![]() |
| padahal minat baca anak-anak itu sangat luar biasa...[dok Ardie] |
Bukan perkara yang mudah untuk menjaga
diri agar tetap dalam kondisi semangat. Sebab jiwa semangat itu terbit dari
letupan hati yang sudah dari sononya memang tersabda untuk kadang naik kadang
turun. Jiwa semangat menaik, ketika dalam keadaan kondisi emosi yang stabil.
Jauh dari gaduh kepentingan dan keinginan yang hanya bertopang pada alat. Mampu
menyusun dan menjalankan kehendak untuk menjaga prestasi. Pendek kata, semangat
terjaga ketika sanggup memilah antara keinginan dengan kehendak. Sanggup menepis
keinginan dengan mengutamakan kehendak.
Sebaliknya di kutub yang berbeda,
semangat akan menurun ketika emosi labil. Tidak tahu yang mana yang musti diutamakan. Tidak mampu membedakan
antara dorongan keinginan dan kebutuhan kehendak. Bukan prestasi yang dikejar,
melainkan prestisius. Bukan kedalaman yang dicari melainkan kedangkalan. Dangkal
lantaran proses dan outputnya bersifat sesaat. Dangkal lantaran tidak tahan godaan
terhadap segala yang instan, cepat saji, dan berjangka pendek. Singkatnya,
semangat yang menurun, terbaca dari keadaan diri yang tak lagi sanggup menunda
kesenangan. Kondisi yang demikian pasti tidak kita inginkan, sebab akal sehat
kita akan berpihak pada yang benar, baik, dan indah.
Persoalan menjaga semangat, jadi
serasa amat penting bagi kita semua, terutama yang sudah terlanjur mendeklarasikan
diri sebagai aktivis sosial semisal literasi yang bersama-sama kita geluti ini.
Aktivitas literasi yang berupa kampanye agar gemar membaca hingga detik ini sering
terbentur oleh kenyataan bahwa membaca masih merupakan kebutuhan tertier. Hal
ini kalau kita merujuk pada tiga macam kebutuhan, yaitu: kebutuhan primer,
kebutuhan sekunder, dan kebutuhan tertier atau mewah. Disebut kebutuhan primer
lantaran kehadirannya yang sarat nilai akan eksistensi diri. Ketiadaannya jelas
akan menggugurkan kehadiran seseorang di tengah lingkung sosial. Sedang
kebutuhan sekunder berfungsi untuk mendukung kebutuhan primer. Kehadirannya
penting tapi bukan hal utama yang ketiadaannya bakal menghilangkan perasaan
meng-ada. Nah, lain dengan kebutuhan akan kemewahan yang sifatnya mubah atau
dibolehkan. Ketiadaannya hanya sedikit pengaruhnya atas eksistensi seseorang.
Kehadirannya sebatas pelengkap yang tak penting dan utama. Kebutuhan tingkat
akhir atas sesuatu yang hanya diminati oleh segelintir orang.
Kegiatan membaca belum masuk jadi
kebutuhan sekunder lebih-lebih lagi kebutuhan primer. Masih bercokol anggapan
bahwa membaca itu membosankan. Membaca bukan hal yang penting dan bukan
keutamaan. Membaca hanya akan membuang-buang waktu yang tersisa. Hanya akan
menabung kesiaan. Merupakan perbuatan yang merugi dan tidak sebagai tanda amal
kebajikan. Masih banyak yang menganggap bahwa membaca tidak akan berpengaruh
pada kehidupannya. Masih ada anggapan miring kalau membaca tak akan mendukung
seseorang untuk bisa lolos dari himpitan hidup, lepas dari jebakan kemiskinan,
dan atau sama sekali tidak bakal menyorong individu untuk menggapai
kesejahteraan.
Memang telah terpatri amanat
untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Telah termaktub titipan untuk bersama
meraih budaya cerdas. Namun saya rasa dari keempat amanat---membentuk
pemerintah yang melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia---kiranya
mencerdaskan kehidupan bangsa-lah yang masih terbengkalai dan luput dari
perhatian kebanyakan para pengambil kebijakan. Sehingga gerakan membaca yang
merupakan sendi utama dalam upaya mencerdaskan kehidupan masyarakat masih
sebatas cita-cita luhur yang ekslusif. Eksklusif lantaran hanya diminati oleh
sekelompok kecil orang yang minim sokongan dari pemegang otoritas Negara.
Eksklusif karena para aktivis literasi sampai detik ini masih terus bergumul
dengan kestabilan semangat. Terus-menerus berhadapan dengan pilihan, akan terus
setia sebagai pejuang literasi atau menyerah kalah dengan keadaan. Akan melaju gagah
sebagai aktivis sosial yang memasyarakatkan arti penting membaca atau mundur
oleh sebab arus deras konsumerisme dan hedonisme. Berani melawan arus atau
surut bersama arus.
Jawabnya hanya tertumpu pada
keyakinan yang seiring dalam merawat semangat. Dan semoga kita-lah itu….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar