Pasar : Titik Beda & Titik Temu
![]() |
| Pasar Batik Pekalongan [dok Ardie] |
Pasar, sebagaimana makna lain
dari kata pekan, sederhananya ialah pertemuan penjual dengan pembeli. Penjual menyajikan
barang-barang kebutuhan, kemudian ditawarkan kepada pembeli. Barang-barang yang
hadir di pasar, langsung jadi komoditi, hadir untuk dipertukarkan. Pembeli, yang
sebab terdesak oleh kebutuhan akan barang, barter kepada penjual dengan uang. Disini
jelas, pasar jadi wahana orang-orang bertemu, dengan fungsi yang berbeda,
sebagai penjual, sebagai pembeli. Pasar, juga merupakan perkumpulan barang
untuk dipertukarkan. Pasar pula, kita jadi tergila-gila, mabuk duit. Tanpa uang, proses barter, tak
terjadi. Tanpa duit, onggokan benda dan barang-barang, jadi tak bermakna, tak
punya nilai.
Wahana bertemunya orang-orang,
mengandaikan kebersamaan. Dan itu yang terjadi. Pasar, seolah merupakan adegan
drama kebersamaan. Pasar, hendak menuturkan bahwa kesendirian itu tak mungkin,
kebersamaan adalah niscaya. Kebersamaan yang bagaimana ? Kebersamaan semu. Kenapa
semu ? Semu, lantaran yang terjadi adalah keadaan yang mendekati. Semu, karena bukan
yang sebenarnya, meski tampak asli. Kebersamaan yang terjadi itu ternyata bukan
kebersamaan yang sesungguhnya, setidaknya, agak mendekati. Menilik, kebersamaan
merupakan tindakan bertujuan yang sepaham, yang pelakunya banyak.
Menyelami kebersamaan di pasar,
barangkali memang sesungguhnya yang terjadi bukanlah kebersamaan, melainkan
egois, individualis, kesunyian, dan kesendirian. Fisik bertemu, saling cakap
dan tatap muka, namun saling bawa kepentingannya sendiri. Sesama penjual, duduk
berdampingan, bahkan ada yang saling berhadapan, di kedalaman relung dirinya,
saling ingin menjatuhkan. Ia tak rela, kawan seprofesinya raih keberuntungan
yang melebihi dirinya. Harus dibawahnya, syukur, kalau bisa, malah sama sekali
tak mendapatkan keberuntungan alias merugi. Saling jegal, saling sikut, tipu
muslihat, seolah hukum wajib di pasar. Penghuni pasar, sadar, bahwa satu sama
lain diantara mereka, sesungguhnya hanya sedang memainkan peran. Yang mereka
lakukan bukan yang sebenarnya.
Demikian pula pembeli. Dari rumah,
sudah membawa misi pribadi untuk dipertaruhkan di pasar. Ia akan mempertaruhkan
segala cara teknik negosiasi, untuk mendapatkan keinginannya. Siapa yang lihai dan
kuat, itu pemenangnya. Yang pasrah, ikhlas, sudah pasti bakal kalah dalam
persaingan. Dus dengan demikian, hukum pasar, tak lebih dari hukum rimba. Yang besar,
yang kuat, yang licik, lihai, itulah pemenang. Aturan yang berlaku, kerelaan
sama artinya dengan kekalahan. Jadi kalau sosialisme pernah mengandaikan sama
rata, sama rasa, jelas tak berlaku, utopia dan omong kosong. Pasar adalah medan
persaingan, bukan jamuan saling meneguh, bukan untuk saling menguatkan.
Dengan demikian pasar adalah
presentasi paham kapitalisme. Persaingan modal benda-benda, saling unjuk diri
tawarkan materi. Pasar juga merupakan wujud nyata paham individualisme. Doktrin
yang amat menekankan perorangan atau pribadi. Setiap orang itu unik, tak ada
duanya, dan berharga. Setiap orang merupakan pribadi yang otonom, berdiri
sendiri. Setiap orang berhak jadi diri sendiri. Untuk itu setiap individu berhak
mempergunakan kebebasan dan inisiatifnya, berhak mencapai kepenuhan diri. Pertaruhan keinginan ambisi masing-masing, dan
itu sebuah “kebenaran”.
Pasar adalah liberalisme. Artinya
‘bebas’, ‘merdeka’, ‘tak terikat’, dan ‘tak tergantung’. Paham yang menjunjung
tinggi martabat pribadi dan kemerdekaan. Mengakui kebaikan dan kemampuan
manusia untuk mengembangkan segenap potensi dan hidupnya. Paham yang justru
mengharamkan segala usaha larangan, kekangan, demi kemakmuran orang-perorangan.
Kebebasan mengungkapkan keunikan dirinya yang tanpa sungkan dan steril dari
perasaan akan dipersalahkan. Dan pasar merupakan lahan potensial untuk
mengembangkan “hasrat” dan “itikad baik” tersebut.
Benarkah demikian ? Keyakinan
bahwa manusia itu pribadi unik, pribadi yang memiliki kekhasan, saya juga
meyakini yang demikian. Keyakinan bahwa pribadi manusia itu pada dasarnya baik,
condong pada kebaikan, mencari, menghayati, dan melaksanakannya, itu pula yang
saya pegang teguh. Tetapi akan lain jluntrungannya,
jika pengagungan atas keunikan, penghargaan yang berporos pada pribadi
perorangan, malah jadi pembenar atas norma “semau gue”. Yang baik adalah baik
sesuai selera pribadi. Yang jahat adalah jahat menurut cita rasa pribadi. Jadi sangat
subjektif dan relatif, yang kadang parameternya sebatas naluri dan indriawi. Naluri,
perbuatan yang berdasar insting semata tanpa penalaran. Orang bertindak
berdasar dorongan sesaat minus pertimbangan. Etika indriawi, membuat si pelaku
berbuat berdasarkan dorongan nafsu.
Pandangan yang terlampau optimis
tentang kebaikan manusia dan kemampuannya berbuat baik, seakan mengecilkan
peran penyuluhan, peraturan dan hukum. Peraturan dan hukum, tidak dibutuhkan
lagi, lantaran manusia sudah pasti baik dan sanggup mengerjakannya. Benarkah ?
Paham liberalisme, seolah lupa, bahwa daya tarik pada kebajikan, ternyata juga mampu
mendorong orang berbuat sesuatu untuk mengejarnya, yang justru menihilkan norma
umum. Liberalisme mendorong sikap dan pendirian subjektif, bahwa yang baik
hanyalah yang dilihat, yang mampu dikerjakan, dan menafikan aturan nilai yang
lebih tinggi.
Namun demikian, sisi yang beda,
dan ini yang pasti, bahwa pasar adalah titik temu. Di sana memang terjadi persemaian
paham individualis dan liberalis, yang tak lain adalah pengakuan titik beda. Tetapi
pasar juga merupakan titik temu dua atau lebih individu yang berbeda
kepentingan, saling mengendurkan kepentingan atau ego pribadi, demi
kesepakatan. Tawar-menawar barang dan jasa, saling tukar uang dan benda, adalah
ikhtiar untuk mencapai nilai bersama yang saling untung. Pendek kata, pengakuan
atas keunikan dan kebaikan masing-masing individu, tidak lantas mengarah pada
etika “semaunya”, karena dorongan untuk berbuat baik tetap dominan melekat pada
setiap pribadi. Pengakuan pada “titik beda” tidak berarti lantas meninggalkan “titik
temu”. Dan pasar telah menautkan dua titik tersebut. Demikianlah pasar. Itulah pekan.
Dan sangat berasa di hari Sabtu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar