Terduduk di teras rumah, sembari
menenteng buku “Borobudur & Peninggalan Nabi Sulaiman”, Rakhe sesekali
menatap semburat teja yang mencat angkasa. Ada kecamuk yang bergemuruh di
dadanya. Dia tidak terima dengan argumen dan opini yang dipaksakan ke tengah
area publik oleh KH Fahmi Basya.
Akhir-akhir ini Rakhe memang jadi uring-uringan
sejak menemukan buku karya sang kiai ini. Beruntung ada Ahimsa, sang kakak
tercinta yang selalu menyediakan diri untuk menjadi objek sasaran gundah dan
dongkolnya. Ahimsa tahu bahwa adiknya ini memang sangat haus pengetahuan,
sehingga dia berusaha selalu berada disampingnya untuk melayani Rakhe beradu
argumen.
Adalah KH Fahmi Basya yang telah bikin
heboh di kalangan pecandu buku. Dia membuat kesimpulan yang konon merupakan
hasil risetnya selama 33 tahun bahwa
Candi Borobudur merupakan warisan Nabi Sulaiman. Arupadhatu, bagian atas
Borobudur, menurutnya, merupakan singgasana Ratu Bilkis atau Ratu Saba’ yang
dipindah oleh seorang ahli kitab dengan kecepatan cahaya dari istana Ratu Boko
ke Borobudur. Dia seminar kemana-mana dengan membawa keyakinan bahwa negeri
Saba’ yang baldatun thayibatun warabbun
ghafur sebagaimana yang tertera dalam kitab Al-Qur’an sesungguhnya adalah
negeri Indonesia.
Menurut Rakhe, kesimpulan yang
diketengahkan KH Fahmi Basya sangat terburu-buru dan takutnya hanya akan
menjadi bahan olokan para peneliti profesional, para arkeolog, dan para
sejarawan. Sebagaimana keterangan
Prasasti Karangtengah yang berangka tahun 824 M, Raja Samaratungga
memerintahkan kepada Gunadharma, pakar
arsitek pada zamannya, agar mendirikan bangunan suci di Bumisambhara.
Dalam hal ini yang dimaksud dengan Bumisambhara atau Sambhara Bahadur tiada
lain adalah Candi Borobudur. Sementara Nabi Sulaiman dan Ratu Saba’
diperkirakan hidup anatara 975 - 935 SM jadi terpaut waktu 1000 tahun, sungguh hal
yang mustahil.
“Ayo makan, Dik !” suara renyah Ahimsa
dari dalam rumah yang tiba-tiba membuyarkan lamunan Rakhe.
“Iya..” jawab Rakhe yang masih
enggan beranjak dari tempat duduknya.
“Ada apa sih, Dik ? Sejak tadi
kuperhatikan serius banget kaya’ Einstein yang lagi keranjingan sama
relativitasnya..” Tanya sang Kakak yang paham
kegemaran Rakhe yang sok berlagak sebagai
pemikir hebat.
“Biasa saja sih, Cuma rada gemes dengan isi buku…” Rakhe
menyodorkan buku Borobudur & Peninggalan Nabi Sulaiman karya KH Fahmi Basya
kepada Ahimsa.
“Apa istimewanya dengan buku ini,
hingga bikin kamu gemes ?”
“Justru tidak istimewa itulah
yang malah bikin gemes, karena
kesimpulan yang ditarik oleh KH Fahmi Basya
ngawur banget.”
“Huss kamu itu lho, seorang Kiai
kamu sebut ngawur. Entar kualat …”
“Ini coba kakak baca sendiri…!”
lagi-lagi Rakhe menunjukan buku karya KH Fahmi Basya kepada kakaknya.
Sesaat Ahimsa pun membolak-balikan
isi buku. Halaman demi halaman coba ia resapi. Tampak kening mulai mengerut
dari dirinya. Dia jadi paham dan wajar saja kalau Rakhe sampai uring-uringan seperti tadi.
“Wuah bagus nih, Dik. KH Fahmi
Basya orang yang sangat jenius. Benar-benar pakar matematika yang tiada
tanding.” Hibur Ahimsa pada adiknya yang masih menekuk muka.
Sembari mengunyah makan, Rakhe
membeberkan ketidaksetujuannya, “Ya, kalau baca pada awal-awal halaman memang
bagus sih, Kak. Beliau sosok yang jenius dan jago matematika. Itu tidak bisa
dipungkiri. Saya akui itu. Kerangka teori yang beliau pakai sungguh cemerlang.
Bagiku ini hal yang baru juga dalam dunia tafsir dan pembacaan atas simbol.
Saya menjadi tahu banyak hal setelah baca buku ini, lantaran buku ini pula saya
jadi tergoda untuk membuka-buka Kitab Al-Qur’an. Beliau mengawali dengan
pertanyaan ‘mengapa 5 dan mengapa di 96’ menjadi hal yang sungguh menarik
setelah dijelaskan dengan grafik batang dan dihubungkan dengan surat 97 yang
jumlah ayatnya ternyata juga 5. Surat 96 dan 97 diapit oleh surat 94 dan 95
disebelah kiri, 98 dan 99 yang masing-masing surat jumlah ayatnya adalah 8.
Sungguh sebuah pembacaan yang luar biasa kan ?”
“Beliau juga mengenalkan istilah
transformasi 19, yang sebelumnya saya pernah dengar dari Quraish Shihab, tentunya Kakak tahu kan
dengan pakar tafsir Indonesia yang satu ini. Quraish Shihab menyebutkan angka
19 sebagai angka istimewa karena jumlah huruf yang membentuk kalimat bismillahirrahmanirahim berjumlah 19.
Dari KH Fahmi Basya justru kita jadi lebih gamblang lagi memahami makna angka
19 yang tidak sekadar menunjukan jumlah
huruf penyusun kalimat basmalah,
melainkan sebuah transformasi surat-surat dalam Al-Qur’an yang tersusun sangat
logis matematis.“
“Selanjutnya para sidang pembaca
buku ini, juga akan diajak bertamasya menyelami ornamen Borobudur dengan balok
Al-Qur’an yang lagi-lagi bergaya matematis logis, guna meyakinkan kita para
pembaca bahwa struktur pembangunan Candi Borobudur akan janggal jikalau
disebutkan sebagai Candi Budha.”
“Kita juga disuguhi
bukti-bukti oleh penulis, bahwa
Borobudur merupakan bangunan yang qur’anik. Kisah-kisah yang tertera dalam
kitab Qur’an diabadikan di relief
dinding Borobudur. Baginya
Borobudur adalah monumen yang bernuansa kitab. Sebut saja kisah Yunus yang
ditelan oleh ikan; perempuan menyingsingkan kain yang disebutnya sebagai Ratu
Saba; relief kapal yang dikatakannya sebagai kapal Nabi Nuh; ada lagi relief
burung berkepala manusia yang menjelaskan burung bisa bicara sebagaimana kisah
burung Hud-Hud .”
“Nah bagus kan, kenapa musti uring-uringan ? “ timpal Ahimsa kemudian
yang bangga pada adiknya kalau sudah menarasikan isi buku. “Terus yang bikin
kamu tidak setuju bagian mana, Dik ?”
“Penasaran…? Prinsipnya saya
tidak antipati dengan gagasan beliau yang menyebutkan bangunan Borobudur sangat
bernuansa kitab. Ornamen yang mengitari seputar Borobudur sungguh luar biasa
dan memang merupakan monumen yang mengabadikan kisah-kisah purba yang terekam
oleh kitab. Cuma kesimpulan beliau bahwa Borobudur merupakan bangunan era
Sulaiman yang saya rada keberatan. Istana Ratu Boko disebutnya sebagai istana
Ratu Saba’. Lebih tidak masuk akal lagi,
Borobudur dan segala pernik di dindingnya merupakan karya Jin bukan manusia.
Jelas hal ini merupakan pemaksaan kesimpulan. Itu artinya sama saja dengan
meremehkan kemampuan menghitung musim para leluhur Jawa. Leluhur kita dulu
dalam mengerjakan suatu hal tidak bisa dilepaskan dengan perhitungan “hari
baik”. Termasuk dalam pengerjaan bangunan candi, leluhur kita dulu juga pakai
perhitungan waktu atau musim kapan saatnya batu mengeras dan melunak. Nah, di
saat batu pada kondisi melunak itulah, mulai dilakukan pekerjaan memahat dan
melunakkan batu. Jadi batu-batu itu memang kemungkinan dilunakkan, sebagaimana
persangkaan KH Fahmi Basya, ada landasan asal-usulnya. Tapi bukan oleh para
Jin, melainkan tetap oleh tangan terampil manusia.”
“Keberatan yang kedua, bagi saya
kisah-kisah yang termaktub dalam kitab bukanlah sebagai informasi sejarah,
melainkan suatu seruan moral. Sebagai seruan moral yang terekam dalam kitab suci jelas tidak
memadai kalau disajikan dalam bentuk sistematika empiris rasional ketat, tetapi
sepanjang yang saya tahu, sering tersaji dalam alam puisi yang sarat simbol.
Kemampuan Sulaiman yang dapat mengendalikan bangsa Jin, berdialog dengan dunia
binatang, dan pemindahan singgasana Ratu Saba ke istana Sulaiman, serta
tunduknya Ratu Saba’ kepada Sulaiman, itu semua adalah bahasa simbol sehingga
jelas bukan sebagai informasi sejarah yang empiris. Maka memakai kisah-kisah
dan keterangan dari kitab Al-Qur’an untuk menilai fakta sejarah dan main
mutlak-mutlakan atas kebenaran bukanlah tindakan arif dan jujur pada sejarah.
Kitab Al-Qur’an bekerja dengan bahasa simbol, puisi dan misteri. Artinya dunia
kitab Al-Qur’an, termasuk kitab-kitab selain Al-Qur’an, adalah jelas sekaligus
tidak jelas, dapat dipahami sekaligus mustahil dipahami. Kehadiran kitab adalah
pertanda yang tadinya arogan dapat melunak dan rendah hati. Hidup dalam
kedewasaan yang saling berbela rasa dan berbelas kasih. Bukan untuk memonopoli
pijar kebenaran termasuk atas kenyataan sejarah.
Sebagaimana kisah Isra’Mi’raj-nya Nabi Muhammad yang lazim
dipahami sebagai mukjizat agung Nabi dalam menembus ruang waktu, dan diyakini
sebagai kejadian nyata yang menimpa beliau, kisah tersebut akan logis kiranya
dihayati sebagai simbolisasi tangga atau kedudukan eksistensi manusia.
Demikianlah kitab suci Al-Qur’an bukan sebagi kitab sejarah. Lantaran
relief-relief di dinding Borobudur merekam kisah-kisah Al-Qur’an, juga bukan
berarti sebagai warisan salah satu nabi yang disebutkan Al-Qur’an.”
“Jadi ….?” Sanggah sang Kakak.
“Iya begitu….” Senyum tipis Rakhe
bangga, habis presentasi di hadapan Ahimsa sang Kakak yang setia menjadi
pendengarnya.
“Ya…ya… Borobudur karya manusia.
Bukan karya Jin….” Sahut Ahimsa sambil memeluk Rakhe sang adik yang
membanggakan ini.
Ungaran, 18/11-‘14

Tidak ada komentar:
Posting Komentar