Jumat, 14 November 2014

Literasi Lokal


Perubahan adalah sifat alam yang telah kita ketahui adanya. Namun tidak setiap orang siap untuk melakukan perubahan, baik internal maupun eksternal. Ketika ada yang siap melakukan perubahan, ternyata pola transformasinya juga tidak mesti sama. Ada yang mulai dari internalisasi, baru kemudian eksternalisasi. Ada pula yang sebaliknya, mulai dari eksternalisasi, kemudian baru mundur ke belakang menengok ke diri sendiri.  Ada yang tidak kedua-duanya sekaligus, yaitu hanya berkutat pada internalisasi saja tanpa eksternalisasi. Pun sebaliknya, eksternalisasi tanpa internalisasi. Lantas mana yang tepat ? Hehehe…..ini masalah selera. Selera bahwa perubahan itu “by me” atau “as me”. By me, maksudnya saya membuat perubahan tapi ‘di sana’, bukan untuk diri saya. Sedangkan as me, saya adalah perubahan itu sendiri.

Jadi pilihan mana yang lebih tepat itu adalah selera. Karena yang jadi masalah adalah kalau tidak punya selera untuk membuat perubahan. Itu yang repot. Tetapi ini juga tidak berarti yang berselera membuat perubahan itu sudah tepat. Tidak ! Tidak mesti tepat, kalau ternyata yang terjadi adalah ia bersikukuh hanya pada satu selera saja dan menegasikan yang lain.  Sikap menegasikan itu tak dibenarkan, namun justru itu yang pernah saya lakukan. Saya pernah anggap remeh orang-orang yang berpikir mikro. Saat itu, saya menganggap bahwa perubahan itu hanya tepat dengan pola makro, yaitu perubahan yang dimulai dari hal-hal besar dan sulit, serta berjangkau luas maka dengan sendirinya yang sepele dan remeh akan ikut berubah.

Ketika saya mendapat amanah sebagai bupati FTBM Kab. Semarang, seakan kian menegaskan cara pikir “sesat” yang saya anut. Saat itu, saya alergi dengan istilah gerakan literasi lokal yang didengungkan oleh Bung Wien Muldian. Alergi, sekali lagi karena saya memahami bahwa gerakan perubahan itu adalah top down. Dari hal yang besar, berjarak pandang luas, menuju ke yang kecil, bersifat lokal dan remeh temeh. Dan terus terang, saya baru ngeh dengan istilah lokal, ketika melihat langsung kiprah Mas Bahrudin bersama Qoriyah Thoyibah-nya di Salatiga. Saya mulai sedikit paham dengan maksud gerakan literasi lokal, yang kemudian mengantar saya untuk lebih serius menggeluti Komunitas Penulis Ubgaran [KPU]. Dengan KPU, dapat berinteraksi dengan sejarah lokal, leluasa bersama orang-orang lokal, bangun wacana lokal.

Hmmm…entah ini sebagai penurunan atau apalah, saya belum bisa merumuskannya. Yang jelas, usai acara gema literasi, Agustus 2014, muncul rasa enggan dengan Forum TBM. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar