Tidak sebagaimana biasa yang hanya bertahan kurang-lebih 30
menit, dalam dua hari ini, serasa istimewa karena bisa bertahan lama duduk di depan layar laptop. Anak-anak sudah asyik merajut mimpi sedari awal waktu. Kemungkinan
mereka capek bermain lego, bermain balok…
![]() |
| lagi asyik main balok.... [dok Ardie] |
Sembari mematung depan layar, saya bayangkan masa depan
mereka yang masih belantara gelap. Meski gelap namun suci, sebagaimana lafadz
“subhanallah” yang kita dendangkan saban hari usai menegakkan shalat, adalah
apresiasi kedalaman jiwa kita atas masa depan yang suci. Masa depan yang
merupakan rentetan waktu belum terjadi, steril dari noda perbuatan manusia dan
sepenuhnya jadi rahasia Ilahi. Sebab rahasia dan belum jelas gambaran petanya,
sering dilukiskan sebagai gelap. Terekam dalam kitab suci, Nabi SAW pernah diperjalankan
di malam hari yang gelap, yang selanjutnya bercengkerama intim di Sidratul
Muntaha, dan shalat, perolehan beliau yang diwariskan ke kita sebagai bekal
berharga untuk menembus belantara gelap.
Saya bayangkan masa depan anak-anak itu. Berbekal shalat
yang masih dalam tahapan latihan bagi alam sadar mereka, sering benturan dengan
“Masha n Bear”, atau “Upin Ipin”. Magnet TV memang luar biasa. Tidak hanya
anak-anak yang kecanduan, para emak dan bapak pun tak ketinggalan channel untuk
pantengin sembari lepaskan penat. Tak jarang, keributan kerap terjadi hanya
sekadar samakan persepsi untuk tentukan satu stasiun sebagai tontonan bersama.
Sebagai orangtua, sebagai kepala rumah tangga, untuk urusan
TV sering saya limpahkan ke istri. Lebih gampang seorang emak dalam memberikan
pengertian kepada anak-anak, ketimbang saya yang hanya bermodal bentakan dan
suara lantang. Bentakan dan suara keras memang ampuh untuk meredam
“demonstrasi” anak-anak, namun jelas akan berbekas negatif dalam relung jiwa
mereka, dus otomatis masa depan terganggu. Saya tak menginginkan tabungan masa
depan mereka suram alias minus, hanya demi hening sesaat dan pura-pura menurut,
lantaran takut dengan bentakan. Tidak ! “Tuhan mudahkan diri ini selalu dalam
kesadaran penuh !”
Saya bayangkan masa depan Ahimsa dan Rakhe. Lagi-lagi
berbekal 94 “Allahu Akbar” dalam 5 waktu, saya sisipkan lantunan doa dan
puja-puji, agar kelak mereka sanggup memunggungi dunia, membesarkan Tuhan. Saya
bayangkan anak-anak ini sanggup memasrahkan diri ke hadapan Tuhan, mengaplikasi
dan menerjemahkan asma-Nya sebagai teladan, sifat dan sikap keseharian.
94 kali takbir, 94 kali pula berusaha untuk mengharamkan
segala hal di luar Allah. Lantaran kebesaran-Nya, segala yang di luar itu
menjadi tidak berarti. Dunia serasa kecil, termasuk diri ini kerdil bak debu
dipadang pasir di hadapan-Nya.
……Tuhan, hanya Engkau yang besar. Selain Engkau kerdil….dan
anak-anakku, lihat tatap wajah-Nya !

Tidak ada komentar:
Posting Komentar