Jumat, 14 November 2014

Serba Hitungan


Serba hitungan atau serba angka, itu yang tebersit awal kali coba menelisik ritual shalat. Pertama berhadapan dengan angka 5, 5 kali sehari semalam dalam menjalani yang wajib maupun bagian dari 5 rukun penegak agama. Seakan dalam ketetapan yang serba hitungan. Demikiankah ? Adalah ketetapan, adanya 5 jari tangan, baik kanan maupun kiri. Sehingga kita bersepakat, akan disebut tak sempurna atau suatu kelainan ketika misalkan mendapati 4 atau 6 jari. Angka 4 menunjuk kekurangan, sedang 6 sebagai kelebihan. Baik kekurangan maupun kelebihan bukanlah kewajaran sehingga tak disebut sempurna. Kiranya itu pula ketetapan 5 waktu yang disyariatkan sebagai kewajiban, bahkan sebagai tanda amal kebajikan wujud kepasrahan (kemusliman) kita dihadapan-Nya.

Ketetapan 5 waktu, mengandaikan pembaruan rasa yang terus-menerus. Proses kebaruan yang tiada ujung. Kebaruan rasa tunduk, rasa takut, maupun memperbarui rasa kebesaran Tuhan dan kehadiran-Nya dalam diri. Saban hari mengulang  shalat lima kali, berulang kali pula perasaan takjub dan menghamba. Berulang kali coba rasakan akan kehadiran kita yang kerdil dan tanpa daya, perasaan takut dan rasa harap, serta keagungan-Nya yang serba maha, akan menghantar pada kondisi diri yang terhindar dari maksiat. “…sesungguhnya shalat itu mencegah dari keji dan munkar…” (al-ankabut :45).

Dipisah-pisahkannya jadi 5 waktu, seakan menunjuk kelemahan kita yang gampang lupa dan mudah berkeluh kesah.  Lima waktu ialah untuk meringankan dan memudahkan kita dalam mengabadikan ingatan kepada Tuhan. Pemilik waktu adalah Allah, bahkan Ia bersumpah juga demi waktu, yang artinya bagi yang sanggup menjaga ingatan atas diri-Nya, tentu akan beroleh kenikmatan batin yang berlimpah di dalam lingkaran waktu itu. Dikatakan nikmat batin karena ini masalah rasa. Rasa kehadiran-Nya yang terus-menerus yang  aktual dalam wujud sabar dan syukur.

Sabar adalah sikap batin yang berwajah positif dalam menghadapi kemungkinan. Sedang syukur merupakan sikap positif atas kenyataan. Dalam proses waktu, kita kenal adanya masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dan tiba-tiba kita hadir dalam masa kini. Kita tidak dihadirkan dari masa lalu maupun untuk masa yang akan datang, melainkan hadir untuk masa kini. Masa lalu dan masa depan adalah interpretasi, yang lalu sudah terjadi, dan yang akan belum terjadi. Yang sudah sebagai kenyataan, yang belum adalah kemungkinan. Terhadap yang sudah, kita bersyukur. Kepada yang belum, kita mesti bersabar. Bersyukur dilafalkan dengan kalimat tahmid “Alhamdulillah”, bersabar dengan kalimat tasbih “subhanallah”. Jadi, sabar dan syukur adalah sikap batin atas waktu –masa depan dan masa lalu-- yang dilakukan di masa kini, yang dalam shalat terlantun dengan sintesa kalimat takbir “Allahu Akbar” sebagai penanda gerak. Dengan kata lain, gerak atau aktivitas adalah tanda atau bukti telah menghidupkan masa kini. Kehidupan masa kini akan bernilai ketuhanan, jika selalu dalam kesadaran takbir, memahabesarkan Tuhan atau mengerdilkan selain Ia. Dengan demikian, shalat adalah upaya menarik kesadaran masa lalu dan masa depan di waktu kini.   
  
Betapa tepat angka 5 sebagai penanda waktu, sehingga haram hukumnya upaya menambah dan mengurangi. Kalau pun ada keinginan menambah amalan, bukan untuk menjadi 6, 7, dan seterusnya, melainkan sekadar menyisip diantara sela angka 5 yang berperan sebagai kebaikan dan keindahan. Betapa pas presisi 5, sebagai laku “bertasbih—sabar—sambil memuji Tuhan—syukur—“ merupakan aplikasi pengisian waktu, agar setiap detak nadi  yang keluar masuk adalah dalam rangka mengingat keberadaan-Nya. “Kemana pun kamu menghadap adalah wajah-Nya”(QS. 2: 115). Masa kini yang utuh bersama Allah. Utuh dalam irama kasih sayang, yang tak lain adalah basmalah. Dan direplika dalam shalat… 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar