Pejabat Pemerintah Tidak "Jaim"
Ada yang menarik dari acara Mata
Najwa MetroTV tadi. Acara yang dikemas sebagai cara “merayakan Indonesia”,
menghadirkan banyak bintang tamu, seperti Presiden Jokowi, wapres Jusuf Kalla,
mantan wapres Budiono, Ibu Megawati, dan Ahok. Najwa Shihab, sang tuan rumah,
tampil anggun, lebih feminin, meski tetap “angker” kalau mengajukan pertanyaan
ke bintang tamu. Namun tidak seperti biasa, dalam acara tadi, para bintang
tamu, selain Pak Jokowi, dan Ibu Mega, diminta berperan sebagai host layaknya Najwa Shihab. Wapres
dan mantan wapres saling tanya jawab. Mereka berdua, bak sahabat karib, saling ledek, penuh canda tawa. Kemudian yang
tak kalah seru, ketika yang berperan sebagai Najwa, Ahok. Basuki Tjahaya
Purnama, atau lebih akrab di sapa Ahok, giliran mewawancarai Ibu Megawati. Ahok
tampil mengesankan, ceplas-ceplos, kaya kelakar. Ia tak canggung menggoda Ibu
Mega, dan Pak Jokowi, sehingga tawa membuncah dari audiens yang menyesaki rumah
Mata Najwa.
Acara tersebut sungguh mengesankan.
Sebelumnya saya tak pernah melihat, Pak SBY waktu menjabat presiden, dicandai oleh
host TV. Saya tak menyaksikan Pak SBY diledek oleh gubernur. Dan hampir seluruh presiden
sebelum Pak Jokowi, ketika muncul di depan TV, selalu tampil wibawa. Dari mulai
Soeharto hingga SBY, saya ingat, hanya menyisakan Gus Dur saja, yang berani
menabrak “pakem” protokoler istana. Selain ia, merupakan sosok-sosok yang “pintar”
memainkan peran sebagai pejabat yang jauh dari konstituen. Jauh dari rakyat. Selain
Gus Dur, tak ada sosok presiden yang doyan humor, tampil informal.
Tadi beda. Pejabat pemerintah, konon
baru Gus Dur yang melakoninya, dalam Mata Najwa spesial 5 tahun tadi, merupakan gambaran
insan manusia yang natural, apa adanya, suka humor, dan saling canda. Ahok, yang
gubernur, tak canggung mengundang tawa penonton, dengan gaya ceplas-ceplosnya
terhadap Jokowi, sang presiden. “Untung saya bukan menterinya Pak Jokowi, sehingga
bisa makan lima kali sehari”, canda Ahok, yang menyebut jadi kabinetnya Jokowi
itu tak enak, tidak bisa makan bebas. Wapres Jusuf Kalla, jujur, apa adanya,
bahwa kedudukan sebagai orang kedua itu enak sekaligus tak mengenakan. Seolah tak
ingin kalah, Jokowi menyebut wapres JK itu selain matang adalah cepat, namun
tetap saja masih kalah cepat dengan dirinya.
Tontonan yang menghibur,
sekaligus menenteramkan kita, para masyarakat bawah. Para pemimpin kita
sekarang ini merupakan manusia-manusia lumrah yang merakyat. Mereka tak ingin “jaim”
di hadapan sorotan TV yang disaksikan jutaan mata pemirsa rakyat nusantara. Saling
canda tawa yang penuh simpati, saling ejek namun tak menyinggung perasaan,
begitu gamblang mereka lakonkan. Mereka saling tuding, namun tak menyakitkan
hati lawan bicara. Canda yang mereka tampilkan tadi, adalah tanda keakraban. Hal
yang tak lumrah bagi para pejabat periode sebelumnya.
Kata kuncinya adalah “tidak jaim”.
Kira-kira demikian yang terasa dan terbaca, usai menyaksikan acara Mata Najwa. Sebagai
awam, jelas melegakan, dan semoga pejabat di tingkat bawah juga mengikuti rekam
jejak yang di pusat. Pejabat itu bak tetangga samping rumah, yang bisa ditemui
kapan saja kita butuh. Gambaran seorang pejabat, yang tak formalis, yang minus protokoler,
dan gampang diajak ngobrol.
Dari Mata Najwa, saya dapatkan
pesan, pejabat adalah pelayan rakyat, bekerja demi rakyat, maka mesti bergaya
hidup sebagaimana kebanyakan rakyat. Gaya hidup yang tak dibuat-buat, tutur
kata yang santun dan tak menggurui.
Merayakan Indonesia, Mengukuhkan Bahasa Indonesia
Kemudian puncak acara “merayakan
Indonesia”, Najwa minta pada para bintang tamu, untuk menyebutkan satu hal yang
masih patut untuk terus dirayakan dari Indonesia. Hal apa yang paling diingat,
ketika menyebut Indonesia ? “Persatuan dan keadilan”, kata Pak JK. “Negara ada
bagi rakyat”, sambung Ibu Mega. “Generasi muda”, jelas Pak Budiono, “kebhinnekaan
modal utama negeri ini” lanjut Pak Jokowi. Dan “Bahasa Indonesia”, bisik saya ke telinga
Rahma, sang istri. Dengan bahasa Indonesia, persatuannya Pak JK, jadi
kenyataan. Bahasa Indonesia, juga mengukuhkan kerinduan Ibu Mega terkait kehadiran negara dalam sanubari rakyat. Tetapi Bahasa Indonesia,
oleh generasi muda kini, seakan hendak dihilangkan dari pergaulan sehari-hari. Generasi
muda merasakan aroma modern bukan dengan berbahasa Indonesia, tapi yang serba
asing. Terakhir, oleh sebab Bahasa Indonesia, heterogenitas rakyat, atau bhinneka-nya Pak Jokowi,
tetap utuh terjaga.
Saya meyakini, hal yang masih
patut dirayakan dari Indonesia, adalah Bahasa Indonesia. Bahasa yang sederhana,
kosa katanya tidak banyak, namun membebaskan, simbol kesetaraan, dan anti feudal.
Selanjutnya bagaimana dengan Anda ? Apa yang paling Anda ingat dari negeri ini
?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar