Jumat, 14 November 2014

Naik Bus


Sebenarnya saya tak biasa bepergian jarak jauh dengan naik bus. Apalagi kalau sekadar Semarang – Solo, Semarang – Yogya, atau Semarang – Kebumen, biasa saya tempuh dengan naik sepeda motor. Bahkan liburan Lebaran, bersama anak istri untuk menunaikan hajatan mudik, juga saya tempuh dengan sepeda motor butut itu. Bukan berarti anti atau phobia dengan bus. Tidak, sama sekali tidak.


Tapi tidak dengan hari itu. Hari Selasa dini hari, tanggal 9 September 2014, pukul 04.00, kami sekeluarga sudah bersiap di bibir jalan menanti bus untuk pergi ke Kebumen. Menunggu, menunggu, dan menunggu hingga pukul 07.00, akhirnya tak sabar kami putuskan untuk naik travel. Meski berat hati, karena biaya pasti membengkak, tapi demi tujuan untuk segera sampai ke rumah orangtua dan ketemu jenazah sang adik, jasa travel kami lalui.

Kamis pagi, 11 September 2014, pukul 08.45, ritual penantian kami lakukan lagi. Dari sekian puluh kali bus lewat depan halte reyot tempat kami menunggu, bus tujuan Semaranglah yang jadi sasaran tembak sorot mata kami. Ah, lagi-lagi lama. Apakah setiap penantian mesti menunggu lama ? Bus tak kunjung datang, jasa travel jelas tak mungkin lagi. Hingga akhirnya napas bisa berdetak lega tepat pukul 11.15, bus  tujuan Semarang datang. Sembari menepis rasa dongkol, jengah, gemes, dan capek, saya tuntun anak-anak untuk dapatkan tempat duduk. Dan syukur bus longgar, masih banyak kursi yang kosong..

Hheheheh…belum sampai seperempat menikmati perjalanan, di Kutoarjo, seluruh penumpang tujuan Magelang dan Semarang mesti ganti bus. Sontak penumpang yang bertujuan Magelang, Semarang, termasuk saya dan anak istri, segera berebut tempat duduk di bus ‘kedua’ pengganti bus ‘pertama’ yang mendadak mogok. Duuh, anak-anakku, belum juga bisa tidur, sudah harus pindah bus. Belum lagi kondisi bus yang tak seramah sebelumnya. Sebagai pengganti, ternyata tak lebih bagus dari yang diganti. Kursi duduk sudah pada lusuh, penumpang penuh, hilir mudik pengamen, dan penjual asongan serta kepulan asap perokok kian menambah sesak ruangan bus. Tapi mau bagaimana ? Inilah bus ekonomi yang memasyarakat. Mau naik bus patas AC, jelas harga tak terjangkau.

Bus ‘kedua’ memang tak senyaman yang ‘pertama’, namun sebagai penumpang, olah hati untuk “terpaksa” bersyukur kiranya yang sanggup dilakukan. Seraya membangun angan bahwa sampainya tujuan yang diharap. Tak peduli proses yang belepotan, menyesakkan dada, dan berdentum gerundelan, asal tujuan sampai, selesai persoalan. Proses perjalanan, apapun itu, yang tak sesuai hati sungguh gampang mengundang emosi. Barangkali  karena sudah terlanjur terbebani oleh hasil tujuan, proses  naik bus ini tidak sampai masuk terlalu dalam ke relung pikiran. Harapan besar untuk segera sampai Semarang, pegal dan capek hanya sedikit berasa, padahal untuk hari-hari biasa, pasti sangat berasa. Inilah jadinya, ketika sampai Secang kurang-lebih 10 km arah Semarang dari Magelang, penumpang tujuan Semarang mesti pindah ke bus ‘ketiga’ tetap terlampaui dengan tanpa rusuh. Meskipun hati bergemuruh dan menjerit namun sebatas diri sendiri yang mendengar tak sampai mengganggu lingkungan penumpang lainnya.

Istri mencangklong tas bawaan, saya gendong dan tuntun anak-anak untuk pindah ke bus ‘ketiga’. Hehehe…lazimnya pengganti, bus ‘ketiga’ memang paling parah dari dua bus sebelumnya. Jalan tersendat lambat, kaca jendela tak bisa dibuka, sehingga panas kian menyeruak bikin keringat menggunung. Dan….akhirnya, pukul 17.00, saya sekeluarga sampai rumah. Nah, dari fragmen sederhana itu, saya hanya ingin berkesimpulan, bahwa jasa transportasi kita belum sepenuhnya berpihak pada masyarakat kecil. Naik bus mesti menunggu lama, berlarian berebut tempat duduk, berdiri hingga bergelantungan menantang maut di pintu. Sebagai serpihan kecil masyarakat yang berpenghasilan pas-pasan, betapa sulit menjangkau untuk sekadar mendapati sapaan dan pelayanan ramah penuh simpatik dari para penjaja jasa. Semua serba paket ekonomi, paket hemat. Hemat senyum, irit layanan. Senyum full pesona empati terlampau mahal bagi kantong saku ini…hmmmm…
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar