![]() |
| pas di pameran buku [dok Ardie] |
“Yah, beliin buku tentang angkasa
!” rengek Ahimsa yang mengetahui kalau ada pameran buku di Gedung Korpri
Ungaran. “Besok Minggu atau Senin ya, Nak ! Pas tanggal muda..”, sahut Rahma,
istriku, kemudian. Memang dalam memenuhi kebutuhan anak-anak yang berhubungan
dengan urusan keuangan, saya serahkan sepenuhnya kepada sang istri. Saya sama
sekali tak pegang uang, dan memang tak ingin memegangnya. Saya paling tak bisa
menahan diri untuk berlaku hemat. Kalau pas butuh saja minta kepadanya, seperti
untuk beli premium, anggaran “dinas luar”, atau sekadar untuk tombo pingin nongkrong di angkringan. Lha,
termasuk saat itu, dimana sang sulung merengek minta dibelikan buku. Sontak saya
melirik ke istri untuk meresponnya.
Dalam hati saya bersyukur. Kedua jagoan
saya itu, termasuk anak yang tidak neko-neko
untuk soal jajan, keinginan atas barang atau benda mainan. Ahimsa, kini, paling
banter hanya ingin koleksi buku-buku yang berkaitan dengan ruang angkasa,
planet-planet. Sementara Rakhe, yang bungsu, masih enjoy dengan mainan kereta api yang seharga Rp 25.000,00, keping
DVD Thomas n friends, atau buku-buku
yang memuat cerita dan gambar tentang kereta api. Artinya, kalau dilihat atau
dibandingkan dengan teman-teman sebayanya, Ahimsa dan Rakhe masih terhitung
hemat alias tak macam-macam. Hal ini jelas, sebagai orangtua, saya patut
bersyukur. Mereka “mau tahu” dengan kondisi keuangan orangtua…hahaha.
“Yah…Ayah….nanti beliin kaset Thomas
lagi ya, kalau sudah punya uang !”, rajuk Rakhe usai mengetahui sang Kakak,
Ahimsa, telah mendapatkan “ruang angkasa”. Rakhe yang merajuk. Saya dan istri,
menahan haru. Tak sanggup membendung air mata yang tiba-tiba meledak keluar. Sebagai
bunda, Rahma sendiri heran, tak tahu pasti, apa yang bikin anak-anak sedemikian
“tak rewel”, yang selama ini tak pernah merepotkan kami. Urusan cekcok,
pertengkaran kakak-adik, jarang kami temui pada diri mereka berdua. Walau bukan
berarti tak pernah. Tetapi intensitasnya tak sesering sebagaimana anak-anak
tetangga depan maupun samping rumah.
Bak sorga, itu yang kami rasakan,
setidaknya saya selaku Ayah bagi anak-anak. Rumah boleh kecil, tipe sederhana,
tak mentereng, tapi yang saya rasa, aroma damai senantiasa menghias saban
harinya. Rumah cicilan, yang hingga kini, belum mengalami renovasi yang
berarti. Kusen kayu pintu, dan jendela, sudah kena amukan rayap, namun belum
kunjung kami benahi. Teras rumah, kami biarkan tanpa keramik. Pagar ? Syukur,
sampai sekarang, rumah masih terbuka tanpa pagar. Perabot rumah juga tak
lengkap. Kursi dan meja yang lazimnya menghias apik ruang tamu, senyatanya,
sampai sekarang belum ada. Kendaraan buat wira-wiri,
sebatas sepeda motor “supra x” keluaran tahun 2003, yang saya dapatkan dari
orangtua, sebelum saya menikah. Alih-alih mobil, meski dalam hati juga sering
terbetik untuk memilikinya. Jadi secara keseluruhan, kondisi fisik rumah yang kami
huni, ialah tipe RSS, rumah sangat sederhana.
Barangkali yang membedakan. Rumah
yang saya huni, penuh dengan buku. Ada 3 rak, dan 1 almari buku, yang berdiri
anggun di ruang tamu. Sekali lagi, ruang tamu itu tanpa meja-kursi. Tamu yang datang,
duduk lesehan beralaskan tikar. Tak hanya di ruang tamu. Buku-buku juga saya
pajang di kamar tidur, ruang keluarga dan musholla. Saya ingin mengondisikan
anak-anak dengan dunia buku. Anak-anak akrab bersama buku. Meski mereka,
terutama yang bungsu, belum bisa membaca, tapi sepanjang yang saya tahu,
anak-anak tak pernah merusak buku. Anak-anak tak pernah merobek, menggunting,
atau membuang buku. Bahkan, Ahimsa, malah sangat hati-hati dalam memperlakukan
buku. Setiap ada buku yang berserakan, lantas ia rapikan. Ia tata sesuai tinggi
rendah buku, sesuai tebal tipisnya. Subhanallah…
Nah, hari Minggu, 30 November
2014, saya telah belikan Ahimsa buku. Pameran buku, memudahkan kami untuk
mewujudkan keinginannya. Pameran juga mengamankan stabilitas ekonomi, agar
dapur tetap berasap. Pendek kata, pameran buku, sangat membantu orang-orang
yang ingin terus memelihara tradisi belajar, tradisi berpikir, dan musyawarah
buku. DVD Thomas untuk Rakhe ? Terpaksa masih ditangguhkan, sembari menunggu
uang kumpul lagi.
Ahimsa, Rakhe, dua matahari, dua
jagoan, saya janji akan menemani mereka jadi sosok utuh. Sosok yang tak
diributi oleh seabreg atribut. Sosok yang
semoga bakal memuja ilmu dan kearifan, bak “tongkat Musa” untuk menyapu gelap hidup
dari benak mereka berdua. Sosok-sosok yang bakal menuhankan Allah yang tak
terbandingkan. Memaksimalkan keserupaan-Nya, dengan menjadikan diri layak
sebagai wakil-Nya. Menghamba sekaligus memanage
kehidupan seutuh usia. Amiiinnnn…semoga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar