Tak terasa, ternyata lumayan lama saya absen dari menuliskan
edisi curhat di group tercinta ini. Barangkali kendala utama absen adalah
masalah kemampuanku menulis yang masih mualaf alias pas-pasan. Saya masih
belepotan merangkai kata yang enak dibaca dan pesan yang terselip bisa sampai
ke sidang pembaca. Seiring absen dari
bersua ria dengan para sahabat dan handai tolan penggiat TBM/literasi, terngiang
lontaran pertanyaan yang kerap kudapati ketika jumpa “fans” di pinggiran
daerah, kenapa perlu bikin TBM ?
Pertanyaan ini memang sederhana, namun acapkali saya masih
kesulitan untuk merumuskan jawabannya. Pertanyaan ‘kenapa’ mengandaikan jawaban
yang sarat filosofis. Lain masalah kalau pertanyaannya adalah ‘apa’ atau
‘bagaimana’, itu bisa kita dapati jawabannya dari pedoman juklak juknis TBM
keluaran Kemendikbud maupun dalam kamus istilah. Sedang ‘kenapa’ merupakan
pertanyaan subjektif yang konsekuensi jawabannya juga bersifat subjektif.
Subjektif yang saya maksudkan, otomatis dalam konteks
‘kenapa’, adalah kejelasan garis
pemikiran yang diendapkan oleh si empu. Sekadar ilustrasi sedikit, kalau Max
Weber menggariskan pemikirannya dengan urutan: Hak Politik (Sistem kekuasaan
<Negara, partai politik>) – Hak Aktualisasi Diri (nilai budaya atau
agama) – Hak Sipil (hubungan elite dengan massa <ranah sosial atau
ekonomi>). Bagi Weber, perubahan sosial bakal terjadi jika diawali dari adanya
otoritas kekuasaan yang menunaikan keyakinan nilai-nilai yang dianut, baru
kemudian terbentuk kelas sosial. Pemikiran ini banyak dianut oleh para politisi
yang mengandaikan bahwa kemakmuran sosial akan maujud lewat keberadaan partai
politik terlebih dahulu. Lain Weber lain pula Karl Marx yang menggariskan
pemikirannya: Hak Sipil (keadaan sosial ekonomi) – Hak Politik (lewat partai dan
Negara) – Hak Aktualisasi Diri ( aktualisasi nilai-nilai budaya dan atau agama).
Bagi Marx dan para Marxian mengandaikan bahwa perubahan itu karena adanya
eksploitasi sosial yang kemudian diperjuangkan melalui partai, baru kemudian
tercipta nilai-nilai budaya. Jelas bagi
Marx bahwa basis material (realitas sosial) itu mendahului nilai keyakinan,
dengan kata lain kondisi atau suasana hati itu dipengaruhi oleh material. Ada
lagi satu tokoh perumus teori perubahan yaitu Emile Durkheim yang menggariskan:
Hak Aktualisasi Diri – Hak Sipil – Hak Politik. Durkheim meyakini bahwa
transformasi bermula dari keyakinan nilai (bisa berbasis agama maupun budaya)
yang kemudian membentuk solidaritas sosial (lembaga ekonomi maupun sosial).
Baru kemudian dibutuhkan adanya otoritas kepemimpinan politik.
Dari acuan ilustrasi tersebut, saya menempatkan TBM sebagai
aktivitas sipil. Sehingga kita tinggal pilih mau Weberian, Marxian atau
Durkheimian. Sekiranya kita ber-TBM karena berlandaskan tuntutan kebijakan
politik (oleh sebab diperintah penilik, tidak enak hati dengan Dikmas maupun kabid
PAUDNI, atau sebagai garis kelanjutan partai politik, dsb), jelas hal itu
adalah Weberian. Ada lagi ramai-ramai
bikin TBM karena trend masa kini. Persis dengan perkembangan PAUD yang marak
bak cendawan. Disamping trendi, TBM juga sebagai sumber penghasilan ekonomi.
Bikin TBM sebab ada blockgrand, ada dana penguatan, gampang menggait CSR, dsb.
Saya memahami hal yang demikian masuk penganut Marxian. Terakhir, kita bikin
TBM karena ada komitmen nilai, ada kesadaran normatif yang melatarbelakanginya.
Yang demikian itu disebut kaum Durkheimian.
Kalau merunut pada ketiga pemikir tersebut, saya menggariskan
diri sebagai penganut madzab Durkheim, bahwa yang musti terlebih dahulu beres
adalah masalah konsep kesadaran. Ber-TBM adalah upaya memantapkan kepribadian. Dimana
maksud kepribadian adalah apa yang membuat seorang manusia menjadi manusia.
Memandang seseorang sebagai pribadi berarti melihatnya sebagai sesuatu yang tak
akan terulang lagi, tidak ada duplikatnya, tak mungkin hadir pengganti lain
yang bisa menjadi persis seperti dia. Memandang seseorang sebagai pribadi
berarti memandangnya sebagai bukan produk pasaran, bukan sekadar angka
statistik (“…..ooo jumlah pengunjung di TBMku sebanyak….”). Melainkan seseorang
itu kita pandang unik dan istimewa. Nah,
ber-TBM adalah wahana menggarap diri….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar