Sederhana, bersahaja, itulah
gambaran sosok Bung Hatta, seperti yang dituturkan para putri beliau dalam
acara Mata Najwa, Metro TV. Saya melihat tayangan ulang Mata Najwa, tadi
(15/11-’14), sembari menahan haru dan linangan air mata. Haru, betapa luar
biasa sosok itu. Bak cerita dalam epos Mahabharata, jejaka Hatta baru akan
menikah, kalau Indonesia sudah merdeka. Sumpah yang menggetarkan, yang tak
kalah dahsyatnya dengan sumpah setianya tokoh Bisma. Sumpah yang menunjukkan
integritasnya sebagai manusia Indonesia, yang mengesampingkan kepentingan
pribadi demi kepentingan negara. Dan si Bung ini membuktikan ucapannya. Ia baru
mempersunting Rahmi, dalam pesta yang sederhana, di Yogya 1946.
Saking kelewat sederhana, Sri Edi
Swasono, sang menantu, malu ketika mendapati Bung Hatta, tak bisa beli sepatu yang
bagus, dan tak pernah minta pada dirinya untuk dibelikan. Padahal sang menantu
ini jelas sanggup membelikan. Hmmm….hanya satu kata yang meluncur, yaitu: luar
biasa. Beruntunglah, kita kini yang hidup di kurun alam kemerdekaan, punya
tokoh nyata yang full integritasnya. Bersyukur yang tak terkira pada Ilahi
Robbi, yang telah menganugerahkan bangsa Indonesia dengan menurunkan manusia
berdedikasi, menguasai lima bahasa internasional, dan cerdas. Bung Hatta
cerdas, penyuka buku, bahkan buku “alam pemikiran Yunani” adalah mas kawinnya
untuk Rahmi, sang bunga Jawa.
Setidaknya untuk saya pribadi,
sosok Hatta, telah membuat saya PeDe.
Percaya diri dalam menjalani laku hidup sederhana. Hidup yang jauh dari
gelimang kemewahan, mobil seri mutakhir, dan deposito yang menyebar ke
bank-bank internasional. Percaya diri, bahwa akal budi dan kepiawaian dalam
mengakrabi persoalan sosial, ternyata jauh lebih bermartabat ketimbang limpahan
harta. Bung Hatta jauh lebih memuliakan buku, daripada sekadar alas kaki, atau sepatu.
Apalagi kini, dimana konsumerisme mengalir deras, hedonisme telah jadi prasyarat pergaulan
sosial, maka laku sederhana terasa mewah bahkan langka. Memang gaya hidup
sederhana sering diperdengarkan dalam kotbah-kotbah di masjid. Sering jadi menu
utama dalam sajian kuliah pagi di TV. Malah kini telah dijadikan ikon kabinet
kerja-nya Jokowi-JK, yang gemar blusukan dan nyambangi ke kampung-kampung
miskin. Melarang kegiatan rapat dan pelatihan di hotel. Tetap saja, laku hidup
sederhana, setidaknya sampai hari ini, masih terasa mahal. Dan semoga, untuk kabinet
saat ini bukan sebatas retorika politik, bukan sekadar sajian kuliah agama dan
kerohanian. Para pejabat, dan abdi negara serta para wakil rakyat itu,
benar-benar mengimplementasikan gaya hidup sederhana. Ustadz-ustadz, para juru
moral, yang bak selebritis itu, berani meninggalkan pola hidup mewah, berani
tampil natur, apa adanya, dan
pancarkan keteladanan. Mereka sanggup menanggalkan pola hidup yang gemar
memamerkan simbol-simbol hedonis, istri yang berkulit putih, kerudung modis,
kendaraan BMW, dan rumah yang
berperabot barang-barang impor.
Kalau pola hidup sederhana itu
yang jadi pilihan, terutama bagi para abdi negara dan wakil rakyat, niscaya
korupsi tak bakal merajalela. Dengan kebersahajaan, koruptor bakal menghilang
dari pergunjingan media. Jeruji penjara bakal sepi dari tapol, dan KPK pun bubar,
karena sudah tak dibutuhkan. Mungkinkah ? Sangat mungkin, asalkan bersedia
meninggalkan gaya hidup hura-hura,
beralih pada pola laku sederhana dan mengutamakan orang banyak diatas
kepentingan keluarga. Barangkali susah, lantaran korupsi dan pola hidup mewah sudah
mengakar kuat. Meski demikian, tetap saja bukan hal yang mustahil untuk
diwujudkan menjadi kenyataan. Sebab Bung Hatta pun hingga ajal menjemput, ternyata
sanggup menahan diri dari desakan syahwat politik dan harta yang berada sangat
dekat di pelupuk mata. Bung Hatta sanggup men-talak dunia, bukan jadi yang utama dalam pikiran dan perasaannya. Bung Hatta
sanggup memunggungi ambisi pribadi, sanggup mengekang keliarannya pada yang
serba sesaat, serba dangkal dan konyol.
Karakter Hatta, yang pengabdi,
yang setia pada kepentingan umum, berwawasan jauh ke depan, dan mengesampingkan
gejolak keinginan sesaat, adalah rekam jejak ideal untuk jadi otokritik bagi
generasi kini yang demen selfie, yang
malas baca buku tebal. Karakter Hatta, yang tak silau dengan nama besar, dan
ambisi untuk selalu yang terdepan, ialah kisah nyata anak manusia yang berani
bersikap lantaran bertuhankan pada yang sebenarnya Tuhan. Kini, hampir di segala
lini sosial, baik usia maupun kesempatan karir profesi, sadar atau tak sadar telah
menjadikan uang, jabatan, karir, dan popularitas sebagai Tuhan. Singkatnya, kesediaan
melakoni pola sederhana, adalah modal utama kita untuk ikut andil dalam mengangkat
harkat martabat bangsa di mata masyarakat internasional, dan tentu saja pula di
hadapan Tuhan.
Allah a’lam bishawab….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar