Selasa, 25 November 2014

Pengetahuan Atawa Sebagai Ilmu


“Hanya makan ketika lapar dan berhenti makan sebelum kenyang”, merupakan ilmu pengetahuan dari Rasulullah SAW, yang masih sangat relevan hingga kini. Malah situasi yang membelit saat ini, bakal terurai, sekiranya sedia menilik pengetahuan tersebut. “Hanya makan ketika lapar”, mengandaikan segala sesuatu musti berdasar kebutuhan bukan keinginan. Kebutuhan itu tahu akan batas. Ada keterbatasan, ada ketidakbebasan, yang melekat erat pada sesuatu, yang kiranya dilanggar akan muncul efek negatif, yang merugikan. Hal ini tidak hanya terkait soal makan dan kapasitas lambung atau perut saja, melainkan bisa ditarik ke masalah-masalah mikro maupun makro lainnya. Soal pengaturan uang keluarga, manajemen belajar anak-anak, home industri, manajemen perusahaan, hingga persoalan negara seperti hubungan eksekutif-legislatif, tentang hak interpelasi, KMP vs KIH, dan sebagainya.


Juga “berhenti makan sebelum kenyang”, makin menegaskan adanya keterbatasan. Semua, dari jagad cilik (mikrokosmos), hingga jagad gede (makrokosmos), berada dalam ukuran tertentu. Semua terbatas, baik umur, manfaat, kekuatan, sampai urusan-urusan yang belum terjadi (masa depan). Semua yang fana hadir dalam perencanaan-Nya, dus dengan demikian “ada” dalam batas. Pemahaman tersebut, yang kemudian mengantar kita, agar sanggup memilah antara “kehendak” dengan “keinginan”.

“Saya hendak” beda dengan “saya ingin”. Kehendak itu tak keluar dari pertimbangan rasio, tidak melepas dari akal pikiran. Tak hanya dalam kendali akal rasio, “saya hendak” juga melandaskan pada pertimbangan nilai-nilai moral, agama, dan spontanitas suara nurani. Sedang keinginan, merupakan dorongan nafsu yang bak kuda liar, cenderung bebas tanpa tali kekang, bersifat jangka pendek, nikmat sesaat, dan merugikan untuk jangka yang lebih jauh. Dorongan nafsu tersebut lahir, untuk menuntaskan selera yang berasal dari 4 anasir yang melekat pada diri manusia. Yakni: api, tanah, air, dan udara.

Api, yang jilatannya senantiasa membumbung ke atas, menyiratkan keinginan seseorang untuk selalu unggul, selalu ingin di atas. Api merupakan simbol kewibawaan. Tanah, yang lunak, namun juga bisa mengeras. Tempat persemaian apa saja yang tumbuh, tempat menyatunya segala yang fana, yang sudah tak berfungsi. Tanah melukiskan keinginan kita untuk selalu jaya, selalu perkasa, aman sentausa, dan kaya raya. Tanah adalah simbol kejayaan. Air, senantiasa mengalir ke bawah, menempati dataran rendah, menggambarkan seseorang yang peka, sensitif, penuh empati kepada yang kurang beruntung, atau yang berada di bawah. Air merupakan simbol integrasi. Terakhir udara, yang senantiasa memenuhi  ruang dimana saja ia ditempatkan. Di tiupkan ke dalam balon, langsung memenuhi ruangan balon. Begitu pula ketika dihembuskan ke dalam ban roda sepeda, mobil, dan sebagainya. Udara, merupakan gambaran seseorang yang selalu ingin berkuasa.

“Saya ingin” lahir dari dorongan 4 unsur tersebut. Keinginan yang cenderung liar tak terkendali, mengarah pada kerusakan. Kita maklum, bahwa sikap berlebihan itu tak dibenarkan. Segala bentuk overdosis, apa pun itu, secara nurani, tak dikehendaki. Namun demikian, keempat pendorong itu bukan berarti musti dimatikan, tetapi diatur sehingga berada di bawah kendali akal sehat. Ketika ada peminta-minta datang ke rumah kita, ia seorang perempuan muda, pakaian compang-camping, sembari menggendong anaknya yang masih mungil lucu, lantas kita empati, timbul rasa kasihan. Bisa saja kita beri dia uang sebanyak kita punya. Kita ingin mengentaskan “kecompang-campingannya” dengan memberikan banyak uang, namun hukum kehendak bicara lain. Kita hendak memberinya selembar-dua lembar uang saja, karena ada unsur edukasi yang juga musti kita ulurkan ke dia. “Saya hendak”, itulah pengendali, kontrol atas keliaran dorongan keinginan yang full vested interest. “Saya hendak” berdasar tata hukum kebutuhan, yang mengerti batas, berpikir jangka panjang, dan tak sekadar memenuhi hasrat sesaat.

Kemudian, “hanya makan ketika lapar, dan berhenti sebelum kenyang”, informasi pengetahuan yang terbit sekitar abad VII M, serasa belum beranjak menjadi ilmu. Oleh pencetusnya, Nabi SAW, telah berupa ilmu, tak sebatas pengetahuan. Pengetahuan, yang kata dasarnya tahu, beda sekali dengan ilmu. Saya tahu banyak tentang kebaikan, fadhilah shalat, puasa, dan sebagainya, namun saya belum menjalankannya, berarti saya baru berpengetahuan, belum berilmu. Akhirnya, pengetahuan dari Nabi Muhammad SAW, yang kita lanjutkan dengan pemahaman atas “keinginan” dan “kehendak”, pengetahuan akan batas, pengelolaan dorongan 4 anasir, sedianya berujung jadi ilmu. Sehingga ilmu pengetahuan jadi klop, tidak berdiri sendiri, pisah saling berhadapan. Pengetahuan itu objektif, ilmu subjektif. Objektif karena bisa dimana-mana dan kapan saja, subjektif karena mensyaratkan subjek atau pelaku. So, tinggal kita yang kini hidup di kurun serba teknologi, akan menyikapi sebatas pengetahuan yang objektif, atau meneruskannya dan menjadikan diri sebagai pelaku utama atau sang subjek. 
Wallahu a’lam…. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar