Jumat, 14 November 2014

Memelihara Semangat

padahal minat baca anak-anak itu sangat luar biasa...[dok Ardie]

Bukan perkara yang mudah untuk menjaga diri agar tetap dalam kondisi semangat. Sebab jiwa semangat itu terbit dari letupan hati yang sudah dari sononya memang tersabda untuk kadang naik kadang turun. Jiwa semangat menaik, ketika dalam keadaan kondisi emosi yang stabil. Jauh dari gaduh kepentingan dan keinginan yang hanya bertopang pada alat. Mampu menyusun dan menjalankan kehendak untuk menjaga prestasi. Pendek kata, semangat terjaga ketika sanggup memilah antara keinginan dengan kehendak. Sanggup menepis keinginan dengan mengutamakan kehendak.

Sebaliknya di kutub yang berbeda, semangat akan menurun ketika emosi labil. Tidak tahu yang mana  yang musti diutamakan. Tidak mampu membedakan antara dorongan keinginan dan kebutuhan kehendak. Bukan prestasi yang dikejar, melainkan prestisius. Bukan kedalaman yang dicari melainkan kedangkalan. Dangkal lantaran proses dan outputnya bersifat sesaat. Dangkal lantaran tidak tahan godaan terhadap segala yang instan, cepat saji, dan berjangka pendek. Singkatnya, semangat yang menurun, terbaca dari keadaan diri yang tak lagi sanggup menunda kesenangan. Kondisi yang demikian pasti tidak kita inginkan, sebab akal sehat kita akan berpihak pada yang benar, baik, dan indah.

Persoalan menjaga semangat, jadi serasa amat penting bagi kita semua, terutama yang sudah terlanjur mendeklarasikan diri sebagai aktivis sosial semisal literasi yang bersama-sama kita geluti ini. Aktivitas literasi yang berupa kampanye agar gemar membaca hingga detik ini sering terbentur oleh kenyataan bahwa membaca masih merupakan kebutuhan tertier. Hal ini kalau kita merujuk pada tiga macam kebutuhan, yaitu: kebutuhan primer, kebutuhan sekunder, dan kebutuhan tertier atau mewah. Disebut kebutuhan primer lantaran kehadirannya yang sarat nilai akan eksistensi diri. Ketiadaannya jelas akan menggugurkan kehadiran seseorang di tengah lingkung sosial. Sedang kebutuhan sekunder berfungsi untuk mendukung kebutuhan primer. Kehadirannya penting tapi bukan hal utama yang ketiadaannya bakal menghilangkan perasaan meng-ada. Nah, lain dengan kebutuhan akan kemewahan yang sifatnya mubah atau dibolehkan. Ketiadaannya hanya sedikit pengaruhnya atas eksistensi seseorang. Kehadirannya sebatas pelengkap yang tak penting dan utama. Kebutuhan tingkat akhir atas sesuatu yang hanya diminati oleh segelintir orang.

Kegiatan membaca belum masuk jadi kebutuhan sekunder lebih-lebih lagi kebutuhan primer. Masih bercokol anggapan bahwa membaca itu membosankan. Membaca bukan hal yang penting dan bukan keutamaan. Membaca hanya akan membuang-buang waktu yang tersisa. Hanya akan menabung kesiaan. Merupakan perbuatan yang merugi dan tidak sebagai tanda amal kebajikan. Masih banyak yang menganggap bahwa membaca tidak akan berpengaruh pada kehidupannya. Masih ada anggapan miring kalau membaca tak akan mendukung seseorang untuk bisa lolos dari himpitan hidup, lepas dari jebakan kemiskinan, dan atau sama sekali tidak bakal menyorong individu untuk menggapai kesejahteraan.  

Memang telah terpatri amanat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Telah termaktub titipan untuk bersama meraih budaya cerdas. Namun saya rasa dari keempat amanat---membentuk pemerintah yang melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia---kiranya mencerdaskan kehidupan bangsa-lah yang masih terbengkalai dan luput dari perhatian kebanyakan para pengambil kebijakan. Sehingga gerakan membaca yang merupakan sendi utama dalam upaya mencerdaskan kehidupan masyarakat masih sebatas cita-cita luhur yang ekslusif. Eksklusif lantaran hanya diminati oleh sekelompok kecil orang yang minim sokongan dari pemegang otoritas Negara. Eksklusif karena para aktivis literasi sampai detik ini masih terus bergumul dengan kestabilan semangat. Terus-menerus berhadapan dengan pilihan, akan terus setia sebagai pejuang literasi atau menyerah kalah dengan keadaan. Akan melaju gagah sebagai aktivis sosial yang memasyarakatkan arti penting membaca atau mundur oleh sebab arus deras konsumerisme dan hedonisme. Berani melawan arus atau surut bersama arus.

Jawabnya hanya tertumpu pada keyakinan yang seiring dalam merawat semangat. Dan semoga kita-lah itu….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar