Wabah TBM bak cendawan di musim
hujan. Kehadirannya persis dengan awal maraknya PAUD, yang hampir setiap orang,
yayasan, atau instansi seakan berlomba hendak membentuknya. Dari yang bentuk
sederhana hingga bangunan mewah dan megah. Yang kecil sebatas pemanfaatan ruang
tamu, teras rumah atau garasi hingga yang berhektar tanah bak area outbond. Ada
TBM yang dikelola mandiri oleh individu masyarakat, oleh sebab kecintaannya
yang mendalam atas buku dan pemberdayaannya. Tidak sedikit pula yayasan sosial,
lembaga belajar, hingga para anggota dewan turut mendirikan TBM di area publik.
Ihwal kegiatan yang
diselenggarakan TBM sebagai penunjang layanan pinjam buku bervariasi. Aneka
ragam lomba untuk menarik simpati dan minat baca masyarakat sering diadakan.
Diskusi, bedah buku, dan kelas menulis seolah telah jadi menu utama hampir di
setiap TBM. Umumnya para pengelola TBM tidak sekadar berlaku sebagai
pustakawan, melainkan juga berperan sebagai teman bicara di waktu senggang,
teman diskusi tentang banyak hal persoalan, hingga sebagai pembicara dalam
pelatihan-pelatihan.
Di tengah semarak TBM, ada satu
hal yang terlupakan, namun penting. TBM yang didedikasikan sebagai wahana belajar seumur hidup, saya menyoroti dalam
penyajian bahan bacaan masih terjebak pada kuantitas dan variasi tema. Memang
TBM musti menyediakan buku yang banyak sekaligus bervariasi agar wawasan
pemustaka tidak monoton yang bakal mematikan selera keingintahuannya. Tapi yang
luput dari perhatian para penyelenggara maupun pengelola adalah ranah kualitas.
Bukankah sebagai pemustaka tidak sekadar membutuhkan pengetahuan yang tersaji
dalam bentuk tips, trik, dan tehnik saja, melainkan yang bermutu dan
menggerakkan ide kreatif yang diungkapkan dengan bahasa yang indah juga patut
dihadirkan. TBM masih gemar berburu buku-buku “buangan” penerbit, buku murah
dan usang yang diobral di pasar murah.
Buku-buku bermutu tinggi karya
para pujangga semisal Pramoedya Ananta Toer, Achdiat K. Mihardja atau Y.B.
Mangunwijaya jarang kita dapatkan di rak buku TBM. Buku-buku Catatan
Pinggir-nya Goenawan Mohamad juga jarang ditemui. Pemikiran-pemikiran luar
biasa dari cendekiawan seperti Nurcholish Madjid, Kuntowijoyo, dan Djohan
Effendi seolah tak tersentuh oleh pengelola TBM. Buku-buku dongeng klasik terjemahan
dari karya Hans Christian Andersen, Rudyard Kipling musti jadi bahan bacaan
utama anak-anak. Buku-buku tersebut tersaji dengan kualitas bahasa, dan ide
atau gagasan yang hebat. Buku yang sanggup mengantar pembaca pada ide-ide atau
wawasan baru.
Yang demikian itu disebut living books. Buku-buku yang menyajikan
pemikiran, gagasan, dan wawasan yang menghidupkan imajinasi. Ide-ide yang
menggugah dan membangun karakter seseorang. Gagasan yang menginspirasi
kepribadian seseorang menjadi pribadi luhur. Nah, kiranya tidaklah terlambat
apalagi salah, jika TBM kita cipta bukan sebatas lumbung yang menyediakan
beragam buku yang miskin gagasan hidup, melainkan area perjamuan ide,
pergulatan pemikiran-pemikiran besar dari para pemikir besar. Kehadiran TBM tidak
lagi sekadar berkutat melayani sirkulasi buku, melainkan menjadi “pemberi
inspirasi”. So,……
iya, living books penting banget utk pembentukan karakter anak..moga tersedia di TBM yaa
BalasHapus