Subsidi BBM dicabut. Presiden Joko
Widodo, akhirnya mengumumkan, bahwa pemerintah telah menetapkan kenaikan harga
BBM. Harga solar dari Rp 5.500 jadi Rp 7.500,- dan premium dari Rp 6.500,-
menjadi Rp 8.500,-. Penetapan yang tak mengenakan, penetapan yang bakal
menyulut gejolak di masyarakat. Harga BBM naik, biasanya akan diikuti dengan
kenaikan harga-harga barang dan jasa lainnya. Sehingga pemerintah sebelumnya
selalu tarik ulur dalam mengambil keputusan soal BBM. Seakan pemerintah takut
tidak populer, takut jatuh martabatnya, jika sampai berani mencabut subsidi
BBM. Dan semoga, Presiden baru kita itu teguh dalam mengambil keputusan. Meski mengambil
langkah yang tak populer, menetapkan kebijakan yang mengundang kontra.
Subsidi BBM memang harus dicabut.
Pemerintah tak bisa menunda-nunda lagi dengan alasan apapun. Memang masyarakat
bakal bergejolak. Masyarakat akan shock
dengan melambungnya harga-harga, namun saya yakin, itu hanya sesaat. Masyarakat
akan demam, tapi itu tak akan berlangsung lama. Satu-dua bulan mengalami frustasi,
bulan ketiga akan kembali normal. Kita akan kembali meniti kenyataan
sebagaimana sebelum subsidi dicabut.
Sekarang atau tahun depan,
pemerintah tak bisa terus-terusan memanjakan kita dengan harga minyak yang
murah. Kini atau nanti, subsidi BBM musti dicabut. Suka, tidak suka. Antara pro
dan kontra, pemerintah musti mengambil keputusan, tidak terus-menerus
mengambang, berjalan diatas ketidakpastian. Dan, sekali lagi, pemerintah baru
kita itu telah mengambil keputusan pahit, keputusan yang tak populis, namun
tepat. Saya tidak mengerti ekonomi, saya bukan ahli perminyakan, dan saya juga
bukan dari kalangan “the have”, namun akal sehat menuturkan, bahwa tidak etis,
kalau sampai mempercepat cadangan minyak bumi ini habis.
Proses jadinya minyak itu butuh
waktu ribuan bahkan jutaan tahun, namun karena ulah kita yang berlaku boros
dalam mengeruk kandungan minyak, kiranya hanya butuh 100 tahun saja, minyak
bumi bakal habis. Anak cucu kita kelak tak bisa lagi menikmati sumber daya alam
minyak, yang konon termasuk yang tak bisa diperbarui, akibat tindak pemborosan
kita. Jadi, pencabutan subsidi BBM, secara nurani dan common sense, adalah penetapan yang tepat. Harga solar dan premium menjadi
mahal, adalah keputusan yang harus dilalui pemerintah agar tindak pemborosan
dapat dicegah. Hal yang wajar, kalau kita boros atas penggunaan BBM, lantaran
murah. Hal yang logis, kalau “kiamat” perminyakan bakal dekat, karena
pemerintah terus saja menggelontorkan anggaran mensubsidi BBM, sehingga begitu gampangnya kita mengeluarkan kocek untuk membakarnya.
Sekali lagi, saya bukan pakar
ekonomi, dan tidak memahami hitung-hitungan real “konsumtif” dan “produktif”
masyarakat. Saya hanya melandaskan rasio, bahwa bahan bakar minyak itu
kandungan sumber daya alam yang tak bisa diperbarui. Sehingga cepat tidaknya,
kandungan minyak bumi itu habis, adalah masalah kemauan dan kemampuan kita
untuk menghemat. Dan kita akan “terpaksa” berlaku hemat, kalau harga minyak itu
mahal. Maka saya meyakini, keputusan pencabutan subsidi BBM itu tepat, ialah
demi usaha memperpanjang usia minyak bumi. Generasi yang akan datang, masih
bisa menikmati BBM, masih bisa ikut membakarnya, sebagaimana kesempatan yang kita
nikmati saat ini. Kelak anak cucu kita tidak akan menganggap BBM sebagai mitos,
karena kenyataan masih ada, sehingga tidak diperlukan abstraksi.
Usai Subsidi BBM Dicabut
Sebagai masyarakat, seyogianya
berprasangka positif atas kenaikan harga minyak ini. Dan barangkali yang bisa
kita desakkan kepada pemerintah adalah agar mewujudkan janjinya untuk
pengalihan anggaran pada perbaikan infrastruktur, perbaikan mutu pendidikan,
syukur gratis sampai 12 tahun, dan perbaikan layanan kesehatan, kualitas puskesmas
ditingkatkan. Sedang ke internal kita, ke dalam sanubari ini, adalah
memperbagus sikap atas kenyataan.
Pepatah lama mengatakan: “bersusah-susah
dahulu, bersenang-senang kemudian…..”. “Hemat pangkal kaya”, “rajin pangkal
pandai”, dsb. Ingin bisa menenggak air kelapa, musti menanamnya terlebih dahulu
dan bersabar hingga 8 tahun. Ingin memanen, musti menanam dulu. Pendek kata,
ada proses panjang yang musti dilalui. Ada upaya untuk menunda kesenangan, ada
laku derita sebagai tirakat. Kehidupan
mengajarkan hal itu. Tidak ada yang instan,
serba cepat, dan malas meniti proses.
Induk ayam melakukan tirakat selama 21 hari, untuk
mendapatkan generasi. Kupu-kupu dapat ikut andil melestarikan tanaman tumbuh-tumbuhan,
lewat penyerbukan, lantaran ada keinginan seekor ulat yang menjalankan laku
prihatin menjadi kepompong. Ada proses penundaan untuk meraih kesenangan, ada
laku prihatin untuk menggapai bahagia. Dan ini berlaku bagi segenap makhluk
yang menghuni muka bumi ini. Melakukan apa yang tak disenangi, dan sedia
meninggalkan apa yang disenangi. Makan minum bisa kapan saja dan bisa
sepuas-puasnya, tetapi kalau kita ingin membahagiakan generasi, musti sedia
berpuasa, agar anak-anak kita nanti bisa ikut menikmati.
Demikian pula, dengan pencabutan
subsidi BBM. Saya coba memahami, bahwa kenaikan harga premium, harga solar,
adalah andil kita untuk berpuasa, demi generasi kelak. Pencabutan subsisi BBM
merupakan bagian upaya tirakat kita,
demi kelangsungan negeri dan demi anak cucu kita yang bakal menjejakkan kaki setelah
kurun 1 abad Indonesia merdeka. Nah, bagaimana ….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar