Kamis, 13 November 2014

Memungut Hikmah Dari "Yang Biasa"


Hingga hari ini saya masih mempertahankan buku Totto-Chan sebagai salah satu buku favorit yang tersimpan di rak perpustakaan keluarga. Malah termasuk deretan buku yang tak dipinjamkan, hanya boleh baca di tempat. Kenapa demikian ? Di dalamnya akan kita temui tentang paparan sekolah unik yang barangkali di tempat kita masih jadi impian, jadi harapan oleh  banyak kalangan. Meski sudah bertebaran sekolah-sekolah alternatif di sekitar kita, tetap saja keunikan sekolah Tomoe masih menawan hati. 

Tetsuko Kuroyanagi <sang Totto kecil> menandaskan bahwa “yang harus ditakuti di dunia fana ini ialah jenis orang-orang yang tidak mengerti  keindahan walaupun memiliki mata, tidak mendengarkan irama musik walaupun memiliki telinga, tidak memiliki kebenaran walaupun memiliki hati….”

Jenis kepekaan yang terbit dari penghayatan atas peristiwa-peristiwa keseharian yang oleh sebagian besar kalangan dianggap biasa. Biasa karena hanya melibatkan indra dan kenyataan normal di depan mata. Saking biasa, banyak yang tak peduli, dianggap wajar, dan sebatas kilasan sambil lalu. Padahal tidaklah sesederhana anggapan. Ada makna di balik fenomena, ada nilai di balik yang wajar. Hakikat sesuatu sesungguhnya berada di balik peristiwa atau kenyataan yang dianggap biasa tadi.

Kemampuan untuk mengakrabi segala nilai yang tersimpan dalam penghayatan berawal dari keyakinan bahwa peristiwa keseharian tersebut bukanlah sesuatu yang rutin dan membosankan apalagi biasa saja, tetapi adalah sesuatu yang menggairahkan dan menjanjikan pemahaman yang tak akan pernah habis. Di baliknya terhampar hikmah yang dapat disibak. Di baliknya terdapat perintah Tuhan yang seyogianya dapat kita respon. Kita respon karena seakan-akan Tuhan “bersembunyi” di balik yang biasa dan wajar-wajar saja.

Kembali menengok Sekolah Tomoe, para orangtua peserta didik diminta untuk membekali anak mereka masing-masing dengan “yang dari laut” dan “yang dari gunung”. Sebelum acara makan bersama, para guru melihat kotak makan masing-masing sembari bertanya, apakah makanan yang dari laut dan dari gunung yang dibawa hari ini. Nah, sungguh suatu kebiasaan yang luar biasa, setiap anak dirangsang untuk selalu memperhatikan makanannya dengan sungguh-sungguh seraya mengetahui asal muasalnya.

Coba bandingkan dengan PAUD maupun TK  yang kini bertebaran bak cendawan itu, hampir mayoritas menuntut anak-anak untuk duduk tertib, berbaris kalau mau cuci tangan, pakai sendok dengan tangan kanan, jangan pakai tangan kiri, jangan berisik saat sedang mengunyah makan dsb…dsb. Sekolah melarang para orangtua membekali anak-anak dengan makanan ber-MSG, berbagai jenis mie instan, dan coklat, tanpa dibarengi dengan penjelasan kenapa dilarang ? Bahkan ada sekolah yang tidak sungguh-sungguh melarang, penuh toleransi, ketika terdapat peserta didik membawa bekal mie instan atau permen.

Membaca buku Totto Chan, kita akan disuguhi kisah seorang pendidik yang telah berhasil menggeluti kenyataan dan menghayati segala hal yang dididiknya. Tomoe Gakuen, sekolah bekas gerbong kereta, sekolah unik di Jepang sebelum peristiwa naas Hiroshima dan Nagasaki, kiranya dapat kita tarik disini dan saat ini. Memantik siapa pun kita, profesi apa saja yang kita geluti, guna belajar meresapi dan mau memungut taburan hikmah dari tiap situasi “yang biasa”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar