Sabtu, 29 November 2014

Yang Tak Terbanding & Serupa


“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar…”, itu bunyi surat Fusilat [41]: 53. Kalam Tuhan yang menandaskan bahwa ada 3 dimensi yang menyelimuti atau mengiring kehidupan kita. Tiga dimensi tersebut: pertama, dimensi struktural, segenap penjuru, atau alam semesta. Dari mulai yang terkecil, tumbuhan, binatang, manusia hingga bintang-bintang di langit, galaksi-galaksi adalah ranah struktural. Ranah yang dapat diatasi oleh kekuatan akal, yang kemudian melahirkan pengetahuan objektif. Kedua, dimensi situasional. Dimensi ini tidak dapat dipahami dengan akal. Situasi hati, yang sedang sedih, senang, bangga, jatuh cinta, akal mandeg tak berjalan untuk memahaminya. Dimensi situasional, merupakan pekerjaan hati, maka bersifat subjektif. Ketiga, dimensi proses. Dimensi yang ketika akal dan hati sudah tak sanggup memahaminya. Kapan kita akan meninggal, bagaimana nasib kita esok hari ? Besok pagi, berapa kali kita akan dicaci maki orang lain ? Berapa kali kita akan mengalami perasaan suka ? Akal dan perasaan absen dari dimensi proses.


Mengatasi dimensi proses, tak bisa tidak mesti butuh campur tangan Tuhan. Di sinilah peran agama mendapatkan tempatnya. Agama hadir tidak untuk menemukan atau merumuskan teori pengetahuan. Itu tugas ilmu pengetahuan, filsafat, dan kaum filosof. Agama juga tidak untuk menangkap situasi kehidupan, yang indah, yang tak menyenangkan. Hal itu adalah tugas para pekerja seni, seniman, sastrawan, dan sebagainya. Agama “ada” untuk memandu proses hidup. Proses yang melekat pada setiap diri dalam mengarungi perjalanan hidup. Proses yang menyertai manusia untuk mengatasi kemungkinan-kemungkinan yang belum terjadi. Proses yang mendudukkan pada presisi yang tepat antara Tuhan, manusia, dan kosmos atau alam semesta.

Selanjutnya kalau kita menelisik lebih jauh, dalam diri Tuhan, segenap kualitas ada dalam kesatuan yang tak terbedakan. Sedang dalam kosmos, mereka hadir dalam kemajemukan yang terpisah-pisah. Dan dalam diri manusia, kualitas-kualitas itu hadir bersamaan; kesatuan yang tak terbedakan, dan kemajemukan yang terpisah-pisah. Manusia terlahir atas dua wajah, lahiriah dan batiniah. Secara lahiriah, manusia sama dengan makrokosmos, segenap ufuk, keseluruhan penjuru. Secara batiniah, ia sama dengan Tuhan. Dimensi lahiriah, berkaitan dengan penghambaan. Segenap penjuru semesta, termasuk manusia didalamnya, adalah hamba Tuhan. Dimensi lahiriah mencerminkan kejauhan dari Tuhan, dan ketakterbandingan-Nya. Sementara dimensi batiniah, bertalian dengan ketuhanan dan kekhalifahan. Dimensi yang mencerminkan kedekatan dan berkaitan dengan keserupaan Tuhan.

Dengan demikian manusia berada di tengah, secara vertikal, antara semesta alam (makrokosmos) dan Tuhan. Makrokosmos secara keseluruhan berada di bawah manusia. Sedang Tuhan berada di atas manusia. Ketika menghadap ke atas, posisi terhadap Tuhan, manusia adalah hamba-Nya. Ia membawa pesan harapan  dari seluruh makhluk yang rindu kepada sang Pencipta. Kala berhadapan dengan sesama manusia dan keseluruhan semesta, ia adalah wakil-Nya. Ia membawa pesan Tuhan untuk di teruskan kepada umat manusia dan makhluk lainnya, yang bisa ia jangkau. Demikianlah, manusia adalah wasit, atau duta, antara Tuhan dan semesta.

Namun akan bermasalah, jika posisinya tidak di tengah, melainkan berada paling bawah, di bawah semesta. Lantaran di bawah ufuk, maka tak bisa menyaksikan Wajah Tuhan, malah menganggap segenap ufuk itu sebagai Tuhan. Kesalahpahaman itu yang melahirkan tuhan, “t” kecil, sebagai sesembahan. Semesta tercipta, semestinya untuk melayani manusia menuju Tuhan, yang terjadi sebaliknya, manusia tunduk di bawah kepentingan, dan ambisinya atas dunia materi. Dalam konteks sekarang, lazim disebut berhala, tunduk pada materialisme.

Kalau sudah demikian, tiada cara ampuh, selain kembali menyelami dimensi proses. kembali ke pangkuan agama. Menjalin hubungan mesra dengan dzat yang jauh tak terhingga, dengan yang serupa manusia. Ya, Tuhan Yang Esa, Tuhan yang terlihat dari dua sudut pandang. Dalam hal kejauhan dan ketakterbandingan, manusia dan seluruh makhluk lainnya adalah hamba-hamba-Nya dan harus tunduk pada kehendak-Nya. Akan tetapi, berkenaan dengan keserupaan dan kedekatan-Nya, manusia punya peran lain yang musti dimainkan. Karena tercipta dalam citra Tuhan, manusia menemukan dalam diri mereka sendiri semua kualitas Tuhan dan ciptaan. Karenanya, hanya manusia saja yang sanggup menjadi wakil-Nya di muka bumi.

Membangun kesadaran penghambaan dengan iman, dan kekhalifahan (wakil-Nya) dengan islam (amal kebajikan), sebagaimana firman-Nya surat At-Tin [95]: 4 -6.      


Tidak ada komentar:

Posting Komentar