Kenangan Menuju Kenduri Literasi 2014
Bermula dari obrolan ringan di sebuah kakilima dekat Rumah
Dunia Serang, Kenduri Literasi 2014 pun digelar. Adalah Kang Agus M Irkham
yang beroleh kiriman paket buku Tunas Integritas dari KPK bingung bagaimana semustinya
paket buku-buku tersebut tersebar. Sementara saya sendiri juga masih diselimuti
rasa gundah sebab janji hutang yang belum terbayar. Janji pada Ibu Ida Fitri
Lusiana yang hendak mengadakan bedah buku di TBM Ibnu Hajar akhir tahun 2013,
namun hingga pesta Jambore TBM 2014 bulan Februari belum tertunaikan. Bak gayung bersambut, terbitlah gagasan untuk
menyelenggarakan pelatihan menulis yang didahului dengan acara bedah buku,
selanjutnya paket buku Tunas Integritas akan dijadikan sebagai tanda terima
perolehan peserta dari pelatihan.
Sebenarnya gampang untuk mendistribusikan buku-buku Tunas
Integritas secara cepat ke teman-teman Pengelola TBM se-Jawa Tengah, tinggal
sewa armada praktis buku tersebar. Tapi begitukah ? Lagi-lagi yang khas dari
Kang Agus, tidak kepingin bergaya pahlawan kesana kemari bagi-bagi hadiah buku
dengan cuma-cuma tanpa perolehan yang berarti dari si pengelola…< Dasar Lu
Mas ! Sok bergaya anti sinterklas >… Nah, kiranya pelatihan menulis untuk
para pengelola TBM itu solusinya. Para pengelola nantinya untuk dapatkan buku,
musti berjibaku terlebih dahulu dengan tajamnya pena….hehehehe, rada pukil.
Pembicaraan pun berlanjut dibilik sempit yang sudah
disediakan oleh relawan Rumah Dunia untuk tempat kami istirahat. Sembari
pijat-pijatan, kami bertiga---Kang Agus, Imam Nurhuda dan diriku---saling
ngudo roso tentang kinerja Forum TBM Jateng yang masih jalan ditempat. Kalau
pun tidak jalan ditempat, Pak Triyono selaku ketua Forum Jawa Tengah seakan
bergerak sendirian. Energi Pengelola TBM yang melimpah masih pada berserakan,
program kerja mandeg, dsb.. < Duh, Pak Tri kasihan dikau >…. Kami
berkesimpulan bahwa kegiatan semisal Jambore TBM 2014 itu musti diadaptasi di
tingkat wilayah, guna mengakrabkan yang berserakan. Ya meski dengan menu
kegiatan yang tak sebesar Jambore, tapi tetap bernilai spesial—minimal bedah
buku dan workshop menulis, cukuplah…Kami mengimpikan “pesta” kegiatan, yang
saat itu belum disebut Kenduri Literasi, besar harapan akan menjadi momentum
elaborasi teman-teman pengelola TBM sekaligus juga upaya reaktualisasi Pengurus
Wilayah Forum TBM menata Jawa Tengah.
Lantas disepakati pesta TBM ini nanti merupakan konsorsium
tiga pengelola TBM yakni Imam N (TBM Jendela Dunia, Pekalongan), Ibu Ida Fitri
(TBM Ibnu Hajar, Magelang), dan saya sendiri (TBM Ken Maos, Semarang). Sepulang
dari wisata di Rumah Dunia dan Bandung, saya bergegas meluncur ke Magelang
untuk berbincang langsung dengan Ibu Ida F guna wujudkan angan. Dan syukur
sujudku pada Ibu Ida F, tanpa pikir
panjang langsung setuju malah menyediakan TBM Ibnu Hajar sebagai tempat
perhelatan acara. Kami susun rangkaian acara dan jadilah waktu serta menu
kegiatan sebagaimana yang sudah tersiar. Dari lisan Ibu Ida F pula tersembul
kata Kenduri Literasi, yang selanjutnya ditetapkan sebagai nama kegiatan ini.
Kenduri adalah ajang kumpul-kumpul dan temu kangen untuk berbagi berkah. Semoga
pula Kenduri Literasi pun demikian, media berbagi kucuran nikmat Ilahi guna
menatap masa depan gemilang Jawa Tengah.
Usai dari Magelang, Imam yang sudah menanti di Pekalongan
langsung tancap gas bergerak cepat menggalang massa. Ya, skill yang sama sekali
tidak saya punyai, yakni menggugah orang lain untuk semangat mengikuti
perhelatan acara, dan itu hanya Imam seorang ahlinya. Sementara saya hanya
menanti kabar baik…hehehe…. Bahkan tidak tanggung-tanggung si Imam ini bersedia
menginap di rumah saya untuk menguatkan kelangsungan acara yang tinggal berapa
hari. Acara nginap-menginap pun kami lanjutkan di Gringsing Batang tempat mukim
Kang Agus Irkham untuk memastikan menu dan pembicara acara.
Ya, ini sebuah ijtihad. Upaya sadar kami untuk mengurai
benang kusut masalah yang menyelimuti Jawa Tengah khususnya. Ego teritorial
musti ditanggalkan, demi persandingan yang asyik masyuk antar kita. Agar Kenduri
ini bakal menjadi barisan yang elegan menyikapi segenap masalah, bukan sekadar
kerumunan yang reaktif plus luapan emosi sesaat. Kenduri juga diharapkan bukan
sebagai bentuk tanding pada Forum TBM, sehingga syukur kami yang tak terkira,
Pak Triyono mendukung ijtihad kecil ini. Dan kiranya gembira kami lagi yang
tanpa batas adalah support, perhatian dan kehadiran rekan-rekan non-Jawa
Tengah…ada Nyimas Gandasari, ustadz Muhsin Kalida beserta gerombolan
Yogya-nya, dll. Untuk itu saya ucapkan, "Selamat datang kawan-kawan !
Selamat datang para penempuh jalan sunyi ! Semburat berkah terpancar dari wajah
kalian.."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar