Jumat, 21 November 2014

Kenangan Bareng Gol A Gong

bersama KPU [Komunitas Penulis Ungaran]--dok Ardie

Sore itu, 18 Februari 2014, bersama Pahala Kencana, saya melaju ke Serang, Provinsi Banten. Seumur-umur, baru pertama kali, pergi jarak jauh dengan naik bus, karena dalam kesempatan yang berbeda, lebih nyaman naik kereta api. Barangkali saya termasuk sosok ‘jadul’, jarang bepergian yang berjarak  lumayan jauh---keluar Jawa Tengah---, kalaupun “terpaksa” pergi, ya dengan naik kereta api, tidak dengan naik bus. Sedang jarak tempuh yang hanya seputar wilayah Jawa Tengah, cukup dengan sepeda motor, lebih irit, seraya bebas bisa istirahat dimana saja sesuka hati.


Tetapi, saat itu, situasi memaksa untuk tak menggunakan jasa layanan kendaraan bermuatan massal. Saya mesti hadir di perhelatan komunitas baca, yang berlangsung di Pustaloka Rumah Dunia, Serang, Banten, dalam  kondisi kantong yang tak bersahabat. Naik kereta api hanya bisa sampai Jakarta. Ganti jalur Jakarta-Serang, yang dihitung-hitung malah akan bikin kian tipis saku kantong. Akhirnya Bus Pahala jadi ketetapan pilihan, disamping masalah biaya, juga bisa langsung turun dekat lokasi acara, sehingga kecil kemungkinan tersesat. Maklum, sekali lagi, sosok udik ini malu bertanya, dan jarang bepergian jauh.

Jelang siang, 19 Februari 2014, sampai di Rumah Dunia. Tak terbayangkan sebelumnya, akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di gelanggang belajar menulis ini. Di gelanggang ini pula, saya berkesempatan untuk kenal lebih dekat dengan sosok Heri Hendrayana Haris, atau lebih terkenal dengan sebutan Gol A Gong. Pertama kali ketemu dengannya, ketika ia sedang tour literasi ke Semarang, November 2011. “Jangan pernah nyerah, terus saja menulis !” pesan Gol A Gong yang masih terngiang jelas dalam benak, saat ia memberi orasi “gempa literasi” di Kampus UNDIP, 2011. Di Rumah Dunia, di samping kemampuan menulisnya yang luar biasa, saya temui sisi lain dari seorang Gol A Gong. Gol A Gong, lahir 15 Agustus 1963, yang produktif dalam merajut 26 huruf jadi kata dan kalimat, saya dapati pola bersahaja dalam bahtera hidupnya. Ia, yang dengan satu tangan miliknya telah 100-an novel terbukukan, merupakan contoh nyata orang yang senantiasa terbuka dan humanis terhadap siapapun saja. Ia egaliter, tak pandang rendah pada yang sedang merangkak tertatih mengenal dunia literasi.

Di Rumah Dunia, oleh Gol A Gong, saya diperlakukan sama sejajar dengan para penggiat literasi lainnya yang telah malang melintang bikin kegiatan dan kerja-kerja literasi. Saya didudukkan setara dengan para penyuka buku, novelis, pustakawan, sastrawan dan para ningrat literasi lainnya. Padahal, saya bukan apa-apa, dan belum ada satu naskah dibukukan yang lahir dari proses kreatif 10 jari tangan saya. Dalam berdebat adu argumentasi, tampak ia tak berusaha memaksakan gagasan-gagasan briliannya. Ia bersedia menerima saran, meski dari seorang awam seperti saya. Semangat mengembangkan pihak lain, memotivasi, dan menebar inspirasi, terasa sekali dari setiap obrolan ringan dengannya.

Rumah Dunia, dengan Gol A Gong-nya, seakan saksi akan keramahannya, saksi atas keterbukaannya. Rumah Dunia dibuat terbuka, bak milik siapa saja yang kebetulan singgah. Rumah Dunia didesain ramah lingkungan dengan panggung teater, gazebo, dan taman bermain anak-anak, telah mengundang simpatik dan minat warga sekitar untuk tak sungkan berkunjung saban hari. Rumah Dunia, dengan Gol A Gong dibaliknya, juga saksi akan keseriusan, dan tanggung jawab. Serius dalam mengembangkan dan menggugah generasi kini untuk tak takut dengan keterbatasan. Tanggung jawab dalam menggugah kesadaran generasi kini, agar tak menjadi generasi kosong yang miskin wawasan. Menebar virus kreatif, agar tak menjadi generasi gelas menganga yang minim orientasi. Membendung generasi hura-hura yang frustasi, meredam generasi mengambang yang tak punya kebiasaan menghayat.

Wujud dari keseriusan Gol A Gong dalam upaya mengangkat martabat generasi muda tersebut, ialah dengan membuka Kelas Menulis untuk pelajar dan mahasiswa secara gratis, sejak tahun 2002. Setiap angkatan memakan waktu 6 bulan. Terhitung sudah puluhan alumni Kelas Menulis, yang kini sukses menggeluti hidup sebagai wartawan, sastrawan, penulis skenario, esais dan sebagainya.

Sebagai awam dalam dunia literasi, dunia taman baca, terlebih lagi dunia kepenulisan, saya hanya bisa hanyut dalam keharuan. Sosok yang dengan 5 jari tangan itu, telah bisa mengubah image Banten, yang sarang koruptor, jadi persemaian literasi. Merubah citra Serang, yang identik dengan “kelas Jawara”, jadi kelas menulis. Gol A Gong, sosok inspiratif yang berani bermimpi, dan wujudkan mimpi-mimpinya, berhasil menyulut banyak orang. Setidaknya, hingga saat ini saya masih bisa memelihara semangat mencintai buku, kendati belum melahirkan karya yang dibukukan, sebagaimana ia. Balada Si Roy, karya klasiknya yang terbit sekitar tahun 90-an, hingga kini masih dianggap sebagai “kitab para pejalan”, adalah gambaran bagaimana seorang Gol A Gong merawat dan mengejawantahkan mimpi-mimpinya tentang hidup dan kehidupan.

Kenangan saat itu, kenangan dengan “Legenda” Si Roy, Heri Hendrayana Haris, alias Gol A Gong, seakan terus menghias waktu hingga saat ini. Belum habis tahun 2014, terhitung sejak awal Bulan Oktober s/d Bulan Nopember 2014, kembali ia mengadakan titian muhibah ke kota-kota besar Jawa. Ia berniat mendekonstruksi makna “Anyer-Panarukan”, “Jalan Raya Daendels”, dan “Kerja Rodi”. Semarang, jadi salah satu kota yang ia singgahi, dan Komunitas Penulis Ungaran (KPU), beroleh kepercayaan untuk menyambut kehadirannya.

Jawa Tengah Membaca

KPU berhasil selenggarakan talkshow bersama Gol A Gong, 23 Oktober 2014. KPU, meski baru seumuran hari, dapat kesempatan untuk turut melegendakan “Pasukan Matahari”, novel karya terbarunya. Berkesempatan bincang bareng, ngobrol santai, dan akhirnya peroleh suntikan semangat  untuk membaca dan menulis. Haru dan bangga menyelimuti, kawan-kawan KPU. Terlebih saya, yang mualaf di dunia literasi, tak bisa membendung perasaan takjub kala mengikuti paparannya.

Kesempatan menemani Gol A Gong pun berlanjut. Tepatnya 25 Oktober 2014, Penerbit Indiva, Solo,  selenggarakan launching novel Pasukan Matahari-nya Gol A Gong. Gol A Gong, yang juga ketua umum Pengurus Pusat Forum TBM, mendesak pengurus wilayah Forum TBM Jawa Tengah, agar menyelenggarakan deklarasi Jawa Tengah Membaca. Pengurus Wilayah Jawa Tengah, lewat ketuanya, memang rada lambat merespon kehadiran Gol A Gong. Deklarasi Jawa Tengah Membaca, sedianya akan dilangsungkan di tengah peluncuran novel Pasukan Matahari, sebelum Gol A Gong menyeberang ke Jawa Timur, gagal, lantaran Ketua Forum TBM Jawa Tengah tidak hadir.
 
19 Nopember 2014, Gol A Gong, kembali tiba di Kota Solo, usai keliling Jawa Timur. Bersama Penerbit Indiva, ia mengisi acara pelatihan menulis novel filmis. Instruksi kepada Pengurus Forum TBM Jawa Tengah, agar menyelenggarakan deklarasi Jawa Tengah Membaca, kembali ia layangkan. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini, ketua Pengurus Wilayah Jawa Tengah, bersedia hadir, sehingga deklarasi berjalan sesuai rencana. Sorenya, bersama para deklarator –Gol A Gong, Triyono, Trimanto, Afra, Imam, dan Catur—saya ikut audiensi ke Koran Harian Solopos. Gol A Gong menjelaskan maksud Jawa Tengah membaca, dan mengharap media cetak terbesar di Kota Solo itu sedia jadi mitra.

Malam harinya, giliran FLP Kota Solo yang mendaulat “si Roy” berbagi tips menulis novel. Ada ketidakpercayaan dari kalangan muda FLP tentang karya novel yang baik, bermartabat, dan tak kehilangan citra modern. Dari forum itu, Gol A Gong menegaskan bahwa novel islami, tidak mesti identik dengan kalimat thoyibah. Novel islami tidak harus kolot, berbau Timur Tengah, menghindari tema cinta terlarang, dan lain sebagainya. Novel akan punya nilai bobot tinggi, jika disertai tradisi riset, baik pustaka maupun lapangan. Ada amanat mulia, dan tak terjebak dengan kelaziman yang gemar mengeksploitasi tubuh secara vulgar. Sebuah paparan yang menginspirasi, dari sang maestro, kendati saya belum ada minat untuk menulis novel. Tetap saja bermanfaat, tentunya untuk memompa diri, suatu saat akan mengikuti jejaknya.
  
Esoknya, 20 Nopember 2014, kembali saya mengikuti lanjutan tur Gol A Gong ke Klaten, dimana akan jadi titik akhir perjalanannya di Jawa Tengah. Rumah Budaya Omah Wayang, tempat yang dituju. Gol A Gong, dalam kesempatan orasinya, tak ketinggalan memaparkan urgensinya Jawa Tengah Membaca. Menurutnya, perhelatan Jawa Tengah Membaca, setidaknya memuat agenda: Lomba menulis cerita pendek, lomba membaca puisi, musikalisasi puisi, pidato kebudayaan, bazar buku, hibah buku, peluncuran buku, dan diskusi publik. Paparan Gong tersebut, kian menegaskan bahwa kerja-kerja literasi tidak bisa dianggap main-main. Ada perencanaan matang, dan melibatkan banyak pihak komunitas sesama pengusung literasi.

Akhirnya, dari Klaten, saya berpisah dengannya. Gol A Gong beserta 4 relawan Rumah Dunia, melanjutkan tur literasinya ke Yogyakarta. Sedang saya, kembali meluncur ke Ungaran. Rumah Dunia, Gol A Gong, dan Jawa Tengah Membaca, jadi  Kenangan, dan pengalaman yang tak terhingga. Geliat literasi di Jawa Tengah terasa membuncah. Dan…. semoga saja langgeng.  
    
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar