Jumat, 14 November 2014

Living Books di TBM ?


Wabah TBM bak cendawan di musim hujan. Kehadirannya persis dengan awal maraknya PAUD, yang hampir setiap orang, yayasan, atau instansi seakan berlomba hendak membentuknya. Dari yang bentuk sederhana hingga bangunan mewah dan megah. Yang kecil sebatas pemanfaatan ruang tamu, teras rumah atau garasi hingga yang berhektar tanah bak area outbond. Ada TBM yang dikelola mandiri oleh individu masyarakat, oleh sebab kecintaannya yang mendalam atas buku dan pemberdayaannya. Tidak sedikit pula yayasan sosial, lembaga belajar, hingga para anggota dewan turut mendirikan TBM di area publik.

Ihwal kegiatan yang diselenggarakan TBM sebagai penunjang layanan pinjam buku bervariasi. Aneka ragam lomba untuk menarik simpati dan minat baca masyarakat sering diadakan. Diskusi, bedah buku, dan kelas menulis seolah telah jadi menu utama hampir di setiap TBM. Umumnya para pengelola TBM tidak sekadar berlaku sebagai pustakawan, melainkan juga berperan sebagai teman bicara di waktu senggang, teman diskusi tentang banyak hal persoalan, hingga sebagai pembicara dalam pelatihan-pelatihan.

Di tengah semarak TBM, ada satu hal yang terlupakan, namun penting. TBM yang didedikasikan sebagai wahana  belajar seumur hidup, saya menyoroti dalam penyajian bahan bacaan masih terjebak pada kuantitas dan variasi tema. Memang TBM musti menyediakan buku yang banyak sekaligus bervariasi agar wawasan pemustaka tidak monoton yang bakal mematikan selera keingintahuannya. Tapi yang luput dari perhatian para penyelenggara maupun pengelola adalah ranah kualitas. Bukankah sebagai pemustaka tidak sekadar membutuhkan pengetahuan yang tersaji dalam bentuk tips, trik, dan tehnik saja, melainkan yang bermutu dan menggerakkan ide kreatif yang diungkapkan dengan bahasa yang indah juga patut dihadirkan. TBM masih gemar berburu buku-buku “buangan” penerbit, buku murah dan usang yang diobral di pasar murah.

Buku-buku bermutu tinggi karya para pujangga semisal Pramoedya Ananta Toer, Achdiat K. Mihardja atau Y.B. Mangunwijaya jarang kita dapatkan di rak buku TBM. Buku-buku Catatan Pinggir-nya Goenawan Mohamad juga jarang ditemui. Pemikiran-pemikiran luar biasa dari cendekiawan seperti Nurcholish Madjid, Kuntowijoyo, dan Djohan Effendi seolah tak tersentuh oleh pengelola TBM. Buku-buku dongeng klasik terjemahan dari karya Hans Christian Andersen, Rudyard Kipling musti jadi bahan bacaan utama anak-anak. Buku-buku tersebut tersaji dengan kualitas bahasa, dan ide atau gagasan yang hebat. Buku yang sanggup mengantar pembaca pada ide-ide atau wawasan baru.

Yang demikian itu disebut living books. Buku-buku yang menyajikan pemikiran, gagasan, dan wawasan yang menghidupkan imajinasi. Ide-ide yang menggugah dan membangun karakter seseorang. Gagasan yang menginspirasi kepribadian seseorang menjadi pribadi luhur. Nah, kiranya tidaklah terlambat apalagi salah, jika TBM kita cipta bukan sebatas lumbung yang menyediakan beragam buku yang miskin gagasan hidup, melainkan area perjamuan ide, pergulatan pemikiran-pemikiran besar dari para pemikir besar. Kehadiran TBM tidak lagi sekadar berkutat melayani sirkulasi buku, melainkan menjadi “pemberi inspirasi”. So,……


1 komentar:

  1. iya, living books penting banget utk pembentukan karakter anak..moga tersedia di TBM yaa

    BalasHapus