Minggu, 30 November 2014

Ahimsa & Rakhe, Semoga !

pas di pameran buku [dok Ardie]

“Yah, beliin buku tentang angkasa !” rengek Ahimsa yang mengetahui kalau ada pameran buku di Gedung Korpri Ungaran. “Besok Minggu atau Senin ya, Nak ! Pas tanggal muda..”, sahut Rahma, istriku, kemudian. Memang dalam memenuhi kebutuhan anak-anak yang berhubungan dengan urusan keuangan, saya serahkan sepenuhnya kepada sang istri. Saya sama sekali tak pegang uang, dan memang tak ingin memegangnya. Saya paling tak bisa menahan diri untuk berlaku hemat. Kalau pas butuh saja minta kepadanya, seperti untuk beli premium, anggaran “dinas luar”, atau sekadar untuk tombo pingin nongkrong di angkringan. Lha, termasuk saat itu, dimana sang sulung merengek minta dibelikan buku. Sontak saya melirik ke istri untuk meresponnya.


Dalam hati saya bersyukur. Kedua jagoan saya itu, termasuk anak yang tidak neko-neko untuk soal jajan, keinginan atas barang atau benda mainan. Ahimsa, kini, paling banter hanya ingin koleksi buku-buku yang berkaitan dengan ruang angkasa, planet-planet. Sementara Rakhe, yang bungsu, masih enjoy dengan mainan kereta api yang seharga Rp 25.000,00, keping DVD Thomas n friends, atau buku-buku yang memuat cerita dan gambar tentang kereta api. Artinya, kalau dilihat atau dibandingkan dengan teman-teman sebayanya, Ahimsa dan Rakhe masih terhitung hemat alias tak macam-macam. Hal ini jelas, sebagai orangtua, saya patut bersyukur. Mereka “mau tahu” dengan kondisi keuangan orangtua…hahaha.

“Yah…Ayah….nanti beliin kaset Thomas lagi ya, kalau sudah punya uang !”, rajuk Rakhe usai mengetahui sang Kakak, Ahimsa, telah mendapatkan “ruang angkasa”. Rakhe yang merajuk. Saya dan istri, menahan haru. Tak sanggup membendung air mata yang tiba-tiba meledak keluar. Sebagai bunda, Rahma sendiri heran, tak tahu pasti, apa yang bikin anak-anak sedemikian “tak rewel”, yang selama ini tak pernah merepotkan kami. Urusan cekcok, pertengkaran kakak-adik, jarang kami temui pada diri mereka berdua. Walau bukan berarti tak pernah. Tetapi intensitasnya tak sesering sebagaimana anak-anak tetangga depan maupun samping rumah.

Bak sorga, itu yang kami rasakan, setidaknya saya selaku Ayah bagi anak-anak. Rumah boleh kecil, tipe sederhana, tak mentereng, tapi yang saya rasa, aroma damai senantiasa menghias saban harinya. Rumah cicilan, yang hingga kini, belum mengalami renovasi yang berarti. Kusen kayu pintu, dan jendela, sudah kena amukan rayap, namun belum kunjung kami benahi. Teras rumah, kami biarkan tanpa keramik. Pagar ? Syukur, sampai sekarang, rumah masih terbuka tanpa pagar. Perabot rumah juga tak lengkap. Kursi dan meja yang lazimnya menghias apik ruang tamu, senyatanya, sampai sekarang belum ada. Kendaraan buat wira-wiri, sebatas sepeda motor “supra x” keluaran tahun 2003, yang saya dapatkan dari orangtua, sebelum saya menikah. Alih-alih mobil, meski dalam hati juga sering terbetik untuk memilikinya. Jadi secara keseluruhan, kondisi fisik rumah yang kami huni, ialah tipe RSS, rumah sangat sederhana.

Barangkali yang membedakan. Rumah yang saya huni, penuh dengan buku. Ada 3 rak, dan 1 almari buku, yang berdiri anggun di ruang tamu. Sekali lagi, ruang tamu itu tanpa meja-kursi. Tamu yang datang, duduk lesehan beralaskan tikar. Tak hanya di ruang tamu. Buku-buku juga saya pajang di kamar tidur, ruang keluarga dan musholla. Saya ingin mengondisikan anak-anak dengan dunia buku. Anak-anak akrab bersama buku. Meski mereka, terutama yang bungsu, belum bisa membaca, tapi sepanjang yang saya tahu, anak-anak tak pernah merusak buku. Anak-anak tak pernah merobek, menggunting, atau membuang buku. Bahkan, Ahimsa, malah sangat hati-hati dalam memperlakukan buku. Setiap ada buku yang berserakan, lantas ia rapikan. Ia tata sesuai tinggi rendah buku, sesuai tebal tipisnya. Subhanallah

Nah, hari Minggu, 30 November 2014, saya telah belikan Ahimsa buku. Pameran buku, memudahkan kami untuk mewujudkan keinginannya. Pameran juga mengamankan stabilitas ekonomi, agar dapur tetap berasap. Pendek kata, pameran buku, sangat membantu orang-orang yang ingin terus memelihara tradisi belajar, tradisi berpikir, dan musyawarah buku. DVD Thomas untuk Rakhe ? Terpaksa masih ditangguhkan, sembari menunggu uang kumpul lagi.

Ahimsa, Rakhe, dua matahari, dua jagoan, saya janji akan menemani mereka jadi sosok utuh. Sosok yang tak diributi oleh seabreg atribut. Sosok yang semoga bakal memuja ilmu dan kearifan, bak “tongkat Musa” untuk menyapu gelap hidup dari benak mereka berdua. Sosok-sosok yang bakal menuhankan Allah yang tak terbandingkan. Memaksimalkan keserupaan-Nya, dengan menjadikan diri layak sebagai wakil-Nya. Menghamba sekaligus memanage kehidupan seutuh usia. Amiiinnnn…semoga.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar