Rabu, 12 November 2014

Gaduh

Cak Nun & Kiai Kanjeng



Gaduh. Itu gambaran sekilas ketika pertama kali mendengar Kiai Kanjeng manggung. Alhamdulillah Beberapa kali saya sering mendapat kesempatan untuk melihat langsung Kiai Kanjeng bersama Cak Nun tampil di halaman parkir Masjid Baiturrahman Semarang. Kiai Kanjeng kerap datang mengisi acara rutin dialog kebudayaan Gambang Syafaat yang diselenggarakan tiap tanggal 25  bulan masehi oleh remaja masjid itu. Entah alasan apa yang saya tak tahu, saya menyukai sajian musik Kiai Kanjeng yang gaduh itu. Ada kegembiraan yang meluap ketika kegaduhan Kiai Kanjeng beroperasi. Kegaduhan Kiai Kanjeng seakan-akan mengungkapkan energi penyaluran semangat perjuangan. Seakan meneriakan napas perang terhadap kesunyian.

yang menangisi Indonesia
Kiai Kanjeng sendiri merupakan nama kelompok pemusik yang dibidani dan untuk mendukung aktivitas sosial Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Yang unik dari kelompok ini adalah tidak pernah membatasi diri pada aliran musik tertentu. Mereka sering memadu beragam cengkok jenis kesenian tradisional Jawa, Sunda, Melayu dengan nomor-nomor musik jazz, pop, rock, dan dangdut. Pernah juga mengaransir lagu-lagu Timur Tengah…

Dari ritual gaduh Kiai Kanjeng yang menawarkan semangat, itu pula yang pernah saya rasakan hari-hari mengkhidmati kampanye pilpres 2014. Gemuruh kampanye saat itu, silang sengkarut fitnah dan saling olok hadir dalam intensitas yang tinggi dan nyaris tak terkendali. Sebagai pribadi, terus terang saya menyukai kondisi yang demikian. Masyarakat yang berjingkrak-jingkrak bebas, euforia untuk menuangkan gagasan dan pendapat, seolah telah menemukan lahannya. Keliaran interpretasi dan merayakan alternatif, tak hanya dinikmati masyarakat bawah, tapi kini juga melanda para wakil rakyat yang duduk nyaman di gedung senayan. Mereka bertengkar, menang-menangan, adu kekuatan koalisi. Euforia yang nyaris liar tanpa tali kekang saat itu dan merembet hingga kini, persis kejadiannya dengan peristiwa 16 tahun silam yang sukses menggulung Orde Baru dan mengantar republik ini memasuki era reformasi.

Kiai Kanjeng hadir dengan menawarkan kegaduhan yang terkelola, sehingga enak untuk dinikmati. Mereka gaduh, namun terencana, terukur, dan pasti ada target capaian yang ingin didapat. Sedang gaduh yang para wakil rakyat tawarkan, cenderung membosankan. Gaduh para anggota dewan yang terhormat itu nyaris tanpa kelola, sehingga menerbitkan kekhawatiran. Namun demikian, meski telah mengundang rasa khawatir, sebagai orang kampung pinggiran kota, masih tersisa optimisme dalam diri saya bahwa hal ini hanya euforia sesaat saja. Saya coba meyakinkan diri sendiri, bahwa masyarakat dari beragam level status sosial  itu telah lama merindukan akan adanya penyaluran bebas. Lantaran reformasi yang telah berlangsung dalam kurun waktu 16 tahun, telah melahirkan rasa kehilangan pilihan. Kehilangan pilihan untuk mengungkapkan energi kegaduhan. Kehilangan pilihan untuk menuangkan uneg-uneg kesumpekan, karena tawaran yang muncul ---pinjam istilah dari kolega Taman Baca—adalah 4 L “Lu Lagi Lu Lagi”. Sekali lagi, ini adalah upaya meyakinkan diri sendiri, bahwa kegembiraan dan harapan rakyat, serta bukan rakyat---para wakil rakyat dan pengemban otoritas kekuasaan (eksekutif)--- sedang membuncah. Kanal pilihan untuk menyalurkan genderang perang terbuka lebar. Saling serang untuk demi, dan demi telah menemukan momentumnya.

Singkatnya, dalam hal ini saya hanya kepingin turut serta menyumbang sangka positif. Kegaduhan yang minim kelola akhir-akhir ini, bukan berarti tanda kematian demokratisasi. Melainkan upaya bersama untuk saling mendidik diri. Mendidik bahwa melempar tuduhan itu mudah, melempar fitnah dan ghibah itu tidak sulit. Dan sebaliknya, berlapang dada dengan beragam macam tuduhan itu ternyata butuh perjuangan yang menguras energi luar biasa. Berlaku dewasa dalam perbedaan ternyata tak semudah pelajaran moral yang dikhotbahkan di masjid, gereja dan bengkel nurani lainnya. Dan jujur, kini saya tambah yakin bahwa “perbedaan pendapat itu sebagai rahmat,”  senyatanya masih merupakan pepesan kosong yang masih terlampau jauh dari kenyataan. Di sana sini, pertengkaran dan perusakan tempat ibadah atas nama persatuan, tuduhan kafir pada yang minoritas, dan fatwa haram terhadap yang kontroversi masih tumbuh subur di tengah-tengah keberagaman kita.

....kalau memang.....
Kini, revolusi mental yang digaungkan sama Pak Jokowi, sedang kita tunggu wujud aktualnya. Gebrakan para menteri kabinet kerja, akan terus saya tagih. Pluralisme dan kebebasan beragama semoga cepat atau lambat tak lagi berada dalam ranah wacana. Pemimpin yang sanggup mendengar detak suara sunyi rakyat nyata adanya. Dan kita sebagai rakyat, toh sudah jenuh dengan tradisi menggerombol yang tanpa tujuan, tanpa target. Oleh karena itu, kita mesti kokoh membaja dalam rajutan barisan yang sadar politik, sadar hak, tunaikan kewajiban dan siap menjadi tali kekang bagi para pengemban amanah rakyat.
Pendek kata, mari kita tinggalkan prasangka: “ahhh…yang mereka tampilkan itu kan sekadar pencitraan….” !  
Cak Nun dan Kiai Kanjeng, saya kangen…….

     
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar