Senin, 17 November 2014

Kenyataan Diri, Sikap Terhadap Kenyataan


Tahun 2014 sebentar lagi kita tinggalkan, dan altar 2015 sudah menunggu. Kita patut bersyukur tahun 2014 ini, tak banyak peristiwa yang menodai kerukunan dan kemajemukan negeri ini. Semoga pula pesta akhir tahun nanti, yang sebelumnya diawali dengan perayaan Natal, tidak memungut jatuh korban jiwa sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Riak-riak dari sebagian kecil elite Islam yang mengusung wacana pengharaman ucapan Selamat Hari Raya Natal, moga mereda, dan lebih mengutamakan keharmonisan hidup bersama sebagai sesama penghuni negeri. Umat Islam sanggup menenggang rasa, sanggup menahan diri dari ambisi untuk show of force.


Kemampuan menenggang rasa, kemauan menahan diri, dalam khasanah tasyawuf, disimbolkan dengan ibadah puasa. Ritual puasa merupakan sarana teknis –khususnya bagi umat Islam agar sanggup memahami keterbatasan diri. Keterbatasan sebagai makhluk pribadi yang  memaksanya untuk berkoeksistensi dengan pihak lain. Sehingga akan menerbitkan kebersamaan yang kaya empati.

Dari sarana teknis puasa, oleh Muhammad Zuhri, selalu dituturkan soal kelangkaan sumber daya alam. Seiring bertambahnya usia zaman, berarti makin susut dan langka sumber daya alam baik unsur anorganik, nabati maupun binatang. Maka umat mesti menghemat penggunaan sumber daya alam, tidak berlaku boros yang melupakan anak cucu yang juga membutuhkan sumber daya alam.

Pendek kata, ritual puasa merupakan sarana belajar menunda kesenangan demi kelangsungan kehidupan masa depan yang gemilang. Dalam istilah lain, ritual puasa adalah aktivitas manusia untuk menunda datangnya kiamat. Menunda datangnya petaka yang bakal merusak kehidupan umat manusia dan makhluk hidup lainnya yang mendiami kulit bumi ini.  

Ritual puasa, di luar perintah syariat, seyogianya jadi laku keseharian kita. Lantaran esensi dari ritual tersebut, tak lain adalah kesanggupan menunda keinginan, dan perintah menebar rahmat kasih sayang yang sebanyak-banyaknya kepada sesama. Pendek kata, puasa adalah bukti  keseriusan kita sebagai pengabdi. Puasa adalah wujud pembuktian janji, bahwa kita sanggup berkoeksistensi dengan baik. Yaitu kesanggupan untuk menampilkan diri, pertama ketika kita menampilkan kenyataan diri, dan kedua ketika kita menampilkan sikap  terhadap kenyataan.

Kenyataan diri ialah kondisi diri yang sanggup memancarkan nilai yang mampu mengembangkan pihak lain. Sedang  sikap kita terhadap kenyataan, adalah kondisi yang sanggup menahan diri untuk tidak menuntut pihak lain melakukan kebajikan yang diri kita sendiri tidak mampu melakukannya. Menyikapi pihak lain sebagaimana menyikapi diri sendiri.

Itulah laku tirakat kita yang dapat menyeimbangkan antara kenyataan diri dan sikap terhadap kenyataan. Semakin seimbang kondisi wujud tersebut, semakin tinggi pula martabat kita dihadapan kehidupan. Ada dan tiadanya kita berbeda. Ketika ada, akan ada perolehan manfaat yang dirasa oleh lingkungan sekitar. Sebaliknya ketika tiada, sangat tidak diharapkan oleh lingkungan. Dengan demikian,  keseimbangan kondisi itu, jiwa pun berkembang. Telah memiliki rasa cinta dan kasih sayang yang besar terhadap kehidupan. Dan limpahan rasa bahagia pun tak terhindarkan lagi. Bahagia lantaran sanggup membantu orang lain dari jeratan masalah. Menemani yang sedang dirundung sedih, dirundung sunyi. Kita ada untuk sesama hidup.

Terus...piye jal ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar