Jumat, 14 November 2014

Minat & Keterampilan Membaca ?


TBM: Menjaga Minat & Keterampilan Membaca

Sebagai bagian dari awak kapal penggiat TBM, saya rasa fenomena krisis membaca di kalangan generasi muda sudah parah. Membaca yang saya maksudkan bukan sekadar bisa membunyikan huruf-huruf. Sebab bisa menyuarakan huruf barulah tahap membaca yang paling dasar. Berikutnya musti bisa memahami makna bacaan. Sanggup menceritakan ulang, menuliskan kembali, atau berdiskusi dan berargumentasi tentang isi bacaan. Di sana sini, saya sering menjumpai remaja-remaja ABG yang asyik ber-gadget ria, ngerumpi omong kosong tentang serial sinetron, dan ber-ngeband untuk menghabiskan waktu senggang. Makin sedikit generasi muda yang meminati karya sastra berkualitas. Oplah buku-buku ‘serius’ mengalami tren menurun. Dan akan lebih celaka lagi, kalau anak-anak yang tidak terampil dan atau tidak suka membaca ini merasa diri mereka “baik-baik saja”, tidak merasa punya masalah dengan kemampuan membaca, dan tidak merasa perlu bantuan untuk memperbaikinya.

Situasi yang demikian, bukan sepenuhnya kesalahan dari para anak muda, namun sebab orang-orang dewasa juga memberi contoh serupa. Banyak orangtua yang mengeluhkan anak-anaknya tidak suka membaca, sedang mereka sendiri juga tak pernah membuka buku bacaan. Atau kalaupun membaca, bahan bacaannya tak lebih dari tabloid, atau koran kriminal. Kalau terpaksa memilih majalah, tetap yang terpilih yang banyak gambarnya dan tulisannya pendek-pendek. Lebih menyedihkan lagi, ternyata para guru pun demikian. Bisa dibayangkan, kalau minat baca orangtua atau gurunya saja seperti itu, kelak literasi anak dan peserta didiknya bakal seperti apa? Entahlah ?

Nah, kini bagaimana dengan TBM ? Menurut saya, kehadiran TBM itu musti menangani penyakit iliterasi (keterampilan membaca kurang) dan aliterasi (minat baca rendah). Dan itu butuh energi ekstra yang luar biasa berat. Berat karena para penggiat TBM serasa sendirian di tengah himpitan tekanan hidup serta tuntutan pekerjaan. Berat karena berhadapan dengan anggapan mayoritas bahwa membaca itu bukan sumber kesenangan. Berat karena tayangan TV lebih menghipnotis untuk menonton dan menyelami makna dari informasi gambar ketimbang membaca buku. Berat karena banyak yang bilang kalau membaca buku itu terlalu membosankan.

Jadi selaku penggiat TBM, pertama kali musti sanggup mengatasi perasaan berat atas tantangan dan anggapan tersebut. Sedari awal musti berjibaku dengan komitmen dan kesungguhan memeliharanya. Sehingga akan paradoks, cita mulia hendak mengatasi iliterasi maupun aliterasi, namun dari dalam dirinya sendiri masih mengidap penyakit tersebut. Meminta orang lain untuk menyenangi buku, sedang dirinya sendiri masih enggan dengan buku-buku serius dan tebal. Berteriak lantang agar tak bosan membaca, namun sang aku ini malas dengan diskusi, bedah buku, dan adu argumentasi.

Singkatnya penggiat TBM adalah “pemberi inspirasi”. Tanggung jawab sebagai inspirator ini yang bakal menguatkan hati untuk lebih serius menjalani proses pendewasaan diri, teguh menyusuri lorong liku literasi. Pantang patah untuk menjadi pembelajar seutuh usia, pantang jemu merawat tradisi berpikir, dan menjadi pembaca hebat buku-buku berkelas karya para pemikir hebat. Semoga…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar