Tahun 2014 sebentar lagi kita
tinggalkan, dan altar 2015 sudah menunggu. Kita patut bersyukur tahun 2014 ini,
tak banyak peristiwa yang menodai kerukunan dan kemajemukan negeri ini. Semoga
pula pesta akhir tahun nanti, yang sebelumnya diawali dengan perayaan Natal,
tidak memungut jatuh korban jiwa sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Riak-riak
dari sebagian kecil elite Islam yang mengusung wacana pengharaman ucapan
Selamat Hari Raya Natal, moga mereda, dan lebih mengutamakan keharmonisan hidup
bersama sebagai sesama penghuni negeri. Umat Islam sanggup menenggang rasa,
sanggup menahan diri dari ambisi untuk show
of force.
Kemampuan menenggang rasa,
kemauan menahan diri, dalam khasanah tasyawuf, disimbolkan dengan ibadah puasa.
Ritual puasa merupakan sarana teknis –khususnya bagi umat Islam agar sanggup
memahami keterbatasan diri. Keterbatasan sebagai makhluk pribadi yang memaksanya untuk berkoeksistensi dengan pihak
lain. Sehingga akan menerbitkan kebersamaan yang kaya empati.
Dari sarana teknis puasa, oleh
Muhammad Zuhri, selalu dituturkan soal kelangkaan sumber daya alam. Seiring
bertambahnya usia zaman, berarti makin susut dan langka sumber daya alam baik
unsur anorganik, nabati maupun binatang. Maka umat mesti menghemat penggunaan
sumber daya alam, tidak berlaku boros yang melupakan anak cucu yang juga
membutuhkan sumber daya alam.
Pendek kata, ritual puasa
merupakan sarana belajar menunda kesenangan demi kelangsungan kehidupan masa
depan yang gemilang. Dalam istilah lain, ritual puasa adalah aktivitas manusia
untuk menunda datangnya kiamat. Menunda datangnya petaka yang bakal merusak
kehidupan umat manusia dan makhluk hidup lainnya yang mendiami kulit bumi ini.
Ritual puasa, di luar perintah
syariat, seyogianya jadi laku keseharian kita. Lantaran esensi dari ritual
tersebut, tak lain adalah kesanggupan menunda keinginan, dan perintah menebar
rahmat kasih sayang yang sebanyak-banyaknya kepada sesama. Pendek kata, puasa
adalah bukti keseriusan kita sebagai
pengabdi. Puasa adalah wujud pembuktian janji, bahwa kita sanggup berkoeksistensi
dengan baik. Yaitu kesanggupan untuk menampilkan diri, pertama ketika kita menampilkan kenyataan diri, dan kedua ketika kita menampilkan sikap terhadap kenyataan.
Kenyataan diri ialah kondisi
diri yang sanggup memancarkan nilai yang mampu mengembangkan pihak lain.
Sedang sikap kita terhadap kenyataan,
adalah kondisi yang sanggup menahan diri untuk tidak menuntut pihak lain
melakukan kebajikan yang diri kita sendiri tidak mampu melakukannya. Menyikapi
pihak lain sebagaimana menyikapi diri sendiri.
Itulah laku tirakat kita yang dapat menyeimbangkan antara kenyataan diri dan sikap
terhadap kenyataan. Semakin seimbang kondisi wujud tersebut, semakin tinggi
pula martabat kita dihadapan kehidupan. Ada dan tiadanya kita berbeda. Ketika ada, akan ada perolehan manfaat yang
dirasa oleh lingkungan sekitar. Sebaliknya ketika tiada, sangat tidak diharapkan oleh lingkungan. Dengan demikian, keseimbangan kondisi itu, jiwa pun berkembang.
Telah memiliki rasa cinta dan kasih sayang yang besar terhadap kehidupan. Dan limpahan
rasa bahagia pun tak terhindarkan lagi. Bahagia lantaran sanggup membantu orang
lain dari jeratan masalah. Menemani yang sedang dirundung sedih, dirundung
sunyi. Kita ada untuk sesama hidup.
Terus...piye jal ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar