![]() |
| Rakhe, Ahimsa.....dua jagoanku, dua matahariku [dok Ardie] |
Ritual usai bangun tidur. Duduk di pintu menatap halaman luar,
kaki ditekuk, tangan kiri menyangga dagu, dan sorot mata sayu. Penampilan
memelas yang seakan-akan ingin menandakan duka yang tak kunjung akhir ini,
telah jadi sajian harian, sembari santap pagi. Itulah anak saya yang kedua,
Rakhe, 4 tahun, yang sampai saat ini belum mau masuk sekolah Play Group.
Teman-teman sebaya sudah pada berseragam sekolah, ia masih asyik dengan
kesendiriannya. Bermain lego, pasir dan buka tutup buku, yang kesemuanya ia lakukan
sendiri.
Ritual usai bangun tidur. Seakan masa bodoh dengan
pernak-pernik sekitar, ia cuek, tidur larut malam, tak jarang sering temani
saya begadang, sehingga bangun pagi jadi tak tentu waktu. Paling, istri yang
ngomel-ngomel dengan irama waktu yang Rakhe kembangkan. Irama yang tak ramah
dengan dunia kerja. Irama yang tak selaras dengan karir profesi. Irama yang
menghambat ketepatan waktu sebagai pegawai swasta yang dituntut disiplin. Tapi
itulah Rakhe, anak saya yang kedua.
Rakhe beda dengan kakaknya, Ahimsa. Oleh Rahma, istri saya,
Rakhe dianggap mirip dengan saya. Rambut keriting, suka ngambek, dan super
ngeyel. Tolak belakang dengan kakaknya yang berambut lurus, suara lembut, mata
sayu, dan sering mengalah, serta suka menitikkan air mata. Dua sosok yang
berbeda. Bersama istri, sering saya menisbatkan dua kakak adik ini dengan sosok
Isa dan Musa. Nabi Isa, Yesus, yang
merupakan perwujudan sosok penuh kasih, dan lembut, sebagai ejawantah sifat
jamal-Nya, terekam dalam diri Ahimsa. Ahimsa, yang berarti anti kekerasan, yang
terinspirasi dari ajaran Mahatma Gandhi, saya panggil dengan panggilan Isa.
Seakan klop antara nama dan panggilan, maka si sulung, tak pernah bisa memarahi
adiknya.
Berbeda dengan Musa, sosok sejarah yang hadir sekitar 1230 –
1215 SM, masa Meneptah, Firaun Mesir dinasti ke-19 yang berkuasa antara tahun
1320 – 1200 SM, berhadapan dengan kaum yang keras kepala. Musa mendapat risalah
syariat paling keras, dari rentetan syariat yang pernah ada sebelum dan
sesudahnya. Musa dikenal keras, karena memang berhadapan dengan kaum atau suku
yang paling bandel dan suka melakukan pelanggaran dan penyelewengan. Ia adalah
ejawantah dari sifat jalal-Nya. Nah, dengan GR, saya menggambarkan Rakhe dengan
manusia sejarah yang hadir 3000-an tahun yang lalu itu. Rakhe yang keriting,
dan selalu ngeyel, dan mau menang sendiri, jadi gambaran maskulinitas yang
pernah maujud pada diri Musa.
Tetapi itu hanya sebatas GR saya saja. Karena yang
sebenarnya jelas tak mungkin seperti itu. Setiap individu mengisyaratkan
sesuatu yang beda dan tak terjangkau satu sama lainnya. Setiap kehadiran,
seolah membenarkan sabda bahwa setiap kita tak ada yang kembar, datang
sendiri-sendiri ke hadapan Tuhan, dan mempertanggungjawabkan setiap laku yang
terukir di mayapada. Kita datang dengan memanggul nasib masing-masing. Dan nasib adalah kesunyian. Dus dengan
demikian, kita adalah kesunyian itu sendiri, yang hanya jadi rahasia diri dan
Tuhan saja.
Dan apa akhirnya ? Ahimsa berbeda dengan Rakhe. Sebagaimana
mereka berdua juga berbeda dengan saya. Agama boleh sama, terlahir sebagai suku
Jawa, dan kini menghuni di lereng Gunung Ungaran, namun untuk nasib jelas
masing-masing telah menggenggam dalam
kesendiriannya. Agama adalah rambu-rambu dalam menelusuri kesunyian, sehingga
Islam dan agama apa pun tak bertanggung jawab dengan keselamatan sang pribadi.
Pribadi itu sendiri yang bakal mempertanggungjawabkan setiap pilihan hidupnya.
Ritual usai bangun tidur. Parasnya yang mungil, mata penuh
sorot, telah menggugah angan saya untuk tak bermain-main dengannya, termasuk
juga dengan kakaknya. Seimbang dalam takaran dan timbangan, kira-kira begitu
bunyi sabda Tuhan, yang mengisyaratkan adanya hak individu yang beda satu
dengan lainnya. Takaran adalah simbol keunikan, sedang timbangan sebagai simbol
keumuman. Nah, sebagai orangtua, mesti sanggup menyelaraskan aturan atau
syariat yang berlaku umum dengan keunikan pribadi anak. Berkata jujur, suka
menolong, penyayang sesama, itu kebajikan umum yang sama-sama ditegakkan dengan
prinsip atau sikap unik tiap anak.
Singkatnya, ritual usai bangun tidur, adalah upaya sadar
untuk menghayati takaran, perjalanan sunyi, dan rahasia diri hingga tuntas
nanti di depan Tuhan. “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu,” (Barangsiapa
yang mengenali rahasia diri, maka sungguh ia akan mengenal Tuhan).

Halo Kak Rakhe dan Kak Ahimsa..main yuk! Kata Alde :)
BalasHapus