![]() |
| bersama KPU [Komunitas Penulis Ungaran]--dok Ardie |
Sore itu, 18 Februari 2014,
bersama Pahala Kencana, saya melaju ke Serang, Provinsi Banten. Seumur-umur,
baru pertama kali, pergi jarak jauh dengan naik bus, karena dalam kesempatan
yang berbeda, lebih nyaman naik kereta api. Barangkali saya termasuk sosok
‘jadul’, jarang bepergian yang berjarak lumayan jauh---keluar Jawa Tengah---, kalaupun
“terpaksa” pergi, ya dengan naik kereta api, tidak dengan naik bus. Sedang
jarak tempuh yang hanya seputar wilayah Jawa Tengah, cukup dengan sepeda motor,
lebih irit, seraya bebas bisa istirahat dimana saja sesuka hati.
Tetapi, saat itu, situasi memaksa
untuk tak menggunakan jasa layanan kendaraan bermuatan massal. Saya mesti hadir
di perhelatan komunitas baca, yang berlangsung di Pustaloka Rumah Dunia,
Serang, Banten, dalam kondisi kantong yang
tak bersahabat. Naik kereta api hanya bisa sampai Jakarta. Ganti jalur Jakarta-Serang,
yang dihitung-hitung malah akan bikin kian tipis saku kantong. Akhirnya Bus
Pahala jadi ketetapan pilihan, disamping masalah biaya, juga bisa langsung
turun dekat lokasi acara, sehingga kecil kemungkinan tersesat. Maklum, sekali
lagi, sosok udik ini malu bertanya, dan jarang bepergian jauh.
Jelang siang, 19 Februari 2014,
sampai di Rumah Dunia. Tak terbayangkan sebelumnya, akhirnya saya bisa menginjakkan
kaki di gelanggang belajar menulis ini. Di gelanggang ini pula, saya
berkesempatan untuk kenal lebih dekat dengan sosok Heri Hendrayana Haris, atau
lebih terkenal dengan sebutan Gol A Gong. Pertama kali ketemu dengannya, ketika
ia sedang tour literasi ke Semarang, November 2011. “Jangan pernah nyerah, terus saja menulis !” pesan Gol A Gong yang
masih terngiang jelas dalam benak, saat ia memberi orasi “gempa literasi” di
Kampus UNDIP, 2011. Di Rumah Dunia, di samping kemampuan menulisnya yang luar
biasa, saya temui sisi lain dari seorang Gol A Gong. Gol A Gong, lahir 15
Agustus 1963, yang produktif dalam merajut 26 huruf jadi kata dan kalimat, saya
dapati pola bersahaja dalam bahtera hidupnya. Ia, yang dengan satu tangan
miliknya telah 100-an novel terbukukan, merupakan contoh nyata orang yang
senantiasa terbuka dan humanis terhadap siapapun saja. Ia egaliter, tak pandang
rendah pada yang sedang merangkak tertatih mengenal dunia literasi.
Di Rumah Dunia, oleh Gol A Gong, saya
diperlakukan sama sejajar dengan para penggiat literasi lainnya yang telah
malang melintang bikin kegiatan dan kerja-kerja literasi. Saya didudukkan
setara dengan para penyuka buku, novelis, pustakawan, sastrawan dan para
ningrat literasi lainnya. Padahal, saya bukan apa-apa, dan belum ada satu
naskah dibukukan yang lahir dari proses kreatif 10 jari tangan saya. Dalam
berdebat adu argumentasi, tampak ia tak berusaha memaksakan gagasan-gagasan
briliannya. Ia bersedia menerima saran, meski dari seorang awam seperti saya. Semangat
mengembangkan pihak lain, memotivasi, dan menebar inspirasi, terasa sekali dari
setiap obrolan ringan dengannya.
Rumah Dunia, dengan Gol A
Gong-nya, seakan saksi akan keramahannya, saksi atas keterbukaannya. Rumah
Dunia dibuat terbuka, bak milik siapa saja yang kebetulan singgah. Rumah Dunia
didesain ramah lingkungan dengan panggung teater, gazebo, dan taman bermain
anak-anak, telah mengundang simpatik dan minat warga sekitar untuk tak sungkan
berkunjung saban hari. Rumah Dunia, dengan Gol A Gong dibaliknya, juga saksi
akan keseriusan, dan tanggung jawab. Serius dalam mengembangkan dan menggugah
generasi kini untuk tak takut dengan keterbatasan. Tanggung jawab dalam menggugah
kesadaran generasi kini, agar tak menjadi generasi kosong yang miskin wawasan.
Menebar virus kreatif, agar tak menjadi generasi gelas menganga yang minim orientasi.
Membendung generasi hura-hura yang frustasi, meredam generasi mengambang yang
tak punya kebiasaan menghayat.
Wujud dari keseriusan Gol A Gong
dalam upaya mengangkat martabat generasi muda tersebut, ialah dengan membuka
Kelas Menulis untuk pelajar dan mahasiswa secara gratis, sejak tahun 2002.
Setiap angkatan memakan waktu 6 bulan. Terhitung sudah puluhan alumni Kelas
Menulis, yang kini sukses menggeluti hidup sebagai wartawan, sastrawan, penulis
skenario, esais dan sebagainya.
Sebagai awam dalam dunia literasi,
dunia taman baca, terlebih lagi dunia kepenulisan, saya hanya bisa hanyut dalam
keharuan. Sosok yang dengan 5 jari tangan itu, telah bisa mengubah image Banten, yang sarang koruptor, jadi
persemaian literasi. Merubah citra Serang, yang identik dengan “kelas Jawara”,
jadi kelas menulis. Gol A Gong, sosok inspiratif yang berani bermimpi, dan
wujudkan mimpi-mimpinya, berhasil menyulut banyak orang. Setidaknya, hingga
saat ini saya masih bisa memelihara semangat mencintai buku, kendati belum
melahirkan karya yang dibukukan, sebagaimana ia. Balada Si Roy, karya klasiknya
yang terbit sekitar tahun 90-an, hingga kini masih dianggap sebagai “kitab para
pejalan”, adalah gambaran bagaimana seorang Gol A Gong merawat dan
mengejawantahkan mimpi-mimpinya tentang hidup dan kehidupan.
Kenangan saat itu, kenangan
dengan “Legenda” Si Roy, Heri Hendrayana Haris, alias Gol A Gong, seakan terus
menghias waktu hingga saat ini. Belum habis tahun 2014, terhitung sejak awal Bulan
Oktober s/d Bulan Nopember 2014, kembali ia mengadakan titian muhibah ke
kota-kota besar Jawa. Ia berniat mendekonstruksi makna “Anyer-Panarukan”, “Jalan
Raya Daendels”, dan “Kerja Rodi”. Semarang, jadi salah satu kota yang ia
singgahi, dan Komunitas Penulis Ungaran (KPU), beroleh kepercayaan untuk menyambut
kehadirannya.
Jawa Tengah Membaca
KPU berhasil selenggarakan talkshow bersama Gol A Gong, 23 Oktober
2014. KPU, meski baru seumuran hari, dapat kesempatan untuk turut melegendakan
“Pasukan Matahari”, novel karya terbarunya. Berkesempatan bincang bareng,
ngobrol santai, dan akhirnya peroleh suntikan semangat untuk membaca dan menulis. Haru dan bangga
menyelimuti, kawan-kawan KPU. Terlebih saya, yang mualaf di dunia literasi, tak
bisa membendung perasaan takjub kala mengikuti paparannya.
Kesempatan menemani Gol A Gong
pun berlanjut. Tepatnya 25 Oktober 2014, Penerbit Indiva, Solo, selenggarakan launching novel Pasukan Matahari-nya Gol A Gong. Gol A Gong, yang
juga ketua umum Pengurus Pusat Forum TBM, mendesak pengurus wilayah Forum TBM
Jawa Tengah, agar menyelenggarakan deklarasi Jawa Tengah Membaca. Pengurus
Wilayah Jawa Tengah, lewat ketuanya, memang rada lambat merespon kehadiran Gol
A Gong. Deklarasi Jawa Tengah Membaca, sedianya akan dilangsungkan di tengah
peluncuran novel Pasukan Matahari, sebelum Gol A Gong menyeberang ke Jawa
Timur, gagal, lantaran Ketua Forum TBM Jawa Tengah tidak hadir.
19 Nopember 2014, Gol A Gong, kembali
tiba di Kota Solo, usai keliling Jawa Timur. Bersama Penerbit Indiva, ia
mengisi acara pelatihan menulis novel filmis. Instruksi kepada Pengurus Forum
TBM Jawa Tengah, agar menyelenggarakan deklarasi Jawa Tengah Membaca, kembali
ia layangkan. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini, ketua Pengurus Wilayah Jawa
Tengah, bersedia hadir, sehingga deklarasi berjalan sesuai rencana. Sorenya,
bersama para deklarator –Gol A Gong, Triyono, Trimanto, Afra, Imam, dan Catur—saya
ikut audiensi ke Koran Harian Solopos. Gol A Gong menjelaskan maksud Jawa
Tengah membaca, dan mengharap media cetak terbesar di Kota Solo itu sedia jadi
mitra.
Malam harinya, giliran FLP Kota
Solo yang mendaulat “si Roy” berbagi tips menulis novel. Ada ketidakpercayaan
dari kalangan muda FLP tentang karya novel yang baik, bermartabat, dan tak
kehilangan citra modern. Dari forum itu, Gol A Gong menegaskan bahwa novel
islami, tidak mesti identik dengan kalimat thoyibah.
Novel islami tidak harus kolot, berbau Timur Tengah, menghindari tema cinta
terlarang, dan lain sebagainya. Novel akan punya nilai bobot tinggi, jika
disertai tradisi riset, baik pustaka maupun lapangan. Ada amanat mulia, dan tak
terjebak dengan kelaziman yang gemar mengeksploitasi tubuh secara vulgar. Sebuah
paparan yang menginspirasi, dari sang maestro, kendati saya belum ada minat
untuk menulis novel. Tetap saja bermanfaat, tentunya untuk memompa diri, suatu
saat akan mengikuti jejaknya.
Esoknya, 20 Nopember 2014,
kembali saya mengikuti lanjutan tur Gol A Gong ke Klaten, dimana akan jadi
titik akhir perjalanannya di Jawa Tengah. Rumah Budaya Omah Wayang, tempat yang
dituju. Gol A Gong, dalam kesempatan orasinya, tak ketinggalan memaparkan urgensinya
Jawa Tengah Membaca. Menurutnya, perhelatan Jawa Tengah Membaca, setidaknya
memuat agenda: Lomba menulis cerita pendek, lomba membaca puisi, musikalisasi
puisi, pidato kebudayaan, bazar buku, hibah buku, peluncuran buku, dan diskusi publik.
Paparan Gong tersebut, kian menegaskan bahwa kerja-kerja literasi tidak bisa
dianggap main-main. Ada perencanaan matang, dan melibatkan banyak pihak
komunitas sesama pengusung literasi.
Akhirnya, dari Klaten, saya
berpisah dengannya. Gol A Gong beserta 4 relawan Rumah Dunia, melanjutkan tur
literasinya ke Yogyakarta. Sedang saya, kembali meluncur ke Ungaran. Rumah
Dunia, Gol A Gong, dan Jawa Tengah Membaca, jadi Kenangan, dan pengalaman yang tak terhingga. Geliat
literasi di Jawa Tengah terasa membuncah. Dan…. semoga saja langgeng.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar