Jumat, 14 November 2014

Garis Pemikiran


Tak terasa, ternyata lumayan lama saya absen dari menuliskan edisi curhat di group tercinta ini. Barangkali kendala utama absen adalah masalah kemampuanku menulis yang masih mualaf alias pas-pasan. Saya masih belepotan merangkai kata yang enak dibaca dan pesan yang terselip bisa sampai ke sidang pembaca.  Seiring absen dari bersua ria dengan para sahabat dan handai tolan penggiat TBM/literasi, terngiang lontaran pertanyaan yang kerap kudapati ketika jumpa “fans” di pinggiran daerah, kenapa perlu bikin TBM ?

Pertanyaan ini memang sederhana, namun acapkali saya masih kesulitan untuk merumuskan jawabannya. Pertanyaan ‘kenapa’ mengandaikan jawaban yang sarat filosofis. Lain masalah kalau pertanyaannya adalah ‘apa’ atau ‘bagaimana’, itu bisa kita dapati jawabannya dari pedoman juklak juknis TBM keluaran Kemendikbud maupun dalam kamus istilah. Sedang ‘kenapa’ merupakan pertanyaan subjektif yang konsekuensi jawabannya juga bersifat subjektif.

Subjektif yang saya maksudkan, otomatis dalam konteks ‘kenapa’, adalah  kejelasan garis pemikiran yang diendapkan oleh si empu. Sekadar ilustrasi sedikit, kalau Max Weber menggariskan pemikirannya dengan urutan: Hak Politik (Sistem kekuasaan <Negara, partai politik>) – Hak Aktualisasi Diri (nilai budaya atau agama) – Hak Sipil (hubungan elite dengan massa <ranah sosial atau ekonomi>). Bagi Weber, perubahan sosial bakal terjadi jika diawali dari adanya otoritas kekuasaan yang menunaikan keyakinan nilai-nilai yang dianut, baru kemudian terbentuk kelas sosial. Pemikiran ini banyak dianut oleh para politisi yang mengandaikan bahwa kemakmuran sosial akan maujud lewat keberadaan partai politik terlebih dahulu. Lain Weber lain pula Karl Marx yang menggariskan pemikirannya: Hak Sipil (keadaan sosial ekonomi) – Hak Politik (lewat partai dan Negara) – Hak Aktualisasi Diri ( aktualisasi nilai-nilai budaya dan atau agama). Bagi Marx dan para Marxian mengandaikan bahwa perubahan itu karena adanya eksploitasi sosial yang kemudian diperjuangkan melalui partai, baru kemudian tercipta nilai-nilai budaya.  Jelas bagi Marx bahwa basis material (realitas sosial) itu mendahului nilai keyakinan, dengan kata lain kondisi atau suasana hati itu dipengaruhi oleh material. Ada lagi satu tokoh perumus teori perubahan yaitu Emile Durkheim yang menggariskan: Hak Aktualisasi Diri – Hak Sipil – Hak Politik. Durkheim meyakini bahwa transformasi bermula dari keyakinan nilai (bisa berbasis agama maupun budaya) yang kemudian membentuk solidaritas sosial (lembaga ekonomi maupun sosial). Baru kemudian dibutuhkan adanya otoritas kepemimpinan politik.

Dari acuan ilustrasi tersebut, saya menempatkan TBM sebagai aktivitas sipil. Sehingga kita tinggal pilih mau Weberian, Marxian atau Durkheimian. Sekiranya kita ber-TBM karena berlandaskan tuntutan kebijakan politik (oleh sebab diperintah penilik, tidak enak hati dengan Dikmas maupun kabid PAUDNI, atau sebagai garis kelanjutan partai politik, dsb), jelas hal itu adalah Weberian.  Ada lagi ramai-ramai bikin TBM karena trend masa kini. Persis dengan perkembangan PAUD yang marak bak cendawan. Disamping trendi, TBM juga sebagai sumber penghasilan ekonomi. Bikin TBM sebab ada blockgrand, ada dana penguatan, gampang menggait CSR, dsb. Saya memahami hal yang demikian masuk penganut Marxian. Terakhir, kita bikin TBM karena ada komitmen nilai, ada kesadaran normatif yang melatarbelakanginya. Yang demikian itu disebut kaum Durkheimian.

Kalau merunut pada ketiga pemikir tersebut, saya menggariskan diri sebagai penganut madzab Durkheim, bahwa yang musti terlebih dahulu beres adalah masalah konsep kesadaran. Ber-TBM adalah upaya memantapkan kepribadian. Dimana maksud kepribadian adalah apa yang membuat seorang manusia menjadi manusia. Memandang seseorang sebagai pribadi berarti melihatnya sebagai sesuatu yang tak akan terulang lagi, tidak ada duplikatnya, tak mungkin hadir pengganti lain yang bisa menjadi persis seperti dia. Memandang seseorang sebagai pribadi berarti memandangnya sebagai bukan produk pasaran, bukan sekadar angka statistik (“…..ooo jumlah pengunjung di TBMku sebanyak….”). Melainkan seseorang itu kita pandang unik dan istimewa.  Nah, ber-TBM adalah wahana menggarap diri….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar