Peneguhan Identitas Diri, Pengakuan Keberagaman
Hari ini saya di rumah. Si bungsu
Rakhe, sedang tak enak badan. Keceriaan yang biasa menghias tingkahnya, kini lesu,
lemah. Bukan lagi ceria, tapi pucat dan cekal-cekil
batuk. Ia mengaduh, giginya sakit. Meski sebetulnya bukan giginya yang masalah,
melainkan gusi yang sedang diributi jamur. Tapi, sudahlah. Saya sudah putuskan
untuk tak pergi meninggalkan rumah. Undangan menghadiri pameran buku, batal
saya penuhi. Pidato dr Mundjirin, yang sedianya ingin saya rekam, sebagai data
testimoni pejabat, soal perhelatan buku, gagal saya lakukan. Ya, tak apalah.
Masih ada kesempatan, di lain waktu, dalam pameran yang berbeda.
Saya bayangkan perhelatan buku
tahun ini, merupakan titik awal pencanangan Ungaran sebagai Kota Literasi.
Impian yang sebetulnya tidak muluk, dan tak bakal menguras anggaran belanja
pemerintah. Impian atas perhatian banyak pihak, terutama pemerintah, dalam
menghargai kerja-kerja literasi. Penghargaan terhadap komunitas sastra,
komunitas budaya, dan para insan yang bergiat di taman baca. Perhatian serius
dari pemegang otoritas, terhadap penulis, komunitas penulis, dan bengkel
pemasyarakatan baca-tulis. Wujud perhatian, tidak sekadar lembaran sertifikat,
tapi jauh yang dibutuhkan adalah penanganan infrastruktur yang mendukung
tradisi literasi. Sekretariat komunitas, sekolah menulis, pengadaan sembako
buku, apresiasi pekan membaca, dan penetapan hari membaca, hari menulis, yang
mesti selesai ditangani oleh pemerintah daerah.
Itu impian. Dan nyatanya hari ini
saya tak pergi kemana-mana. Di rumah menemani Rakhe, yang sedang kehilangan
selera main. Tetapi ? Barangkali hari ini memang pertanda, agar saya tak larut
terjebak dengan mimpi. Saya tak terbuai dengan bayangan-bayangan yang menggoda,
yang meniscayakan orang lain terlibat. Seakan hari ini pertanda, saya mesti
bergerak dalam ruang lingkup kecil. Mulai dari rumah, dari anak-istri, dan
mulai saat ini juga. Tak usah mengharap pemerintah, yang sudah terlampau berat,
beban yang dipikul. Tak usah mengharap masyarakat, yang barangkali tak seseram
yang dibayangkan. Masyarakat, yang merupakan kumpulan banyak kepala, pasti
sedang menabung dan memanggul target masing-masing atas kehidupan, yang tak
mesti sama dengan yang saya angankan.
Hal itu jelas akan terasa aman,
bagi stabilitas keluarga. Saya tak perlu memendam syak prasangka terhadap
masyarakat, yang bisa jadi, tak sepenuhnya benar, seperti yang saya tuduhkan.
Syukurlah ! Hari ini, saya di rumah. Malah bisa efektif, merenung, memapankan
langkah, dan memantapkan target pemuliaan karakter dalam keluarga. Mulai dari
keluarga, tak perlu muluk dan “sok” pahlawan yang memikirkan banyak orang.
Cukup dari lingkup kecil keluarga dulu, untuk mengungkapkan budaya literasi.
Nah, tradisi literasi, saya
pahami, sebagai upaya pencarian identitas, setiap individu menjadi diri
sendiri, tidak jadi orang lain. Tantangan kini, adalah bagaimana melepaskan
diri dari perangkap identitas yang dikonstruksi oleh tradisi populer, sistem kapitalisme,
dan budaya konsumerisme. Tradisi dan sistem yang telah mengintai keseharian
kita, melalui televisi, internet, telepon selular, dan sebagainya. Mencari
identitas sama artinya dengan menelisik proses menjadi, melawan perangkap
kemapanan yang kadung dianggap lumrah
oleh masyarakat. Yakni dengan jalan, pertama,
mengembangkan budaya kritis. Budaya populer, mengondisikan kita untuk bersikap
tidak kritis, menggiring untuk jadi pemuja, peniru, dan pengikut. Maka terasa
mendesak, wacana kritis, menjadi gaya hidup sehari-hari, guna menepis serbuan
populerisme.
Kedua, mengembangkan budaya kreatif. Sikap kritis adalah pintu
masuk ke arah kreativitas. Kreativitas, dibangun melalui kekuatan imajinasi,
yang bebas dari belenggu, tak terikat oleh kelaziman. Ketiga, membangun budaya autentik. Autentik artinya menjadi diri
sendiri, bukan menjadi subjek dari ide, gagasan, dan ideologi pihak lain. Nah,
disini, penting untuk memahami ajaran agama secara mendalam, guna menguatkan
autentisitas diri itu. Menyibak ajaran tasawwuf, sebagai ranah terdalam agama, juga
termasuk yang tak bisa ditunda.
Ketiga upaya tersebut—budaya kritis,
budaya kreatif, dan budaya autentik—bisa membendung cara berpikir populer, yang
serba jalan pintas, dan yang penting peroleh kesenangan. Ketiga usaha itu, yang
kemudian sanggup mengantar kita untuk mengutamakan kualitas jiwa, bukan
penampilan. Mementingkan kedalaman, bukan permukaan yang enggan berpikir, atau malah
tidak sanggup berpikir. Ketiga cara itu, tak lain ialah cara untuk menemukan
identitas diri.
Pencarian identitas adalah sebuah
pengembaraan yang menggiring setiap kita dalam ketegangan: antara kebebasan
individu dan ikatan sosial. Ketegangan antara kepastian dan perubahan,
kenyataan dan kemungkinan. Namun demikian, dari kesemuanya itu, goal yang ingin ditegakkan dari
pencarian identitas adalah pengakuan pluralisme.
Yaitu pandangan yang menghargai kemajemukan serta penghormatan terhadap yang liyan, yang berbeda, yang saling
menghargai warna-warni keyakinan, kerelaan untuk berbagi, keterbukaan untuk
saling belajar, serta keterlibatan diri secara aktif di dalam dialog.
Jadi literasi, yang konon, sekadar
dipahami kemampuan membaca dan menulis, kini sudah melangkah sebagai kemauan memahami konteks dalam teks: mengenali
dan menggunakan fitur seperti alfabet, suara, ejaan, konvensi dan pola teks. Terlibat dalam memaknai teks: memahami
dan menyusun teks tertulis dan teks virtual dan lisan yang berati dari budaya
tertentu, lembaga, keluarga, masyarakat, negara-negara dan lain-lain. Melakukan analisis dan mentransformasikan
teks secara kritis: memahami dan bertindak atas pengetahuan bahwa teks-teks
tidak netral. Teks mewakili pandangan tertentu, diam, mempengaruhi ide-ide
orang. Desain teks dan wacana dapat dikritik dan didesain ulang dengan cara
baru. Dengan kata lain, memahami teks, yang terekam dalam jilidan buku, maupun
peristiwa-peristiwa, adalah upaya peneguhan jati diri, dan perayaan keberagaman.
Dimana peneguhan jati diri dan keragaman kenyataan, tiada lain tiada bukan
ialah persaksian kita atas wajah Tuhan.
Amboi, hari ini saya di rumah. Hari
ini memantapkan cara pandang baru, bahwa literasi merupakan cara untuk mengenal
manusia-manusia lain, cara mengenal diri sendiri, dan cara mengenal Tuhan. “Man arafa nafsah, faqad arafa rabbah”. Maka
literasi adalah cara kita melafalkan syahadat. Dan itu mulai dari diri sendiri serta
keluarga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar