![]() |
| Musyawaran Buku di Gubugku, ....agar tidak bungkam !!! (dok. 11/2013) |
Saya merasa beruntung berkesempatan menikmati euphoria presiden
baru. Euphoria dimana-mana. Rakyat bebas menyuarakan hak, yang masing-masing
kepala pasti tak sama. Itu hal yang wajar. Menyuarakan politik adalah hak. Hak
yang dari kata haqq punya dua makna: ia berarti hak, dan juga bisa berarti
kebenaran. Sebagaimana yang kita ketahui, hak bersuara atau hak berpendapat
telah dikukuhkan dalam UUD ’45, yang artinya siapa pun hingga negara tak
diperbolehkan membatalkan atau menghilangkannya dari diri seseorang. Bahkan
Tuhan pun tidak akan mencabut sebuah hak yang dimiliki oleh seseorang kecuali
jika orang yang memiliki hak tersebut memutuskan untuk membatalkan atau
melepaskan haknya.
Demikianlah, betapa “hak” itu sangat suci. Tak bisa
diremehkan atau dilanggar, bahkan oleh negara sekalipun. Nah, terkait dengan
kondisi saat ini, yang seakan baru kemarin sore kita berdemokrasi, sehingga
kebebasan berbicara, menulis dan berserikat, tiba-tiba menjadi sesuatu yang
menggembirakan, mudah terjangkau murah bahkan gratis. Saking murah dan mudahnya
bersuara, silang sengkarut gagasan, pendapat, tulisan, saling dukung dan saling
caci mengemuka dan tersiar dengan mudah, dalam kondisi tertentu telah bikin
beberapa kolega yang eneg dan apolitis. Bagi saya tak jadi soal. Yang eneg dan
benci bicara politik, yang bersikap netral dan kritis terhadap pilpres, yang
jenuh dengan koalisi-koalisian di gedung DPR, hingga yang vulgar hendak
bubarkan FPI, itu semua adalah wujud dari hak berpendapat. Itu adalah
kebenaran. Dan itu sangat suci.
Lantaran kesuciannya, barangkali akan terasa tidak wajar,
kalau ada seseorang atau beberapa kolega yang bersuara rada meremehkan pihak
yang telah berani menyuarakan gerundelannya. Seakan-akan seseorang yang telah
menentukan pilihan, menuliskan pendapat, menyuarakan opini, itu sebuah tindakan
bodoh. Sedang yang anteng tak mengambil pilihan dan bersuara sumbang itu
sebagai yang mulia. Saya rasa tidak demikian. Yang telah mengambil keputusan
untuk ini, untuk itu, berarti telah memberi ransum makanan ruhani. Maka itu suatu
kesucian. Jadi serasa tak etis, kalau kita malah melukainya dengan
menganggap diri lebih tepat dan pener
dalam bersikap ketimbang yang lain. Soal tendensius, wajarlah ! Sebab dalam
menimbang pilihan tak mungkin lepas dari perasaan suka dan tak suka. Dalam
berpendapat, wajar kalau pingin menonjolkan calon pilihannya. Dalam bersuara,
wajar kalau pingin menampilkan konsep dan kepribadian sang calon. Menyodorkan argumentasi. Yang tak wajar,
kalau sudah menyudutkan gestur atau gaya fisik, soal-soal seperti kerling mata,
gaya bicara yang tak cekatan, dsb.
Lepas dari itu semua, saya patut bersyukur karena hidup di
kurun waktu yang “heroik” ini. Saya hidup dimana gelombang demokratisasi kian
semarak. Pancasila yang sempat redup, kini mulai digali lagi falsafah nilainya.
Gagasan pluralisme, kebhinnekaan
semakin mengemuka tak terbendung---meski dari beberapa kelompok agama juga
getol menghadang laju pluralisme dan liberalisme. Tapi sekali lagi tetap
patut bersyukur pada Ilahi. Kita senandungkan energi positif ke langit nusantara,
kita dendangkan bait-bait yang memuji keagungan-Nya, agar bumi Indonesia tetap
lestari. Sisi yang berbeda, kita juga musti hati-hati dan sebisa mungkin
menghadang laju ekstremisme (dalam
suku, agama, dan ras) agar negeri maritim warisan Sriwijaya maupun Negara
Darussalam warisan Majapahit ini tetap ada dan tercantum dalam peta dunia
hingga menuntaskan transisi 70 – 100 tahun.
Nah, satu dari sekian kelompok puritan yang cenderung
berlaku ekstrem itu adalah MTA (Majelis Tafsir Al-Qur’an). Saya mengenal MTA sebagai
kelompok puritan. Lebih dari satu tahun (2009 – 2010) saya aktif mengikuti
pengajian ahad pagi MTA di solo. Dari kelompok inilah, saya dapati konsepsi
tentang puritan yang literalisme, antirasionalisme, dan antiinterpretasi. Dari
pengajian umum rutin di Solo dan pengajian kelompok di Semarang, terekam
dibenak bahwa setiap ada warga MTA yang berorientasi rasionalis langsung
dapat peringatan tentang bahayanya rasionalitas. Setiap kali coba menyodorkan
wacana tasawuf, langsung divonis sesat karena bukan ajaran Nabi dan Para
Sahabat. Setiap kali agak nakal mengungkap makna filosofi Rukun Islam dan Iman,
disebutnya kalau Islam itu tak serumit filsafat-filsafat yang sok kebarat-baratan. Terakhir, yang
memaksa diri saya musti out dari kerumunan puritan itu, ketika saya menyebut kaum
nonmuslim sebagai “saudara”. Menurut mereka, sebagai muslim musti tegas dan
jelas membenci bahkan memusuhi kaum nonmuslim. Muslim dilarang untuk terlebih
dahulu memberi ucapan salam/selamat kepada kaum nonmuslim. Dan kalaupun
membalas ucapan salam dari kaum nonmuslim, semustinya tak mendoakan keselamatan
atau kedamaian bagi si non tersebut.
Terus terang, saya rada gemes
dengan pikiran eksklusif tersebut. Saya
berpikir beda. Saya berpikir, dalam pemikiran Islam musti ada otokritik. Ada kritik ke dalam tubuh sendiri
tentang keberadaan kawanan kelompok yang coba menguasai otoritas “perintah
Tuhan” dengan cara intoleransi dan menebar kebencian pada “yang lain”.
Keberadaan kelompok ini nyata. Mereka menabuh genderang
kebencian dan antipluralisme bukanlah isapan jempol atau citraan media. Mereka
punya basecamp dan kita bisa
bertandang kesana untuk cek kebenaran berita. Namun lebih jauh yang saya
maksudkan, saya tidak kepingin
menjadi bahan olok-olokkan ketika bicara tentang keindahan Islam, keluhuran
ajaran dan kemuliaan para pemeluknya akan kandas alias omong kosong ketika di
lapangan yang terjadi adalah perusakan rumah ibadah gereja, pembakaran masjid
Ahmadiyah, pelarangan tahlilan, selebaran antipluralisme, anti-Pancasila dsb.
Saya memahami bahwa Tuhan menghadirkan manusia ke muka bumi,
tak sekadar hadir namun tertuntut tanggung jawab untuk memberadabkan bumi. Memberadabkan
tidak berarti membangun gedung pencakar langit, melainkan menyebarkan
sifat-sifat Tuhan yang adil, kasih sayang, baik, dan indah ke seluruh permukaan
bumi. Sedang kalau yang terjadi adalah sebaliknya yaitu menyebarnya kekerasan,
kebencian, balas dendam dan intoleransi, berarti yang dikerjakan umat Islam
adalah merusak bumi. Merusak keindahan warna-warni ciptaan Tuhan, melukai
perasaan sesama, dan menyakiti nalar sehat “yang lain”.
Memberadabkan bumi adalah mewujudkan nilai kebertuhanan di
atas muka bumi. Menyebarluaskan sifat-sifat yang merupakan inti kebertuhanan,
yaitu keadilan, kasih sayang, dan keindahan. Sekali lagi, dalam realitas
pergaulan sehari-hari, upaya yang tanpa putus asa musti kita sorong ke hadapan
lingkungan adalah membumikan nilai-nilai kebertuhanan tersebut. So,
begitulah…..
Gerakan-gerakan puritan, seperti yang diusung MTA, terlebih lagi kini FPI,
menyikapi segala sesuatu dengan logika kekerasan. Selalu merasa lebih unggul
dan superior yang disertai sikap arogansi diri yang di dalamnya terkandung
perasaan selalu benar ketika berhadapan dengan “yang lain”. “Yang lain” itu
adalah Barat, Kaum Nonmuslim, kaum muslim pengusung pluralisme, hingga bahkan
kaum perempuan muslim.
Dalam berhadapan dengan teks kitab suci, kelompok puritan
itu membesar-besarkan peran teks ketimbang nalar logis manusia. Seakan makna
teks bagi mereka sudah jelas dan gamblang, sehingga subjektivitas manusia dalam
menafsirkan teks tidaklah relevan terhadap realisasi dan implementasi perintah
Tuhan..
Kemudian, hal yang tak saya mengerti, ketika para pengusung puritan
itu menyebutkan tentang dua kutub --- di satu sisi ada Islam, yang
merepresentasikan kebaikan mutlak, dan di sisi lain ada nonmuslim, yang
merepresentasikan kejahatan. Kaum muslim wajib peduli, berinteraksi, dan
berteman hanya dengan muslim saja. Kalau pun terpaksa meminta bantuan pada kaum
nonmuslim sebatas untuk tujuan “memberikan contoh baik”. Umat Islam tidak boleh
bersahabat dengan kaum nonmuslim atau membiarkan diri mereka peduli dan
mencintai kaum nonmuslim, sebab hal itu sama halnya dengan mencintai sesuatu
yang tak bermoral. Pendek kata, kelompok kebaikan (Islam) harus tidak mencintai
kelompk kejahatan. Kelompok kebaikan harus mendominasi kelompok kejahatan dan
mengubah kejahatan menjadi kebaikan.
Dan disebutkan pula oleh mereka, bahwa satu-satunya Islam yang benar
adalah Islam yang bercorak budaya Arab Saudi. Hanya ada satu Islam sejati,
yakni yang senantiasa mendasarkan diri pada kata demi kata kitab suci secara literlick…sebab adanya upaya
rasionalisasi, upaya pendalaman makna kata, upaya memasuki lorong esoteris di
balik sabda adalah inovasi bidah yang bakal mengaburkan kesejatian Islam.
![]() |
| hehehe..... hati-hati atuh, sama "Muslim Puritan" |
Hmmm…sungguh saya tak mengerti. Sepemahaman saya, Islam itu
humanis dan menjunjung nalar logis yang tak terpaku pada sebatas dogma. Akhirnya,
semangat Pluralisme, kemajemukan, dan keberagaman, hanya akan terus terkendala dengan keberadaan gerakan puritanisme
itu. Mereka ini minoritas, tapi lantang menebar horror, terror, dan
bentuk ekstrem lainnya…


Tidak ada komentar:
Posting Komentar