Jumat, 14 November 2014

Adalah Atmosfir

ngobrol bareng Teh Heni Murawi, Gubernur FTBM Jabar [dok Ardie]


Dari dapur Teh Heni (Ketua Forum TBM Wilayah Jawa Barat), saya dapatkan cerita tentang Bu Santi (Pengelola Rumah Baca Ujung Berung).

Adalah Bu Santi, yang mengikhlaskan seluruh aset rumah pribadinya untuk jadi rumah baca. Sementara Bu Santi beserta keluarganya tinggal di rumah kontrakan..

Terus terang hingga kini, saya belum melakukan seperti yang Bu Santi kerjakan. TBM yang saya kelola masih berbasis rumah tangga, yakni masih seatap dengan rutinitas rumah tangga, dengan memanfaatkan ruang tamu dan teras rumah untuk kegiatan belajar. Ya, meski ini bukan ranah salah benar, melainkan masalah nyali. Masalah keberanian menatap kenyataan. Saya belum seberani Bu Santi dalam memainkan peran sebagai pengelola.

Sekali lagi bukan masalah salah benar. Yang TBMnya masih kecil, koleksi bacaan juga minim, serta pengunjung sepi tidak berarti si Pengelola TBM tersebut gagal memainkan perannya. Sebaliknya, ada sebuah TBM yang namanya mentereng, sering jadi rujukan Dinas Pendidikan sebagai tempat studi banding, koleksi buku melimpah, kegiatan membludak, serta tak ketinggalan ikut menangani banyak program kecakapan hidup, bukan berarti tanda keberhasilan peran pengelola TBM.

Bagiku tanda keberhasilan seorang pengelola bukan pada wujud luaran yang cenderung ceremonial, melainkan internalisasinya. Ber-TBM adalah upaya sadar untuk mendewasakan diri yang makin sadar diri. Kehadiran TBM yang kita bentuk bukan utama untuk membuat orang lain menjadi cinta belajar, melainkan memelihara rasa cinta belajar yang bersemi seiring dengan semangat si pengelola sebagai pembelajar seumur hidup. Dengan memiliki dan atau mengelola TBM, kita musti lebih serius menjalani proses pendewasaan kita sendiri, sebelum menuntut pihak lain.

TBM is an atmosphere, TBM merupakan wahana untuk diri kita menjadi individu yang mengispirasi lingkungan. Nah untuk itu, musti beres terlebih dahulu atas pertanyaan-pertanyaan seperti : Sudahkan kita kenal jati diri kita---siapa kita sebenarnya ? Sudahkah kita tahu apa panggilan hidup kita---misi apa yang ingin kita tunaikan di bumi ? Sudahkah kita memetakan setiap kekuatan dan kelemahan kepribadian kita---bagian mana yang perlu kita kembangkan dan mana yang perlu kita perbaiki  ? Dan sudahkah kita hidup sesuai dengan nilai-nilai yang kita pegang itu---selaras antara keyakinan, pikiran, perkataan, dan perbuatan ?
Berusaha keras menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sampai jawabannya menjadi 'ya, sudah !' adalah tanda bahwa kita bersungguh-sungguh menjalani kehidupan ini sebaik-baiknya. Dan kesungguhan itu juga bukti bahwa kita menjadi sosok pembelajar seutuh usia, yakni dengan terus menggali pemahaman dan meningkatkan penghayatan yang kita peroleh dari koleksi bacaan "living books"...

Nah, kiranya anak-anak kita maupun lingkungan bakal menghirup atmosfir kesungguhan itu sebagai inspirasi yang membentuk kehidupannya. Anak-anak tak akan terinspirasi oleh orantua yang takut pada perubahan. Begitu pula lingkungan tak akan tertarik pada seorang pengelola TBM yang tidak bisa mendidik dirinya sendiri. Sebagaimana anak-anak kita adalah pembelajar, demikian pula hendaknya kita menjadi orangtua pembelajar. Sebagaimana kita menuntut masyarakat rajin membaca, demikian pula kita sebagai pengelola musti menjadi pembaca yang hebat terlebih dahulu.

Wallahu a'lam....

----Lereng Ungaran, 01/4-'14, 22:48----[edisi FB]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar