![]() |
| ngobrol bareng Teh Heni Murawi, Gubernur FTBM Jabar [dok Ardie] |
Dari dapur Teh Heni (Ketua Forum
TBM Wilayah Jawa Barat), saya dapatkan cerita tentang Bu Santi (Pengelola Rumah
Baca Ujung Berung).
Adalah Bu Santi, yang
mengikhlaskan seluruh aset rumah pribadinya untuk jadi rumah baca. Sementara Bu
Santi beserta keluarganya tinggal di rumah kontrakan..
Terus terang hingga kini, saya
belum melakukan seperti yang Bu Santi kerjakan. TBM yang saya kelola masih
berbasis rumah tangga, yakni masih seatap dengan rutinitas rumah tangga, dengan
memanfaatkan ruang tamu dan teras rumah untuk kegiatan belajar. Ya, meski ini
bukan ranah salah benar, melainkan masalah nyali. Masalah keberanian menatap
kenyataan. Saya belum seberani Bu Santi dalam memainkan peran sebagai
pengelola.
Sekali lagi bukan masalah salah
benar. Yang TBMnya masih kecil, koleksi bacaan juga minim, serta pengunjung
sepi tidak berarti si Pengelola TBM tersebut gagal memainkan perannya.
Sebaliknya, ada sebuah TBM yang namanya mentereng, sering jadi rujukan Dinas
Pendidikan sebagai tempat studi banding, koleksi buku melimpah, kegiatan
membludak, serta tak ketinggalan ikut menangani banyak program kecakapan hidup,
bukan berarti tanda keberhasilan peran pengelola TBM.
Bagiku tanda keberhasilan seorang
pengelola bukan pada wujud luaran yang cenderung ceremonial, melainkan
internalisasinya. Ber-TBM adalah upaya sadar untuk mendewasakan diri yang makin
sadar diri. Kehadiran TBM yang kita bentuk bukan utama untuk membuat orang lain
menjadi cinta belajar, melainkan memelihara rasa cinta belajar yang bersemi
seiring dengan semangat si pengelola sebagai pembelajar seumur hidup. Dengan
memiliki dan atau mengelola TBM, kita musti lebih serius menjalani proses
pendewasaan kita sendiri, sebelum menuntut pihak lain.
TBM is an atmosphere, TBM merupakan wahana untuk diri kita menjadi
individu yang mengispirasi lingkungan. Nah untuk itu, musti beres terlebih
dahulu atas pertanyaan-pertanyaan seperti : Sudahkan kita kenal jati diri
kita---siapa kita sebenarnya ? Sudahkah kita tahu apa panggilan hidup kita---misi
apa yang ingin kita tunaikan di bumi ? Sudahkah kita memetakan setiap kekuatan
dan kelemahan kepribadian kita---bagian mana yang perlu kita kembangkan dan
mana yang perlu kita perbaiki ? Dan
sudahkah kita hidup sesuai dengan nilai-nilai yang kita pegang itu---selaras
antara keyakinan, pikiran, perkataan, dan perbuatan ?
Berusaha keras menjawab
pertanyaan-pertanyaan itu sampai jawabannya menjadi 'ya, sudah !' adalah tanda
bahwa kita bersungguh-sungguh menjalani kehidupan ini sebaik-baiknya. Dan kesungguhan
itu juga bukti bahwa kita menjadi sosok pembelajar seutuh usia, yakni dengan
terus menggali pemahaman dan meningkatkan penghayatan yang kita peroleh dari
koleksi bacaan "living books"...
Nah, kiranya anak-anak kita
maupun lingkungan bakal menghirup atmosfir kesungguhan itu sebagai inspirasi
yang membentuk kehidupannya. Anak-anak tak akan terinspirasi oleh orantua yang
takut pada perubahan. Begitu pula lingkungan tak akan tertarik pada seorang
pengelola TBM yang tidak bisa mendidik dirinya sendiri. Sebagaimana anak-anak
kita adalah pembelajar, demikian pula hendaknya kita menjadi orangtua
pembelajar. Sebagaimana kita menuntut masyarakat rajin membaca, demikian pula
kita sebagai pengelola musti menjadi pembaca yang hebat terlebih dahulu.
Wallahu a'lam....
----Lereng Ungaran, 01/4-'14,
22:48----[edisi FB]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar