak menyandang gelar sebagai sang pengabdi kehidupan. Ketimbang para
penyelenggara eksekutif yang kurang menyentuh nurani masyarakat.
Pendek
kata, proyek Taman Bacaan Masyarakat
hanya akan menjadi isapan kosong, sekiranya pemerintah tidak serius. Anggapan sebagian
kalangan bahwa budaya membaca masyarakat
kita masih rendah, kebutuhan akan gagasan dan wawasan masyarakat relatif
minim, kiranya hanya akan memelihara keadaan dimana pemerintah akan
terus-menerus memboroskan uang negara. Rakai meyakini bahwa sesungguhnya masyarakat
kita ini tidak malas untuk mengais wawasan. Justru para pejabat yang acapkali abai dengan pentingnya belajar.
Sekali lagi, Pemerintah hanya akan memubadzirkan miliaran rupiah, jika belum
ada perubahan pola pikir, paradigma, tabiat dan perilaku, baik di tingkat elit
maupun massa. Pola pikir bahwa buku adalah ruh atau spirit bangsa. Buku
merupakan kebutuhan pokok dalam rangka menjaga kesinambungan gagasan. Nah, moga
kita cepat insaf untuk tidak memelihara kekeliruan sejarah.
***
Akhirnya
Rakai hanya ngungun berdiam seorang diri. Hatinya luruh kalau musti
terus-terusan berselisih paham dengan istrinya. Sembari menatap langit,
benaknya berseliweran pertanyaan “mungkinkah Dinas Pendidikan akan mengucurkan
dana insentif untuk menghidupi keseharian Pengelola Taman Baca ?”
Entahlah
!?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar