Perubahan adalah sifat alam yang telah kita ketahui adanya.
Namun tidak setiap orang siap untuk melakukan perubahan, baik internal maupun
eksternal. Ketika ada yang siap melakukan perubahan, ternyata pola
transformasinya juga tidak mesti sama. Ada yang mulai dari internalisasi, baru
kemudian eksternalisasi. Ada pula yang sebaliknya, mulai dari eksternalisasi,
kemudian baru mundur ke belakang menengok ke diri sendiri. Ada yang tidak kedua-duanya sekaligus, yaitu
hanya berkutat pada internalisasi saja tanpa eksternalisasi. Pun sebaliknya,
eksternalisasi tanpa internalisasi. Lantas mana yang tepat ? Hehehe…..ini
masalah selera. Selera bahwa perubahan itu “by me” atau “as me”. By me,
maksudnya saya membuat perubahan tapi ‘di sana’, bukan untuk diri saya. Sedangkan
as me, saya adalah perubahan itu sendiri.
Jadi pilihan mana yang lebih tepat itu adalah selera. Karena
yang jadi masalah adalah kalau tidak punya selera untuk membuat perubahan. Itu
yang repot. Tetapi ini juga tidak berarti yang berselera membuat perubahan itu
sudah tepat. Tidak ! Tidak mesti tepat, kalau ternyata yang terjadi adalah ia
bersikukuh hanya pada satu selera saja dan menegasikan yang lain. Sikap menegasikan itu tak dibenarkan, namun
justru itu yang pernah saya lakukan. Saya pernah anggap remeh orang-orang yang
berpikir mikro. Saat itu, saya menganggap bahwa perubahan itu hanya tepat
dengan pola makro, yaitu perubahan yang dimulai dari hal-hal besar dan sulit, serta
berjangkau luas maka dengan sendirinya yang sepele dan remeh akan ikut berubah.
Ketika saya mendapat amanah sebagai bupati FTBM Kab.
Semarang, seakan kian menegaskan cara pikir “sesat” yang saya anut. Saat itu, saya
alergi dengan istilah gerakan literasi lokal yang didengungkan oleh Bung Wien
Muldian. Alergi, sekali lagi karena saya memahami bahwa gerakan perubahan itu
adalah top down. Dari hal yang besar, berjarak pandang luas, menuju ke yang
kecil, bersifat lokal dan remeh temeh. Dan terus terang, saya baru ngeh dengan
istilah lokal, ketika melihat langsung kiprah Mas Bahrudin bersama Qoriyah
Thoyibah-nya di Salatiga. Saya mulai sedikit paham dengan maksud gerakan
literasi lokal, yang kemudian mengantar saya untuk lebih serius menggeluti Komunitas Penulis Ubgaran [KPU].
Dengan KPU, dapat berinteraksi dengan sejarah lokal, leluasa bersama
orang-orang lokal, bangun wacana lokal.
Hmmm…entah ini sebagai penurunan atau apalah, saya belum
bisa merumuskannya. Yang jelas, usai acara gema literasi, Agustus 2014, muncul
rasa enggan dengan Forum TBM.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar