TBM: Menjaga Minat & Keterampilan Membaca
Sebagai bagian dari awak kapal
penggiat TBM, saya rasa fenomena krisis membaca di kalangan generasi muda sudah
parah. Membaca yang saya maksudkan bukan sekadar bisa membunyikan huruf-huruf. Sebab
bisa menyuarakan huruf barulah tahap membaca yang paling dasar. Berikutnya musti
bisa memahami makna bacaan. Sanggup menceritakan ulang, menuliskan kembali, atau
berdiskusi dan berargumentasi tentang isi bacaan. Di sana sini, saya sering
menjumpai remaja-remaja ABG yang asyik ber-gadget ria, ngerumpi omong kosong
tentang serial sinetron, dan ber-ngeband untuk menghabiskan waktu senggang. Makin
sedikit generasi muda yang meminati karya sastra berkualitas. Oplah buku-buku
‘serius’ mengalami tren menurun. Dan akan lebih celaka lagi, kalau anak-anak
yang tidak terampil dan atau tidak suka membaca ini merasa diri mereka
“baik-baik saja”, tidak merasa punya masalah dengan kemampuan membaca, dan
tidak merasa perlu bantuan untuk memperbaikinya.
Situasi yang demikian, bukan
sepenuhnya kesalahan dari para anak muda, namun sebab orang-orang dewasa juga
memberi contoh serupa. Banyak orangtua yang mengeluhkan anak-anaknya tidak suka
membaca, sedang mereka sendiri juga tak pernah membuka buku bacaan. Atau
kalaupun membaca, bahan bacaannya tak lebih dari tabloid, atau koran kriminal.
Kalau terpaksa memilih majalah, tetap yang terpilih yang banyak gambarnya dan
tulisannya pendek-pendek. Lebih menyedihkan lagi, ternyata para guru pun
demikian. Bisa dibayangkan, kalau minat baca orangtua atau gurunya saja seperti
itu, kelak literasi anak dan peserta didiknya bakal seperti apa? Entahlah ?
Nah, kini bagaimana dengan TBM ?
Menurut saya, kehadiran TBM itu musti menangani penyakit iliterasi (keterampilan membaca kurang) dan aliterasi (minat baca rendah). Dan itu butuh energi ekstra yang
luar biasa berat. Berat karena para penggiat TBM serasa sendirian di tengah
himpitan tekanan hidup serta tuntutan pekerjaan. Berat karena berhadapan dengan
anggapan mayoritas bahwa membaca itu bukan sumber kesenangan. Berat karena
tayangan TV lebih menghipnotis untuk menonton dan menyelami makna dari
informasi gambar ketimbang membaca buku. Berat karena banyak yang bilang kalau
membaca buku itu terlalu membosankan.
Jadi selaku penggiat TBM, pertama
kali musti sanggup mengatasi perasaan berat atas tantangan dan anggapan
tersebut. Sedari awal musti berjibaku dengan komitmen dan kesungguhan
memeliharanya. Sehingga akan paradoks, cita mulia hendak mengatasi iliterasi maupun aliterasi, namun dari dalam dirinya sendiri masih mengidap penyakit
tersebut. Meminta orang lain untuk menyenangi buku, sedang dirinya sendiri
masih enggan dengan buku-buku serius dan tebal. Berteriak lantang agar tak
bosan membaca, namun sang aku ini malas dengan diskusi, bedah buku, dan adu
argumentasi.
Singkatnya penggiat TBM adalah
“pemberi inspirasi”. Tanggung jawab sebagai inspirator ini yang bakal
menguatkan hati untuk lebih serius menjalani proses pendewasaan diri, teguh
menyusuri lorong liku literasi. Pantang patah untuk menjadi pembelajar seutuh
usia, pantang jemu merawat tradisi berpikir, dan menjadi pembaca hebat
buku-buku berkelas karya para pemikir hebat. Semoga…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar