“Ber-TBM merupakan perluasan
ruang sebagai upaya menyusuri lorong kemungkinan diri hingga tuntas memahami
yang hakiki.”
(i)
Dari dapur Teh Heni (Ketua Forum
TBM Wilayah Jawa Barat), saya dapatkan cerita tentang Bu Santi (Pengelola Rumah
Baca Ujung Berung). Adalah Bu Santi, yang mengikhlaskan seluruh aset rumah
pribadinya untuk jadi rumah baca. Sementara Bu Santi beserta keluarganya
tinggal di rumah kontrakan.
Terus terang hingga kini, saya
belum melakukan seperti yang Bu Santi kerjakan. TBM yang saya kelola masih berbasis
rumah tangga, yakni masih seatap dengan rutinitas rumah tangga, dengan
memanfaatkan ruang tamu dan teras rumah untuk kegiatan belajar. Ya, meski ini
bukan ranah salah benar, melainkan masalah nyali. Masalah keberanian menatap
kenyataan. Saya belum seberani Bu Santi dalam memainkan peran sebagai
pengelola.
Sekali lagi bukan masalah salah
benar. Yang TBMnya masih kecil, koleksi bacaan juga minim, serta pengunjung
sepi tidak berarti si Pengelola TBM tersebut gagal memainkan perannya.
Sebaliknya, ada sebuah TBM yang namanya mentereng, sering jadi rujukan Dinas
Pendidikan sebagai tempat studi banding, koleksi buku melimpah, kegiatan
membludak, serta tak ketinggalan ikut menangani banyak program kecakapan hidup,
bukan berarti tanda keberhasilan peran pengelola TBM.
Bagiku tanda keberhasilan seorang
pengelola bukan pada wujud luaran yang cenderung ceremonial, melainkan
internalisasinya. Ber-TBM adalah upaya sadar untuk mendewasakan diri yang makin
sadar diri. Kehadiran TBM yang kita bentuk bukan utama untuk membuat orang lain
menjadi cinta belajar, melainkan memelihara rasa cinta belajar yang bersemi
seiring dengan semangat si pengelola sebagai pembelajar seumur hidup. Dengan
memiliki dan atau mengelola TBM, kita musti lebih serius menjalani proses
pendewasaan kita sendiri, sebelum menuntut pihak lain.
TBM is an atmosphere, TBM
merupakan wahana untuk diri kita menjadi individu yang mengispirasi lingkungan.
Nah untuk itu, musti beres terlebih dahulu atas pertanyaan-pertanyaan seperti :
Sudahkan kita kenal jati diri kita---siapa kita sebenarnya ? Sudahkah kita tahu
apa panggilan hidup kita---misi apa yang ingin kita tunaikan di bumi ? Sudahkah
kita memetakan setiap kekuatan dan kelemahan kepribadian kita---bagian mana
yang perlu kita kembangkan dan mana yang perlu kita perbaiki ? Dan sudahkah
kita hidup sesuai dengan nilai-nilai yang kita pegang itu---selaras antara
keyakinan, pikiran, perkataan, dan perbuatan ?
Berusaha keras menjawab
pertanyaan-pertanyaan itu sampai jawabannya menjadi 'ya, sudah !' adalah tanda
bahwa kita bersungguh-sungguh menjalani kehidupan ini sebaik-baiknya. Dan
kesungguhan itu juga bukti bahwa kita menjadi sosok pembelajar seutuh usia,
yakni dengan terus menggali pemahaman dan meningkatkan penghayatan yang kita
peroleh dari koleksi bacaan "living books".
Nah, kiranya anak-anak kita
maupun lingkungan bakal menghirup atmosfir kesungguhan itu sebagai inspirasi
yang membentuk kehidupannya. Anak-anak tak akan terinspirasi oleh orantua yang
takut pada perubahan. Begitu pula lingkungan tak akan tertarik pada seorang
pengelola TBM yang tidak bisa mendidik dirinya sendiri. Sebagaimana anak-anak
kita adalah pembelajar, demikian pula hendaknya kita menjadi orangtua
pembelajar. Sebagaimana kita menuntut masyarakat rajin membaca, demikian pula
kita sebagai pengelola musti menjadi pembaca yang hebat terlebih dahulu.
(ii)
Masih tentang TBM kita, ada satu
lagi yang bikin saya tak nyaman adalah melimpahnya bahan bacaan di rak TBM yang
dikelola oleh Pengurus. Saya memahami hierarki struktur organisasi Forum TBM itu
kan begini : ada anggota ---dalam konteks Forum adalah para pengelola TBM,
Pengurus Daerah (PD), Pengurus Wilayah (PW), dan Pengurus Pusat (PP). PD adalah
representasi dari para anggota terbaik di daerah kabupaten/kota. PW pun juga
demikian merupakan hasil saringan yang terbaik dari yang baik yang pernah duduk
di PD. Begitu pula PP otomatis merupakan barisan manusia pilihan dari dan atau
rekomendasi PW.
Dari hierarki tersebut jelas
bahwa garda terdepan atas kemajuan dan dinamika TBM ada di tangan PD. PD yang
bersentuhan langsung dengan persoalan teknis dan passion para pengelola TBM.
Dari mulai koleksi buku yang minim, dinamika kegiatan hingga perijinan ke Dinas
Pendidikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab PD.
Sedang PW mustinya tidak lagi
meributi atau diributi persoalan-persoalan sarana teknis, melainkan lebih pada
policy di tingkat wilayah/propinsi. Soal klasik seperti relasi perpustakaan
daerah propinsi dengan Dinas Pendidikan Propinsi dapat dijadikan menu utama. Di
ranah internal, PW adalah payung yang berkewajiban untuk mengkaribkan seluruh
PD di wilayahnya.
Sementara PP, full alias 100
persen bersifat eksternal. Kalau PD, 100 persen internal, maka PW 50 persen
internal 50 persen eksternal. Sehingga persoalan yang menyangkut rumah tangga
TBM seperti insentif pengelola, anggaran anjangsana dsb tidak masuk ke notulen
PP, sebab sudah selesai di tingkat PW.
Pesan yang tersirat dari hierarki
tersebut, secara etika, yang bersedia duduk sebagai pengurus baik PD, PW
apalagi PP seyogianya sudah tidak lagi berpikir untuk keagungan TBMnya sendiri.
Perasaan dan pikirannya sudah full disedekahkan untuk jama'ah, bukan lagi demi
kejayaan TBM tempatnya bernaung. Termasuk dalam hal ini adalah buku. Seorang
pengurus serasa 'saru' jika koleksi buku di rak TBMnya melimpah ruah. Dia
berlaku seorang borjuis, sementara di kanan kirinya yang proletar juga tak
sedikit.
Rasanya kok nggak etis, seorang
pengurus masih suka membanggakan koleksi buku-buku yang berjibun menyesaki
ruangan, pengunjung di TBMnya ratusan, dsb. Singkat kata, ber-TBM adalah upaya
mengasah diri, asah empati, atau membangun etika nurani.
(iii)
Sahabatku, dalam kesadaran
kolektif masyarakat, yang disebut bekerja adalah ketika menjalani fungsi
sebagai guru, dokter, karyawan pabrik, dan pilot. Jadi kalau anda hingga hari
ini hanya berasyik masyuk dengan buku, sebagai relawan TBM, jelas belum masuk
daftar orang yang telah bekerja. Malah sering direndahkan dengan sebutan
"durung dadi wong" (belum jadi orang).
Sebagai sebuah satuan yang
alamiah, sebuah kehidupan yang guyub rukun, tetap akan selalu ada orang asing
yang terusir dari ambang pintu. Dan orang asing ini tak pernah jauh dari kita.
Sebab kita sendiri ini yang dimaksudkan sebagai orang asing itu. Lantaran
sering diberlakukan layaknya orang asing <durung dadi wong>, yang tidak
bisa tenggelam dalam ambisi kesamaan.
Kebersamaan dalam khasanah sosial
masyarakat adalah kesamaan. Kesamaan tidak memberi ruang hidup yang berbeda.
Kesamaan adalah totalitas kehendak yang menafikan yang lain.
Nah, pengelola dan relawan TBM
adalah orang asing itu. Parasnya tak diketahui karena kurang seksi bagi mata
pandang masyarakat. Raut mukanya tak menarik perhatian banyak orang karena tak
menjajikan limpahan materi. Wajahnya tak ditangkap lensa kamera media karena
tak mengundang masa depan cerah.
Ia tak bisa diringkas. Ia tak
bisa diringkus. Ia tak bisa diketahui dengan pisau bedah pragmatisme. Bila
pengetahuan adalah sebagai upaya menguak rahasia yang tak terbatas dalam sebuah
konsep yang terbatas, para pelaku TBM adalah sosok konsep yang tak terbatas. Ia
tak bisa diobok-obok oleh penalaran, analisis, dan pemahaman. Ia hanya bisa
ditangkap dengan penghayatan. Bisa jadi ia merupakan bagian dari kebersamaan,
tapi ia tak pernah bisa jadi bagian dari kesamaan.
Singkatnya menjadi pengelola TBM
memang bukan sebuah pekerjaan, melainkan lelaku. Sebuah pilihan hidup untuk
menyusuri lorong diri yang gelap dan jelas tak diminati banyak orang. Sebuah
langkah pengabdian guna pencerahan umat manusia. Amboi rona bahagia memancar
terang dari dahi kalian para sahabatku, meski tanpa janji surga!
Subhanallah.....
(iv)
Terakhir, saya akan mengulik
sedikit TBM relasinya dengan sistem pendidikan kita. Kalau kita telisik
senyatanya pendidikan kita didominasi oleh pragmatisme. Yaitu suatu pendekatan
berpikir yang tak mempedulikan benar atau tidaknya visi, yang terpenting adalah
ada tidaknya manfaat. Dalam hal ini, yang dijadikan patokan adalah manfaat dari
segi politis dan praktis – manfaat bagi pihak penguasa dan manfaat bagi dunia
industri serta pasar kerja. Wajar saja jika pendekatan semacam ini lantas
menekankan keterampilan kejuruan belaka dengan mengesampingkan pembangunan
karakter peserta didik. Aspek kognitif didewa-dewakan.
Aspek nilai dan kebudayaan
dibuang, atau setidaknya didangkalkan dengan menjadikannya sekedar hafalan buat
tes ujian. Cita-cita pendidikan “manusia seutuhnya” hanya ada di awang-awang.
Situasi berkabut dan muram, belum
ada prinsip yang menyatukan, tujuan jelas belum dirumuskan, belum ada satu
filosofi pendidikan, gonta-ganti cara, kegagalan, dan kekecewaan silih berganti
yang menandai rekam jejak pendidikan kita hingga kurikulum terakhir 2013. Kita
gelisah, tapi kita bingung harus memperbaiki dari mana.
Ya, dari mana harus kita luruskan
benang ruwet ini?
Tak bisa tidak, Kita harus lebih
bersungguh-sungguh berupaya merumuskan filosofi pendidikan kita. Sebagaimana
arus sungai tak akan lebih tinggi dari hulunya, upaya mendidik tidak akan bisa
melampaui konsep pendidikan yang menjadi asal-usulnya. Sekiranya merumuskan
filosofi pendidikan itu akan menjadi pekerjaan yang sangat menantang. Kita
punya banyak peneliti dan ilmuwan pendidikan, tetapi seberapa banyak dari
mereka yang mumpuni sebagai filsuf?
Filosofi tidak bisa dikerjakan
dengan bahasa statistik atau program komputer. Filosofi selalu harus lahir dari
pergulatan batin manusia menghadapi pertanyaan-pertanyaan hakiki – jenis
pertanyaan yang mengandung hikmah di dalam dirinya sendiri, lepas dari sudah
ditemukan atau belum jawabannya.
OK, maksud simpel saya begini,
TBM yang merupakan bagian simpul dari pendidikan nonformal informal, semustinya
bisa menjadi penutup atas kekosongan filosofis dari sistem pendidikan secara
umum. <>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar