Sabtu, 22 November 2014

Sabtu (2)


Pasar : Titik Beda & Titik Temu

Pasar Batik Pekalongan [dok Ardie]

Pasar, sebagaimana makna lain dari kata pekan, sederhananya ialah pertemuan penjual dengan pembeli. Penjual menyajikan barang-barang kebutuhan, kemudian ditawarkan kepada pembeli. Barang-barang yang hadir di pasar, langsung jadi komoditi, hadir untuk dipertukarkan. Pembeli, yang sebab terdesak oleh kebutuhan akan barang, barter kepada penjual dengan uang. Disini jelas, pasar jadi wahana orang-orang bertemu, dengan fungsi yang berbeda, sebagai penjual, sebagai pembeli. Pasar, juga merupakan perkumpulan barang untuk dipertukarkan. Pasar pula, kita jadi tergila-gila, mabuk duit. Tanpa uang, proses barter, tak terjadi. Tanpa duit, onggokan benda dan barang-barang, jadi tak bermakna, tak punya nilai.

Wahana bertemunya orang-orang, mengandaikan kebersamaan. Dan itu yang terjadi. Pasar, seolah merupakan adegan drama kebersamaan. Pasar, hendak menuturkan bahwa kesendirian itu tak mungkin, kebersamaan adalah niscaya. Kebersamaan yang bagaimana ? Kebersamaan semu. Kenapa semu ? Semu, lantaran yang terjadi adalah keadaan yang mendekati. Semu, karena bukan yang sebenarnya, meski tampak asli. Kebersamaan yang terjadi itu ternyata bukan kebersamaan yang sesungguhnya, setidaknya, agak mendekati. Menilik, kebersamaan merupakan tindakan bertujuan yang sepaham, yang pelakunya banyak.

Menyelami kebersamaan di pasar, barangkali memang sesungguhnya yang terjadi bukanlah kebersamaan, melainkan egois, individualis, kesunyian, dan kesendirian. Fisik bertemu, saling cakap dan tatap muka, namun saling bawa kepentingannya sendiri. Sesama penjual, duduk berdampingan, bahkan ada yang saling berhadapan, di kedalaman relung dirinya, saling ingin menjatuhkan. Ia tak rela, kawan seprofesinya raih keberuntungan yang melebihi dirinya. Harus dibawahnya, syukur, kalau bisa, malah sama sekali tak mendapatkan keberuntungan alias merugi. Saling jegal, saling sikut, tipu muslihat, seolah hukum wajib di pasar. Penghuni pasar, sadar, bahwa satu sama lain diantara mereka, sesungguhnya hanya sedang memainkan peran. Yang mereka lakukan bukan yang sebenarnya.

Demikian pula pembeli. Dari rumah, sudah membawa misi pribadi untuk dipertaruhkan di pasar. Ia akan mempertaruhkan segala cara teknik negosiasi, untuk mendapatkan keinginannya. Siapa yang lihai dan kuat, itu pemenangnya. Yang pasrah, ikhlas, sudah pasti bakal kalah dalam persaingan. Dus dengan demikian, hukum pasar, tak lebih dari hukum rimba. Yang besar, yang kuat, yang licik, lihai, itulah pemenang. Aturan yang berlaku, kerelaan sama artinya dengan kekalahan. Jadi kalau sosialisme pernah mengandaikan sama rata, sama rasa, jelas tak berlaku, utopia dan omong kosong. Pasar adalah medan persaingan, bukan jamuan saling meneguh, bukan untuk saling menguatkan.

Dengan demikian pasar adalah presentasi paham kapitalisme. Persaingan modal benda-benda, saling unjuk diri tawarkan materi. Pasar juga merupakan wujud nyata paham individualisme. Doktrin yang amat menekankan perorangan atau pribadi. Setiap orang itu unik, tak ada duanya, dan berharga. Setiap orang merupakan pribadi yang otonom, berdiri sendiri. Setiap orang berhak jadi diri sendiri. Untuk itu setiap individu berhak mempergunakan kebebasan dan inisiatifnya, berhak mencapai kepenuhan diri.  Pertaruhan keinginan ambisi masing-masing, dan itu sebuah “kebenaran”.

Pasar adalah liberalisme. Artinya ‘bebas’, ‘merdeka’, ‘tak terikat’, dan ‘tak tergantung’. Paham yang menjunjung tinggi martabat pribadi dan kemerdekaan. Mengakui kebaikan dan kemampuan manusia untuk mengembangkan segenap potensi dan hidupnya. Paham yang justru mengharamkan segala usaha larangan, kekangan, demi kemakmuran orang-perorangan. Kebebasan mengungkapkan keunikan dirinya yang tanpa sungkan dan steril dari perasaan akan dipersalahkan. Dan pasar merupakan lahan potensial untuk mengembangkan “hasrat” dan “itikad baik” tersebut.

Benarkah demikian ? Keyakinan bahwa manusia itu pribadi unik, pribadi yang memiliki kekhasan, saya juga meyakini yang demikian. Keyakinan bahwa pribadi manusia itu pada dasarnya baik, condong pada kebaikan, mencari, menghayati, dan melaksanakannya, itu pula yang saya pegang teguh. Tetapi akan lain jluntrungannya, jika pengagungan atas keunikan, penghargaan yang berporos pada pribadi perorangan, malah jadi pembenar atas norma “semau gue”. Yang baik adalah baik sesuai selera pribadi. Yang jahat adalah jahat menurut cita rasa pribadi. Jadi sangat subjektif dan relatif, yang kadang parameternya sebatas naluri dan indriawi. Naluri, perbuatan yang berdasar insting semata tanpa penalaran. Orang bertindak berdasar dorongan sesaat minus pertimbangan. Etika indriawi, membuat si pelaku berbuat berdasarkan dorongan nafsu.

Pandangan yang terlampau optimis tentang kebaikan manusia dan kemampuannya berbuat baik, seakan mengecilkan peran penyuluhan, peraturan dan hukum. Peraturan dan hukum, tidak dibutuhkan lagi, lantaran manusia sudah pasti baik dan sanggup mengerjakannya. Benarkah ? Paham liberalisme, seolah lupa, bahwa daya tarik pada kebajikan, ternyata juga mampu mendorong orang berbuat sesuatu untuk mengejarnya, yang justru menihilkan norma umum. Liberalisme mendorong sikap dan pendirian subjektif, bahwa yang baik hanyalah yang dilihat, yang mampu dikerjakan, dan menafikan aturan nilai yang lebih tinggi.

Namun demikian, sisi yang beda, dan ini yang pasti, bahwa pasar adalah titik temu. Di sana memang terjadi persemaian paham individualis dan liberalis, yang tak lain adalah pengakuan titik beda. Tetapi pasar juga merupakan titik temu dua atau lebih individu yang berbeda kepentingan, saling mengendurkan kepentingan atau ego pribadi, demi kesepakatan. Tawar-menawar barang dan jasa, saling tukar uang dan benda, adalah ikhtiar untuk mencapai nilai bersama yang saling untung. Pendek kata, pengakuan atas keunikan dan kebaikan masing-masing individu, tidak lantas mengarah pada etika “semaunya”, karena dorongan untuk berbuat baik tetap dominan melekat pada setiap pribadi. Pengakuan pada “titik beda” tidak berarti lantas meninggalkan “titik temu”. Dan pasar telah menautkan dua titik tersebut. Demikianlah pasar. Itulah pekan. Dan sangat berasa di hari Sabtu.               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar