![]() |
| Rakhe , Ahimsa. [dok Ardie] |
Memang tidak gampang. Itu yang
kini saya rasa, saat menjalani peran sebagai, ayah, sebagai orangtua, buat 2 jagoan, Ahimsa dan
Rakhe. Si sulung Ahimsa, usia 8 tahun, berarti telah memasuki tahap 7 tahun
kedua, bahwa anak adalah “pembantu”. Usia tersebut, anak dalam proses
pembelajaran mengenal aturan. Anak sudah bisa kita mintai tolong untuk membantu
pekerjaan kita, tentunya tetap dalam kapasitas kemampuannya. Yang bungsu Rakhe,
usia 4 tahun, masih berada dalam tahap “raja”, yang menuntut orangtua untuk
melayaninya.
Memahami tahap perkembangan anak,
jadi prasyarat yang tak bisa dianggap remeh, selagi masih menginginkan anak
bakal tumbuh kembang sesuai natur,
dan tidak membunuhnya sejak dini. Sebaliknya menafikan tahap perkembangan,
seakan kita orangtua, telah memutus jalur perkembangan, bahkan yang ekstrim,
telah membunuhnya. Membunuh kemampuannya yang sebenarnya penuh potensi luar
biasa. Memangkas dahan kreativitas, yang bisa menjulang tinggi menggapai arakan
awan. Imajinasi anak bisa mandul, mampet tak berkembang jika kita salah potong.
Keceriaan anak menghilang, jika kita semena-mena memperlakukan aturan yang keluar
dari “pakem” perkembangan kepribadian anak.
Memandang bahagia anak dan
mensyukuri kehadirannya, musti kita pertahankan. Jangan sampai kecewa menjemput
di kemudian hari, lantaran gagal menghikmahi anugerah berharga dari Tuhan itu. Anak
adalah anugerah istimewa yang tak tergantikan, meski dengan bekerja seharian
penuh 24 jam tanpa istirahat. Tetap saja, anak titipan yang istimewa. Anak memang bukan milik orangtua, bukan milik orang dewasa, melainkan
titipan dari Tuhan, yang musti dikembalikan lagi kepada-Nya sebagai manusia
utuh. Anak lahir dalam kondisi telanjang, utuh, tanpa bungkusan yang
membelenggu, maka sudah sewajarnya, jika dikembalikan dalam kondisi utuh sebaik
mungkin demi dirinya sendiri.
Kita yang orangtua, setidaknya
saya, apakah telah bertindak dengan tepat dalam menyuapi nilai pada anak-anak ?
Selama puluhan hari, apakah yang kita hadirkan berupa limpahan kesempatan yang
memekarkan kediriannya, atau malah sebaliknya, justru menganiaya, melawan
kodrat anak ? Apakah daya-daya eksplorasi dan kreativitas anak, betul-betul
telah kita hargai, atau malah kita kurung ? Barangkali dunia persekolahan di
negeri ini belum 100 %, mendukung tahap perkembangan anak. Dan saya rasa, kita
tidak usah banyak menuntut pada Anies Baswedan, sang Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah, agar secara radikal membongkar sistem
pendidikan yang kadung memasung mata
hati dan daya “kenakalan” peserta didik. Tidak usah ! Hanya akan buang energi,
sedangkan anak-anak kita akan terus merangkak tambah usia, tambah dewasa. Akan lebih
tepat, kita dandani, kita benahi diri
sendiri saja, supaya sanggup memancarkan keteladanan bagi anak-anak. Sebagai orangtua,
kita sanggup jadi pemandu wisata, menunjukkan peta masalah dan solusi, serta
jadi teman karib curhat anak-anak.
Anak-anak itu yang serba asyik,
dinamis, nakal, yang terus meliarkan daya
imajinasi, hakikatnya adalah kawan seiring kita dalam menempuh perjalanan
menuju Tuhan. Kalau dalam persekolahan, anak-anak sudah lelah, lantaran disuruh
tertib rapi, “sopan” jadi penurut, dan tidak boleh berbeda, maka rumah musti
jadi taman firdausnya. Di rumah, anak-anak tidak dibebani lagi dengan banyak
aturan yang bakal mengerdilkan keingintahuannya. Di rumah, anak-anak bebas
menghirup udara segar, bebas mengembangkan daya eksplorasi dan eksperimen tanpa
kekang. Rumah, bukan lagi tempat anak-anak untuk terus mengalah pada cita-cita
orangtua. Rumah, bukan lagi penjara, dimana anak-anak musti jinak, tidak boleh
bertanya, atau musti “rukun” dan selaras dengan keinginan orang dewasa. Pendek kata,
di rumah, anak bebas memberontak, melampiaskan frustasi, dan menghamburkan uneg-uneg. Sedangkan kita, sekali lagi, jadi
kawan karib anak-anak dalam mengenali kedirian.
Kodrat anak ialah serba mencari,
serba bertanya, serba pingin mencoba.
Alangkah naifnya, sebagai orangtua, bukannya meluaskan kesempatan anak sehingga
menjadi anak yang sesungguhnya anak. Sungguh ironis, kita ingin disebut sebagai
orangtua sungguh, namun justru malu, ketika melihat anak-anak itu suka
corat-coret tembok, main pasir dan lumpur, serta membuat mobil-mobilan sendiri
dari barang buangan di tong sampah. Padahal justru itu yang sesungguhnya anak. Kita
malah bangga, kalau anak-anak itu berlaku sopan, tidak membantah, dan serba
menurut atas setiap perintah. Padahal yang demikian, anak-anak sedang
pura-pura. Hmmm….ironi kan ?
Memang tidak gampang. Tapi juga
tidak sesulit yang kita bayangkan, selagi kita siap berbeda dengan keumuman. Tidak
susah, selagi kita siap dicemooh, dicibir, dianggap nganeh-nganehi, dinilai tak bertanggung jawab, dan sebagainya. Nah,
bagaimana ?

berani kotor itu belajar yaa mas ardi...
BalasHapusyupz betul banget Dedew...
Hapus