“Kami akan memperlihatkan kepada
mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka
sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar…”, itu
bunyi surat Fusilat [41]: 53. Kalam Tuhan yang menandaskan bahwa ada 3 dimensi
yang menyelimuti atau mengiring kehidupan kita. Tiga dimensi tersebut: pertama, dimensi struktural, segenap penjuru, atau alam semesta. Dari mulai yang
terkecil, tumbuhan, binatang, manusia hingga bintang-bintang di langit,
galaksi-galaksi adalah ranah struktural. Ranah yang dapat diatasi oleh kekuatan
akal, yang kemudian melahirkan pengetahuan objektif. Kedua, dimensi situasional.
Dimensi ini tidak dapat dipahami dengan akal. Situasi hati, yang sedang sedih,
senang, bangga, jatuh cinta, akal mandeg tak berjalan untuk memahaminya. Dimensi
situasional, merupakan pekerjaan hati, maka bersifat subjektif. Ketiga, dimensi proses. Dimensi yang ketika akal dan hati sudah tak sanggup memahaminya.
Kapan kita akan meninggal, bagaimana nasib kita esok hari ? Besok pagi, berapa
kali kita akan dicaci maki orang lain ? Berapa kali kita akan mengalami
perasaan suka ? Akal dan perasaan absen dari dimensi proses.
Mengatasi dimensi proses, tak
bisa tidak mesti butuh campur tangan Tuhan. Di sinilah peran agama mendapatkan
tempatnya. Agama hadir tidak untuk menemukan atau merumuskan teori pengetahuan.
Itu tugas ilmu pengetahuan, filsafat, dan kaum filosof. Agama juga tidak untuk
menangkap situasi kehidupan, yang indah, yang tak menyenangkan. Hal itu adalah
tugas para pekerja seni, seniman, sastrawan, dan sebagainya. Agama “ada” untuk
memandu proses hidup. Proses yang melekat pada setiap diri dalam mengarungi perjalanan
hidup. Proses yang menyertai manusia untuk mengatasi kemungkinan-kemungkinan
yang belum terjadi. Proses yang mendudukkan pada presisi yang tepat antara
Tuhan, manusia, dan kosmos atau alam semesta.
Selanjutnya kalau kita menelisik lebih
jauh, dalam diri Tuhan, segenap kualitas ada dalam kesatuan yang tak
terbedakan. Sedang dalam kosmos, mereka hadir dalam kemajemukan yang
terpisah-pisah. Dan dalam diri manusia, kualitas-kualitas itu hadir bersamaan;
kesatuan yang tak terbedakan, dan kemajemukan yang terpisah-pisah. Manusia
terlahir atas dua wajah, lahiriah dan batiniah. Secara lahiriah, manusia sama
dengan makrokosmos, segenap ufuk, keseluruhan penjuru. Secara batiniah, ia sama
dengan Tuhan. Dimensi lahiriah, berkaitan dengan penghambaan. Segenap penjuru
semesta, termasuk manusia didalamnya, adalah hamba Tuhan. Dimensi lahiriah
mencerminkan kejauhan dari Tuhan, dan ketakterbandingan-Nya. Sementara dimensi
batiniah, bertalian dengan ketuhanan dan kekhalifahan. Dimensi yang
mencerminkan kedekatan dan berkaitan dengan keserupaan Tuhan.
Dengan demikian manusia berada di
tengah, secara vertikal, antara semesta alam (makrokosmos) dan Tuhan. Makrokosmos
secara keseluruhan berada di bawah manusia. Sedang Tuhan berada di atas
manusia. Ketika menghadap ke atas, posisi terhadap Tuhan, manusia adalah
hamba-Nya. Ia membawa pesan harapan dari
seluruh makhluk yang rindu kepada sang Pencipta. Kala berhadapan dengan sesama manusia
dan keseluruhan semesta, ia adalah wakil-Nya. Ia membawa pesan Tuhan untuk di
teruskan kepada umat manusia dan makhluk lainnya, yang bisa ia jangkau. Demikianlah,
manusia adalah wasit, atau duta, antara Tuhan dan semesta.
Namun akan bermasalah, jika
posisinya tidak di tengah, melainkan berada paling bawah, di bawah semesta. Lantaran
di bawah ufuk, maka tak bisa menyaksikan Wajah Tuhan, malah menganggap segenap
ufuk itu sebagai Tuhan. Kesalahpahaman itu yang melahirkan tuhan, “t” kecil,
sebagai sesembahan. Semesta tercipta, semestinya untuk melayani manusia menuju
Tuhan, yang terjadi sebaliknya, manusia tunduk di bawah kepentingan, dan
ambisinya atas dunia materi. Dalam konteks sekarang, lazim disebut berhala,
tunduk pada materialisme.
Kalau sudah demikian, tiada cara
ampuh, selain kembali menyelami dimensi proses. kembali ke pangkuan agama. Menjalin
hubungan mesra dengan dzat yang jauh tak terhingga, dengan yang serupa manusia.
Ya, Tuhan Yang Esa, Tuhan yang terlihat dari dua sudut pandang. Dalam hal
kejauhan dan ketakterbandingan, manusia dan seluruh makhluk lainnya adalah
hamba-hamba-Nya dan harus tunduk pada kehendak-Nya. Akan tetapi, berkenaan
dengan keserupaan dan kedekatan-Nya, manusia punya peran lain yang musti
dimainkan. Karena tercipta dalam citra Tuhan, manusia menemukan dalam diri
mereka sendiri semua kualitas Tuhan dan ciptaan. Karenanya, hanya manusia saja
yang sanggup menjadi wakil-Nya di muka bumi.
Membangun kesadaran penghambaan
dengan iman, dan kekhalifahan (wakil-Nya) dengan islam (amal kebajikan),
sebagaimana firman-Nya surat At-Tin [95]: 4 -6.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar