Jumat, 14 November 2014

Shalat Vs TV


Tidak sebagaimana biasa yang hanya bertahan kurang-lebih 30 menit, dalam dua hari ini, serasa istimewa karena bisa bertahan lama duduk di depan layar laptop. Anak-anak sudah asyik merajut mimpi sedari awal waktu. Kemungkinan mereka capek bermain lego, bermain balok…

lagi asyik main balok.... [dok Ardie]


Sembari mematung depan layar, saya bayangkan masa depan mereka yang masih belantara gelap. Meski gelap namun suci, sebagaimana lafadz “subhanallah” yang kita dendangkan saban hari usai menegakkan shalat, adalah apresiasi kedalaman jiwa kita atas masa depan yang suci. Masa depan yang merupakan rentetan waktu belum terjadi, steril dari noda perbuatan manusia dan sepenuhnya jadi rahasia Ilahi. Sebab rahasia dan belum jelas gambaran petanya, sering dilukiskan sebagai gelap. Terekam dalam kitab suci, Nabi SAW pernah diperjalankan di malam hari yang gelap, yang selanjutnya bercengkerama intim di Sidratul Muntaha, dan shalat, perolehan beliau yang diwariskan ke kita sebagai bekal berharga untuk menembus belantara gelap.

Saya bayangkan masa depan anak-anak itu. Berbekal shalat yang masih dalam tahapan latihan bagi alam sadar mereka, sering benturan dengan “Masha n Bear”, atau “Upin Ipin”. Magnet TV memang luar biasa. Tidak hanya anak-anak yang kecanduan, para emak dan bapak pun tak ketinggalan channel untuk pantengin sembari lepaskan penat. Tak jarang, keributan kerap terjadi hanya sekadar samakan persepsi untuk tentukan satu stasiun sebagai tontonan bersama.

Sebagai orangtua, sebagai kepala rumah tangga, untuk urusan TV sering saya limpahkan ke istri. Lebih gampang seorang emak dalam memberikan pengertian kepada anak-anak, ketimbang saya yang hanya bermodal bentakan dan suara lantang. Bentakan dan suara keras memang ampuh untuk meredam “demonstrasi” anak-anak, namun jelas akan berbekas negatif dalam relung jiwa mereka, dus otomatis masa depan terganggu. Saya tak menginginkan tabungan masa depan mereka suram alias minus, hanya demi hening sesaat dan pura-pura menurut, lantaran takut dengan bentakan. Tidak ! “Tuhan mudahkan diri ini selalu dalam kesadaran penuh !”

Saya bayangkan masa depan Ahimsa dan Rakhe. Lagi-lagi berbekal 94 “Allahu Akbar” dalam 5 waktu, saya sisipkan lantunan doa dan puja-puji, agar kelak mereka sanggup memunggungi dunia, membesarkan Tuhan. Saya bayangkan anak-anak ini sanggup memasrahkan diri ke hadapan Tuhan, mengaplikasi dan menerjemahkan asma-Nya sebagai teladan, sifat dan sikap keseharian.

94 kali takbir, 94 kali pula berusaha untuk mengharamkan segala hal di luar Allah. Lantaran kebesaran-Nya, segala yang di luar itu menjadi tidak berarti. Dunia serasa kecil, termasuk diri ini kerdil bak debu dipadang pasir di hadapan-Nya.

……Tuhan, hanya Engkau yang besar. Selain Engkau kerdil….dan anak-anakku, lihat tatap wajah-Nya !   



Tidak ada komentar:

Posting Komentar