Sabtu, 15 November 2014

Hamba & Wakil-Nya

Rakhe, Rahma, dan Ahimsa ... [dok Ardie]

Saya lahir dari keluarga Muhammadiyah. Besar dari Rahim IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah), dan sayang memang, tak bisa melanjutkan ke jenjang IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), tapi setidaknya, kini saya kerap mengikuti kegiatan-kegiatan Muhammadiyah, tingkat daerah maupun wilayah. Meski Muhammadiyah, saya anti Wahabi Salafi. Dan menurut saya, Muhammadiyah bukan Wahabi, kalau menilik sejarah KH Ahmad Dahlan yang menghargai tradisi intelektual, pro pendidikan ala Belanda, dan tasawuf. Padahal tasawuf, doktrin perantara, rasionalisme, ajaran syiah, Barat, dan praktek inovasi “bidah’ lainnya, merupakan hal yang dibenci alias haram bagi gerakan Wahabi..


Sebab Wahabi, citra Islam yang galak dan pro kekerasan makin kentara. Sebab Wahabi, monumen-monumen bersejarah, tempat keramat, pusaka peninggalan, tradisi debat diskusi dalam percaturan pemikiran, jadi hilang dari tubuh dan jiwa umat Islam. Sebab Wahabi pula, Bulan Ramadhan menjadi seram, kalimat takbir dipakai untuk melempari gereja, dan dipakai untuk pembacaan maklumat ajaran syiah, serta ahmadiyah sebagai kelompok sesat..

Dan kini, bersama keluarga, hari-hari saya isi dengan coba membaitkan kata-kata, mengasah rasa peka akan Sang Ilahi Robbi. Allah Tuhan Yang Mahaagung dan Mahalembut. Keagungan dan kelembutan. Ketakterhinggaan dan full kasih sayang. Dua wajah Tuhan yang seakan bertentangan atau berdiri di kutub yang berseberangan. Tuhan yang Mahaagung dan tak terbanding, kita yang lemah dan musti tunduk patuh pada kehendak-Nya. Sehingga kita dapati diri sebagai hamba-Nya. Sedang berkenaan dengan kelembutan atau kasih sayang-Nya, yang memercik ke dalam diri kita, sehingga melahirkan peran dan tanggung jawab untuk bisa menjadi wakil Tuhan di muka bumi.

Kiranya yang demikian  yang bakal mengantar pada pemahaman yang benar tentang Tuhan, yakni dengan menggabungkan ketakterhinggaan, keagungan dengan kelembutan dan kasih sayang. Dengan kata lain, penghayatan yang tak kenal patah atas identitas Hamba Allah sekaligus peran sebagai Wakil-Nya….

Penghambaan kita hadirkan dengan terus-menerus mengasah rasa syukur. Sedang syukur adalah perolehan dari ibadah shalat. Jadi dengan menjalankan dan menghayati ibadah shalat, niscaya kesadaran sebagai abdi, sebagai hamba akan terpatri dalam diri. Kemudian, dengan bersyukur, akan tumbuh sabar. Sabar adalah laku derita dalam menghadapi kemungkinan. Laku derita dalam menunaikan tanggung jawab sosial, menunaikan hak orang lain, hak sosial. Menunaikan hak pihak lain itu tak lain adalah wujud peran kita sebagai wakil-Nya. Kalau dalam membangun kesadaran sebagai hamba Tuhan, kita masuk ke dalam, safari internal, maka kesadaran sebagai wakil Tuhan, kita lampaui dengan safari eksternal, keluar merambah lingkungan sosial.     

Hmmmm….ada derita, ada kebersamaan. Bersama dalam penderitaan. Memang dalam menjalani kebajikan, derita merupakan prasyarat yang tak tergantikan. Ketika kenyataan kita, sebagai perolehan dari sikap menghamba, musti seimbang dengan sikap kita atas kenyataan, sebagai ujud aktual dalam menunaikan hak Tuhan, sebagai wakil-Nya,  bukan merupakan pekerjaan yang gampang. Ketika kita tak menuntut sebuah kebajikan pada pihak lain, sebelum kebajikan itu maujud dalam diri sendiri, juga merupakan pekerjaan yang tak mudah. Pendek kata, menumbuhkan nilai-nilai keluhuran di dalam diri, dan berlanjut ke ranah sosial, meniscayakan sebuah penderitaan. Apalagi di tengah semarak kemudahan komunikasi saat ini. Sudah pasti, menjunjung sifat jujur bukan hal yang mudah. Menahan diri dari godaan popularitas, menjadi hal yang luar biasa beratnya.

Namun lantaran berat, susah dan tak mudah, justru akan menjadi tanda kesungguhan kita dalam menjalaninya. So, beruntunglah kita yang hidup yang di tengah kemudahan sarana. Sebab akan jadi modal “derita” dalam menapaki peran sebagai Hamba Tuhan. Kemudian memerankan Tuhan di tengah lingkungan sosial. Itulah tanda kehadiran kita di muka bumi ini. Itulah tanggung jawab kita bersama. Bersama dalam derita. Derita sebagai Hamba sekaligus Wakil Tuhan…. 

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar