Kamis, 13 November 2014

Selamatkan Dari Puritanisme !

Musyawaran Buku di Gubugku, ....agar tidak bungkam !!! (dok. 11/2013)


Saya merasa beruntung berkesempatan menikmati euphoria presiden baru. Euphoria dimana-mana. Rakyat bebas menyuarakan hak, yang masing-masing kepala pasti tak sama. Itu hal yang wajar. Menyuarakan politik adalah hak. Hak yang dari kata haqq punya dua makna: ia berarti hak, dan juga bisa berarti kebenaran. Sebagaimana yang kita ketahui, hak bersuara atau hak berpendapat telah dikukuhkan dalam UUD ’45, yang artinya siapa pun hingga negara tak diperbolehkan membatalkan atau menghilangkannya dari diri seseorang. Bahkan Tuhan pun tidak akan mencabut sebuah hak yang dimiliki oleh seseorang kecuali jika orang yang memiliki hak tersebut memutuskan untuk membatalkan atau melepaskan haknya.

Demikianlah, betapa “hak” itu sangat suci. Tak bisa diremehkan atau dilanggar, bahkan oleh negara sekalipun. Nah, terkait dengan kondisi saat ini, yang seakan baru kemarin sore kita berdemokrasi, sehingga kebebasan berbicara, menulis dan berserikat, tiba-tiba menjadi sesuatu yang menggembirakan, mudah terjangkau murah bahkan gratis. Saking murah dan mudahnya bersuara, silang sengkarut gagasan, pendapat, tulisan, saling dukung dan saling caci mengemuka dan tersiar dengan mudah, dalam kondisi tertentu telah bikin beberapa kolega yang eneg dan apolitis. Bagi saya tak jadi soal. Yang eneg dan benci bicara politik, yang bersikap netral dan kritis terhadap pilpres, yang jenuh dengan koalisi-koalisian di gedung DPR, hingga yang vulgar hendak bubarkan FPI, itu semua adalah wujud dari hak berpendapat. Itu adalah kebenaran. Dan itu sangat suci.

Lantaran kesuciannya, barangkali akan terasa tidak wajar, kalau ada seseorang atau beberapa kolega yang bersuara rada meremehkan pihak yang telah berani menyuarakan gerundelannya. Seakan-akan seseorang yang telah menentukan pilihan, menuliskan pendapat, menyuarakan opini, itu sebuah tindakan bodoh. Sedang yang anteng tak mengambil pilihan dan bersuara sumbang itu sebagai yang mulia. Saya rasa tidak demikian. Yang telah mengambil keputusan untuk ini, untuk itu, berarti telah memberi ransum makanan ruhani. Maka itu suatu kesucian. Jadi serasa tak etis, kalau kita malah melukainya dengan menganggap diri lebih tepat dan pener dalam bersikap ketimbang yang lain. Soal tendensius, wajarlah ! Sebab dalam menimbang pilihan tak mungkin lepas dari perasaan suka dan tak suka. Dalam berpendapat, wajar kalau pingin menonjolkan calon pilihannya. Dalam bersuara, wajar kalau pingin menampilkan konsep dan kepribadian sang calon.  Menyodorkan argumentasi. Yang tak wajar, kalau sudah menyudutkan gestur atau gaya fisik, soal-soal seperti kerling mata, gaya bicara yang tak cekatan, dsb.

Lepas dari itu semua, saya patut bersyukur karena hidup di kurun waktu yang “heroik” ini. Saya hidup dimana gelombang demokratisasi kian semarak. Pancasila yang sempat redup, kini mulai digali lagi falsafah nilainya. Gagasan pluralisme, kebhinnekaan semakin mengemuka tak terbendung---meski dari beberapa kelompok agama juga getol menghadang laju pluralisme dan liberalisme. Tapi sekali lagi tetap patut bersyukur pada Ilahi. Kita senandungkan energi positif ke langit nusantara, kita dendangkan bait-bait yang memuji keagungan-Nya, agar bumi Indonesia tetap lestari. Sisi yang berbeda, kita juga musti hati-hati dan sebisa mungkin menghadang laju ekstremisme (dalam suku, agama, dan ras) agar negeri maritim warisan Sriwijaya maupun Negara Darussalam warisan Majapahit ini tetap ada dan tercantum dalam peta dunia hingga menuntaskan transisi 70 – 100 tahun.

Nah, satu dari sekian kelompok puritan yang cenderung berlaku ekstrem itu adalah MTA (Majelis Tafsir Al-Qur’an). Saya mengenal MTA sebagai kelompok puritan. Lebih dari satu tahun (2009 – 2010) saya aktif mengikuti pengajian ahad pagi MTA di solo. Dari kelompok inilah, saya dapati konsepsi tentang puritan yang literalisme, antirasionalisme, dan antiinterpretasi. Dari pengajian umum rutin di Solo dan pengajian kelompok di Semarang, terekam dibenak bahwa setiap ada warga MTA yang berorientasi rasionalis langsung dapat peringatan tentang bahayanya rasionalitas. Setiap kali coba menyodorkan wacana tasawuf, langsung divonis sesat karena bukan ajaran Nabi dan Para Sahabat. Setiap kali agak nakal mengungkap makna filosofi Rukun Islam dan Iman, disebutnya kalau Islam itu tak serumit filsafat-filsafat  yang sok kebarat-baratan. Terakhir, yang memaksa diri saya musti out dari kerumunan puritan itu, ketika saya menyebut kaum nonmuslim sebagai “saudara”. Menurut mereka, sebagai muslim musti tegas dan jelas membenci bahkan memusuhi kaum nonmuslim. Muslim dilarang untuk terlebih dahulu memberi ucapan salam/selamat kepada kaum nonmuslim. Dan kalaupun membalas ucapan salam dari kaum nonmuslim, semustinya tak mendoakan keselamatan atau kedamaian bagi si non tersebut.

Terus terang, saya rada gemes dengan pikiran eksklusif tersebut. Saya berpikir beda. Saya berpikir, dalam pemikiran Islam musti ada otokritik. Ada kritik ke dalam tubuh sendiri tentang keberadaan kawanan kelompok yang coba menguasai otoritas “perintah Tuhan” dengan cara intoleransi dan menebar kebencian pada “yang lain”.

Keberadaan kelompok ini nyata. Mereka menabuh genderang kebencian dan antipluralisme bukanlah isapan jempol atau citraan media. Mereka punya basecamp dan kita bisa bertandang kesana untuk cek kebenaran berita. Namun lebih jauh yang saya maksudkan, saya tidak kepingin menjadi bahan olok-olokkan ketika bicara tentang keindahan Islam, keluhuran ajaran dan kemuliaan para pemeluknya akan kandas alias omong kosong ketika di lapangan yang terjadi adalah perusakan rumah ibadah gereja, pembakaran masjid Ahmadiyah, pelarangan tahlilan, selebaran antipluralisme, anti-Pancasila dsb.

Saya memahami bahwa Tuhan menghadirkan manusia ke muka bumi, tak sekadar hadir namun tertuntut tanggung jawab untuk memberadabkan bumi. Memberadabkan tidak berarti membangun gedung pencakar langit, melainkan menyebarkan sifat-sifat Tuhan yang adil, kasih sayang, baik, dan indah ke seluruh permukaan bumi. Sedang kalau yang terjadi adalah sebaliknya yaitu menyebarnya kekerasan, kebencian, balas dendam dan intoleransi, berarti yang dikerjakan umat Islam adalah merusak bumi. Merusak keindahan warna-warni ciptaan Tuhan, melukai perasaan sesama, dan menyakiti nalar sehat “yang lain”.
Memberadabkan bumi adalah mewujudkan nilai kebertuhanan di atas muka bumi. Menyebarluaskan sifat-sifat yang merupakan inti kebertuhanan, yaitu keadilan, kasih sayang, dan keindahan. Sekali lagi, dalam realitas pergaulan sehari-hari, upaya yang tanpa putus asa musti kita sorong ke hadapan lingkungan adalah membumikan nilai-nilai kebertuhanan tersebut. So, begitulah…..

Gerakan-gerakan puritan, seperti yang diusung MTA, terlebih lagi kini FPI, menyikapi segala sesuatu dengan logika kekerasan. Selalu merasa lebih unggul dan superior yang disertai sikap arogansi diri yang di dalamnya terkandung perasaan selalu benar ketika berhadapan dengan “yang lain”. “Yang lain” itu adalah Barat, Kaum Nonmuslim, kaum muslim pengusung pluralisme, hingga bahkan kaum perempuan muslim.
Dalam berhadapan dengan teks kitab suci, kelompok puritan itu membesar-besarkan peran teks ketimbang nalar logis manusia. Seakan makna teks bagi mereka sudah jelas dan gamblang, sehingga subjektivitas manusia dalam menafsirkan teks tidaklah relevan terhadap realisasi dan implementasi perintah Tuhan..

Kemudian, hal yang tak saya mengerti, ketika para pengusung puritan itu menyebutkan tentang dua kutub --- di satu sisi ada Islam, yang merepresentasikan kebaikan mutlak, dan di sisi lain ada nonmuslim, yang merepresentasikan kejahatan. Kaum muslim wajib peduli, berinteraksi, dan berteman hanya dengan muslim saja. Kalau pun terpaksa meminta bantuan pada kaum nonmuslim sebatas untuk tujuan “memberikan contoh baik”. Umat Islam tidak boleh bersahabat dengan kaum nonmuslim atau membiarkan diri mereka peduli dan mencintai kaum nonmuslim, sebab hal itu sama halnya dengan mencintai sesuatu yang tak bermoral. Pendek kata, kelompok kebaikan (Islam) harus tidak mencintai kelompk kejahatan. Kelompok kebaikan harus mendominasi kelompok kejahatan dan mengubah kejahatan menjadi kebaikan.

Dan disebutkan pula oleh mereka, bahwa satu-satunya Islam yang benar adalah Islam yang bercorak budaya Arab Saudi. Hanya ada satu Islam sejati, yakni yang senantiasa mendasarkan diri pada kata demi kata kitab suci secara literlick…sebab adanya upaya rasionalisasi, upaya pendalaman makna kata, upaya memasuki lorong esoteris di balik sabda adalah inovasi bidah yang bakal mengaburkan kesejatian Islam.

hehehe..... hati-hati atuh, sama "Muslim Puritan" 

Hmmm…sungguh saya tak mengerti. Sepemahaman saya, Islam itu humanis dan menjunjung nalar logis yang tak terpaku pada sebatas dogma. Akhirnya, semangat Pluralisme, kemajemukan, dan keberagaman, hanya akan terus terkendala dengan keberadaan gerakan puritanisme itu. Mereka ini minoritas, tapi lantang menebar horror, terror, dan bentuk ekstrem lainnya…
     

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar