Jumat, 14 November 2014

Kenduri Literasi, Jawa Tengah Menulis


Kenangan Menuju Kenduri Literasi 2014

Bermula dari obrolan ringan di sebuah kakilima dekat Rumah Dunia Serang, Kenduri Literasi 2014 pun digelar. Adalah Kang Agus M Irkham yang beroleh kiriman paket buku Tunas Integritas dari KPK bingung bagaimana semustinya paket buku-buku tersebut tersebar. Sementara saya sendiri juga masih diselimuti rasa gundah sebab janji hutang yang belum terbayar. Janji pada Ibu Ida Fitri Lusiana yang hendak mengadakan bedah buku di TBM Ibnu Hajar akhir tahun 2013, namun hingga pesta Jambore TBM 2014 bulan Februari belum tertunaikan. Bak  gayung bersambut, terbitlah gagasan untuk menyelenggarakan pelatihan menulis yang didahului dengan acara bedah buku, selanjutnya paket buku Tunas Integritas akan dijadikan sebagai tanda terima perolehan peserta dari pelatihan.

Sebenarnya gampang untuk mendistribusikan buku-buku Tunas Integritas secara cepat ke teman-teman Pengelola TBM se-Jawa Tengah, tinggal sewa armada praktis buku tersebar. Tapi begitukah ? Lagi-lagi yang khas dari Kang Agus, tidak kepingin bergaya pahlawan kesana kemari bagi-bagi hadiah buku dengan cuma-cuma tanpa perolehan yang berarti dari si pengelola…< Dasar Lu Mas ! Sok bergaya anti sinterklas >… Nah, kiranya pelatihan menulis untuk para pengelola TBM itu solusinya. Para pengelola nantinya untuk dapatkan buku, musti berjibaku terlebih dahulu dengan tajamnya pena….hehehehe, rada pukil.

Pembicaraan pun berlanjut dibilik sempit yang sudah disediakan oleh relawan Rumah Dunia untuk tempat kami istirahat. Sembari pijat-pijatan, kami bertiga---Kang Agus, Imam Nurhuda dan diriku---saling ngudo roso tentang kinerja Forum TBM Jateng yang masih jalan ditempat. Kalau pun tidak jalan ditempat, Pak Triyono selaku ketua Forum Jawa Tengah seakan bergerak sendirian. Energi Pengelola TBM yang melimpah masih pada berserakan, program kerja mandeg, dsb.. < Duh, Pak Tri kasihan dikau >…. Kami berkesimpulan bahwa kegiatan semisal Jambore TBM 2014 itu musti diadaptasi di tingkat wilayah, guna mengakrabkan yang berserakan. Ya meski dengan menu kegiatan yang tak sebesar Jambore, tapi tetap bernilai spesial—minimal bedah buku dan workshop menulis, cukuplah…Kami mengimpikan “pesta” kegiatan, yang saat itu belum disebut Kenduri Literasi, besar harapan akan menjadi momentum elaborasi teman-teman pengelola TBM sekaligus juga upaya reaktualisasi Pengurus Wilayah Forum TBM menata Jawa Tengah.

Lantas disepakati pesta TBM ini nanti merupakan konsorsium tiga pengelola TBM yakni Imam N (TBM Jendela Dunia, Pekalongan), Ibu Ida Fitri (TBM Ibnu Hajar, Magelang), dan saya sendiri (TBM Ken Maos, Semarang). Sepulang dari wisata di Rumah Dunia dan Bandung, saya bergegas meluncur ke Magelang untuk berbincang langsung dengan Ibu Ida F guna wujudkan angan. Dan syukur sujudku pada  Ibu Ida F, tanpa pikir panjang langsung setuju malah menyediakan TBM Ibnu Hajar sebagai tempat perhelatan acara. Kami susun rangkaian acara dan jadilah waktu serta menu kegiatan sebagaimana yang sudah tersiar. Dari lisan Ibu Ida F pula tersembul kata Kenduri Literasi, yang selanjutnya ditetapkan sebagai nama kegiatan ini. Kenduri adalah ajang kumpul-kumpul dan temu kangen untuk berbagi berkah. Semoga pula Kenduri Literasi pun demikian, media berbagi kucuran nikmat Ilahi guna menatap masa depan gemilang Jawa Tengah.

Usai dari Magelang, Imam yang sudah menanti di Pekalongan langsung tancap gas bergerak cepat menggalang massa. Ya, skill yang sama sekali tidak saya punyai, yakni menggugah orang lain untuk semangat mengikuti perhelatan acara, dan itu hanya Imam seorang ahlinya. Sementara saya hanya menanti kabar baik…hehehe…. Bahkan tidak tanggung-tanggung si Imam ini bersedia menginap di rumah saya untuk menguatkan kelangsungan acara yang tinggal berapa hari. Acara nginap-menginap pun kami lanjutkan di Gringsing Batang tempat mukim Kang Agus Irkham untuk memastikan menu dan pembicara acara.

Ya, ini sebuah ijtihad. Upaya sadar kami untuk mengurai benang kusut masalah yang menyelimuti Jawa Tengah khususnya. Ego teritorial musti ditanggalkan, demi persandingan yang asyik masyuk antar kita. Agar Kenduri ini bakal menjadi barisan yang elegan menyikapi segenap masalah, bukan sekadar kerumunan yang reaktif plus luapan emosi sesaat. Kenduri juga diharapkan bukan sebagai bentuk tanding pada Forum TBM, sehingga syukur kami yang tak terkira, Pak Triyono mendukung ijtihad kecil ini. Dan kiranya gembira kami lagi yang tanpa batas adalah support, perhatian dan kehadiran rekan-rekan non-Jawa Tengah…ada Nyimas Gandasari, ustadz Muhsin Kalida beserta gerombolan Yogya-nya, dll. Untuk itu saya ucapkan, "Selamat datang kawan-kawan ! Selamat datang para penempuh jalan sunyi ! Semburat berkah terpancar dari wajah kalian.."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar