Hingga hari ini saya masih mempertahankan buku Totto-Chan sebagai salah satu buku favorit yang tersimpan di rak perpustakaan
keluarga. Malah termasuk deretan buku yang tak dipinjamkan, hanya boleh baca di
tempat. Kenapa demikian ? Di dalamnya akan kita temui tentang paparan sekolah unik yang
barangkali di tempat kita masih jadi impian, jadi harapan oleh banyak kalangan. Meski sudah
bertebaran sekolah-sekolah alternatif di sekitar kita, tetap saja
keunikan sekolah Tomoe masih menawan hati.
Tetsuko Kuroyanagi <sang Totto
kecil> menandaskan bahwa “yang harus ditakuti di dunia fana ini ialah jenis
orang-orang yang tidak mengerti keindahan
walaupun memiliki mata, tidak mendengarkan irama musik walaupun memiliki
telinga, tidak memiliki kebenaran walaupun memiliki hati….”
Jenis kepekaan yang terbit dari penghayatan
atas peristiwa-peristiwa keseharian yang oleh sebagian besar kalangan dianggap
biasa. Biasa karena hanya melibatkan indra dan kenyataan normal di depan mata. Saking
biasa, banyak yang tak peduli, dianggap wajar, dan sebatas kilasan sambil lalu.
Padahal tidaklah sesederhana anggapan. Ada makna di balik fenomena, ada nilai
di balik yang wajar. Hakikat sesuatu sesungguhnya berada di balik peristiwa
atau kenyataan yang dianggap biasa tadi.
Kemampuan untuk mengakrabi segala
nilai yang tersimpan dalam penghayatan berawal dari keyakinan bahwa peristiwa
keseharian tersebut bukanlah sesuatu yang rutin dan membosankan apalagi biasa
saja, tetapi adalah sesuatu yang menggairahkan dan menjanjikan pemahaman yang
tak akan pernah habis. Di baliknya terhampar hikmah yang dapat disibak. Di
baliknya terdapat perintah Tuhan yang seyogianya dapat kita respon. Kita respon
karena seakan-akan Tuhan “bersembunyi” di balik yang biasa dan wajar-wajar
saja.
Kembali menengok Sekolah Tomoe, para
orangtua peserta didik diminta untuk membekali anak mereka masing-masing dengan
“yang dari laut” dan “yang dari gunung”. Sebelum acara makan bersama, para guru
melihat kotak makan masing-masing sembari bertanya, apakah makanan yang dari
laut dan dari gunung yang dibawa hari ini. Nah, sungguh suatu kebiasaan yang
luar biasa, setiap anak dirangsang untuk selalu memperhatikan makanannya dengan
sungguh-sungguh seraya mengetahui asal muasalnya.
Coba bandingkan dengan PAUD
maupun TK yang kini bertebaran bak
cendawan itu, hampir mayoritas menuntut anak-anak untuk duduk tertib, berbaris
kalau mau cuci tangan, pakai sendok dengan tangan kanan, jangan pakai tangan
kiri, jangan berisik saat sedang mengunyah makan dsb…dsb. Sekolah melarang para
orangtua membekali anak-anak dengan makanan ber-MSG, berbagai jenis mie instan,
dan coklat, tanpa dibarengi dengan penjelasan kenapa dilarang ? Bahkan ada
sekolah yang tidak sungguh-sungguh melarang, penuh toleransi, ketika terdapat
peserta didik membawa bekal mie instan atau permen.
Membaca buku Totto Chan, kita
akan disuguhi kisah seorang pendidik yang telah berhasil menggeluti kenyataan
dan menghayati segala hal yang dididiknya. Tomoe Gakuen, sekolah bekas gerbong
kereta, sekolah unik di Jepang sebelum peristiwa naas Hiroshima dan Nagasaki, kiranya
dapat kita tarik disini dan saat ini. Memantik siapa pun kita, profesi apa saja
yang kita geluti, guna belajar meresapi dan mau memungut taburan hikmah dari
tiap situasi “yang biasa”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar