Terbit harapan.
Itu kira-kira yang terasa, usai pengukuhan Komunitas Penulis Ungaran, 23
Oktober 2014, di Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah (KPAD) Kabupaten Semarang
oleh kepala KPAD, Nelly Rahamawati, SH. M.Hum. Setidaknya dari para anggota
Komunitas Penulis Ungaran, menaruh harapan besar, bahwa kegiatan-kegiatan yang
berbasis buku bakal semarak. Kegiatan literasi seperti pelatihan menulis,
peluncuran buku, bedah buku, lomba mengarang cerita pendek, dan pembacaan
puisi, akan jadi ritual utama yang mengiring acara-acara perhelatan kota maupun
pesta rakyat yang biasa diselenggarakan saat HUT Kota Ungaran.
Harapan tersebut
relevan, mengingat salah satu ikon Kota Ungaran adalah Benteng Willem II.
Sebuah ikon yang sebenarnya tak bisa dilepaskan dengan tradisi literasi,
tentang sejarah yang menyelimuti Kota Ungaran. Sebagai ikon, sebagai tanda
keberadaan kota, Benteng Willem II telah mengalami beberapa kali perubahan
fungsi. Pertama kali didirikan pada tahun 1786, untuk memperingati pertemuan
antara Pakubuwono II dengan Gubernur Jendral Van Imhoff pada 11 Mei 1746. Tahun
1849, beralih fungsi menjadi Rumah Sakit. Kemudian dalam perjalanannya setelah
masa kemerdekaan Indonesia, Benteng ini dimanfaatkan sebagai asrama polisi.
Kini kepemilikan ada di tangan POLRI, dan telah dirahabilitasi sebagai cagar
budaya.
Ikon Kota Ungaran yang berupa bangunan
bercagar budaya, seakan pertanda bahwa Kota Ungaran adalah kota belajar, kota
literasi. Tinggal bagaimana para penghuni kota, dan para pemegang otoritas,
mengembangkan warisan literasi tersebut. Dan Komunitas Penulis Ungaran lahir dari gagasan beberapa kaum muda Kota
Ungaran yang berlatar penulis, penggiat taman baca, dan pencinta buku, yang
prihatin dengan aroma literasi yang minim, bahkan nyaris kosong. Gagasan keprihatinan yang kemudian mereka manifestasikan
dalam wujud forum belajar bersama guna mengembangkan pengetahuan dan
ketrampilan kaum muda dalam literasi. Gagasan yang mengusung tentang betapa
pentingnya membaca, dan betapa perlunya menulis ke tengah masyarakat.
Tradisi membaca dan menulis, oleh banyak
kalangan, disinyalir masih terhitung rendah untuk lingkungan Kota Ungaran.
Karya-karya tulis yang lahir dari tangan penghuni kota juga masih sedikit.
Terlebih lagi, kalau melihat geliat kota yang mengemuka, seakan lebih diarahkan
pada pengembangan kota industri, ketimbang sebagai kota pelajar. Generasi
tamatan SMP dan SMA, mayoritas lari sebagai buruh pabrik, karena memang
aksesnya lebih gampang, yaitu keberadaan industri pabrik yang melimpah. Toko
buku, seperti Gramedia maupun Gunung Agung, nyaris belum pernah ada. Pendidikan tinggi, sebagai penyuplai utama
agen literasi, baru dua, yaitu UNDARIS dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Ngudi
Waluyo. Hal yang demikian, jelas tak berbanding lurus dengan predikat Ungaran
sebagai jantung Kabupaten Semarang yang memiliki sejarah panjang, sebagai
peralihan pusat kekuasaan dari Kanjengan (Kota Semarang), tetapi kini dikenal sebatas
sebagai kawasan industri.
Sebenarnya bukan
hal yang mustahil untuk mengubah image
dari kota industri menjadi kota literasi. Kendati sulit, tapi patut diusahakan.
Tinggal masalah kemauan untuk menggeser haluan dari banyak pihak, baik
pemerintah, swasta, maupun masyarakat termasuk para penggiat komunitas. Para
pemegang kebijakan itu, mesti berani menitikberatkan perhatiannya pada
pengembangan literasi lokal. Mulai menyaring para penanam modal yang bergerak
di ranah literasi. Ada apresiasi dan insentif kepada para penggiat literasi,
para penggerak komunitas yang konsen dengan budaya aksara, para penulis, dan
penerbit. Sehingga para penulis lokal tidak lari menjauh, berbondong-bondong
mengadu nasib ke ibukota dan kota-kota besar lainnya, melainkan tenteram di
kota sendiri, menumbuhkembangkan literasi lokal. Demikian pula dari kalangan
komunitas keagamaan tingkat daerah, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, seyogianya
tidak lagi meletakkan ritual sebagai yang utama dalam praktik beragama,
melainkan lebih berorientasi pada upaya pencerdasan dan pemberdayaan masyarakat
Ungaran.
Sekali lagi, ini
masalah kemauan bukan kemampuan. Kemampuan literasi masyarakat sudah ada.
Bahkan minat baca masyarakat itu sesungguhnya tidak rendah, tetapi akses untuk
membaca yang kurang. Pos-pos baca yang digalakkan oleh Kantor Perpustakaan dan
Arsip Daerah belum tersebar merata. Pojok-pojok baca yang dikembangkan oleh
penggiat taman baca, yang didukung oleh Dinas Pendidikan tingkat kecamatan
maupun kabupaten, belum merangsek luas di segenap penjuru tingkat RT/RW. Toko-toko
buku, mesti mulai dimunculkan. Minat menulis pun barangkali juga tak sedikit
dari kalangan masyarakat, mengingat pengguna BBM (black berry messenger)
atau whats app hampir rata ke seluruh
kalangan, baik usia maupun kelas sosial. Tinggal etikat mengembangkannya. Kebiasaan
menulis status dan kicauan, dikembangkan menjadi karya tulis fiksi maupun
non-fiksi.
Akhirnya, usai launching Komunitas Penulis Ungaran,
ikon kota yang bercagar budaya, menjamurnya paguyuban, komunitas dan
forum-forum berbasis lokal, serta pencanangan revolusi mental oleh Presiden
Joko Widodo, tak ada alasan untuk menunda guna menggalakkan kegairahan literasi
di kota Ungaran. Revolusi mental yang kini nyaring di telinga, akan mustahil
terjadi, tanpa dukungan kegiatan literasi. Slogan akan berhenti sebatas slogan,
kalau tanpa dibarengi dengan gerakan membaca dan menulis hingga ke ranah
keluarga. Maka, geliat literasi kapan lagi kalau tidak dari sekarang. Geliat
literasi, siapa lagi kalau bukan kita yang melaksanakan. Pendek kata, Ungaran
sebagai kota literasi adalah suatu kenyataan, bukan lagi sekadar harapan. Semoga…
Semangaat...Bismillah, bersama kita bisa :D
BalasHapus