![]() |
| Rakhe, Rahma, dan Ahimsa ... [dok Ardie] |
Saya lahir dari keluarga
Muhammadiyah. Besar dari Rahim IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah), dan sayang memang,
tak bisa melanjutkan ke jenjang IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), tapi setidaknya,
kini saya kerap mengikuti kegiatan-kegiatan Muhammadiyah, tingkat daerah maupun
wilayah. Meski Muhammadiyah, saya anti Wahabi Salafi. Dan menurut saya,
Muhammadiyah bukan Wahabi, kalau menilik sejarah KH Ahmad Dahlan yang menghargai
tradisi intelektual, pro pendidikan ala Belanda, dan tasawuf. Padahal tasawuf,
doktrin perantara, rasionalisme, ajaran syiah, Barat, dan praktek inovasi
“bidah’ lainnya, merupakan hal yang dibenci alias haram bagi gerakan Wahabi..
Sebab Wahabi, citra Islam yang
galak dan pro kekerasan makin kentara. Sebab Wahabi, monumen-monumen
bersejarah, tempat keramat, pusaka peninggalan, tradisi debat diskusi dalam
percaturan pemikiran, jadi hilang dari tubuh dan jiwa umat Islam. Sebab Wahabi
pula, Bulan Ramadhan menjadi seram, kalimat takbir dipakai untuk melempari
gereja, dan dipakai untuk pembacaan maklumat ajaran syiah, serta ahmadiyah
sebagai kelompok sesat..
Dan kini, bersama keluarga,
hari-hari saya isi dengan coba membaitkan kata-kata, mengasah rasa peka akan Sang
Ilahi Robbi. Allah Tuhan Yang Mahaagung dan Mahalembut. Keagungan dan
kelembutan. Ketakterhinggaan dan full kasih sayang. Dua wajah Tuhan yang seakan
bertentangan atau berdiri di kutub yang berseberangan. Tuhan yang Mahaagung dan
tak terbanding, kita yang lemah dan musti tunduk patuh pada kehendak-Nya.
Sehingga kita dapati diri sebagai hamba-Nya. Sedang berkenaan dengan kelembutan
atau kasih sayang-Nya, yang memercik ke dalam diri kita, sehingga melahirkan
peran dan tanggung jawab untuk bisa menjadi wakil Tuhan di muka bumi.
Kiranya yang demikian yang bakal mengantar pada pemahaman yang benar
tentang Tuhan, yakni dengan menggabungkan ketakterhinggaan, keagungan dengan
kelembutan dan kasih sayang. Dengan kata lain, penghayatan yang tak kenal patah
atas identitas Hamba Allah sekaligus peran sebagai Wakil-Nya….
Penghambaan kita hadirkan dengan
terus-menerus mengasah rasa syukur. Sedang syukur adalah perolehan dari ibadah
shalat. Jadi dengan menjalankan dan menghayati ibadah shalat, niscaya kesadaran
sebagai abdi, sebagai hamba akan terpatri dalam diri. Kemudian, dengan
bersyukur, akan tumbuh sabar. Sabar adalah laku derita dalam menghadapi
kemungkinan. Laku derita dalam menunaikan tanggung jawab sosial, menunaikan hak
orang lain, hak sosial. Menunaikan hak pihak lain itu tak lain adalah wujud
peran kita sebagai wakil-Nya. Kalau dalam membangun kesadaran sebagai hamba
Tuhan, kita masuk ke dalam, safari
internal, maka kesadaran sebagai wakil Tuhan, kita lampaui dengan safari eksternal, keluar merambah
lingkungan sosial.
Hmmmm….ada derita, ada
kebersamaan. Bersama dalam penderitaan. Memang dalam menjalani kebajikan,
derita merupakan prasyarat yang tak tergantikan. Ketika kenyataan kita, sebagai perolehan dari sikap menghamba, musti
seimbang dengan sikap kita atas kenyataan,
sebagai ujud aktual dalam menunaikan hak Tuhan, sebagai wakil-Nya, bukan merupakan pekerjaan yang gampang. Ketika
kita tak menuntut sebuah kebajikan pada pihak lain, sebelum kebajikan itu
maujud dalam diri sendiri, juga merupakan pekerjaan yang tak mudah. Pendek
kata, menumbuhkan nilai-nilai keluhuran di dalam diri, dan berlanjut ke ranah sosial,
meniscayakan sebuah penderitaan. Apalagi di tengah semarak kemudahan komunikasi
saat ini. Sudah pasti, menjunjung sifat jujur bukan hal yang mudah. Menahan
diri dari godaan popularitas, menjadi hal yang luar biasa beratnya.
Namun lantaran berat, susah dan
tak mudah, justru akan menjadi tanda kesungguhan kita dalam menjalaninya. So,
beruntunglah kita yang hidup yang di tengah kemudahan sarana. Sebab akan jadi
modal “derita” dalam menapaki peran sebagai Hamba Tuhan. Kemudian memerankan
Tuhan di tengah lingkungan sosial. Itulah tanda kehadiran kita di muka bumi
ini. Itulah tanggung jawab kita bersama. Bersama dalam derita. Derita sebagai
Hamba sekaligus Wakil Tuhan….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar