Kamis, 13 November 2014

Perbedaan, Silaturahim, hingga Perpustakaan

Risalah "Pasukan Matahari"


Realitas kita adalah realitas perbedaan. Mungkinkah hidup tanpa perbedaan ? Mungkinkah penciptaan, perkembangan dan kemajuan tanpa perbedaan ? Mungkinkah interaksi sosial dan saling berkenalan satu sama lain bakal terjadi tanpa perbedaan ? Sekiranya tidak berganti dan berlainan niscaya tak ada regenerasi dan perkembangan. Sekiranya manusia tidak berbeda satu sama lain, niscaya tidak mengenal diri sendiri. Sekiranya tidak berbeda tingkat dan kesempatan, niscaya kejenuhan dan kejemuhan bakal melanda kehidupan. Sekiranya pendapat dan nalar tidak berbeda, niscaya kejumudan merajalela. Jadi, perbedaan itulah yang melahirkan makna, melahirkan nilai, dan juga rahmat.


Lantaran berbeda, maka ada pergulatan batin, ada putus asa, dan ada perjuangan. Ada yang terkapar, terbanting, kalah serta kemenangan dalam kompetisi, sehingga semangat hidup teruji. Semangat itu yang saya dapati ketika mengikuti halaman demi halaman novel Pasukan Matahari-nya Gol A Gong, Indiva, 2014. Doni, sang tokoh cerita, diceritakan sebagai anak yang tumbuh kembang dalam timangan firdaus, bermental petualang dan keberanian melakukan eksplorasi serta inovasi. Anak berani, bandel, melawan arus, dan kreatif. Seakan Pak Akbar dan Bu Anita, orangtua Doni hendak mengatakan: “nakal tak mengapa asal pemberani, calon penakluk dunia. Silakan kurang ajar, ngawur, nekat asal ksatria, dan tak mencekik kawan yang lemah.” Sekilas memang menjengkelkan dan memusingkan orangtua, tetapi justru yang demikian yang di kemudian hari mengantar si anak sukses menggondol trofi. Memberi ruang anak untuk menikmati masa indah yang penuh fantasi, kaya imajinasi, cemerlang, dan kreatif. Bukankah yang terpenting sebagai orangtua adalah mengantar anak agar sanggup menghadapi hari depan yang jelas berbeda dengan era kini ? Memotivasi anak menghadapi tantangan masa depan yang semakin canggih dan menuntut kecerdasan. Menempa sang matahari esok itu agar sanggup berdiri tegak penuh percaya diri, dan tegar. Akhirnya, sanggup menertawakan dan merelatifkan diri, karena yang agung adalah Allah, Tuhan yang Esa.

Mudah ? Amboi, tidaklah mudah. Menjadi orangtua, menjalani laku berbeda, tak semudah membalik tangan. Menjadi orangtua, yang tentunya banyak impian atas diri sang anak, tidak gampang, ketika mesti berhadapan dengan kenyataan yang seolah tak bersahabat. Doni, anak semata wayang, terlahir normal, cakap, namun oleh sebab keliaran imajinasinya, pada usia 11 tahun, tangan kirinya mesti diamputasi. Dan Pak Akbar, terpaksa tegar dalam “kelainan” si Doni. “Menjadi berbeda ternyata sulit juga,”bisiknya ketika tiba-tiba saja ternyata banyak orang yang meremehkan. Tak sedikit pula yang menaruh iba, tak tega pada Doni. Pergulatan batin yang sulit dikompromikan, apalagi kalau sebelumnya tak memiliki dasar keyakinan yang kuat, pasti akan mudah goyah, dan mengutuk kenyataan serta Tuhan. Tetapi, Pak Akbar berbeda.

Berkat ketelatenan dan ketegaran kedua orangtuanya, Doni dewasa sanggup menaklukan hidup. Menikah dengan Pratiwi, putri Yogya, dan dikaruniai dua anak, Obi dan Aya. Bagi Doni, hidup bukan untuk memupuk atau berebut simpatik dari banyak orang. Hidup bukanlah area jual beli rasa belas kasihan, dan menadahkan tangan pada pihak lain. Meski berlengan satu, dia berhasil menjadi atlit badminton dan mengalahkan yang berlengan dua. Kerja sebagai wartawan, penulis feature yang handal, novelis idealis dan idola bagi teman-temannya serta kemana-mana bisa mengendarai mobil sendiri tanpa jasa sopir.

Kemudian, Gol A Gong, melalui tokoh Doni, seakan juga menyelipkan pesan agar tak melupakan tradisi silaturahmi. Sesuatu yang kini serasa mahal didapat. Sebelum era digital, saya masih rasakan bahwa kehadiran fisik merupakan keharusan untuk membangun komunikasi, saling pengertian, dan berbagi nilai perolehan hidup. Budaya kunjung, saling meminta maaf, terasa kental, sebelum SMS dan BBM merebak mengepung privasi kita. Kini, seiring kemajuan teknologi, pesan silaturahmi pun mengalami penyusutan. Bukan lagi kehadiran diri, melainkan cukup dengan pesan singkat kata-kata. Bukan lagi kedalaman makna diri yang adiluhung, melainkan puas dengan kedangkalan kata yang minus hati.

Peralihan dari budaya kunjung menjadi pesan singkat kata, seakan indikasi bahwa kita mulai enggan dengan kesabaran meniti proses panjang. Indikasi akan kegemaran yang serba cepat saji telah mengakar kuat dalam kesadaran. Tidak telaten meresapi kenikmatan menunda kesenangan, dan rela merendahkan diri sebagai manusia yang serba otomatis, serba efisien. Doni lain. Dari awal kisah, ia telah mengajukan pensiun dini, protes atas pengebiriannya sebagai individu yang rindu kebersamaan. Baginya, merayakan kebersamaannya dengan teman-teman Pasukan Semut maupun Empat Matahari lebih berharga, ketimbang menjalani laku sebagai manusia mesin. Sebuah perilaku yang kurang memperhatikan akal sehat, nilai dan norma. Bertindak bebas tanpa tali kekang, korupsi, selingkuh, tawuran dan segala kriminalitas adalah hasil dari menghilangnya akal sehat dan norma.

Sehingga kalau saat ini kita saksikan maraknya majelis-majelis dzikir, pengajian, arisan ibu-ibu, ngerumpi di pos ronda, menunjukkan bahwa dalam nuraninya, orang enggan menjadi manusia mesin yang serba teknik dan digital. Sebaliknya ingin jadi orang yang utuh, yang harmonis. Doni ingin yang demikian dan menunjukkannya kepada kita. Ia putuskan untuk tak lagi kerja di ibukota, melainkan pindah ke Menes yang menurutnya masih menawarkan kebersamaan, dan murni penuh kasih antar sesama. Ia boyong istri dan kedua anaknya untuk merajut silaturahmi dengan orang-orang Menes. Menurutnya, silaturahmi adalah komunikasi yang tidak dilandasi oleh motif bisnis. Motif yang sebatas ingin mendapatkan keuntungan dari tempat yang ia kunjungi. Silaturahmi bertujuan untuk mengetahui kondisi yang dikunjungi. Bagaimana keadaan ekonominya, kesehatannya, dan uluran apa yang kiranya dapat ia tawarkan untuk meringankan persoalan yang sedang menghimpit. Silaturahmi adalah saling menjenguk keberadaan, menelisik masalah, dan saling tawarkan solusi. Silaturahmi merupakan upaya menghapus syak-wasangka. Sehingga Pratiwi, sebab silaturahmi, yang sebelumnya memendam prasangka, sontak hilang begitu melihat kondisi sebenarnya Nani. Nani bukan lagi sosok yang layak dicemburui, justru sebaliknya, ia adalah gambaran perempuan luar biasa yang telaten menghadapi ujian. Hidup menjanda, dan anaknya yang sulung, Faisal, penderita cerebral palsy. Sehingga serasa wajar saja kalau sesekali butuh seseorang yang bersedia jadi tong sampah keluh kesahnya. Dan Pratiwi maklum adanya.

Bersama Pasukan Semut dan Empat Matahari, rajutan kasih sayang atau silaturahmi itu adalah sebuah keharusan. Harus di tengah gemuruh hedonisme dan pragmatisme. Harus di tengah kemudahan sarana teknologi, di tengah kesulitan mencuri kesempatan, dan di tengah himpitan karir profesi yang membelenggu. Saling tawarkan prestasi hidup, yang dengan senang hati menolong yang lemah. Saling menawarkan kemudahan, adalah kebahagiaan dan bukti keberadaan.

Bukti keberadaan ? Ya, Doni tawarkan nilai itu ke kita. Ketika adanya sama dengan tidak adanya, berarti kehadirannya tidak bermakna. Keberadaannya tak memiliki nilai. Hal ini yang kemudian menjadikan Doni ingin memaksimalkan Rumah Buku Pelangi. Sebuah perpustakaan seukuran 5 x 6 meter, di samping halaman depan rumah, yang merupakan hadiah Pak Akbar kepada Doni usai tangan kirinya diamputasi. Sebuah perpustakaan yang bak gudang ilmu, karena mengoleksi banyak buku, dan acara diskusi di malam minggu.

Kemampuan menulis Doni, yang telah mengantarkannya sebagai wartawan sekaligus novelis, setelah mantab dengan dukungan Pratiwi, akan didarmakannya di Menes. “Kalau semua pergi ke kota, siapa yang akan mengurusi kampung kita ?” jelas Doni pada Nani, saat ia bersama istri dan anak-anak silaturahmi ke rumah Nani. Melanjutkan fungsi Rumah Buku Pelangi, warisan kedua orangtuanya, dengan menjadikannya sebagai rumah belajar. Ia berniat akan mengajari anak-anak kampung menulis, meski tidak harus jadi penulis, melainkan sebagai bekal hidup bahwa sudah saatnya beralih ke otak bukan otot. Mengingat Banten, yang tak bisa dipungkiri terkenal sebagai lahan Para Jawara, tukang pukul. Dan Doni ingin merubah image serba otot itu jadi kerja-kerja yang memaksimalkan otak.

Kegiatan membaca, meminjam buku, dan diskusi dengan beragam tema, tetap dilangsungkan di rumah belajar itu. Tinggal mengasah menulis, yang Doni nilai, masih perlu perhatian serius. Menurutnya, menulis bisa jadi sebuah terapi. Terapi untuk mengendurkan beban pikiran yang menghimpit jiwa. Terapi guna meringankan beban persoalan yang sering menghambat akal sehat dalam menilai kenyataan. Di Rumah Buku Pelangi, ia akan mengembangkannya.

Demikian itu tokoh Doni. Penulis, Gol A Gong, lewat Doni, menuturkan betapa mulia orangtua yang sanggup membina dan memberikan kasih sayangnya kepada anak-anak. Memahami yang unik, yang khas, yang setiap orang berbeda-beda. Berinteraksi positif dengan yang berbeda. Interaksi tak cukup sebatas kenal nama, atau mengetahui latar belakang, melainkan jauh yang lebih penting adalah menyambung persahabatan hingga seutuh hidup. Doni bersama Pasukan Semut dan Empat Matahari-nya, membuktikan semangat silaturahmi itu, dengan menyambangi Anak Krakatau.

Kemudian, Doni, yang tak lain adalah lukisan diri si penulis, Gol A Gong, mempersembahkan diri tinggal di kampung. Sebuah langkah yang menyalahi konvensi atau hal-hal yang sudah mapan “yang ingin hidup enak di Jakarta”, dengan usaha mengembangkan perpustakaan sebagai wahana belajar. Barangkali ini juga sebuah wacana, bahwa perpustakaan tak sebatas layanan pinjam dan baca buku. Perpustakaan merupakan media pengalihan dari otot ke otak. Perpustakaan ialah gudang ilmu sebagai persemaian peradaban yang bakal menghantar anak-anak kampung memahami dan menggenggam dunia. Menaklukan dunia, hingga merelatifkan, karena hakikat sejati adalah Yang Esa. Demikian risalah Pasukan Matahari, yang dapat saya pahami dan selamat membaca !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar