Serba hitungan atau serba angka, itu yang tebersit awal kali
coba menelisik ritual shalat. Pertama berhadapan dengan angka 5, 5 kali sehari
semalam dalam menjalani yang wajib maupun bagian dari 5 rukun penegak agama.
Seakan dalam ketetapan yang serba hitungan. Demikiankah ? Adalah ketetapan,
adanya 5 jari tangan, baik kanan maupun kiri. Sehingga kita bersepakat, akan
disebut tak sempurna atau suatu kelainan ketika misalkan mendapati 4 atau 6
jari. Angka 4 menunjuk kekurangan, sedang 6 sebagai kelebihan. Baik kekurangan
maupun kelebihan bukanlah kewajaran sehingga tak disebut sempurna. Kiranya itu
pula ketetapan 5 waktu yang disyariatkan sebagai kewajiban, bahkan sebagai
tanda amal kebajikan wujud kepasrahan (kemusliman) kita dihadapan-Nya.
Ketetapan 5 waktu, mengandaikan pembaruan rasa yang
terus-menerus. Proses kebaruan yang tiada ujung. Kebaruan rasa tunduk, rasa
takut, maupun memperbarui rasa kebesaran Tuhan dan kehadiran-Nya dalam diri.
Saban hari mengulang shalat lima kali,
berulang kali pula perasaan takjub dan menghamba. Berulang kali coba rasakan akan
kehadiran kita yang kerdil dan tanpa daya, perasaan takut dan rasa harap, serta
keagungan-Nya yang serba maha, akan menghantar pada kondisi diri yang terhindar
dari maksiat. “…sesungguhnya shalat itu mencegah dari keji dan munkar…”
(al-ankabut :45).
Dipisah-pisahkannya jadi 5 waktu, seakan menunjuk kelemahan
kita yang gampang lupa dan mudah berkeluh kesah. Lima waktu ialah untuk meringankan dan
memudahkan kita dalam mengabadikan ingatan kepada Tuhan. Pemilik waktu adalah
Allah, bahkan Ia bersumpah juga demi waktu, yang artinya bagi yang sanggup
menjaga ingatan atas diri-Nya, tentu akan beroleh kenikmatan batin yang
berlimpah di dalam lingkaran waktu itu. Dikatakan nikmat batin karena ini
masalah rasa. Rasa kehadiran-Nya yang terus-menerus yang aktual dalam wujud sabar dan syukur.
Sabar adalah sikap batin yang berwajah positif dalam
menghadapi kemungkinan. Sedang syukur merupakan sikap positif atas kenyataan.
Dalam proses waktu, kita kenal adanya masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dan
tiba-tiba kita hadir dalam masa kini. Kita tidak dihadirkan dari masa lalu
maupun untuk masa yang akan datang, melainkan hadir untuk masa kini. Masa lalu
dan masa depan adalah interpretasi, yang lalu sudah terjadi, dan yang akan
belum terjadi. Yang sudah sebagai kenyataan, yang belum adalah kemungkinan.
Terhadap yang sudah, kita bersyukur. Kepada yang belum, kita mesti bersabar. Bersyukur
dilafalkan dengan kalimat tahmid “Alhamdulillah”, bersabar dengan kalimat tasbih
“subhanallah”. Jadi, sabar dan syukur adalah sikap batin atas waktu –masa depan
dan masa lalu-- yang dilakukan di masa kini, yang dalam shalat terlantun dengan
sintesa kalimat takbir “Allahu Akbar” sebagai penanda gerak. Dengan kata lain,
gerak atau aktivitas adalah tanda atau bukti telah menghidupkan masa kini.
Kehidupan masa kini akan bernilai ketuhanan, jika selalu dalam kesadaran
takbir, memahabesarkan Tuhan atau mengerdilkan selain Ia. Dengan demikian,
shalat adalah upaya menarik kesadaran masa lalu dan masa depan di waktu kini.
Betapa tepat angka 5 sebagai penanda waktu, sehingga haram
hukumnya upaya menambah dan mengurangi. Kalau pun ada keinginan menambah
amalan, bukan untuk menjadi 6, 7, dan seterusnya, melainkan sekadar menyisip
diantara sela angka 5 yang berperan sebagai kebaikan dan keindahan. Betapa pas
presisi 5, sebagai laku “bertasbih—sabar—sambil memuji Tuhan—syukur—“ merupakan
aplikasi pengisian waktu, agar setiap detak nadi yang keluar masuk adalah dalam rangka
mengingat keberadaan-Nya. “Kemana pun kamu menghadap adalah wajah-Nya”(QS. 2:
115). Masa kini yang utuh bersama Allah. Utuh dalam irama kasih sayang, yang
tak lain adalah basmalah. Dan direplika dalam shalat…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar