Jumat, 21 November 2014

Menimbang TBM


“Ber-TBM merupakan perluasan ruang sebagai upaya menyusuri lorong kemungkinan diri hingga tuntas memahami yang hakiki.”

(i)

Dari dapur Teh Heni (Ketua Forum TBM Wilayah Jawa Barat), saya dapatkan cerita tentang Bu Santi (Pengelola Rumah Baca Ujung Berung). Adalah Bu Santi, yang mengikhlaskan seluruh aset rumah pribadinya untuk jadi rumah baca. Sementara Bu Santi beserta keluarganya tinggal di rumah kontrakan.


Terus terang hingga kini, saya belum melakukan seperti yang Bu Santi kerjakan. TBM yang saya kelola masih berbasis rumah tangga, yakni masih seatap dengan rutinitas rumah tangga, dengan memanfaatkan ruang tamu dan teras rumah untuk kegiatan belajar. Ya, meski ini bukan ranah salah benar, melainkan masalah nyali. Masalah keberanian menatap kenyataan. Saya belum seberani Bu Santi dalam memainkan peran sebagai pengelola.

Sekali lagi bukan masalah salah benar. Yang TBMnya masih kecil, koleksi bacaan juga minim, serta pengunjung sepi tidak berarti si Pengelola TBM tersebut gagal memainkan perannya. Sebaliknya, ada sebuah TBM yang namanya mentereng, sering jadi rujukan Dinas Pendidikan sebagai tempat studi banding, koleksi buku melimpah, kegiatan membludak, serta tak ketinggalan ikut menangani banyak program kecakapan hidup, bukan berarti tanda keberhasilan peran pengelola TBM.

Bagiku tanda keberhasilan seorang pengelola bukan pada wujud luaran yang cenderung ceremonial, melainkan internalisasinya. Ber-TBM adalah upaya sadar untuk mendewasakan diri yang makin sadar diri. Kehadiran TBM yang kita bentuk bukan utama untuk membuat orang lain menjadi cinta belajar, melainkan memelihara rasa cinta belajar yang bersemi seiring dengan semangat si pengelola sebagai pembelajar seumur hidup. Dengan memiliki dan atau mengelola TBM, kita musti lebih serius menjalani proses pendewasaan kita sendiri, sebelum menuntut pihak lain.

TBM is an atmosphere, TBM merupakan wahana untuk diri kita menjadi individu yang mengispirasi lingkungan. Nah untuk itu, musti beres terlebih dahulu atas pertanyaan-pertanyaan seperti : Sudahkan kita kenal jati diri kita---siapa kita sebenarnya ? Sudahkah kita tahu apa panggilan hidup kita---misi apa yang ingin kita tunaikan di bumi ? Sudahkah kita memetakan setiap kekuatan dan kelemahan kepribadian kita---bagian mana yang perlu kita kembangkan dan mana yang perlu kita perbaiki ? Dan sudahkah kita hidup sesuai dengan nilai-nilai yang kita pegang itu---selaras antara keyakinan, pikiran, perkataan, dan perbuatan ?

Berusaha keras menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sampai jawabannya menjadi 'ya, sudah !' adalah tanda bahwa kita bersungguh-sungguh menjalani kehidupan ini sebaik-baiknya. Dan kesungguhan itu juga bukti bahwa kita menjadi sosok pembelajar seutuh usia, yakni dengan terus menggali pemahaman dan meningkatkan penghayatan yang kita peroleh dari koleksi bacaan "living books".

Nah, kiranya anak-anak kita maupun lingkungan bakal menghirup atmosfir kesungguhan itu sebagai inspirasi yang membentuk kehidupannya. Anak-anak tak akan terinspirasi oleh orantua yang takut pada perubahan. Begitu pula lingkungan tak akan tertarik pada seorang pengelola TBM yang tidak bisa mendidik dirinya sendiri. Sebagaimana anak-anak kita adalah pembelajar, demikian pula hendaknya kita menjadi orangtua pembelajar. Sebagaimana kita menuntut masyarakat rajin membaca, demikian pula kita sebagai pengelola musti menjadi pembaca yang hebat terlebih dahulu.

(ii)

Masih tentang TBM kita, ada satu lagi yang bikin saya tak nyaman adalah melimpahnya bahan bacaan di rak TBM yang dikelola oleh Pengurus. Saya memahami hierarki struktur organisasi Forum TBM itu kan begini : ada anggota ---dalam konteks Forum adalah para pengelola TBM, Pengurus Daerah (PD), Pengurus Wilayah (PW), dan Pengurus Pusat (PP). PD adalah representasi dari para anggota terbaik di daerah kabupaten/kota. PW pun juga demikian merupakan hasil saringan yang terbaik dari yang baik yang pernah duduk di PD. Begitu pula PP otomatis merupakan barisan manusia pilihan dari dan atau rekomendasi PW.

Dari hierarki tersebut jelas bahwa garda terdepan atas kemajuan dan dinamika TBM ada di tangan PD. PD yang bersentuhan langsung dengan persoalan teknis dan passion para pengelola TBM. Dari mulai koleksi buku yang minim, dinamika kegiatan hingga perijinan ke Dinas Pendidikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab PD.

Sedang PW mustinya tidak lagi meributi atau diributi persoalan-persoalan sarana teknis, melainkan lebih pada policy di tingkat wilayah/propinsi. Soal klasik seperti relasi perpustakaan daerah propinsi dengan Dinas Pendidikan Propinsi dapat dijadikan menu utama. Di ranah internal, PW adalah payung yang berkewajiban untuk mengkaribkan seluruh PD di wilayahnya.

Sementara PP, full alias 100 persen bersifat eksternal. Kalau PD, 100 persen internal, maka PW 50 persen internal 50 persen eksternal. Sehingga persoalan yang menyangkut rumah tangga TBM seperti insentif pengelola, anggaran anjangsana dsb tidak masuk ke notulen PP, sebab sudah selesai di tingkat PW.

Pesan yang tersirat dari hierarki tersebut, secara etika, yang bersedia duduk sebagai pengurus baik PD, PW apalagi PP seyogianya sudah tidak lagi berpikir untuk keagungan TBMnya sendiri. Perasaan dan pikirannya sudah full disedekahkan untuk jama'ah, bukan lagi demi kejayaan TBM tempatnya bernaung. Termasuk dalam hal ini adalah buku. Seorang pengurus serasa 'saru' jika koleksi buku di rak TBMnya melimpah ruah. Dia berlaku seorang borjuis, sementara di kanan kirinya yang proletar juga tak sedikit.

Rasanya kok nggak etis, seorang pengurus masih suka membanggakan koleksi buku-buku yang berjibun menyesaki ruangan, pengunjung di TBMnya ratusan, dsb. Singkat kata, ber-TBM adalah upaya mengasah diri, asah empati, atau membangun etika nurani.

(iii)

Sahabatku, dalam kesadaran kolektif masyarakat, yang disebut bekerja adalah ketika menjalani fungsi sebagai guru, dokter, karyawan pabrik, dan pilot. Jadi kalau anda hingga hari ini hanya berasyik masyuk dengan buku, sebagai relawan TBM, jelas belum masuk daftar orang yang telah bekerja. Malah sering direndahkan dengan sebutan "durung dadi wong" (belum jadi orang).

Sebagai sebuah satuan yang alamiah, sebuah kehidupan yang guyub rukun, tetap akan selalu ada orang asing yang terusir dari ambang pintu. Dan orang asing ini tak pernah jauh dari kita. Sebab kita sendiri ini yang dimaksudkan sebagai orang asing itu. Lantaran sering diberlakukan layaknya orang asing <durung dadi wong>, yang tidak bisa tenggelam dalam ambisi kesamaan.

Kebersamaan dalam khasanah sosial masyarakat adalah kesamaan. Kesamaan tidak memberi ruang hidup yang berbeda. Kesamaan adalah totalitas kehendak yang menafikan yang lain.

Nah, pengelola dan relawan TBM adalah orang asing itu. Parasnya tak diketahui karena kurang seksi bagi mata pandang masyarakat. Raut mukanya tak menarik perhatian banyak orang karena tak menjajikan limpahan materi. Wajahnya tak ditangkap lensa kamera media karena tak mengundang masa depan cerah.

Ia tak bisa diringkas. Ia tak bisa diringkus. Ia tak bisa diketahui dengan pisau bedah pragmatisme. Bila pengetahuan adalah sebagai upaya menguak rahasia yang tak terbatas dalam sebuah konsep yang terbatas, para pelaku TBM adalah sosok konsep yang tak terbatas. Ia tak bisa diobok-obok oleh penalaran, analisis, dan pemahaman. Ia hanya bisa ditangkap dengan penghayatan. Bisa jadi ia merupakan bagian dari kebersamaan, tapi ia tak pernah bisa jadi bagian dari kesamaan.

Singkatnya menjadi pengelola TBM memang bukan sebuah pekerjaan, melainkan lelaku. Sebuah pilihan hidup untuk menyusuri lorong diri yang gelap dan jelas tak diminati banyak orang. Sebuah langkah pengabdian guna pencerahan umat manusia. Amboi rona bahagia memancar terang dari dahi kalian para sahabatku, meski tanpa janji surga!
Subhanallah.....

(iv)

Terakhir, saya akan mengulik sedikit TBM relasinya dengan sistem pendidikan kita. Kalau kita telisik senyatanya pendidikan kita didominasi oleh pragmatisme. Yaitu suatu pendekatan berpikir yang tak mempedulikan benar atau tidaknya visi, yang terpenting adalah ada tidaknya manfaat. Dalam hal ini, yang dijadikan patokan adalah manfaat dari segi politis dan praktis – manfaat bagi pihak penguasa dan manfaat bagi dunia industri serta pasar kerja. Wajar saja jika pendekatan semacam ini lantas menekankan keterampilan kejuruan belaka dengan mengesampingkan pembangunan karakter peserta didik. Aspek kognitif didewa-dewakan.

Aspek nilai dan kebudayaan dibuang, atau setidaknya didangkalkan dengan menjadikannya sekedar hafalan buat tes ujian. Cita-cita pendidikan “manusia seutuhnya” hanya ada di awang-awang.

Situasi berkabut dan muram, belum ada prinsip yang menyatukan, tujuan jelas belum dirumuskan, belum ada satu filosofi pendidikan, gonta-ganti cara, kegagalan, dan kekecewaan silih berganti yang menandai rekam jejak pendidikan kita hingga kurikulum terakhir 2013. Kita gelisah, tapi kita bingung harus memperbaiki dari mana.

Ya, dari mana harus kita luruskan benang ruwet ini?

Tak bisa tidak, Kita harus lebih bersungguh-sungguh berupaya merumuskan filosofi pendidikan kita. Sebagaimana arus sungai tak akan lebih tinggi dari hulunya, upaya mendidik tidak akan bisa melampaui konsep pendidikan yang menjadi asal-usulnya. Sekiranya merumuskan filosofi pendidikan itu akan menjadi pekerjaan yang sangat menantang. Kita punya banyak peneliti dan ilmuwan pendidikan, tetapi seberapa banyak dari mereka yang mumpuni sebagai filsuf?

Filosofi tidak bisa dikerjakan dengan bahasa statistik atau program komputer. Filosofi selalu harus lahir dari pergulatan batin manusia menghadapi pertanyaan-pertanyaan hakiki – jenis pertanyaan yang mengandung hikmah di dalam dirinya sendiri, lepas dari sudah ditemukan atau belum jawabannya.

OK, maksud simpel saya begini, TBM yang merupakan bagian simpul dari pendidikan nonformal informal, semustinya bisa menjadi penutup atas kekosongan filosofis dari sistem pendidikan secara umum. <>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar