![]() |
| Cak Nun & Kiai Kanjeng |
Gaduh. Itu gambaran sekilas ketika pertama kali mendengar
Kiai Kanjeng manggung. Alhamdulillah Beberapa kali saya sering mendapat
kesempatan untuk melihat langsung Kiai Kanjeng bersama Cak Nun tampil di
halaman parkir Masjid Baiturrahman Semarang. Kiai Kanjeng kerap datang mengisi
acara rutin dialog kebudayaan Gambang Syafaat yang diselenggarakan tiap tanggal
25 bulan masehi oleh remaja masjid itu.
Entah alasan apa yang saya tak tahu, saya menyukai sajian musik Kiai Kanjeng
yang gaduh itu. Ada kegembiraan yang meluap ketika kegaduhan Kiai Kanjeng
beroperasi. Kegaduhan Kiai Kanjeng seakan-akan mengungkapkan energi penyaluran
semangat perjuangan. Seakan meneriakan napas perang terhadap kesunyian.
![]() |
| yang menangisi Indonesia |
Kiai Kanjeng sendiri merupakan nama kelompok pemusik yang dibidani
dan untuk mendukung aktivitas sosial Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Yang unik
dari kelompok ini adalah tidak pernah membatasi diri pada aliran musik
tertentu. Mereka sering memadu beragam cengkok jenis kesenian tradisional Jawa,
Sunda, Melayu dengan nomor-nomor musik jazz, pop, rock, dan dangdut. Pernah
juga mengaransir lagu-lagu Timur Tengah…
Dari ritual gaduh Kiai Kanjeng yang menawarkan semangat, itu
pula yang pernah saya rasakan hari-hari mengkhidmati kampanye pilpres 2014.
Gemuruh kampanye saat itu, silang sengkarut fitnah dan saling olok hadir dalam
intensitas yang tinggi dan nyaris tak terkendali. Sebagai pribadi, terus terang
saya menyukai kondisi yang demikian. Masyarakat yang berjingkrak-jingkrak
bebas, euforia untuk menuangkan gagasan dan pendapat, seolah telah menemukan
lahannya. Keliaran interpretasi dan merayakan alternatif, tak hanya dinikmati
masyarakat bawah, tapi kini juga melanda para wakil rakyat yang duduk nyaman di
gedung senayan. Mereka bertengkar, menang-menangan,
adu kekuatan koalisi. Euforia yang nyaris liar tanpa tali kekang saat itu dan
merembet hingga kini, persis kejadiannya dengan peristiwa 16 tahun silam yang
sukses menggulung Orde Baru dan mengantar republik ini memasuki era reformasi.
Kiai Kanjeng hadir dengan menawarkan kegaduhan yang
terkelola, sehingga enak untuk dinikmati. Mereka gaduh, namun terencana,
terukur, dan pasti ada target capaian yang ingin didapat. Sedang gaduh yang para
wakil rakyat tawarkan, cenderung membosankan. Gaduh para anggota dewan yang
terhormat itu nyaris tanpa kelola, sehingga menerbitkan kekhawatiran. Namun demikian,
meski telah mengundang rasa khawatir, sebagai orang kampung pinggiran kota,
masih tersisa optimisme dalam diri saya bahwa hal ini hanya euforia sesaat saja.
Saya coba meyakinkan diri sendiri, bahwa masyarakat dari beragam level status
sosial itu telah lama merindukan akan
adanya penyaluran bebas. Lantaran reformasi yang telah berlangsung dalam kurun
waktu 16 tahun, telah melahirkan rasa kehilangan pilihan. Kehilangan pilihan
untuk mengungkapkan energi kegaduhan. Kehilangan pilihan untuk menuangkan
uneg-uneg kesumpekan, karena tawaran yang muncul ---pinjam istilah dari kolega
Taman Baca—adalah 4 L “Lu Lagi Lu Lagi”. Sekali lagi, ini adalah upaya meyakinkan
diri sendiri, bahwa kegembiraan dan harapan rakyat, serta bukan rakyat---para
wakil rakyat dan pengemban otoritas kekuasaan (eksekutif)--- sedang membuncah.
Kanal pilihan untuk menyalurkan genderang perang terbuka lebar. Saling serang
untuk demi, dan demi telah menemukan momentumnya.
Singkatnya, dalam hal ini saya hanya kepingin turut serta menyumbang sangka positif. Kegaduhan yang
minim kelola akhir-akhir ini, bukan berarti tanda kematian demokratisasi.
Melainkan upaya bersama untuk saling mendidik diri. Mendidik bahwa melempar
tuduhan itu mudah, melempar fitnah dan ghibah
itu tidak sulit. Dan sebaliknya, berlapang dada dengan beragam macam tuduhan
itu ternyata butuh perjuangan yang menguras energi luar biasa. Berlaku dewasa
dalam perbedaan ternyata tak semudah pelajaran moral yang dikhotbahkan di
masjid, gereja dan bengkel nurani lainnya. Dan jujur, kini saya tambah yakin
bahwa “perbedaan pendapat itu sebagai rahmat,” senyatanya masih merupakan pepesan kosong yang
masih terlampau jauh dari kenyataan. Di sana sini, pertengkaran dan perusakan
tempat ibadah atas nama persatuan, tuduhan kafir pada yang minoritas, dan fatwa
haram terhadap yang kontroversi masih tumbuh subur di tengah-tengah keberagaman
kita.
![]() |
| ....kalau memang..... |
Kini, revolusi mental yang digaungkan sama Pak Jokowi,
sedang kita tunggu wujud aktualnya. Gebrakan para menteri kabinet kerja, akan
terus saya tagih. Pluralisme dan kebebasan beragama semoga cepat atau lambat tak
lagi berada dalam ranah wacana. Pemimpin yang sanggup mendengar detak suara
sunyi rakyat nyata adanya. Dan kita sebagai rakyat, toh sudah jenuh dengan
tradisi menggerombol yang tanpa tujuan, tanpa target. Oleh karena itu, kita mesti kokoh
membaja dalam rajutan barisan yang sadar politik, sadar hak, tunaikan kewajiban
dan siap menjadi tali kekang bagi para pengemban amanah rakyat.
Pendek kata, mari kita tinggalkan prasangka: “ahhh…yang mereka
tampilkan itu kan sekadar pencitraan….” !
Cak Nun dan Kiai Kanjeng, saya kangen…….



Tidak ada komentar:
Posting Komentar