Sebenarnya saya tak biasa bepergian jarak
jauh dengan naik bus. Apalagi kalau sekadar Semarang – Solo, Semarang – Yogya,
atau Semarang – Kebumen, biasa saya tempuh dengan naik sepeda motor. Bahkan
liburan Lebaran, bersama anak istri untuk menunaikan hajatan mudik, juga saya
tempuh dengan sepeda motor butut itu. Bukan berarti anti atau phobia dengan
bus. Tidak, sama sekali tidak.
Tapi tidak dengan hari itu. Hari Selasa
dini hari, tanggal 9 September 2014, pukul 04.00, kami sekeluarga sudah bersiap
di bibir jalan menanti bus untuk pergi ke Kebumen. Menunggu, menunggu, dan
menunggu hingga pukul 07.00, akhirnya tak sabar kami putuskan untuk naik
travel. Meski berat hati, karena biaya pasti membengkak, tapi demi tujuan untuk
segera sampai ke rumah orangtua dan ketemu jenazah sang adik, jasa travel kami
lalui.
Kamis pagi, 11 September 2014, pukul
08.45, ritual penantian kami lakukan lagi. Dari sekian puluh kali bus lewat
depan halte reyot tempat kami menunggu, bus tujuan Semaranglah yang jadi
sasaran tembak sorot mata kami. Ah, lagi-lagi lama. Apakah setiap penantian
mesti menunggu lama ? Bus tak kunjung datang, jasa travel jelas tak mungkin
lagi. Hingga akhirnya napas bisa berdetak lega tepat pukul 11.15, bus tujuan Semarang datang. Sembari menepis rasa
dongkol, jengah, gemes, dan capek, saya tuntun anak-anak untuk dapatkan tempat
duduk. Dan syukur bus longgar, masih banyak kursi yang kosong..
Hheheheh…belum sampai seperempat
menikmati perjalanan, di Kutoarjo, seluruh penumpang tujuan Magelang dan
Semarang mesti ganti bus. Sontak penumpang yang bertujuan Magelang, Semarang,
termasuk saya dan anak istri, segera berebut tempat duduk di bus ‘kedua’
pengganti bus ‘pertama’ yang mendadak mogok. Duuh, anak-anakku, belum juga bisa
tidur, sudah harus pindah bus. Belum lagi kondisi bus yang tak seramah
sebelumnya. Sebagai pengganti, ternyata tak lebih bagus dari yang diganti.
Kursi duduk sudah pada lusuh, penumpang penuh, hilir mudik pengamen, dan
penjual asongan serta kepulan asap perokok kian menambah sesak ruangan bus. Tapi
mau bagaimana ? Inilah bus ekonomi yang memasyarakat. Mau naik bus patas AC, jelas
harga tak terjangkau.
Bus ‘kedua’ memang tak senyaman yang
‘pertama’, namun sebagai penumpang, olah hati untuk “terpaksa” bersyukur
kiranya yang sanggup dilakukan. Seraya membangun angan bahwa sampainya tujuan
yang diharap. Tak peduli proses yang belepotan, menyesakkan dada, dan berdentum
gerundelan, asal tujuan sampai, selesai persoalan. Proses perjalanan, apapun
itu, yang tak sesuai hati sungguh gampang mengundang emosi. Barangkali karena sudah terlanjur terbebani oleh hasil
tujuan, proses naik bus ini tidak sampai
masuk terlalu dalam ke relung pikiran. Harapan besar untuk segera sampai
Semarang, pegal dan capek hanya sedikit berasa, padahal untuk hari-hari biasa,
pasti sangat berasa. Inilah jadinya, ketika sampai Secang kurang-lebih 10 km
arah Semarang dari Magelang, penumpang tujuan Semarang mesti pindah ke bus
‘ketiga’ tetap terlampaui dengan tanpa rusuh. Meskipun hati bergemuruh dan
menjerit namun sebatas diri sendiri yang mendengar tak sampai mengganggu
lingkungan penumpang lainnya.
Istri mencangklong tas bawaan, saya
gendong dan tuntun anak-anak untuk pindah ke bus ‘ketiga’. Hehehe…lazimnya
pengganti, bus ‘ketiga’ memang paling parah dari dua bus sebelumnya. Jalan
tersendat lambat, kaca jendela tak bisa dibuka, sehingga panas kian menyeruak
bikin keringat menggunung. Dan….akhirnya, pukul 17.00, saya sekeluarga sampai
rumah. Nah, dari fragmen sederhana itu, saya hanya ingin berkesimpulan, bahwa
jasa transportasi kita belum sepenuhnya berpihak pada masyarakat kecil. Naik
bus mesti menunggu lama, berlarian berebut tempat duduk, berdiri hingga
bergelantungan menantang maut di pintu. Sebagai serpihan kecil masyarakat yang
berpenghasilan pas-pasan, betapa sulit menjangkau untuk sekadar mendapati
sapaan dan pelayanan ramah penuh simpatik dari para penjaja jasa. Semua serba
paket ekonomi, paket hemat. Hemat senyum, irit layanan. Senyum full pesona empati
terlampau mahal bagi kantong saku ini…hmmmm…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar